
Dua minggu berlalu sejak Long Ji Man membawa Li Anlan ke Wisma Gunung Feiyun. Tetapi, pikiran Li Anlan tidak pernah berhenti pada tempat aneh tersebut. Sepanjang hari, dia terus menerus memikirkan segala kemungkinan yang ada. Muncul keinginan untuk menyelidiki, tetapi dia sendiri bingung harus memulainya dari mana.
Gunung Feiyun yang dipenuhi satwa dan tumbuhan langka itu memikat banyak perhatiannya. Keinginannya untuk mendaki semakin menjadi, karena dua minggu lalu Long Ji Man hanya membawanya ke wisma, dan itu bahkan belum termasuk pos satu dalam jalur pendakian. Saat itu, dia hendak berjalan kaki menuju puncak gunung, tetapi Long Ji Man melarangnya dan membawanya kembali ke istana.
Wanita itu hendak keluar untuk memanjakan diri di tempat biasa. Tetapi, saat ia berada di ambang pintu, dia melihat Long Ji Man mondar-mandir bersama Xiao Biqi. Sambil berjalan ke sana kemari, tangan pria itu bergerak mengusap dagu, kemudian berpindah ke belakang tubuh. Sangat kentara sekali jika pria itu sedang kebingungan.
“Yang Mulia, ada apa? Mengapa kau mondar-mandir seperti setrika?”
Long Ji Man menghentikan aktivitasnya begitu mendengar suara Li Anlan. Pria itu menoleh, tubuhnya menghadap pintu masuk Istana Xingyue. Li Anlan berdiri dengan dahi berkerut, membuat Long Ji Man menjadi salah tingkah.
“Aku…Aku…”
“Yang Mulia, jika ingin berkunjung, mengapa berdiri di sana? Bukankah pintu istanaku terbuka lebar?”
Melihat tuan agungnya kebingungan dan salah tingkah, Xiao Biqi diam-diam tersenyum. Rajanya seperti seorang remaja yang ketahuan mengintip teman perempuannya. Demi membantu raja tercintanya, Xiao Biqi kemudian angkat suara. Dia berkata,
“Yang Mulia ingin menginap di istanamu, Nyonya.”
“Sorry? Apa aku tidak salah mendengar?”
“Tidak, Nyonya.”
“Apa otak rajamu bermasalah?”
Bahkan, di depan orangnya, wanita ini berani berkata sembarangan.
“Nyonya, Yang Mulia benar-benar harus menginap di sini.”
“No! Yang Mulia, kau tidak boleh menginap di sini!”
“Aku tahu. Tapi aku harus tetap menginap!”
Alarm tanda bahaya tiba-tiba berbunyi dari dalam diri Li Anlan. Wanita itu berjalan mundur secara perlahan. Long Ji Man yang melihat gelagat aneh darinya menjadi curiga, kakinya perlahan melangkah menapaki teras Istana Xingyue yang bersih mengkilap. Tepat saat langkah wanita itu agak jauh, Long Ji Man tiba-tiba melompat, bersamaan dengan tertutupnya pintu Istana Xingyue.
Long Ji Man menggedor pintu tersebut dengan keras, meminta si pemilik untuk membukanya. Dia juga berteriak hingga dua kasim dan empat penjada di Istana Xingyue terkejut. Raja mereka berteriak begitu keras, itu berarti pertanda buruk. Nyonya mereka sepertinya mempersulit rajanya lagi.
“Huang An, buka pintunya!” teriak Long Ji Man.
“Tidak. Yang Mulia, sebaiknya kau segera pergi dari sini!”
“Huang An, kau jangan mempersulitku!”
“Yang Mulia, kau juga jangan mempersulitku!”
“Mengapa kau terus mengulang perkataanku?”
“Mengapa Yang Mulia terus berbicara?”
Xiao Biqi menyaksikan perdebatan Raja dan Permaisuri Bangsawan dari pelataran jalan yang dihiasi bebatuan kecil. Kasim muda tersebut menggelengkan kepalanya. Dia sudah tidak tahu harus berbuat apa untuk membuat kedua junjunannya akur dan berdamai. Dia benar-benar kehabisan cara.
