The Little Consort

The Little Consort
Eps. 55: Tertawa dalam Derita


“Pe…Permaisuri Bangsawan?”


Si Tetua Yao kembali bertanya.


“Hahahaha……”


Xiao Biqi mengerutkan kening saat Si Tetua Yao tertawa. Apa yang dia tertawakan?


“Dia? Permaisuri Bangsawan? Hahaha…. Kasim Bi, apa kau yakin?”


“Benar. Bagaimana mungkin wanita lusuh ini adalah Permaisuri Bangsawan Yang Mulia?” tanya salah satu orang yang lain.


Xiao Biqi mulai geram. Berani-beraninya mereka meragukan keluarga kerajaan. Mereka pikir, dia berbohong? Jika raja tahu, dia akan sangat marah.


Li Anlan memutar bola matanya, malas menyaksikan perdebatan yang terjadi di depan matanya. Dia sudah lelah, tapi masih harus menyelesaikan urusannya. Orang-orang bodoh ini tidak akan percaya pada identitasnya semudah itu. Wajar saja jika mereka tidak mengetahuinya. Li Anlan bisa menoleransi jika mereka tidak percaya padanya. Tapi, dia sungguh tidak berpikir kalau orang-orang ini juga akan meragukan Xiao Biqi, kasim pribadi kepercayaan Yang Mulia Raja.


“Kalian sungguh tidak percaya?”


Si Tetua Yao tertawa, menandakan bahwa dia memang tidak percaya. Begitu juga semua orang yang ada di ruangan tersebut. Mereka menertawakan Li Anlan, secara tidak langsung sudah menertawakan Yang Mulia Raja Long.


“Nyonya, bisa kau tunjukkan buktinya? Keluarkan benda yang sudah diberikan Yang Mulia saat keberangkatan tadi,” pinta Xiao Biqi.


Li Anlan mengodok ranselnya, mencari sesuatu yang bisa membuktikan identitasnya sebagai Permaisuri Bangsawan. Ketemu! Li Anlan mengeluarkan plakat khusus milik Permaisuri Bangsawan berwarna emas yang tadi diberikan Long Ji Man, sekaligus menyerahkan undangan berwarna merah terang berstempel keluarga Yao. Li Anlan lalu menyerahkannya pada Xiao Biqi. Kasim kecil itu mengangkat tinggi-tinggi plakat Permaisuri Bangsawan ke udara, agar semua orang yang ada di sana bisa melihatnya dengan jelas.


“Ini adalah plakat atau token khusus Permaisuri Bangsawan. Dan ini, adalah undangan berstempel keluarga Yao yang diserahkan Yang Mulia Raja kepada Nyonya Huang An,” tegas Xiao Biqi. Sebelah tangannya mengangkat undangan merah.


Si Tetua Yao terdiam sejenak, berusaha mencerna perkataan Xiao Biqi.


“Nyonya Huang datang atas perintah Yang Mulia. Dia datang mewakili Yang Mulia Raja untuk mengucapkan selamat atas pernikahan di keluarga Penasihat Negara. Kalian malah memperlakukannya seperti seorang pelayan? Apa kalian tahu apa akibatnya?”


Dalam sekejap, semua orang yang ada di dalam ruangan itu langsung bersujud, termasuk kedua mempelai. Mereka sungguh tidak menyangka bahwa wanita sederhana yang mereka suruh-suruh seperti seorang pelayan dan mereka sangka petugas pernikahan adalah Permaisuri Bangsawan yang baru diangkat dua bulan lalu. Sungguh mereka sudah keliru, mereka juga sudah bersalah karena tidak mempercayai Xiao Biqi yang segala ucapan dan tindakannya atas perintah Yang Mulia Raja, tidak mungkin berbohong dan tidak jujur.


“Ampuni kami, Nyonya Huang.”


Li Anlan jadi gerah sendiri. Mereka yang seperti ini sungguh membuatnya geli dan muak.


“Sudahlah. Kalian semua, bangun! Aku malah jadi takut dengan sikap kalian ini!”


“Terima kasih, Nyonya Permaisuri Bangsawan.”


Semua orang yang bersujud kemudian bangkit dan berdiri, tetapi tidak berani menengadahkan kepala. Si Tetua Yao maju selangkah, lalu menunduk dan memberi hormat di depan Li Anlan.


