
Satu bulan sudah berlalu di Kerajaan Dongling. Musim gugur sudah tiba, kelopak persik jatuh ke bumi. Kelopak persik yang sama juga jatuh di halaman Istana Xingyue. Persik indah yang selalu menjadi tempat favorit Li Anlan setiap kali bersantai dan merenung, kini meranggas menggugurkan daun. Sayang, pemiliknya tidak bisa menyaksikan setiap momen jatuhnya kelopak dan daun-daun tersebut.
Tabib Tao Zhun berkali-kali mengatakan bahwa harapan untuk bertahan hidup bagi Permaisuri Bangsawan sangat kecil. Satu bulan yang berlalu ini dilewati dengan berat dan dramatis. Suhu tubuh wanita itu sering berubah-ubah, kondisi tubuhnya juga sering menurun drastis. Bisa dikatakan bahwa Permaisuri Bangsawan mengalami kondisi vegetatif berkali-kali dan kehilangan napas serta detak jantungnya.
Meskipun begitu, Long Ji Man tidak akan menyerah. Dia yakin, harapan itu, meskipun kecil, tetaplah sebuah harapan yang harus berpendar. Li Anlan pasti selamat. Long Ji Man selalu mempunyai keyakinan yang tinggi bahwa wanita itu akan terbangun suatu saat.
Kini, tubuh wanita itu bahkan sudah diletakkan di atas es batu yang besar. Denyut nadi yang sangat kecil dan lemah memungkinkan tubuh wanita itu menjadi tubuh mati yang bisa membusuk kapan saja. Untuk mencegah itu semua, Long Ji Man memerintahkan seluruh bawahannya untuk membawa sebuah balok es besar agar tubuh Permaisuri Bangsawannya tetap utuh.
Setiap hari, setiap selesai bekerja di pengadilan di Istana Taiji, Long Ji Man menghabiskan waktunya untuk menemani Li Anlan di Istana Xingyue. Long Ji Man mengajaknya bercerita banyak hal, meskipun tidak ada jawaban atau sekadar kedipan mata sebagai bentuk respon dari yang diajak bicara. Tidak apa-apa, biarpun dia berbicara sendiri, dia yakin kalau di alam bawah sadar sana, Li Anlan mendengar suaranya dan mendengar seluruh ceritanya.
Lima orang selir yang saat itu ditangkap di Istana Harem sudah dieksekusi. Mereka dihukum karena telah meracuni Permaisuri Bangsawan dengan sengaja agar dia celaka. Pihak keluarga para selir tersebut sempat memohon pengampunan kepada Yang Mulia Raja, tetapi hukum tetaplah hukum. Apalagi, mencelakai Permaisuri Bangsawan adalah pelanggaran yang hukumnya sama dengan pemberontakan. Tidak ada amnesti untuk hukuman tersebut. Siapapun itu dan apapun jabatannya, semuanya akan dihukum sesuai dengan dekret yang sudah dikeluarkan Long Ji Man saat Li Anlan baru diangkat menjadi Permaisuri Bangsawan.
Terkait eksekusi tersebut, Long Ji Man juga menceritakannya pada Li Anlan. Sambil duduk di tepian ranjang, dia berkata bahwa orang-orang yang berniat jahat padanya sudah ia balaskan sebagian. Dia juga berkata bahwa Li Anlan tidak boleh marah jika dia membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menemukan dan menghukum pelaku yang sebenarnya.
Tidak jarang pula dia menangis seorang diri saat malam hari. Long Ji Man sangat merindukan Li Anlan. Pria itu merindukan suaranya, merindukan tawanya, merindukan kekacauan yang dibuatnya, merindukan perdebatan yang terkadang tidak ada habisnya, Long Ji Man merindukan segala yang ada pada diri wanita tersebut. Dia merindukannya. Sangat-sangat merindukannya.
“Huang An, kau akan terus tertidur?”
Long Ji Man mengusap pipi Li Anlan dengan punggung tangannya. Pipi yang biasanya berwarna itu sekarang begitu pias seperti tak berdarah.
“Kau tahu? Kau tidak melakukan tugas selama satu bulan. Bukankah kau sudah melanggar perjanjian kita? Kalau begitu, aku akan memotong gajimu.”
“Tidak, aku hanya bercanda. Aku tidak akan memotong gajimu karena kau sedang sakit. Kau bilang, aku harus menjadi bos yang baik hati, yang tidak terlalu perhitungan dengan para karyawannya.”
“Huang An, aku sudah bilang kalau kau tidak boleh menghilang dari pandanganku. Mengapa kau melanggarnya? Kau tahu hukuman melanggar perintah seorang Raja?”
Long Ji Man menunduk sesaat. Air mata pria itu jatuh.
“Lihat, sudah musim gugur. Li Huang An, kau tidak boleh terlalu lama pergi.”
