
Jika ada yang bertanya siapakah manusia paling tidak berguna, maka Li Anlan adalah jawabannya. Jika ada yang bertanya siapakah manusia yang sangat miskin dan menderita, maka Li Anlan lah jawabannya. Jika ada yang bertanya siapakah manusia paling sial di dunia, maka Li Anlan pula jawabannya.
Semua barang dari masa depan milik Li Anlan sudah dirampas Long Ji Man. Sekarang, tanpa barang-barang modern kesayangannya, hidup Li Anlan benar-benar membosankan. Dia sudah seperti orang zaman kuno tulen, tidak memiliki peralatan canggih yang tidak dimiliki orang lain. Dulu ponselnya, sekarang ransel, kamera, hammock, tenda, matras, dan panel surya miliknya yang diambil. Teropongnya juga ikut-ikutan terbawa karena disimpan di dalam ransel.
Tidak ada yang bisa ia gunakan untuk bersenang-senang saat waktu senggang. Li Anlan tidak bisa lagi bermain games, memotret, berayun, berkemah, bahkan berolahraga di atas matras. Dia tidak bisa lagi melihat pemandangan Gunung Feiyun dari jarak dekat dengan teropong mininya.
Satu-satunya jalan yang bisa ia tempuh untuk menghilangkan rasa suntuknya adalah dengan mencari kesenangan lain. Meskipun ini zaman kuno, ada banyak hal yang belum Li Anlan ketahui, dan ada banyak hal yang bisa ia tekuni. Li Anlan punya otak cerdas dengan sejuta ide cemerlang, yang membuatnya bersemangat dan berkata bahwa dia tidak akan kalah dari Long Ji Man.
Sebagai bentuk protes pada Long Ji Man, Li Anlan lagi-lagi bolos kerja. Selama satu minggu ini, dia tidak pergi ke Istana Hongwu dan memilih menghabiskan waktu di Istana Xingyue, bermain bersama Xie Roulan dan dua kasimnya. Hampir setiap hari, Xie Roulan dan dua kasim itu jadi bulan-bulanan Li Anlan. Jika tidak dirias, maka mereka akan disuruh menari tarian-tarian aneh dan menyanyi dengan bahasa-bahasa asing yang tidak diketahui siapapun.
Long Ji Man dan antek-anteknya juga tidak datang mencarinya. Mungkin, pria itu sedang sibuk memainkan alat-alat ajaib miliknya di Istana Hongwu.
Hari ini, Li Anlan memilih untuk bersantai di taman Danau Houchi. Sebuah karpet berbulu terhampar di dekat pendopo. Pemiliknya, sang selir terbuang, sedang bersantai di atas pohon persik berusia puluhan tahun sambil menikmati pemandangan Danau Houchi dan semilir angin yang menepuk lembut kulit tubuhnya. Wanita itu berbaring di sebuah cabang yang besar. Hanfu miliknya yang panjang menjuntai menutupi sebagian daun dan ranting.
Tidak jauh dari sana, tepatnya di sebelah pohon yang ia naiki, Xie Roulan sedang berdiri memohon agar Li Anlan segera turun. Gadis pelayan yang setia itu terus menerus mengoceh, mengatakan bahwa sangat berbahaya berada di atas sana. Apalagi, majikannya itu seorang perempuan bangsawan terhormat yang berstatus sebagai selir raja.
Jika tubuhnya sampai terluka atau terjadi apa-apa, maka Xie Roulan adalah orang pertama yang akan dimintai keterangan dan dihukum. Dia akan disalahkan atas sesuatu yang terjadi pada Li Anlan.
Tapi, bukan Li Anlan namanya jika dia menuruti perkataan pelayannya. Li Anlan yang sedang bersedih karena dirampok secara terang-terangan justru menutup kedua telinganya, berpura-pura tidak mendengar suara Xie Roulan. Sambil menikmati buah persik yang diambil langsung dari tangkainya, Li Anlan kembali bersantai menikmati hari.
