
Para bandit Gunung Feiyun adalah para bandit terkuat sepanjang sejarah Kerajaan Dongling. Puluhan tahun lalu, seorang mantan kepala pengawal istana kabur setelah mendapatkan pelatihan hingga kemampuan beladirinya mencapai tingkat terampil. Untuk menghindari kejaran para pengawal istana, dia melarikan diri ke pedalaman hutan Linghua yang dilindungi, lalu membangun markas bandit bersama beberapa rekannya. Mereka sering datang ke kota untuk jual beli budak yang diculik dari keluarga yang hilang secara illegal. Kini, markas bandit tersebut semakin besar dan kuat. Orang-orang menyebutnya Bandit Benteng Duanrou, yang sering menculik wanita untuk dijual ke pasar budak.
Li Anlan yang tidak beruntung karena diculik oleh mereka dibawa ke bangunan utama di wilayah tersebut, yang lebih besar dan lebih bersih dari tempatnya disekap. Para penghuni markas yang sedang berkumpul di halaman menatap takjub pada seorang wanita yang berjalan dengan hentakan kaki kasar dan marah, yang berwajah ayu nan rupawan. Bak seorang Dewi dari kahyangan, Li Anlan seolah menjadi primadona baru di kalangan para bandit tersebut.
Wanita itu sampai di sebuah ruangan yang besar dengan banyak ukiran kayu yang berkilauan di dinding dan tiang.
Dua orang bandit yang berjalan di belakangnya terus menerus mendorongnya untuk berjalan sedikit lebih cepat, karena seseorang di depan sana sudah menunggu mereka.
Seseorang yang dimaksud oleh dua bandit tersebut adalah seorang pria setengah baya yang jelek dan kumal, tetapi matanya menyiratkan bahwa orang itu bukanlah orang bodoh yang mudah ditipu, seperti mata seseorang yang sudah pernah mengalami puluhan kejadian yang menuntut ketepatan menilai. Rambutnya diikat, di tangannya terdapat sebuah pedang yang panjang. Dalam sekali pandang, Li Anlan dapat menebak bahwa pria jelek itu adalah ketua bandit Benteng Duanrou yang terkenal kejam dan tidak berperikemanusiaan.
“Ketua, ini adalah wanita yang kau perintahkan untuk kami tangkap,” ujar salah seroang bandit.
Si Ketua jelek nan kejam itu memicingkan mata, menelisik setiap sudut wajah Li Anlan yang menapilkan ekspresi kesal dan marah. Ketua yang jelek itu lalu manggut-manggut, kemudan meneguk segelas arak yang baunya sangat kuat hingga dapat tercium oleh hidung Li Anlan. Berkali-kali dia manggut-manggut lagi, kemudian meneguk segelas arak, begitu dan begitu hingga lima kali teguk.
“Ketua, wanita ini sangat nakal. Sedari tadi dia terus berteriak dan membuat keributan,” ucap salah seorang bandit yang lain.
“Nakal?” tanya Si Ketua memastikan.
“Benar. Bagaimana kalau kita bunuh saja?” Salah seorang bandit yang tadi berbicara pertama kali menyarankan.
“Tidak. Tuan meminta kita untuk terus membiarkannya hidup,” tolak Si Ketua jelek dengan tegas. Dua bandit bawahannya kecewa, merasa tidak terima dengan penolakan yang dilontarkan oleh ketua mereka. Dua bandit itu dibuat kesal dengan tingkah Li Anlan yang tidak bisa diam dan terus berteriak, hingga membuat keributan dan memaksa para penjaga pintu turun tangan untuk membuatnya diam.
Li Anlan, dalam kekesalannya, diam-diam berpikir siapakah tuan yang dimaksud oleh ketiga bandit sialan ini. Jika tuan yang dimaksud adalah seseorang yang menyuruh mereka, itu berarti mereka tidak bergerak sendiri. Mereka pasti sudah lama mengawasi gerak-gerik Li Anlan hingga tahu kapan ia akan keluar istana dan penjagaan menjadi lengah. Tuan yang mereka maksud pasti seseorang yang punya kuasa, hingga berani menculik seorang Permaisuri Bangsawan milik Raja Dongling.
Ah, sial! Apa yang sudah dia lakukan hingga seseorang mengusik hidupnya? Entahlah, Li Anlan tidak yakin pada dirinya sendiri. Dia hanya ingin menikmati hidupnya di dunia asing ini, tetapi seseorang malah mengganggu kedamaiannya tanpa ia tahu kesalahan apa yang telah ia buat. Karena sudah seperti ini, lebih baik menyelam sambil minum air saja. Li Anlan akan memanfaatkan para bandit sialan ini untuk mencari tahu siapakah atasan mereka yang sesungguhnya.