Dari kejauhan, Xie Roulan si pelayan pribadi Li Anlan berlari dari arah pintu gerbang. Gadis pelayan yang setia baru saja kembali dari dapur istana demi mendapatkan buah-buahan segar untuk majikannya. Tetapi, saat gadis pelayan itu baru sampai di ambang pintu, dia mendengar bahwa keturunan kerajaan mungkin akan segera lahir. Tanpa berpikir pada buah-buahan segar lagi, dia langsung bergegas kembali ke Istana Xingyue, mengabarkan apa yang baru saja ia dengar dari para dayang istana.
Tepat saat dia hendak menyebrangi Danau Houchi, dia melihat beberapa dayang yang seragamnya berbeda bergerombol. Dayang-dayang berseragam tersebut membawa beberapa baki berisi pakaian, kelopak bunga, air susu, bubuk pewangi, make-up, sepatu, kaus kaki, dan beberapa perhiasan. Tanpa diduga, rupanya dayang-dayang itu adalah dayang dari Istana Harem yang ditugaskan oleh Ibu Suri untuk mengantarkan barang-barang tersebut kepada Permaisuri Bangsawan. Karena itulah, dia berlari mendahului dayang-dayang tersebut menuju Istana Xingyue.
“Yang Mulia, Anda di sini?” tanyanya saat melihat Long Ji Man berdiri di depan pintu masuk utama.
“Roulan, itukah kau?” suara Li Anlan menggema lewat ventilasi udara.
“Ya, Nyonya. Apa yang terjadi?”
“Roulan, bisakah kau membawa Yang Mulia pergi?”
“Ap-Apa?”
Pelayan itu menatap Long Ji Man yang memasang wajah kesal dengan takut. Bahkan jika langit runtuh pun, selamanya dia tidak akan berani mengusir seorang raja.
“Ny-Nyonya, sebaiknya kau mendengarkan kabar yang aku bawa!”
“Kabar apa?”
“Nyonya, di jembatan Danau Houchi, beberapa dayang Istana Harem sedang menuju kemari!”
Dari balik pintu, di ruangan dalam Istana Xingyue, Li Anlan tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Istana Harem? Untuk apa mereka datang kemari? Bukankah Permaisuri Bangsawan tidak berurusan dengan istana dalam Yang Mulia Raja? Lalu apa yang sebenarnya mereka inginkan?
“Untuk apa mereka kemari?”
Belum ada jawaban atas pertanyaan tersebut. Beberapa saat kemudian, Li Anlan baru terpikirkan sesuatu.
“Yang Mulia, apa ini ulah ibundamu?”
“Kau baru mengerti? Sekarang, buka pintunya!”
Ada baiknya bagi Li Anlan untuk membuka pintu. Dia tidak boleh mencari masalah dengan ibu kandung raja. Meski terbebas dari urusan harem, hakikatnya dia tetaplah seorang istri raja. Selama kedudukan itu masih ada, maka dia masih bisa terjerumus ke dalam harem.
Hari ini, Ibu Suri Han Yuemei mengirimkan para dayangnya dan mengatur Long Ji Man agar menginap di istananya. Itu berarti, dia sudah sangat menarik perhatian wanita tersebut hingga berniat menjadikan dirinya sebagai objek percobaan untuk menguji putranya. Jika dia menolak, maka masalah pasti akan datang di kemudian hari. Li Anlan belum tahu seperti apa sosok Ibu Suri Han Yuemei yang sebenarnya.
Pada dayang pembawa barang utusan Istana Harem tiba di Istana Xingyue. Melihat raja mereka berdiri di depan pintu, mau tak mau hati mereka bertanya apa gerangan yang sedang terjadi. Hari sudah hampir malam, raja yang mereka hormati seharusnya sudah masuk ke dalam, bukan berdiri di luar seperti tuan muda yang ditolak cinta oleh wanita yang disukainya.
Pintu Istana Xingyue terbuka, menampilkan sosok Permaisuri Bangsawan yang berdiri dengan wajah kesal. Satu persatu, dayang-dayang utusan ia tatap dari ujung kepala dan ujung kaki.
“Baiklah. Hanya satu malam, bukan?”
“Nyonya, kau salah. Ibu Suri mengatur waktu sepuluh hari untuk Yang Mulia di Istana Xinyue,” ucap Xiao Biqi.
