
Ruang penyimpanan kertas ujian tiba-tiba terbakar. Para petugas yang kebetulan sedang berjaga seketika panik. Mereka lari kalang kabut mencari bantuan, sebagian yang lain menerobos ke dalam untuk menyelamatkan kertas ujian yang masih tersisa. Semua orang di sana sangat sibuk dan ribut.
Asap membumbung tinggi ke udara, menarik perhatian Li Anlan yang sedang bersantai di pinggir Danau Houchi. Dia bertanya pada pelayannya, dari manakah asap itu berasal. Xie Roulan kemudian berkata bahwa asap tersebut datang dari arah ruang penyimpanan kertas Ujian Kerajaan yang tertelak di sebelah timur Istana Taiji.
“Sudah kuduga ini akan terjadi.”
Tidak lama kemudian, Xiao Biqi terlihat berjalan terburu-buru di jembatan Danau Houchi. Dia datang bersama seorang petugas ruang penyimpanan yang terbakar, lalu menunduk memberi hormat pada Li Anlan. Wanita itu melompat turun dari pohon persik, lalu berdiri dengan tegap di hadapan kedua orang yang baru datang.
Buah persik di tangannya lalu ia gigit. Li Anlan sama sekali tidak terkejut atas kebakaran yang terjadi di ruang penyimpanan. Xiao Biqi dan orang ini pasti datang untuk mengabarkan beritanya. Di drama-drama kolosal, Li Anlan sering melihat orang-orang melakukan trik licik untuk mengacaukan kerajaan dan membuat orang-orangnya berkuasa di dalam istana.
“Apa masih ada yang tersisa?” tanya Li Anlan tenang.
Xiao Biqi dan orang itu terkejut.
“Nyonya sudah tahu?”
“Hal seperti ini sudah sering terjadi. Katakan, apa masih ada yang tersisa?”
Kali ini, petugas ruang penyimpanan yang berbicara.
“Tidak ada, Nyonya. Semua kertas ujian berisi soal yang baru selesai dicetak habis dilalap api.”
Li Anlan mengangguk. Orang di balik kebakaran ini pasti seseorang yang berkuasa, yang tidak ingin para siswa Akademi Kerajaan lulus dan diterima dengan mudah. Li Anlan mengerti kalau intrik di dalam istana sangat kejam dan mengerikan. Tetapi, jika sampai harus membakar bangunan dan menghancurkan persiapan ujian, ini sudah sangat keterlaluan.
Untung saja Li Anlan cerdas. Saat dia selesai menulis soal ujian dan menyerahkannya pada petugas, dia terlebih dahulu memotret soal-soal itu dengan kamera ponselnya, lalu mengarsipkannya ke dalam sebuah folder dokumen khusus yang biasa ia gunakan untuk menyimpan data pribadi. Jadi, saat kertas-kertas itu hilang, dia tidak perlu membuat ulang, hanya tinggal menyuruh para petugas menulis ulang.
“Jangan panik. Biqi, apa Yang Mulia ada di istananya?”
“Ya, Nyonya. Yang Mulia baru kembali dari pengadilan dan langsung menerima kabar kebakaran ini.”
“Ikut aku menemui dia.”
Li Anlan, Xiao Biqi, dan petugas ruang penyimpanan bergegas ke Istana Hongwu. Long Ji Man tampak sedang duduk di kursi kerjanya sambil memijit kening. Saat Li Anlan datang, dia langsung bangkit dan menghampiri Permaisuri Bangsawannya. Wajahnya sangat tidak bersahabat. Mood pria itu sepertinya memburuk.
“Huang An, bagaimana ini?”
“Yang Mulia, tenanglah.”
“Ujian Kerajaan hanya tinggal beberapa hari lagi, tapi semua soal yang sudah disiapkan malah terbakar begitu saja.”
“Yang Mulia, kubilang tenang! Bisakah kau menuruti perkataanku?” ucap Li Anlan sedikit membentak. Long Ji Man langsung terdiam. Dia terlalu panik hingga bersikap tidak tenang dan membuat Li Anlan kesal. Dia yakin wanita itu juga terkejut mendengar kabar kebakaran ruang penyimpanan.
Long Ji Man duduk kembali di kursi kerjanya. Dia menarik napas, berusaha menenangkan diri. Situasi seperti ini sudah sering terjadi. Seharusnya dia lebih tenang dan bersikap bijaksana. Sebagai seorang raja, ketenangan diri saat menghadapi masalah adalah keutamaan yang harus dimiliki.
“Huang An, kau sudah menduganya?”
Li Anlan mengangguk.
“Aku sudah tahu ini akan terjadi.”