“Hei, kakak bandit sialan yang baik hati! Kenapa kalian menculikku?”
Pertanyaan bodoh tersebut tentu saja ditujukan untuk mengetahui tingkat kecerdasan para bandit ini. Jika mereka menjawab, maka mereka sungguh bodoh. Jika mereka tidak menjawab, itu artinya Li Anlan akan kesusahan karena para bandit ini pasti cerdas. Mereka yang cerdas tidak akan memberitahukan siapa atasan mereka pada seorang sandera seperti dirinya.
“Kau ingin tahu?” Si Ketua Bandit bertanya balik.
“Tentu saja!”
“Kenapa kau ingin tahu?”
“Aku ini seorang sandera yang teraniaya. Jika kalian tidak memberitahuku siapa bos kalian, aku akan semakin teraniaya. Kalian tidak akan membiarkan seorang wanita yang mulia sepertiku menderita bukan?”
Si Ketua Bandit tampak berpikir. Li Anlan bersorak dalam hati, meneriaki kebodohan para bandit yang berlagak kejam tetapi berhati hello kitty seperti mereka. Dia menebak bahwa sebentar lagi dia akan mengetahui siapakah dalah di balik penculikannnya kali ini.
“Tuan kami orang yang statusnya tinggi.”
“Tinggi aku atau tinggi dia?”
“Memangnya apa jabatanmu?”
“Aku ini Nyonya Huang. Kalian tidak tahu?”
Si Ketua Bandit dan dua orang anak buahnya sangat terkejut. Mereka sungguh tidak menyangka, wanita yang mereka culik adalah seorang Permaisuri Bangsawan. Mereka pikir Li Anlan hanyalah seorang selir atau putri biasa yang tidak mempunyai kedudukan spesial seperti ini. Takut dan ragu bercampur menjadi satu. Takut, karena Raja Dongling pasti akan mencari istrinya dan memburu mereka. Ragu, jika Li Anlan berbohong soal status dan kedudukannya.
“Ketua, bagaimana ini? Raja pasti akan memenggal kepala kita!” ujar salah seorang bandit sambil berbisik.
“Mana aku tahu! Tuan hanya menyuruh kita untuk menangkap dan menculiknya, sama sekali tidak memberitahukan kalau wanita cantik itu adalah seorang Permaisuri Bangsawan!”
“Lalu apa yang harus kita lakukan? Bagaimana kalau kita lepaskan dia, lalu pergi dari sini?”
“Bodoh! Kau ingin Tuan marah dan menghukum kita? Nyawamu ada berapa, hah?”
Melihat mereka berdua sibuk berdiskusi, Li Anlan semakin bertumpuk saja kekesalannya. Apa para bandit ini tidak menganggap keberadaannya? Apa mereka beranggapan bahwa Li Anlan hanyalah sebuah patung wanita cantik?
“Kakak Ketua Bandit sialan yang baik hati, tinggi siapa statusnya? Aku atau tuanmu?”
“Te..Tentu saja Tuan kami yang lebih tinggi! Kau tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan dia!”
“Kau ingin bertemu tuan kami?” tanya Ketua Bandit.
Li Anlan mengangguk.
“Hentikan bualanmu itu! Wanita, kau cukup cantik. Bagaimana jika kau menikahi putraku saja? Aku jamin kau akan hidup enak dan bahagia di sini,” ucap Si Ketua Bandit tiba-tiba.
“Hei, aku ini istri orang! Bagaimana bisa menikah dengan pria lain!”
“Tentu saja bisa. Setelah menikah dengan putraku, statusmu akan lepas dan kau hanya akan menjadi seorang istri bandit saja.”
“Kakak Ketua Bandit, kau tidak tahu kalau poliandri dilarang?”
“Cukup! Umumkan pada saudara-saudara kita, hari ini akan ada pernikahan antara Tuan Muda dengan seorang wanita cantik dari desa! Kau, suruh saudara-saudara wanita untuk mendandaninya. Kau, beli beberapa barang dan baju pengantin! Ingat, hari ini harus sudah tersedia!” perintah Si Ketua Bandit.
Li Anlan menganga. Bagaimana bisa pria jelek ini membuat keputusan yang sangat mengesalkan seperti ini? Menikah? Yang benar saja! Menjadi istri seorang raja saja sudah sangat merepotkan, apalagi menjadi istri seorang bandit! Penderitaan Li Anlan pasti akan bertambah berkali-kali lipat.