“Tunggu! Sepuluh hari? Tidak, oh yang benar saja!”
Seluruh tubuh Li Anlan tiba-tiba lemas. Sepuluh hari, bukankah itu terlalu lama? Li Anlan bahkan tidak tahu apakah ia akan tetap waras hingga hari ke sepuluh! Ibu Suri Han Yuemei tampaknya benar-benar ingin mengujinya. Wanita tua itu pasti ingin melihat sejauh mana Permaisuri Bangsawan dapat bertahan bersama raja.
Dengan isyarat mata, Xiao Biqi membuat para dayang utusan bergerak maju. Kaki kecil mereka menapaki teras Istana Xingyue, kemudian sampai di depan Permaisuri Bangsawan. Atas izin Yang Mulia Raja, mereka membawa Li Anlan yang tidak berdaya ke dalam, ke ruangan khusus untuk mandi dan membersihkan diri. Sementara itu, Long Ji Man menunggunya di pinggir tempat tidur.
Li Anlan dipaksa mandi air susu dengan taburan kelopak bunga mawar merah yang harum semerbak. Ini musim gugur, dari mana para dayang ini mendapatkan kelopak bunga sebanyak itu? Jika membeli, harganya pasti sangat mahal. Para pedagang licik biasanya berulah di musim seperti ini.
Lupakan soal asal kelopak bunga. Li Anlan tidak lagi memikirkan Gunung Feiyun yang menarik, tetapi pikirannya fokus pada bagaimana cara melewati malam ini dengan aman. Dayang-dayang ini datang atas perintah Ibu Suri, mereka pasti tidak akan pergi sebelum tugas mereka selesai. Li Anlan sama sekali tidak punya peluang untuk melarikan diri.
Wanita itu selesai mandi setelah waktu diperkirakan pukul setengah delapan malam. Kini, pakaiannya diganti dengan hanfu putih yang lembut dan wangi, hadiah dari Ibu Suri yang datang bersama para dayang. Hanfu tersebut sangat pas, hingga tubuh mungilnya terlihat dengan jelas.
“Tubuhku pasti akan dikerubungi semut! Mengapa mereka harus menggunakan susu? Bukankah para induk sapi tidak akan bisa menyusui anak-anak mereka? Bagaimana jika anak-anak sapi itu datang padaku karena semua air susu ibunya dihabiskan untuk mandi?” gerutu Li Anlan sambil melihat penampilannya.
Para dayang yang bertugas keluar, hingga di ruang Istana Xingyue hanya tinggal Li Anlan dan Long Ji Man. Lampu-lampu lilin sedikit meredup. Li Anlan baru menyadari kalau lilin penerang tersebut bukan lilin yang ada di istananya, melainkan lilin dari tempat lain. Entah sejak kapan para dayang utusan itu menggantinya. Aroma dari lilin ini sedikit aneh. Hidung Li Anlan tidak terbiasa hingga wanita itu bersin berkali-kali.
“Yang Mulia? Bukankah pakaian ini sangat memalukan?” tanya Li Anlan sambil menunjuka hanfu yang dikenakannya.
Long Ji Man langsung menarik tangan Li Anlan hingga wanita itu berbaring di tempat tidur. Li Anlan sempat terpekik, dia berteriak protes atas pelakuan kasar Long Ji Man. Tetapi, pria itu seolah menulikan pendengarannya. Dengan kekuatan yang dia punya, tubuhnya sedikit menindih tubuh mungil Li Anlan dan mulai menundukkan kepalanya ke leher Li Anlan. Wanita itu kembali berteriak sambil memberontak minta dilepaskan. Segala sumpah serapah dan kata-kata kasar meloncat keluar dari mulutnya.
“Raja gila! Raja jahat! Ji Man, kau bajingan! Cepat lepaskan aku! Pria brengsek, kau dengar tidak? Cepat lepaskan aku!”
“Bekerja samalah denganku jika kau ingin melewati malam ini dengan selamat!”
Li Anlan menggigit bahu Long Ji Man dengan kuat. Pria itu meringis, namun tetap melanjutkan aktivitasnya. Hatinya bimbang antara takut dan kasihan. Tetapi, dia harus melakukan ini demi keselamatan Li Anlan sendiri.
