The Little Consort

The Little Consort
Eps. 38: Mengajarkan Hal Baru


Karena Yang Mulia Raja Long Ji Man mempercayainya, maka Li Anlan tidak akan sungkan lagi. Hari ini, biarpun identitasnya hanya sebagai pelayan, tapi dia akan menunjukkan sesuatu yang baru yang belum pernah ditemukan dalam dunia pendidikan masa ini. Li Anlan punya banyak ilmu dan punya banyak guru. Tidak baik jika hanya dipendam seorang diri. Dia akan menunjukkan bahwa seorang wanita juga berpengetahuan, sama tingginya dengan laki-laki.


Li Anlan membagi kelas menjadi empat kelompok kecil. Jumlah siswa yang ada di kelas tersebut hanya ada enam belas orang, terdiri dari empat siswa berusia delapan tahun dan dua belas siswa berusia tujuh tahun. Latar belakang keluarga mereka adalah para pejabat dan bangsawan terpandang, kecuali Long Ji Mu, karena dia memiliki status istimewa sebagai Pangeran Ding, adik Raja Dongling.


Masing-masing kelompok terdiri dari empat orang siswa yang heterogen. Maksudnya, tiga orang berusia tujuh tahun dan satu orang berusia delapan tahun. Maka, masing-masing kelompok mempunyai satu orang anggota berusia delapan tahun dan tiga orang anggota berusia tujuh tahun. Adil, rata, tidak membedakan status dan latar belakang keluarga atau fisik.


Setelah menanyakan materi sastra apa yang hendak diajarkan oleh Guru Akademi, Li Anlan kemudian meminta pada guru tersebut untuk memberinya sebuah buku cerita yang isinya ringan, sederhana, dan mudah dipahami. Tetapi, guru tersebut berkata bahwa tidak ada buku yang sesuai dengan permintaan Li Anlan, karena semua buku yang ada di perpustakaan Akademi Kerajaan adalah buku teori. Tidak ada buku fiksi.


Sebagai alternatif, Li Anlan lalu menceritakan sebuah dongeng anak-anak yang pernah ia baca dalam buku kumpulan dongeng karya Grimms’ Bersaudara, Grimms’ Fairy Tales yang berjudul The Willow-wren and The Bear, atau Gelatik Dedalu dan Beruang. Li Anlan mengemas dongeng tersebut menjadi sebuah cerita sederhana yang latar tempat dan nama tokoh-tokohnya disesuaikan dengan keadaan di zaman kuno ini, agar sedikit lebih natural dan masuk akal.


Dongeng tersebut bercerita perihal seekor beruang yang mengalami nasib sial karena sudah menyinggung dan menghina enam ekor anak burung gelatik. Beruang tersebut awalnya tersentuh dengan suara merdu dari nyanyian burung-burung tersebut. Teman Si Beruang, Si Serigala memperingatkannya bahwa mereka harus tunduk dan sujud karena orang tua anak-anak burung itu adalah Raja dan Ratu. Namun, setelah melihat tempat tinggalnya, Si Beruang justru malah menghina anak-anak burung tersebut, hingga anak-anak burung yang malang menangis.


Saat orang tua mereka datang, anak-anak burung gelatik itu tidak mau makan, dan langsung menceritakan perihal penghinaan yang mereka dapat dari Si Beruang. Raja dan Ratu Gelatik terbang ke sarang beruang, dan bertanya mengapa Si Beruang menghina anak-anaknya. Setelah itu, Raja dan Ratu Gelatik mengumumkan perang terhadap beruang dan teman-temannya.


Singkat cerita, karena kecerdikan Si Nyamuk yang menjadi mata-mata, pihak musuh yakni Si Beruang dan teman-temannya dapat dikalahkan. Beruang tersebut harus meminta maaf pada anak-anak burung gelatik dengan tulus.


Gaya penceritaan dan pembawaan karakter yang diperankan Li Anlan yang sangat baik membuat anak-anak bersemangat. Mereka terlihat sangat antusias dan menikmati cerita aneh yang baru pertama kali mereka dengar. Ceritanya sederhana, namun isi dan maknanya sangat berharga.


Setelah Li Anlan menceritakan kisah tersebut, dia lalu menyuruh kelompok-kelompok tersebut untuk menuliskan apa yang mereka ingat setelah mendengarkan cerita yang ia tuturkan. Li Anlan memberi kelompok-kelompok itu waktu selama tiga puluh menit untuk berdiskusi dengan anggota masing-masing. Setelah itu, Li Anlan kemudian meminta setiap kelompok untuk menyampaikan hasil diskusi mereka, dan saling bertukar pikiran dengan kelompok yang lain.