“Pelayan kecil, apa wanita di atas sana seekor kera?”
Li Anlan tiba-tiba mendengar suara anak kecil di bawah sana. Saat dia memastikannya, seorang anak laki-laki berumur tujuh tahunan berdiri di dekat Xie Roulan sambil menunjuk Li Anlan dengan tangannya. Pakaian anak kecil itu panjang dan mewah, seperti pakaian anggota kerajaan.
“Hei, bocah kecil, kau panggil aku apa?”
“Apa kau seekor kera? Bibi Wei bilang kalau yang sering naik pohon itu seekor kera.”
Li Anlan mengernyit. Bocah ini sangat lancar berbicara, bahkan mengatakan sesuatu yang buruk padanya tanpa hambatan. Statusnya pasti cukup tinggi di istana ini. Ini pertama kalinya Li Anlan bertemu orang lain selain Long Ji Man, Xiao Biqi, Wang Tianshi, dan para penjaga Istana Hongwu. Siapa bocah kecil itu? Mengapa ia bermain sampai ke taman Danau Houchi yang jauh dan terpencil ini?
“Bocah ingusan, kau siapa?” tanya Li Anlan dari atas pohon persik.
“Apa kau seekor kera?” Anak kecil itu mengulang pertanyaannya.
“Bukan. Aku ini manusia, kau tidak lihat?”
“Lalu apa yang kau lakukan di atas sana? Kau seperti bukan wanita istana.”
Bagus. Bahkan anak kecil saja mengetahui kalau Li Anlan sangat tidak bijaksana. Anak kecil saja tahu kalau Li Anlan tidak seperti wanita istana yang lemah lembut, sopan, dan taat aturan.
“Bocah kecil, kau mempedulikanku?”
Li Anlan melemparkan sebuah persik ke bawah, lalu ditangkap bocah kecil itu. Setelah mengoleskannya ke baju, persik itu langsung digigit dan dikunyah sampai ditelan. Li Anlan melompat turun, lalu menghampiri bocah kecil yang memanggilnya kera dan kakak ipar.
“Apa kau putra Yang Mulia Raja?”
Bocah kecil itu menggelengkan kepala.
“Apa kau juga salah satu kakak iparku? Bibi Wei bilang, kakakku punya banyak istri. Apa kau salah satunya?”
Kakak ipar? Ah, Li Anlan akhirnya mengerti. Bocah kecil ini rupanya adik dari Long Ji Man. Pantas saja dia punya wajah yang mirip dengan pria menyebalkan itu. Li Anlan pikir bocah ini adalah putra pria itu. Tadinya, dia ingin menculik bocah ini untuk dijadikan sandera agar Long Ji Man mengembalikan barang-barangnya. Sayangnya, raja menyebalkan itu pasti tidak akan terlalu peduli dengan urusan kecil seperti ini.
Baru saja Li Anlan hendak menjawab pertanyaan bocah kecil itu, seorang wanita setengah baya berteriak sambil berlari ke arah mereka. Wanita paruh baya itu badannya sedikit gemuk, pakaiannya seperti pakaian seorang pelayan tingkat tinggi. Saat wanita itu sampai, dia langsung menarik bocah kecil dan menjauhkannya dari Li Anlan.
“Pangeran, ayo kembali. Jangan bermain dengan orang asing!” bisik wanita paruh baya itu di telinga Si Bocah.
“Bibi Wei, dia bukan orang asing.”
Tanpa mempedulikan ucapan si bocah kecil, wanita paruh baya itu langsung membawa Si Bocah Kecil pergi dari taman Danau Houchi. Sebelum pergi, wanita itu menatap sinis pada Li Anlan dan Xie Roulan. Melihat tatapan tidak menyenangkan, Li Anlan menjadi marah. Dia mengambil potongan buah persik sisa gigitannya lalu melemparkannya ke arah wanita paruh baya sambil berteriak, “Orang aneh!” Lemparan itu hanya mengenai ujung rok si wanita paruh baya. Pasti tidak akan menimbulkan efek apapun.
