
Malam mengerikan, tidak hanya terjadi di Istana Raja. Malam mengerikan itu menyebar ke seluruh penjuru kota, bahkan ke seluruh penjuru wilayah kekuasaan Kerajaan Dongling. Langit yang semula terang oleh cahaya bulan mendadak menjadi hitam pekat. Satelit alami bumi tersebut memilih bersembunyi di balik gulungan awan hitam yang berarak menutupi seluruh wilayah udara kerajaan tersebut.
Mereka seolah tahu, bahwa seseorang yang disanjung lebih dari dua juta orang sedang kehilangan sesuatu yang berharga. Alam seolah ikut bersedih atas kejadian yang menimpa pemimpin rakyat dan orang istimewa yang muncul setelah ratusan tahun.
Awal musim gugur, bukan bunga yang telah jatuh, tetapi jiwa manusia yang sangat berharga telah rapuh.
Di Istana Xingyue, Long Ji Man terus menjaga Li Anlan sepanjang waktu. Pria itu tak lagi mempedulikan banyaknya pekerjaan yang menumpuk. Dia hanya peduli pada Permaisuri Bangsawannya, pada wanita yang sudah membuat hari-harinya terasa lebih berwarna.
Saat Tao Zhun mengatakan bahwa kemungkinan hidup wanita itu sangat kecil, Long Ji Man tidak mempercayainya. Dia yakin wanita ini akan segera sadar, membuka mata, dan berbicara seperti biasa. Li Anlan adalah wanita yang kuat, dia pasti bisa melewati semua ini.
Semua orang yang ada di Istana Kerajaan benar-benar diperiksa dan diinterogasi. Mereka satu persatu dibawa ke ruang tahanan untuk dimintai keterangan mengenai kegiatan mereka hari ini secara jujur dan mendetail. Tidak ada kata besok untuk pemeriksaan, tidak ada kata nanti untuk menginterogasi.
Long Ji Man sungguh-sungguh bersumpah akan menemukan pelakunya. Siapapun pelakunya dan apapaun jabatannya, dia tidak akan pernah melepaskannya. Dia pasti akan menghunuskan pedangnya ke dada pelaku tersebut, mencabik-cabik mayatnya lalu membuangnya ke hutan untuk menjadi santapan serigala.
"Huang An, sampai kapan kau akan tertidur?" ucap Long Ji Man sambil terus memegang tangan Li Anlan yang dingin dan pias.
"Bukankah kau selalu ingin pergi ke Gunung Feiyun? Aku akan mengizinkanmu selama kau membuka matamu," ucap Long Ji Man lagi. Perlahan, air matanya menetes kembali.
Long Ji Man, memiliki ketakutan yang sangat besar. Hari ini, rasa takutnya sudah berada di ambang batas. Dia sudah tidak bisa menahannya lagi. Satu-satunya hal yang dia takutkan setelah bertemu wanita ini adalah kepergiannya.
Mungkinkah Li Anlan kembali ke dunianya seperti yang sering wanita itu ceritakan kepadanya? Mungkinkah dia benar-benar pulang ke sana? Apakah dia sungguh tidak ingin kembali ke Dongling, kembali ke sisinya, dan menemaninya hingga hari tua?
Mengapa wanita ini masih belum ingin bangun juga?
Membayangkan jika Li Anlan benar-benar kembali ke dunianya, sungguh membuat hati Long Ji Man sakit luar biasa. Sampai kapanpun, dia tidak akan pernah mengizinkan wanita ini kembali atau pergi ke manapun. Bagaimanapun caranya dan apapun alasannya, wanita itu tetap harus berada di sisinya hidup atau mati!
Long Ji Man bangkit, kemudian berjalan ke arah lemari. Pria itu mencari ransel gunung milik istrinya beserta perlengkapannya. Tetapi, barang yang dicari tidak ada. Hanya ada setumpuk hanfu dan jubah Permaisuri Bangsawan yang tergantung di lemari tersebut.
Long Ji Man mencari lagi ke tempat lain. Sama seperti sebelumnya, dia juga tidak bisa menemukan ransel tersebut. Satu-satunya alat yang ia temukan hanyalah kompas kecil yang sering digunakan Li Anlan untuk menentukan arah. Kompas itu terjatuh saat Long Ji Man membuka sebuah laci berisi peralatan menulis.
Di atas kursi, pria itu memainkan kompas tersebut. Dia kembali memikirkan kemungkinan yang terjadi hari ini. Barang-barang Li Anlan tiba-tiba lenyap, sedangkan pemiliknya terjatuh sendirian ke dasar danau dan hampir mati. Ya, Long Ji Man berpikir bahwa si pelaku benar-benar sudah merencanakan semuanya dengan matang. Pelaku tersebut pasti sudah mencuri barang-barang Li Anlan setelah mendorongnya ke dalam danau. Jika tidak, mana mungkin barang-barang tersebut lenyap begitu saja tanpa jejak.
"Huang An, kau benar-benar tega melihatku seperti ini? Lihat, aku bahkan sudah sangat basah kuyup!"
"Kau akan kupotong gaji jika kau tidak segera membuka matamu!"
Ke mana dia harus mencari jiwa wanita ini? Di mana dia bisa menemukan keberadaan Li Anlan yang sesungguhnya, Li Anlan yang selama ini menjadi penasihat khususnya, menjadi Permaisuri Bangsawan dan menjadi seseorang yang ia pertahankan mati-matian?
Bahkan satu jejak pun tidak bisa dia temukan!
Long Ji Man akhirnya menyadari, rasa sakit itu akan lebih terasa saat dia tidak bisa lagi menggenggam tangan hangat dan kehilangan ketika seseorang telah pergi jauh. Li Anlan memang belum meninggal, tetapi keadaannya sekarang jauh lebih buruk daripada orang sekarat.