Long Ji Mu tampil paling menonjol di antara yang lain. Bocah kecil itu maju ke depan seorang diri, lalu menyampaikan hasil diskusinya bersama kelompoknya dengan lancar tanpa tersendat. Penyampaiannya cukup bagus, melebihi kemampuan seorang anak seusianya. Memang, darah lebih kental dari air. Jika dari atasnya bagus, maka ke bawahnya juga akan bagus.


“Apa nilai terpenting dari cerita ini?” tanya Li Anlan pada siswa-siswa tersebut.


“Kita tidak boleh berbicara sembarangan!” jawab seorang anak dari kelompok pertama.


“Kita harus menghormati orang yang lebih tua!” seru seorang anak dari kelompok ketiga.


“Tidak boleh sombong!” ujar seorang anak dari kelompok kedua.


“Seorang pemimpin, tidak peduli bertubuh besar atau kecil, tetaplah pemimpin. Burung gelatik itu mungkin kecil, tapi dia cerdas dan memiliki kekuatan. Si Beruang bodoh yang terlalu menganggap tinggi dirinya dan meremehkan hingga menghina anak-anak burung, walaupun berbadan besar, tapi tidak punya kekuatan apapun,” tutur Long Ji Mu panjang lebar.


Li Anlan setuju dengan pendapat bocah kecil itu. Anak-anak ini ternyata sudah mampu mencatat dan menganalisa sesuatu berdasarkan apa yang telah mereka dengar. Jika kemampuan seperti ini diasah terus menerus, maka generasi masa depan bangsa di kerajaan Dongling pasti terjamin.


“Yang paling penting adalah, besar kecilnya kekuasaan dan pengaruhnya tergantung pada pembawaan si pemimpin sendiri. Burung kecil itu, kalau dia tidak bertindak tegas, maka makhluk-makhluk yang lebih besar darinya pasti akan semakin kurang ajar. Ini sama dengan Yang Mulia Raja. Jika Yang Mulia Raja tidak tegas dan tidak berani mengambil tindakan, maka bawahan-bawahannya akan bertindak di luar batas, bahkan mungkin melanggar hukum dan moral,” terang Li Anlan.


“Kalian adalah generasi emas, calon pemimpin masa depan. Kelak, jika kalian sudah besar, jadilah pejabat dan pekerja yang jujur dan sopan. Jangan pernah meremehkan atasan kalian. Mengapa? Karena kalian adalah pemimpin, pemimpin untuk diri sendiri, dan pemimpin keluarga. Paham?”


“Paham!” seru seluruh siswa di dalam ruangan secara serentak.


Melihat anak-anak yang begitu patuh pada seorang wanita yang disebut sebagai pelayan raja, Wakil Akademi Kerajaan dan Sekretaris Akademi Kerajaan menjadi curiga. Seorang wanita, apalagi pelayan, tidak mungkin memiliki pemikiran yang begitu luas dan kreatif. Bahkan para pria lulusan Akademi Kerajaan dengan nilai tertinggi saja belum tentu bisa mendisiplinkan anak-anak seusia mereka yang belum lama menduduki bangku Akademi Kerajaan. Tapi, Li Anlan, hanya dengan sebuah cerita dan mengubah kelas menjadi berkelompok, bukan hanya mendisiplinkan, tapi menyampaikan pelajaran sastra secara komunikatif.


“Nona pelayan, mengapa mereka bisa begitu patuh padamu?” tanya Wakil Akademi Kerajaan.


“Sastra adalah bentuk emosi manusia. Sifatnya ekspresif. Jika hanya materi saja, bagaimana mereka akan tahu rasa atau esensi dari sesuatu yang disebut sastra tersebut?”


“Tapi, mengapa harus dengan cerita aneh seperti itu?”


“Umur mereka baru tujuh dan delapan tahun. Otak mereka belum berada pada tahap untuk mencerna hal-hal yang kompleks.”


“Nona pelayan, bisakah kau mengatakan sesuatu dengan perkataan yang bisa kami pahami?” tanya Sekretaris Akademi Kerajaan.


“Tuan Sekretaris, aku tidak memiliki banyak kewenangan untuk berbicara di sini,” ujar Li Anlan, sambil menatap Long Ji Man.


Seolah mengerti situasi, Long Ji Man berdehem. Dia kemudian mengajak Wakil Akademi Kerajaan dan Sekretaris Akademi Kerajaan keluar dari kelas, lalu memilih tempat yang cocok dan nyaman untuk berbicara lebih jauh.


Keempat orang itu sekarang berada di ruangan kerja Wakil Kepala dan Sekretaris Akademi Kerajaan. Tempat itu agak jauh dari ruang kelas tadi, dan memakan waktu sekitar lima menit untuk sampai dengan berjalan kaki. Ukurannya lebih luas. Ada banyak rak buku berjejer di bagian kiri dan kanan ruangan ini. Di tempat utama, terdapat beberapa buah set meja dan kursi.