Dari kejauhan, di ambang pintu masuk Istana Xingyue, Ibu Suri Han Yuemei dan Xiao Biqi berdiri sambil menatap Long Ji Man dengan sedih. Sungguh sakit rasanya melihat kedua orang spesial di Kerajaan Dongling seperti itu. Rasanya sangat memilukan melihat seorang raja duduk di pinggir tempat tidur sambil menangis di hadapan istrinya yang sakit sekian lama.
Perlahan, air mata Ibu Suri Han Yuemei juga menetes. Putranya sudah besar, sudah menjadi seorang raja yang hebat, tetapi tidak bisa menemukan kebahagiaan dari seorang wanita. Li Anlan yang telah memberikan warna ke dalam kehidupan putranya, justru malah terbaring tak berdaya bahkan sebelum putra tercintanya itu mengungkapkan segala perasaannya. Hati seorang ibu, betapapun kuatnya, tetap akan rapuh saat putranya bersedih dan menangis pilu.
“Yang Mulia, sebaiknya Anda istirahat. Hamba akan menjaga Yang Mulia Raja di sini,” ujar Xiao Biqi.
“Apa Man’er benar-benar menyukai Permaisuri Bangsawan?”
“Hamba tidak berani menjawabnya, Yang Mulia.”
“Menantuku sedang tidak baik-baik saja. Putraku menjadi terluka. Biqi, katakan, apa yang harus aku lakukan sekarang?”
“Yang Mulia, hamba tidak berani menebak, hamba sangat bodoh dan tidak tahu apa-apa.”
“Mengapa Permaisuri Bangsawan tertidur begitu lama? Apa dia tidak melihat kalau putraku begitu mengkhawatirkannya?”
“Yang Mulia, hamba yakin jika Nyonya Huang juga mendengar tangisan Yang Mulia Raja di alam bawah sadarnya.”
Ibu Suri Han Yuemei berbalik. Dia akan kembali ke Istana Harem. Dia sungguh tidak kuat lagi terus menerus menyaksikan putra kesayangannya menangisi Permaisuri Bangsawan. Baru saja ia melangkahkan kakinya, tiba-tiba dia mendengar suara putranya berteriak sangat keras memanggil orang dari belakang.
Ibu Suri Han Yuemei mengurungkan langkahnya lagi. Dia kembali berbalik. Di sana, di tempat tidur es, Long Ji Man terus berteriak memanggil orang sambil memegang erat tangan Li Anlan. Wajahnya sangat panik. Ibu Suri Han Yuemei segera menghampiri mereka dengan langkah cepat.
“Man’er, ada apa? Mengapa kau berteriak?”
“Ibunda, napas Huang An menghilang lagi!”
“Apa? Cepat, panggil tabib!”
“Tunggu apa lagi? Cepat bawa Tao Zhun kemari!”
Xiao Biqi dan dua orang kasim Istana Xingyue berlari ke Balai Pengobatan Kerajaan. Saat mereka sampai, lampu-lampu penerangan di sana sudah padam. Tanpa menunggu apa-apa, Xiao Biqi segera berteriak sambil menggedor pintu Balai Pengobatan Kerajaan dengan keras. Dua kasim yang mengikutinya juga melakukan hal yang sama.
Untung saja, salah seorang pekerja Balai Pengobatan Kerajaan masih terjaga. Orang itu langsung membangunkan Tao Zhun. Mendengar namanya dipanggil ke Istana Xingyue, seketika Tao Zhun langsung tersadar. Matanya langsung terbuka lebar. Dia benar-benar langsung terjaga.
“Apanya yang gawat, Tabib Tao?”
“Sesuatu pasti telah terjadi pada Permaisuri Bangsawan!”
Bersama Xiao Biqi dan dua kasim lainnya, Tao Zhun berlari dari Balai Pengobatan Kerajaan menuju Istana Xingyue. Dia berpacu dengan waktu. Sesuatu yang buruk pasti terjadi pada Permaisuri Bangsawan. Jatuh ke dalam kondisi vegetatif berkali-kali, mengalami penurunan kondisi berkali-kali, jika terlambat ditangani, mungkin nyawa Permaisuri Bangsawan tidak akan bisa diselamatkan!
Keempat orang itu berlari di atas jembatan Danau Houchi. Tidak lama kemudian, pintu gerbang Istana Xingyue sudah terlihat. Tao Zhun berlari paling cepat. Dia mendahului Xiao Biqi dan dua kasim lain. Tao Zhun langsung masuk ke dalam Istana Xingyue karena pintunya terbuka lebar.
“Hamba di sini, Yang Mulia,” ucapnya dengan napas tersengal-sengal.
Long Ji Man dan Ibu Suri Han Yuemei menoleh.
“Cepat!”
“Baik, Yang Mulia.”