“Maaf atas kelancangan kami, Nyonya. Kami sungguh tidak tahu. Mengapa nyonya tidak memberitahu kami lebih awal?”


Si tetua ini, sudah tua tetapi sangat menyebalkan. Ingin rasanya Li Anlan menyumpal mulut orang ini dengan kaus kaki bau agar berhenti berbicara omong kosong dan membuang waktunya. Jadi, si tua itu berpikir bahwa ini semua adalah salahnya? Sungguh sangat tidak masuk akal!


“Bagaimana aku bisa menjelaskannya pada kalian jika kalian terus menyuruhku memotret kalian? Kalian bahkan tidak memberiku kesempatan untuk memberitahukan identitasku karena kalian memperlakukanku seperti pelayan!” seru Li Anlan. Wajahnya berubah dingin karena kesal.


Xiao Biqi datang untuk mengantarkan hadiah sebagai ucapan selamat atas pernikahan di keluarga Yao atau keluarga Penasihat Negara. Tadi, Long Ji Man tidak sempat memberikannya karena Li Anlan pergi dengan terburu-buru. Akibatnya, hadiahnya ketinggalan dan Long Ji Man terpaksa menyuruh kasimnya untuk menyusul serta mengantarkan hadiahnya.


Tetapi, tidak disangka, Permaisuri Bangsawan yang begitu dilindungi oleh rajanya malah diperlakukan dengan rendah seperti pelayan. Bahkan, mereka menganggapnya sebagai petugas pernikahan seenak hati. Apakah mereka tidak tahu bagaimana Sang Raja berjuang melawan para pejabat yang menentang hingga mengeluarkan dekret untuk menutup mulut para penduduk? Betapa berat pelanggaran yang sudah mereka lakukan hari ini!


“Kalian sudah tahu bukan hukuman apa yang akan kalian terima karena telah mempermainkan seorang Permaisuri Bangsawan?” tanya Xiao Biqi.


“A-Ampuni kami, Nyonya Huang An.”


“Biqi, sudahlah. Ini adalah hari yang cerah dan bahagia. Tidak bagus jika tertumpahi darah.”


“Tidak, Nyonya. Yang Mulia sudah mengeluarkan dekret untuk menghukum siapapun yang sudah berani membicarakan, mencampuri urusan, dan mempermainkan Permaisuri Bangsawan tanpa terkecuali. Hamba akan dihukum jika terkesan tebang pilih dalam menjatuhkan hukuman,” terang Xiao Biqi. Li Anlan mendesah pelan. Hukuman, hukuman, hukuman. Otoritas raja memang benar-benar kuat!


“Aku yang akan bicara pada Yang Mulia nanti. Jangan sampai hari bahagia keluarga Yao hancur. Kau tidak ingin keluarga ini berkhianat pada Yang Mulia hanya karena ini bukan?”


“Meskipun Nyonya bisa berbicara pada Yang Mulia, tetapi hukuman tetap harus dijatuhkan. Nyonya, untuk hukumannya, silakan nyonya saja yang tentukan.”


Baiklah, karena Xiao Biqi masih bisa diajak bernegosiasi, maka Li Anlan akan meladeninya. Hukuman untuk keluarga ini, biarlah dia yang memutuskannya sendiri. Li Anlan menimbang-nimbang hukuman apakah yang pantas tetapi tidak memberatkan dari sisi moral dan materi.


“Minta Yang Mulia potong gaji Penasihat Negara saja. Untuk waktunya, biar Yang Mulia saja yang menentukan.”


“Baik, Nyonya. Aku akan menyampaikannya pada Yang Mulia. Tetua Yao, di mana Penasihat Negara?”


“Menjawab, Kasim Bi. Putraku sedang ada urusan sebentar. Mungkin tidak lama lagi akan kembali.”


“Pantas saja kalian memperlakukan Nyonya Huang seperti ini. Penasihat Negara sedang tidak ada rupanya.”


Tindakan Li Anlan yang melepaskan dan mengampuni kelancangan orang-orang di tempat ini mengundang decak kagum. Secara tidak sadar, wanita itu sudah membangun citra untuk dirinya sendiri. Seorang keluarga kerajaan, apalagi berstatus istimewa, biasanya sangat sombong dan angkuh. Kebanyakan bertindak semena-mena, bahkan bertindak kejam jika tersinggung sedikit saja. Tetapi, wanita yang ada di hadapan orang-orang ini berbeda.


