The Little Consort

The Little Consort
Eps. 28: Panahan


"Hei kau, pengawal kecil, apa benar Yang Mulia melakukan itu?"


Wang Tianshi mendelik mendengar pertanyaan Li Anlan. Sebutan 'pengawal kecil' yang dipakai untuk menyebut dirinya tentu saja membuat Wang Tianshi sedikit kesal. Dia, seorang pengawal pribadi Raja Dongling yang bertahun-tahun menjabat, dan menjadi orang hebat, malah dianggap seorang pengawal kecil oleh selir rajanya. Harga dirinya seolah turun drastis.


"Aku bukan pengawal kecil!"


Li Anlan menatap malas pada pengawal pribadi raja. Hidup di sini selama beberapa bulan membuat Li Anlan sedikit mengerti tabiat para pria yang ada di istana ini. Gengsi mereka tinggi, harga diri mereka juga tinggi. Status dan kedudukan menjadi poin utama untuk menjadi terhormat.


Contohnya Long Ji Man dan Wang Tianshi. Long Ji Man, seorang raja, tidak bisa mengucapkan terima kasih saat ditolong orang, juga tidak meminta maaf saat melakukan kesalahan dan maunya menang sendiri, merasa dirinya paling benar. Orang seperti inilah yang biasanya egois.


Wang Tianshi, punya kedudukan sebagai pengawal pribadi raja. Tugasnya hanya mengawal keselamatan raja. Di mata Li Anlan, Wang Tianshi sama saja dengan pengawal lain, yang sama-sama bertugas menjaga keamanan.


Dia bertanya pada pengawal itu karena penasaran. Saat dia selesai membersihkan ruangan kerja Long Ji Man, dia mendengar dari para pelayan di sini kalau Long Ji Man memotong setengah gaji Menteri Perekonomian selama setahun karena lalai. Li Anlan juga mendengar kalau potongan gaji itu akan digunakan untuk membangun panti. Jadi, untuk memastikan kebenarannya, Li Anlan langsung mencari Wang Tianshi untuk bertanya, karena pria itulah yang selalu mengikuti Long Ji Man ke mana-mana, termasuk ke pengadilan.


Di halaman Istana Hongwu yang luasnya tiga kali lebih besar dari halaman Istana Xingyue, Li Anlan terus mendesak Wang Tianshi untuk menjawab pertanyaannya. Dia belum puas jika hanya mendengar kabar samar-samar.


"Urusan negara, wanita sebaiknya tidak ikut campur."


Li Anlan berdecih. Sudah ia duga, pengawal kecil ini tidak akan membiarkannya tahu apa yang dilakukan Long Ji Man di pengadilan. Wanita, di zaman ini, memang tidak punya kuasa untuk ikut serta dalam urusan pemerintahan. Wanita hanya bisa menjadi seorang istri dan ibu serta pengatur rumah tangga dan keluarga. Untuk urusan negara, wanita tidak bisa mencampurinya. Sekadar tahu adalah hal wajar, tapi berusaha mencampuri sudah dianggap kurang ajar.


"Cih.. Di duniaku, pria dan wanita itu duduk sama rata!"


"Duniamu?"


Li Anlan mengangguk tanpa berniat menjelaskan segala detailnya. Wanita itu bangkit, lalu berjalan pergi meninggalkan halaman Istana Hongwu. Tujuannya sekarang adalah ruang utama kediaman raja. Li Anlan ingin tahu apakah ada sesuatu yang bisa ia gunakan untuk mengusir kebosanannya sambil menunggu 'majikan' datang.


Li Anlan bertingkah seolah istana itu adalah rumahnya sendiri. Dia dengan berani membuka laci-laci, mengangkat guci-guci, menggeser-geser meja dan kursi, dan menggoyang-goyangkan lukisan yang tertempel di dinding. Semua benda di ruangan ini sama sekali tidak bisa digunakan untuk mengusir rasa bosan dan suntuknya.


Sampai beberapa saat kemudian, netranya menangkap sebuah benda yang tidak asing terletak di dalam sebuah benda lain yang berbentuk tabung. Tidak jauh dari benda itu, terdapat pula benda lainnya yang ujungnya tajam dan berkilauan.


Panah!


Li Anlan bersorak! Betapa bahagianya dia saat menemukan sebuah busur lengkap dengan anak panahnya di istana ini. Tanpa berpikir panjang, wanita itu langsung mengambilnya, membawanya keluar untuk dicoba.


Sudah lama sekali dia tidak bermain dengan benda itu. Di dunia modern, saat Li Anlan mempunyai waktu senggang, dia selalu menyempatkan diri untuk belajar berbagai cabang olah raga, salah satunya adalah panahan. Salah seorang temannya adalah atlet panahan kebanggaan negara, jadi Li Anlan selalu memintanya untuk mengajarinya. Sifat Li Anlan yang keras kepala dan pantang menyerah itu membuat dirinya bisa dengan mudah menguasai teknik memanah dalam waktu yang singkat.