Tao Zhun mulai memeriksa Li Anlan. Napas wanita ini tidak ada. Tao Zhun meraih pergelangan tangan Li Anlan, kemudian menekannya. Denyut nadinya juga sudah tidak terasa. Wajah wanita itu sangat pias. Bibirnya yang biasanya berwarna merah muda dan segar kini berwarna biru.
Tao Zhun memeriksa sekali lagi. Hasilnya tetap sama. Dia kemudian menekan titik akupuntur di tubuh Li Anlan, berharap denyut nadi dan napasnya bisa kembali meskipun pelan dan kecil. Sayangnya, meski sudah beberapa lama, baik denyut nadi maupun napasnya, keduanya tidak kembali.
Tabib muda itu menghela napas panjang. Dia menunduk.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Long Ji Man.
“Benar, bagaimana keadaan menantuku? Dia baik-baik saja bukan?”
“Maaf, Yang Mulia,” ucap Tao Zhun pelan.
“Mengapa kau minta maaf? Cepat katakan dengan jelas!” seru Long Ji Man setengah membentak.
“Pe..Permaisuri Bangsawan…Sudah tiada…”
Bak disambar petir, tubuh Long Ji Man dan Ibu Suri Han Yuemei ambruk. Tenaganya seolah habis tak bersisa. Long Ji Man menatap kosong ke arah tempat Li Anlan berbaring. Seluruh tubuhnya tiba-tiba bergetar. Apa yang baru saja dikatakan oleh tabib ini? Li Anlan sudah tiada? Ke mana? Ke mana jiwa wanita itu pergi sekarang?
Xiao Biqi, dua kasim, Wang Tianshi, pelayan pribadi Ibu Suri, Xie Roulan, dan dua pelayan tambahan dari Istana Harem langsung berlutut. Selain Xie Roulan, orang-orang tersebut merubah posisi tubuhnya menjadi bersujud. Mereka menangis. Air mata mereka jatuh membasahi lantai Istana Xingyue.
“Kau bercanda? Huang An tidak mati, dia hanya tertidur!”
“Yang Mulia, ampuni hamba yang tidak berdaya ini,” lirih Tao Zhun.
“Tidak mungkin!”
Long Ji Man meraih pergelangan tangan Li Anlan, kemudian meletakkannya di pipinya. Long Ji Man menggeleng keras. Tidak, tidak! Li Anlan masih hidup. Dia hanya tertidur. Tao Zhun pasti kehilangan kemampuannya karena berlari terlalu jauh dari Balai Pengobatan Kerajaan ke Istana Xingyue. Tabib bodoh itu pasti keliru! Dia pasti melakukan kesalahan!
“Nyonya… Nyonyaku masih hidup! Tabib Tao, kau pasti salah memeriksa!” seru Xie Roulan sambil menangis.
Long Ji Man tidak percaya. Li Anlan baik-baik saja. Wanita itu tidak akan mati secepat ini! Pasti ada sebuah kesalahpahaman di sini!
Tetapi, berapa kalipun Tao Zhun diminta memeriksa kembali, hasilnya tetap sama. Wanita itu sudah mati, sudah tak bernyawa, sudah kehilangan napas dan denyut nadi. Bahkan meminta tabib terhebat legendaris di dunia untuk memeriksanya pun, hasilnya akan tetap sama. Mereka akan sepakat pada kesimpulan: bahwa Permaisuri Bangsawan sudah tiada!
Long Ji Man mulai menangis lagi. Benarkah wanita ini sudah mati? Apakah semuanya benar-benar sudah berakhir?
Dia sudah gagal mempertahankan hidup istrinya. Long Ji Man sudah gagal menjadi seorang suami. Sebagai seorang raja, dia tidak bisa mempertahankan nyawa Permaisuri Bangsawannya. Langit malam di Kerajaan Dongling menjadi sangat pekat. Suara guntur tiba-tiba terdengar menggelegar. Kilat petir di langit mulai terlihat. Angin bertiup kencang. Air di Danau Houchi bergelombang, sebagian ada yang sudah melewati tembok dan benteng pembatas.
Perubahan alam terlalu tiba-tiba. Suhu udara menjadi sangat dingin. Rakyat Kerajaan Dongling yang masih terjaga bertanya-tanya apa yang sedang terjadi. Alam tiba-tiba seperti murka. Tetapi apa yang disebut murka, sejatinya adalah bentuk kepiluan yang menjelma dari hati seorang raja, seorang ibu suri, dan orang-orang terdekat keluarga kerajaan. Di dalam istana sana, di sudut dekat Danau Houchi yang legendaris, seorang wanita istimewa baru saja dinyatakan pergi selama-lamanya!
“Tidak! Huang An, kau tidak boleh pergi!”
...***...
Note: Author nangis nulis episode ini:(