Li Anlan tidak hanya melepaskan mereka, tetapi juga hanya memberikan hukuman ringan. Dengan statusnya yang istimewa dan tinggi, dia bisa saja menjatuhkan hukuman mati. Tetapi, karena ia hanya seorang wanita biasa dari dunia modern yang tidak pernah terlibat konflik apapun, Li Anlan sama sekali tidak mempunyai pemikiran sampai ke sana.


Hatinya sama sekali tidak digelapkan oleh kesombongan atau keserakahan, tidak ada titik hitam apapun di sana. Di zaman modern, kesalahpahaman seperti ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Atau paling berat, bisa diselesaikan di kepolisian atau pengadilan, tidak perlu sampai dijatuhi hukuman mati.


“Permaisuri Bangsawan ternyata sungguh baik hati. Kita sudah lancang kepadanya dan merendahkannya, tetapi tidak disangka dia malah melepaskan kita,” ujar salah seorang tamu undangan.


“Benar. Pantas saja dia yang terpilih,” ujar salah seorang yang lain.


“Pantas Yang Mulia Raja begitu melindunginya. Hubungan Permaisuri Bangsawan dengan Yang Mulia Raja pasti sangat baik.”


“Rumor bahwa Permaisuri Bangsawan sakit mental ternyata sama sekali tidak benar.”


“Jangan membicarakan taruhan di sini. Kau tidak lihat siapa yang Kasim Bi bawa? Jika sampai terdengar, kita bisa dihukum. Aku tidak ingin dipenjara di Biro Penyelidikan Departemen Kehakiman Istana.”


Bisik-bisik tentang dirinya membuat Li Anlan muak. Jika ingin mengucapkan terima kasih, ya ucapkan saja, tidak perlu sampai memuji-muji dan membicarakan di belakang. Wanita itu keluar dari ruang pesta, berjalan-jalan di sekitar kediaman keluarga besar Yao yang luas. Halamannya dihiasi bunga-bunga dan kain merah tanda pernikahan. Lampu-lampu taman, dan pilar-pilar penyangga bangunan juga tidak lepas dari warna merah.


“Penasihat Negara pasti bekerja keras untuk mengadakan pernikahan ini.”


Usut punya usut, Li Anlan mendengar dari orang-orang kalau pernikahan ini dilakukan sebagai bentuk kerjasama bisnis. Penasihat Negara bukan hanya seorang pejabat, tetapi keluarga besarnya adalah para pebisnis handal yang menguasai seperempat perdagangan di Kerajaan Dongling. Bisnisnya bergerak di bidang jasa, makanan, penginapan atau perhotelan, dan industri kain.


Mempelai pengantin wanita adalah seorang nona besar dari keluarga Yuan, dan menikah dengan Tuan Muda Pertama keluarga Yao. Keluarga Yuan adalah keluarga besar kelima di Kerajaan Dongling, hanya saja letak kekuasaannya ada di sebelah barat daya ibukota. Tuan Muda Pertama keluarga Yao seorang sarjana Akademi Kerajaan yang paling pandai dan paling banyak diidamkan oleh para gadis belia di ibukota. Kabarnya, Tuan Muda ini akan masuk Ujian Kerajaan beberapa bulan lagi. Tidak heran jika pernikahannya begitu besar dan mewah.


Mata indah Li Anlan menangkap sosok yang sangat tidak asing sedang duduk di pelataran taman kediaman Yao. Orang itu adalah seorang pria cantik. Dia duduk dengan lesu, tampangnya sedih seperti sedang meratapi kematian seseorang. Tangan orang itu memegang sepoci arak. Li Anlan langsung bergegas menghampirinya.


“Kakak, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Li Anlan.


Melihat adiknya datang, Li Afan semakin terlihat sedih.


“Huaaa… Anlan, aku sedang bersedih!”


“Sssttt… Kakak, kenapa kau menangis? Sungguh tidak dapat dipercaya!”


Li Afan tidak mempedulikan pertanyaan adiknya. Pria cantik itu menuangkan arak, lalu meminumnya sampai habis. Ekspresinya semakin menyedihkan.


“Tuan Muda Yao sudah merebut kekasihku!”


“Jadi, pengantin wanitanya adalah kekasihmu?”


“Yuan Shiyi dan aku tumbuh bersama di barat daya ibukota. Tapi, dia malah memilih Tuan Muda yang pintar itu sebagai suaminya!”