"Pengawal kecil, bisakah kau menunjukkan jalan menuju lapangan memanah?" tanya Li Anlan pada Wang Tianshi. Si pengawal pribadi raja itu terkejut melihat benda yang ada di tangan selir rajanya.


"Apa yang kau lakukan dengan busur itu?"


"Tentu saja bermain! Cepat, tunjukkan jalannya!"


Wang Tianshi menepuk jidatnya sendiri. Dia bertanya-tanya kekacauan apa lagi yang akan dibuat Li Anlan. Busur yang ada di tangan Li Anlan adalah busur kesayangan Long Ji Man. Busur itu sudah ada sejak Long Ji Man masih menjadi putra mahkota. Jika tidak sedang berperang, Long Ji Man terkadang menggunakannya untuk berburu.


Dengan sangat terpaksa, dia membawa Li Anlan ke bagian paling belakang Istana Hongwu. Di sana, terdapat sebuah lapangan terbuka yang luas. Di paling ujung lapangan terdapat lima buah papan bidikan yang biasa digunakan sebagai sasaran dalam memanah.


Tidak disangka, istana raja memiliki lapangan memanah pribadi! Luar biasa! Li Anlan semakin bersemangat.


"Tidak, Selir An, kau jangan macam-macam!"


"Berdiri di sana!"


Wang Tianshi menolak. Dia tidak ingin menjadi objek sasaran panah Li Anlan. Jika sampai salah membidik, nyawanya bisa melayang. Apalagi, panah-panah itu sangat tajam. Rasanya pasti sangat menyakitkan jika menembus kulit dan daging.


"Ckck... Begini saja takut?"


"Kau tidak boleh sembarangan!"


Li Anlan kembali berdecih. Katanya pengawal pribadi raja, tapi disuruh jadi objek coba-coba saja takut. Seharusnya, sebagai orang yang mengemban tugas menjaga keselamatan raja, Wang Tianshi wajib berani mati. Jika suatu saat Long Ji Man dalam bahaya, apakah Wang Tianshi akan menggunakan tubuh Long Ji Man sebagai tamengnya?


"Berdiri di sana atau aku akan langsung menembakmu di sini?"


Pada akhirnya, Wang Tianshi tetap menuruti perintah Li Anlan. Pria itu berdiri di depan papan bidikan dengan sebuah apel terletak di atas kepalanya.


Li Anlan menarik busurnya. Tangan kanannya menarik pelan tali busur dan ekor anak panah ke belakang. Tatapan matanya lurus, fokus kepada objek yang akan ia bidik. Li Anlan mengatur tenaganya. Dia memusatkan konsentrasinya untuk menciptakan bidikan yang sempurna.


Dalam hitungan sepuluh detik, anak panah itu terlepas dari busurnya. Li Anlan tertawa saat Wang Tianshi memejamkan matanya saat Li Anlan melepas tali dan ekor panah. Anak panah itu melesat cepat, lurus ke arah kepala Wang Tianshi.


Ceb.....


"Aku berhasil!"


Li Anlan berteriak sambil melompat-lompat. Saat Wang Tianshi membuka mata, dia langsung berjongkok menenangkan diri. Di atas kepalanya, anak panah itu menancap kuat pada sebuah apel yang tadi dilemparkan Li Anlan. Jantung Wang Tianshi seolah akan melompat keluar dari dadanya.


Benar-benar tepat sasaran!


Li Anlan kembali mengambil sebuah anak panah lagi. Kali ini, dia mengarahkan panah itu ke udara. Saat dilepas, anak panah itu melesat cepat. Ujungnya yang tajam menyayat sayap seekor burung yang kebetulan terbang melintas. Burung tak berdosa itu langsung jatuh di tengah lapangan.


Ketika Li Anlan menghampiri burung malang itu, dia melihat sesuatu yang aneh terikat pada kaki si burung. Li Anlan langsung membawanya. Ternyata, itu adalah sebuah kertas kecil. Dia membuka gulungan itu, tapi isinya kosong.


"Siapa yang begitu senggang hingga melakukan ini?"


Li Anlan hendak membuang kertas itu, tapi kemudian dia mencium bau harum yang khas dari kertas kosong. Kertas ini bukan kertas biasa, pasti ada sesuatu yang aneh yang tersembunyi. Li Anlan menggunakan hidungnya untuk mencari tahu aroma apa yang menyertai kertas ini.


"Cuka apel!"


Melihat selir rajanya bermonolog, Wang Tianshi semakin keheranan. Dia menatap nanar pada burung yang nasibnya sangat malang karena terkena sayatan dari mata panah Li Anlan. Untung saja, nasibnya tidak seperti nasib burung itu.


Li Anlan memutuskan untuk menyimpannya dan menyerahkannya pada Long Ji Man jika pria itu sudah kembali. Li Anlan lalu menyuruh Wang Tianshi untuk membawa burung sekarar itu ke Tao Zhun agar diobati, siapa tahu nyawanya masih bisa tertolong.


Sepeninggal Wang Tianshi, Li Anlan meneruskan kembali sesi memanahnya. Entah berapa puluh anak panah yang berhasil ia lesatkan. Wanita itu baru pergi setelah hari beranjak sore.


...***...