“Apa kau punya solusi?”
“Aku punya salinan soalnya. Sebelum diserahkan, aku memotretnya dan menyimpannya di ponselku. Yang Mulia, jangan biarkan kejadian ini mengacaukan semua yang sudah kita siapkan. Kita hanya perlu meminta petugas menulis dan menyalin ulang.”
Syukurlah. Permaisuri Bangsawan sudah mempersiapkannya dengan sempurna. Bahkan hal seperti ini pun sudah dia perkirakan dari jauh. Untung saja Li Anlan cerdas dan tangkas hingga kerusakan persiapan bisa segera diatasi.
Si Petugas ruang penyimpanan terpana pada sosok Permaisuri Bangsawan yang berdiri di depannya. Bagaimana bisa seorang wanita bersikap begitu tenang di saat genting seperti ini? Kebanyakan orang akan panik dan kehilangan ketenangan diri saat berada di situasi darurat. Tapi wanita ini, wanita yang digadang-gadang sebagai wanita terbodoh di Kerajaan Dongling justru lebih cerdas dari para cendekiawan istana. Diam-diam, Si Petugas menaruh kagum pada sosok Permaisuri Bangsawan.
Li Anlan menyerahkan ponselnya pada Long Ji Man, lalu membuka folder penyimpanan file yang tersimpan rapi di sana. Dia kemudian meminta si petugas untuk menulis soal-soal ini dengan cepat tapi tidak boleh melakukan kesalahan. Si petugas begitu gugup karena prosesnya disaksikan langsung oleh Raja dan Permaisuri Bangsawan. Keringatnya mengucur deras di kening dan tangan.
“Jangan gugup! Kau tidak boleh merusak kertasnya!” seru Li Anlan.
“Baik, Nyonya.”
Dua jam kemudian, empat puluh soal selesai ditulis di atas sepuluh buah kertas. Long Ji Man memerintahkan petugas tersebut untuk segera melakukan penyalinan dan penggandaan, dan mengancam kalau tidak selesai dalam waktu dua hari, mereka akan dihukum karena telah melalaikan tugas dan menyebabkan ruang penyimpanan kebakaran. Sebelum pergi, Li Anlan berkata bahwa kali ini, soal penyalinan dan penggandaan harus dirahasiakan. Tidak boleh ada yang tahu kalau soal Ujian Kerajaan masih ada jika tidak ingin si penjahat sebenarnya bergerak lagi.
Sepeninggal petugas ruang penyimpanan, Li Anlan meminta waktu berdua bersama Long Ji Man untuk berdiskusi. Ada seseuatu yang harus dibicarakan empat mata dan sifatnya sangat rahasia. Untuk itulah, Xiao Biqi keluar dan berjaga, juga melarang siapapun mendekat ke Istana Hongwu sebelum Raja dan Permaisuri Bangsawan menyelesaikan urusan mereka.
“Aku merekamnya saat kebetulan lewat ke istana Permaisuri Jin.”
“Kau yakin?”
“Aku tidak berani berbohong soal ini.”
Rekaman suara itu diputar kembali. Suara wanita itu memang suara Permaisuri Jin. Tetapi si pria, dia tidak tahu siapa orangnya. Selama ini Permaisuri Jin cukup tertutup soal urusan pria, padahal Long Ji Man bisa saja melepaskannya jika wanita itu menemukan orang yang dicintainya. Hubungannya hanya sekadar ikatan keluarga dan formalitas, sama sekali tidak dilandasi dengan cinta. Dia dan Permaisuri Jin tumbuh bersama sejak kecil karena istri sahnya itu adalah salah satu kerabat jauh ibunya yang dititipkan di ibukota dan belajar bersama.
“Untuk saat ini, kita tidak punya bukti apapun. Menuduhnya terlibat hanya akan mengacaukan istana,” ucap Long Ji Man.
“Aku tahu.”
Li Anlan awalnya tidak ingin memberitahu Long Ji Man perihal rekaman suara. Tetapi, dia merasa kalau segala sesuatu yang berhubungan dengan Permaisuri Jin sangat aneh. Wanita itu selalu tenang dalam bertindak, bahkan menjadi hangat di beberapa saat. Meskipun seorang Permaisuri, Li Anlan tahu hati wanita sangat lembut dan tidak tetap. Han Jinxi sebagai seorang istri sah seharusnya memiliki sedikit kecemburuan saat suaminya bersama wanita lain. Tapi setiap kali Li Anlan melihatnya, dia sama sekali tidak melihat tatapan dengan arti cinta. Han Jinxi terlalu lembut hingga Li Anlan tidak bisa menemukan ambisi atau keinginan menguasai seorang diri.