Rupanya, kakaknya sedang patah hati karena ditinggal nikah oleh kekasihnya. Sungguh malang nian nasib Li Afan. Dia kalah cepat dalam melamar. Li Anlan ikut iba atas musibah yang menimpa kakak tercintanya. Calon kakak iparnya sekarang sudah menjadi istri sah orang lain dan tidak mungkin lagi digapai oleh Li Afan. Pantas saja pria cantik itu begitu sedih.


“Anlan, bantu aku merebutnya!”


“Kakak, meskipun aku ini Permaisuri Bangsawan, aku tidak berhak mencampuri urusan harem orang lain. Bahkan, aku tidak mau mengurusi harem di istana sendiri.”


“Lalu apa yang harus aku lakukan?”


“Manusia bisa jatuh cinta lagi. Tidak baik jika kau menghancurkan kebahagiaan orang lain. Mencintai belum tentu harus memiliki. Daripada menjadi menyedihkan seperti ini, ayo, kutemani kau berjalan-jalan. Cuaca sangat cerah hari ini!”


“Tapi, bagaimana jika para pengawal suamimu mencarimu?”


“Aku bisa mengurusnya.”


Li Anlan kembali ke dalam ruang pesta pernikahan, mencari Xiao Biqi lalu mengatakan bahwa ia akan berjalan-jalan sebentar. Xiao Biqi sempat menolak, apalagi Li Anlan meminta izin untuk tidak membawa pengawal. Tetapi, pada akhirnya dia tidak bisa berbuat apa-apa karena Li Anlan terus memaksa dan meyakinkan dirinya. Setelah mendapat izin, Li Anlan langsung berlari keluar.


Li Anlan membawa Li Afan berjalan-jalan di sekitar ibukota sambil mengabadikan setiap momen yang dilihatnya dengan kamera. Benda yang dirasa sangat aneh itu tak ayal membuat Li Afan penasaran. Dia bertanya dalam hati dari mana adiknya mendapatkan benda seperti itu. Di zaman ini, benda paling aneh yang ada adalah kursi putar milik seorang bangsawan di perbatasan. Li Afan tidak menyangka bila adiknya memiliki benda yang jauh lebih aneh dari kursi yang bisa berputar.


“Anlan, benda apa itu?” tanya Li Afan sambil menunjuk kamera.


“Ini?”


Li Afan mengangguk.


“Ini kamera.”


“Dari mana kau mendapatkannya?”


“Rahasia.”


“Sejak kapan kau punya rahasia?”


“Sejak aku datang ke istana. Kakak, kau mau mencobanya?”


Li Afan tampak tertarik. Pria tampan itu menerima kamera Li Anlan, lalu dibolak-balik seperti sebuah mainan.


“Bagaimana cara menggunakannya?”


“Seperti ini.”


Li Anlan kemudian mengajari Li Afan cara menggunakan kamera, dimulai dari cara memegang, mengatur resolusi, kecerahan, kontras, fokus, hingga cara memotret objek yang ada di depannya. Atas arahan adiknya, Li Afan mulai memotret. Bidikan pertama jatuh pada seorang pedagang jepit rambut yang sedang melayani pembeli. Li Afan senang bukan main. Kesedihannya serasa sirna saat ia mengetahui hasil karyanya.


“Lihat! Gambarnya terlihat sangat natural! Anlan, alatmu ini benar-benar hebat!”


“Kau ingin membidik lebih banyak lagi?”


“Tentu saja!”


“Ayo!”


Li bersaudara itu kemudian mengarahkan kamera untuk membidik semua pemandangan yang ada di ibukota. Mereka benar-benar sepasang kakak beradik beda dimensi yang sangat kompak. Li Anlan dan Li Afan tertawa bersama setiap kali mereka tidak sengaja memotret objek yang memalukan atau lucu. Hanya dengan sebuah kamera saja, kebahagiaan kecil itu tercipta.


Memang, kebahagiaan itu sangat sederhana dan tidak memerlukan hal-hal mewah.


...***...


...Halooo para pembaca setia! Hari ini Author kasih dua bab dulu ya, karena kegiatan di luar bener-bener padat banget huhuhu. Semoga kalian suka, Author mau lanjut kegiatan dulu. Sampai jumpa di episode berikutnya! Salam hangat dari Author buat para pembaca kesayangan!...