“Jadi, Nona Pelayan, bisa kau lanjutkan?”


“Saat kita berhadapan dengan anak kecil, yang harus kita lakukan adalah meningkatkan sekresi hormon dopamin di otak mereka, baru bisa belajar dengan baik.”


“Hor-horm-hormon dop-dopamin?” tanya Wakil Akademi.


“Apa itu?”


“Ah, itu adalah sesuatu di dalam tubuh yang dapat mempengaruhi kerja tubuh.”


Li Anlan bukan mahasiswa biologi atau kimia. Pengetahuannya perihal fungsi dan reaksi kimia dalam tubuh tidak mendalam. Dia hanya mengetahui dasar-dasarnya saja, itupun ia pelajari dari teman dan internet serta beberapa buku yang dirasa cukup untuk mengisi otaknya saat sedang merasa kosong.


Untuk menghindari tuntutan akan penjelasan lebih lanjut, Li Anlan meminta Long Ji Man untuk membiarkannya berkeliling sebentar. Biarkan para petinggi Akademi Kerajaan ini penasaran hingga mereka bisa memikirkan sesuatu yang berguna. Dengan begitu, Li Anlan bisa sedikit bersantai.


“Yang Mulia, pelayan itu?” tanya Wakil Akademi Kerajaan saat Li Anlan sudah meninggalkan ruang kerja. Sejak awal dan sejak dia melihat interaksi Li Anlan dengan Long Ji Mu, dia sudah curiga pada identitas Li Anlan. Tidak mungkin seorang pelayan raja begitu akrab dengan seorang pangeran dan berpengetahuan luas dan unik.


“Sebenarnya, dia adalah salah satu selirku.”


Untuk sesaat, Wakil Akademi Kerajaan dan Sekretaris Akademi Kerajaan saling bepandangan, mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh raja mereka.


“Bagaimana mungkin?”


“Tidak ada yang tidak mungkin. Perihal kejadian hari ini, jangan beritahukan siapapun!”


“Baik, Yang Mulia.”


Ketiga orang itu tidak membahas Li Anlan lebih jauh lagi. Mereka beralih topik pada perkembangan para pelajar di Akademi Kerajaan serta perkembangan Long Ji Mu, adik Sang Raja Dongling yang baru masuk belum lama ini. Setelah itu, mereka membicarakan perihal situasi politik di pengadilan yang lumayan stabil.


Long Ji Man dan Li Anlan beserta rombongan pengawal kerajaan baru kembali ke istana saat hari mulai sore. Jalanan yang ramai oleh para penduduk kota sudah hampir seperti sebuah pasar tradisional. Apalagi, suasana sore hari di pertengahan musim semi sangat cerah dan indah. Li Anlan sesekali mengintip dari celah kain yang menutupi jendela kereta raja, sambil berdecak kagum.


“Metode apa yang kau gunakan tadi?”


Li Anlan mengalihkan pandangan pada Long Ji Man untuk sesaat, lalu kembali fokus pada keramaian di luar kereta.


“Rahasia.”


Padahal, di dalam hatinya, Li Anlan sedang tertawa. Metode yang ia gunakan tadi sebenarnya metode pengajaran yang sangat sederhana dan sangat lazim digunakan oleh guru-guru di zaman modern. Metode tersebut adalah metode pengajaran CIRC atau Cooperative Integrative Reading and Composition yang ia modifikasi. Li Anlan memilih menggunakan metode itu karena ia melihat situasi anak-anak yang ribut dan kacau. Jadi, dia harus membuat anak-anak itu kembali patuh dengan cara yang tidak disangka-sangka.


“Mengapa kau membantu mereka?”


“Aku tidak bisa menjadi pecundang yang membiarkan masa depan bangsa menjadi gelap.”


Kata-kata yang sangat manis, ucap Long Ji Man dalam hati.


Li Anlan sepertinya melupakan sesuatu yang sangat penting bagi kelangsungan hidupnya di dunia ini. Dia terlalu bersemangat hingga tidak sadar bahwa ia sudah melakukan sesuatu yang membuat dirinya sedikit berguna di depan orang lain. Li Anlan tidak tahu, takdir seperti apa yang sedang menantinya di masa depan akibat perbuatannya hari ini.


...***...


...Halo para pembaca kesayangan Author! Apa kabar? Wah, Li Anlan tanpa sadar sudah mengekspos kemampuannya! Apa yang akan terjadi di masa depan? Stay tune terus ya, sampai jumpa di episode berikutnya! Salam hangat dari sesama pecinta kata!...