Untuk menuntaskan rasa penasarannya, Li Anlan langsung bertanya pada Xie Roulan. Biasanya, pelayan itu selalu serba tahu meskipun tidak pernah keluar dari komplek Istana Xingyue dan dapur kerajaan.
Bocah kecil itu ternyata adalah Pangeran Ding, adik bungsu Yang Mulia Raja. Nama aslinya adalah Long Ji Mu. Dia lahir tujuh tahun lalu, tiga tahun sebelum ayah Long Ji Man meninggal. Ibunya adalah Han Yuemi, sepupu Ibu Suri Han Yuemei. Han Yuemi adalah seorang Selir Agung Raja, dan wafat saat melahirkan Long Ji Mu. Selama ini, dia tinggal di istana milik ibunya bersama seorang pengasuh.
Sejak kecil, Pangeran Ding atau Long Ji Mu tidak memiliki teman. Anehnya, bocah kecil itu memiliki kecerdasan di atas rata-rata, melampaui kecerdasan anak-anak seusianya. Tahun ini, dikabarkan bahwa Pangeran Ding akan masuk ke Akademi Kerajaan dan akan menempuh pendidikan sampai usianya tiga belas tahun.
Li Anlan tidak dapat membayangkan betapa kesepiannya bocah itu. Hidup tanpa ibu dan ayah kandung di istana yang megah namun sepi pasti sangatlah sulit. Li Anlan sudah pernah mengalaminya, jadi dia tahu betul bagaimana rasanya tinggal seorang diri bersama pengasuh. Meskipun bergelimang harta, tapi tidak ada yang benar-benar bisa memuaskan hati.
Pantas saja cara bicaranya sama arogannya dengan Long Ji Man. Rupanya, kakak beradik itu berasal dari ayah yang sama dengan ibu yang berbeda. Tidak menutup kemungkinan bocah itu akan berebut kuasa dengan kakaknya beberapa tahun mendatang. Pemberontakan dan perang saudara di zaman kuno seperti ini sudah menjadi hal yang lumrah. Siapa yang menang, maka dia yang akan berkuasa.
“Nyonya, aku pernah mendengar rumor kalau Yang Mulia hendak menjadikan Pangeran Ding sebagai Putra Mahkota.”
Pernyataan Xie Roulan membuat Li Anlan cukup tercengang. Jika memang itu masalahnya, maka pantas saja Long Ji Man tidak memiliki banyak hubungan dengan wanita dan memilih menghindar. Pantas pula Long Ji Man menghukum para pejabat yang menyinggung perihal anak padanya di pengadilan. Rupanya, pria itu berencana menjadikan adiknya sendiri sebagai calon penerus tahta.
Meskipun hanya kabar burung, tapi Li Anlan yakin itu bukan hal yang mustahil. Long Ji Man adalah orang yang tidak bisa ditebak pemikirannya. Pria itu bisa bertindak sesuka hatinya. Jika memang Pangeran Ding dijadikan kandidat Putra Mahkota, maka Long Ji Man bisa menghindari istana harem untuk selamanya. Dia mungkin ingin membebaskan diri dari belenggu yang menyiksa dirinya sendiri.
“Pantas saja dia menghindari wanita,” gumam Li Anlan.
Tidak ingin berpikir lebih jauh, Li Anlan memilih untuk menghentikan semua rasa penasarannya sampai di sini. Satu orang asing saja sudah membuatnya kesal, apalagi jika datang yang lain. Cukup, hidup Li Anlan sudah cukup sengsara di dunia ini.
Wanita itu berjalan ke tepi Danau Houchi. Air jernih dan sejuk dari danau itu ia ambil, lalu dibasuhkan ke wajahnya. Rasanya sama seperti rasa mata air yang keluar langsung dari tanah. Li Anlan sempat berpikir untuk melompat dan berenang kembali, namun Xie Roulan mencegahnya dan mengajaknya untuk kembali ke Istana Xingyue karena hari sudah hampir sore.
...***...