Beberapa wanita yang pakaiannya hampir serupa dengan para bandit ini masuk. Mereka sepertinya adalah para istri bandit sialan ini. Para wanita itu kemudian membawa Li Anlan menuju sebuah bangunan yang dihuni oleh beberapa wanita lain. Li Anlan terus berteriak dan memberontak, tetapi tenaga para wanita ini cukup besar hingga Li Anlan tidak bisa menandinginya. Dia berjalan setengah diseret, sambil terus berusaha melepaskan diri.
Di sudut Hutan Linghua yang lain, Long Ji Man dan Wang Tianshi menyusuri setiap jalan menuju markas Bandit Benteng Duanrou. Mereka tak hanya melewati jalanan berbatu dan semak belukar, tetapi juga tebing dan pinggiran jurang yang sangat curam. Pantas saja para pengawalnya tidak bisa menemukan markas ini, karena ternyata medannya saja sudah sangat menyusahkan.
Tetapi, Long Ji Man tidak mau kalah. Dia harus tetap bertahan dan harus segera sampai ke markas itu. Dia punya sebuah misi yang sangat penting, melebihi pentingnya rapat dengan para pejabat. Long Ji Man punya misi untuk menyelamatkan istrinya, yang menghilang karena diculik oleh para bandit tersebut. Kalau dia tidak punya misi, dia tidak akan repot-repot berjuang melawan bahaya. Berdiam di istana sambil dilayani lebih menyenangkan daripada menyusuri semak belukar dan jalan berbatu, atau melewati jurang yang dalam.
Saat Long Ji Man dan Wang Tianshi sampai di wilayah yang lebih tinggi, mereka melihat sebuah benteng dari batu yang dibangun membentuk setengah lingkaran, membentang membentuk tapal kuda. Di dalam benteng tersebut tampak beberapa bangunan yang terbuat dari kayu dan atapnya dari rumput dan ijuk yang megah dan kokoh. Tetapi, yang mereka herankan adalah banyaknya kain merah yang membentang hampir di setiap tiang bangunan tersebut. Dari kejauhan, mereka juga melihat banyak orang sedang berlalu lalang sambil membawa barang, persis seperti orang di sebuah kediaman yang hendak melangsungkan acara pernikahan.
“Yang Mulia, apa mereka sedang mempersiapkan sebuah pernikahan?” tanya Wang Tianshi.
“Mungkin saja.”
“Lalu apa yang harus kita lakukan?”
“Li Anlan punya wajah yang cantik. Tidak mungkin jika mereka tidak tergoda.”
Long Ji Man menjeda perkataannya, kemudian ia melanjutkan,
“Tianshi, kembalilah ke istana! Bawa pasukan untuk menangkap mereka!”
Wang Tianshi tampak ragu,
“Yang Mulia, kau tidak akan pergi ke sana sendiri, kan?”
“Cepat! Tidak ada waktu lagi!”
“Yang Mulia, jangan melakukan itu! Di sana sangat berbahaya, jika sampai terjadi sesuatu, bagaimana aku bisa menjelaskannya pada rakyat Dongling?”
“Ckck… Tianshi, sejak kapan kau jadi cerewet seperti wanita?”
“Yang Mulia, ini demi kebaikanmu!”
“Tidak ada waktu lagi! Cepat atau Permaisuri Bangsawan akan menjadi istri seorang bandit!”
Long Ji Man mendorong pengawal pribadinya menjauh. Meskipun ragu, pada akhirnya Wang Tianshi tetap pergi. Pria itu berlari secepat yang ia bisa dan mengerahkan semua ilmu beladirinya agar bisa sampai ke istana sesegera mungkin. Di pundaknya sekarang terdapat dua nyawa yang sedang dipertaruhkan.
Sementara itu, sepeninggal Wang Tianshi, Long Ji Man terus menerus memperhatikan markas para bandit yang semakin sore menjadi semakin ramai. Tidak lama kemudian, dia melihat seorang wanita berpakaian serba merah bertatahkan emas dan mutiara di mahkota kepalanya keluar dari sebuah bangunan diiringi beberapa orang wanita lain. Pengiring wanita itu mengenakan sebuah ikat pinggang berwarna merah dari kain satin. Mata Long Ji Man memicing. Dia mengeluarkan sebuah benda berwarna hitam, kemudian menempelkannya di kedua matanya.
“Sial! Mereka akan memulai upacaranya!”
...***...
...Halo, para kesayangan Author! Akhirnya Author bisa nyuri waktu buat up, tapi cuma segini upnya😢 sedih banget belum sempet kasih yg banyak, padahal kangen banget sama Li Anlan & Long Ji Man. Doain semoga kegiatannya cepet beres & mood Author baik, biar bisa lama-lama berpetualang sama Ji Man dan Anlan, hihihi......
...Oh ya, ada yang bisa nebak siapa "Tuan" yang dimaksud para bandit? Kalau ada, coba tulis di kolom komentar ya!...