"Maaf, Huang An. Aku datang terlambat," lirih Long Ji Man sambil menitikkan air mata.
Andai saja dia pulang lebih awal ke Istana Hongwu, dia pasti akan berjumpa dengan wanita ini dalam wajah cerianya. Andai saja dia datang dan menemukannya lebih awal, nyawanya pasti tidak akan terancam seperti ini. Pada akhirnya, Long Ji Man hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri.
Dia, sebagai seorang raja, bahkan tidak mampu melindungi istrinya sendiri.
"Aku pasti akan menemukan pelakunya dan menghukumnya untukmu!"
Long Ji Man mengecup kening Li Anlan dengan lembut. Tidak pernah disangka kalau wanita yang akan memenangkan hatinya justru wanita liar yang tidak sopan tetapi berintegritas seperti Li Anlan, bukan wanita lemah lembut yang selamanya tunduk pada tatakrama dan aturan istana. Wanita eksentrik itu telah membuat simpul yang rumit di hati Long Ji Man teruraikan.
Long Ji Man menolehkan kepalanya. Seorang pria cantik berlari masuk dengan wajah cemas yang luar biasa kentara. Pria itu mundur beberapa langkah untuk memberikan ruang para si pria cantik. Saat pria cantik itu sampai di tepi tempat tidur, pria cantik langsung terduduk lesu.
"Mei-mei, apa yang terjadi? Mengapa kau jadi seperti ini?" tanya Li Afan bertubi-tubi, tanpa balasan dari orang yang ditanya maupun yang mendengar pertanyaannya.
Li Afan segera bergegas ke istana saat Wang Tianshi datang sebagai utusan Yang Mulia Raja, menyampaikan pesan bahwa Permaisuri Bangsawan dalam masalah besar. Li Afan bahkan belum sempat mandi dan menutup Pavilun Lanxin dengan benar. Atmosfer di Istana Xingyue sangat dingin saat pria itu menginjakkan kaki di gerbangnya.
"Yang Mulia, apa yang terjadi pada adikku?" Li Afan berbalik tanya.
"Huang An, dia, dia tenggelam di Danau Houchi," lirih Long Ji Man, tak kuasa menahan beratnya suara dan air yang menggenang di pelupuk mata.
"Apa? Apa dia bebek yang baru belajar berenang? Tidak! Adikku bukan orang yang tidak bisa bertahan di dalam air!"
"Aku tahu. Seseorang mungkin telah meracuninya hingga Huang An tidak bisa bertahan."
"Sudah kuduga. Anlan, apa aku bilang? Bukankah aku sudah menyuruhmu keluar dari istana dan meninggalkan ibukota? Lihat yang terjadi padamu sekarang! Bagaimana caraku menjelaskannya pada ayah dan ibu nanti?"
"Kau, bisa menyalahkanku," ucap Long Ji Man pelan. Dia sungguh pasrah jika pria cantik yang menjadi kakak iparnya marah dan memukulinya. Meskipun dia seorang raja, di hadapan dua bersaudara ini, dia merasa sangat kecil dan bukanlah apa-apa.
"Jika ingin menyalahkan, maka cari orang yang tepat untuk disalahkan. Adikku menentukan keputusan hidupnya sendiri. Karena dia memilih tinggal dan bertahan di istana, maka inilah konsekuensi yang harus dia hadapi," tegas Li Afan. Dia paling benci pada pria lemah yang hanya tahu menyalahkan diri sendiri.
"Lagipula, ini sudah biasa terjadi. Dinasti manapun, zaman manapun, masa apapun, masalah wanita memang selalu kompleks dan memusingkan."
"Kau tidak marah padaku?"
"Untuk apa? Apa marahku bisa membuat adikku kembali sadar?"
"Kalau begitu, apa kau tahu sebuah rahasia yang dimiliki Huang An?"
"Maksudmu kalau dia bukan dari dunia ini? Sejak awal, aku memang sudah merasakannya. Tidak peduli dia berasal dari dunia ini atau dunia lain, dia tetap adik kandungku, adikku satu-satunya. Bahkan jika ada sembilan, seratus, atau seribu dunia, Li Anlan akan tetap menjadi adikku."
Long Ji Man menunduk dalam. Kasih sayang seorang kakak yang sangat dalam yang diperlihatkan oleh Li Afan kepada Li Anlan sungguh membuatnya malu. Dia punya banyak adik, tetapi tidak bisa dekat dengan mereka dan dituntut harus selalu waspada. Andai saja dia bisa seperti Li Afan yang menyayangi keluarganya tidak peduli apapun status dan latar belakangnya, maka hidupnya mungkin akan lebih bahagia.
Memang, tidak ada yang salah dengan menjadi pengertian dan perhatian.
"Jika benar begitu, maukah kau bekerja sama dengaku?"
"Apa yang bisa kulakukan untukmu, Yang Mulia?"
"Aku ingin menemukan dan menghukum pelakunya secepatnya. Kau bisa membantuku?"
Li Afan mengangguk. Inilah satu-satunya jalan untuk membalaskan dendam adiknya. Inilah satu-satunya cara untuk memberi pelajaran pada orang jahat karena sudah berani bermain-main dengan sebuah nyawa!
Di malam kelam yang semakin larut nan dipenuhi kesedihan, dua orang pria berbeda latar belakang keluarga berdiksusi dengan serius di samping seorang wanita yang sedang terbaring. Long Ji Man dan Li Afan saling bertukar informasi dan strategi, berharap pelakunya segera ditemukan dan dihukum.
Mereka pasti akan menemukan orang itu!
...***...