Orang seperti ini yang justru mencurigakan!
Li Anlan bertekad untuk menjauhkan diri dari wanita itu sebanyak yang ia bisa. Dia akan berusaha menghilang dari pandangannya dan melarikan diri saat wanita yang berstatus sebagai istri sah raja terlihat oleh matanya. Hal tersebut diperkuat dengan kepribadian Li Anlan yang tidak suka bergaul dengan wanita istana, karena ia tahu betul tabiat dan sifat mereka.
“Beberapa hari lalu, petugas yang sudah kutunjuk mengalami sakit. Dua orang diantaranya meninggal,” ucap Li Anlan. Wanita itu juga baru mendengar kabar dari salah satu petugas pengawas yang ditunjuknya kalau rekan-rekannya tiba-tiba jatuh sakit padahal sebelumnya sehat-sehat saja.
“Mengapa kau baru memberitahuku?”
“Yang Mulia sibuk mengurusi pernikahan. Aku tidak punya kesempatan untuk melapor.”
Ada raut bersalah tercetak di wajah Long Ji Man. Beberapa waktu ini dia memang sibuk, tetapi bukan karena pernikahan dengan Da Yin. Dia sibuk mengurusi para pejabat yang mulai berulah lagi. Long Ji Man tidak menemui Li Anlan karena setiap kali ia pulang dari pengadilan istana, mejanya sudah dipenuhi dokumen laporan hasil penyelidikan dari Departemen Kehakiman dan Departemen Keadilan Istana. Ada banyak pejabat yang ditangkap akhir-akhir ini karena dokumen korupsi dan penyalahgunaan wewenang milik mereka bocor ke publik.
“Aku tidak pernah menyiapkan pernikahan. Ibunda yang mengurus semuanya.”
Li Anlan tampak terkejut. Jika benar, berarti selama ini dia sudah salah sangka pada Long Ji Man. Seharusnya Li Anlan tahu kalau suaminya adalah seorang raja yang pastinya tidak hanya mengurusi satu urusan saja. Li Anlan terlalu dibutakan oleh kekesalan karena pernyataan pernikahan pria itu saat Ujian Kerajaan hendak diadakan. Dia sadar dia terlalu naif sebagai seorang wanita.
“Yang Mulia, aku ingin kau menyelidiki kasus ini sampai tuntas. Aku tidak rela hasil kerja kerasku dirusak orang tanpa tanggungjawab. Ini namanya pemusnahan dan pelanggaran hak cipta!”
“Kau tenang saja. Aku sudah memerintahkan Wang Tianshi untuk menyelidikinya diam-diam.”
“Baik. Aku bisa sedikit tenang.”
“Lalu bagaimana dengan petugas pengawasnya?”
“Orang tidak akan berani berbuat curang di hadapan atasan mereka. Yang Mulia, kau yang akan menjadi pengawasnya.”
“Aku?”
“Ya. Seorang raja yang menghadiri Ujian Kerajaan akan memberikan kesan menakutkan dan prestise tinggi di saat bersamaan. Aku tidak bisa menunjuk orang lagi karena waktunya sudah tidak banyak.”
Saat Li Anlan hendak pergi, Long Ji Man menahan tangannya. Tatapan pria itu melembut seketika. Ada binar harapan besar tersalur lewat gelombang cahaya dari pancaran mata indah itu. Li Anlan terdiam sesaat, menikmati tatapan lembut yang hanya ia lihat pada mata raja menyebalkan ini. Tatapan yang hanya bisa dilihat olehnya, tatapan yang hanya diperuntukkan untuk dirinya seorang.
“Berhati-hatilah. Jangan sampai kau terluka.”
“Ya. Aku bisa menjaga diri.”
Long Ji Man mengantar kepergian Li Anlan dengan tatapan matanya. Dia sangat bersyukur karena wanita itu tidak mendebatnya di saat seperti ini. Dia juga bersyukur karena wanita itu selalu ada saat dia mengalami situasi yang berbahaya. Long Ji Man bersumpah, dia akan menemukan pelaku sebenarnya dari semua kejadian ini, termasuk menemukan pelaku yang telah memerintahkan para bandit untuk menculik Permaisuri Bangsawan beberapa waktu lalu.
...***...
...Wah, musuh sepertinya sudah mulai bergerak! Kira-kira, siapa yang sudah membakar ruang penyimpanan? ...
...A. Permaisuri Jin...
...B. Petugas yang disuap...
...C. Lilin yang jatuh...
...D. Tidak ada yang tahu...
...Jawab di kolom komentar ya! ...