Di luar, sosok berjubah dengan tinggi semampai berdiri di depan pintu Istana Xingyue bersama beberapa orang. Sosok tersebut berada di keremangan cahaya, tetapi bayangannya tetap tembus sampai ke bagian dalam Istana Xingyue.
“Putraku benar-benar pria hebat!”
Sosok tersebut adalah Ibu Suri Han Yuemei, yang sengaja datang jauh-jauh dari Istana Shiyue ke Istana Xingyue hanya untuk melihat apakah semuanya berjalan baik atau tidak. Dia sangat puas karena putranya langsung menerkam Permaisuri Bangsawannya tanpa pemanasan terlebih dahulu.
“Tampaknya, Anda akan segera menimang cucu. Selamat, Yang Mulia. Pangeran Pertama pasti akan segera lahir,” ucap pelayan di sisinya. Mendengar hal tersebut, Ibu Suri sangat bahagia. Wanita itu kemudian pergi setelah memastikan semuanya berjalan dengan lancar.
Menyadari bahwa ibunya sudah pergi, Long Ji Man barulah melepaskan Li Anlan. Pria itu berbaring telentang setelah menghela napas panjang. Sementara itu, Li Anlan masih mengatur napas karena kesal dan marah. Ingin sekali dia memukul wajah pria itu dengan ransel gunungnya.
“Tenanglah. Aku tidak akan berbuat macam-macam padamu.”
Li Anlan masih mengatur napas.
“Yang Mulia, mengapa kau tidak memberitahuku lebih awal?”
“Apa yang harus kuberitahukan?”
“Bukankah ibumu barusan berdiri di depan pintu masuk istanaku?”
“Ternyata kau menyadarinya. Jika kuberitahu lebih awal, dia tidak akan percaya.”
Long Ji Man tentu tidak akan berbuat hal yang tidak senonoh pada wanita ini. Meskipun dia adalah istrinya, tetapi kesuciannya tidak boleh direnggut begitu saja. Dia tahu, bagi seorang wanita, kesucian adalah hal yang sangat berharga yang tidak bisa digantikan dengan apapun.
Jika wanita kehilangan kesucian oleh orang asing atau orang yang tidak dicintainya, maka hidup wanita itu akan hancur. Banyak kisah dari laporan kasus yang ia baca, banyak wanita lebih memilih bunuh diri daripada menjalani hidup sebagai wanita kotor. Long Ji Man tidak ingin Li Anlan kehilangan kewarasan dan menjadi hancur. Terlalu mengerikan jika dibayangkan.
“Yang Mulia, ibumu sangat mengerikan! Bisa-bisanya dia mengatur hal seperti ini!”
“Justru karena kau menantu kesayangannya, dia berani melakukan itu.”
“Hei, menantu apa? Menantu kesayangan ibundamu itu Permaisuri Jin, bukan aku!”
Wanita bodoh, bagaimana bisa dia tidak menyadari kalau mertuanya sangat tertarik kepadanya? Ah, Long Ji Man belum meberitahu Li Anlan bagaimana khawatirnya Ibu Suri Han Yuemei saat dia tertidur setelah diculik bandit Benteng Duanrou tempo hari. Wajar jika wanita itu tidak menyadari apapun.
“Yang Mulia, bagaimana sekarang?”
“Bagaimana apanya? Pintunya dikunci dari luar. Kita tidak punya pilihan lain selain tidur bersama.”
“Tidur bersama apanya? Ini namanya berbagi ranjang!”
“Terserah kau saja.”
Suasana hening sesaat. Kemudian, Long Ji Man bertanya,
“Duniamu, seperti apa keadaannya?”
“Kau ingin mendengar ceritaku?”
“Ya.”
Malam yang seharusnya digunakan untuk melakukan ‘sesuatu’ justru malah dipakai oleh keduanya untuk bercerita. Sepanjang malam, Long Ji Man mendengarkan cerita Li Anlan dengan antusias. Li Anlan seperti pendongeng yang handal dan lihai dalam menceritakan kisah fiktif. Tetapi, jauh di dalam lubuk hati Long Ji Man, dia meyakini setiap kata yang keluar dari mulut Permaisuri Bangsawannya adalah nyata.
...***...