The Little Consort

The Little Consort
Eps. 44: Panti Asuhan


Kereta kuda yang ditumpangi Li Anlan dan Long Ji Man melaju kembali, membelah jalan dan keramaian ibukota Dongling. Kota yang padat penduduk dengan mata pencaharian pedagang dan pejabat ini adalah pusat dari semua kegiatan ekonomi. Ibukota juga menjadi tempat berlangsungnya transaksi dan kerjasama, serta tempat bernaungnya pada saudagar dari negeri luar.


Li Anlan masih memikirkan kelahiran bayi tadi. Dia kembali menatap kedua tangannya. Jika saja dia tidak pernah membaca dan tidak pernah bertanya pada salah satu teman yang menjadi dokter kandungan saat berada di dunia modern, bayi dan wanita itu pasti tidak akan selamat.


Distosia bahu hanya terjadi pada 1 dari 200 kelahiran. Jika Li Anlan tidak mengambil tindakan beresiko, wanita itu pasti akan mengalami pendarahan dan kontraksi berlebihan pada rahimnya. Bayinya juga tidak akan bisa bernapas. Untung saja, dia masih punya keberanian untuk bertindak meskipun sangat awam, hingga ibu dan bayi bisa selamat.


Jika berada di rumah sakit, dokter kandungan yang menanganinya pasti sudah melakukan operasi caesar untuk mengeluarkan si bayi. Perut si ibu hamil akan dibedah oleh pisau dan gunting operasi, lalu bayi itu akan dikeluarkan dari rahim si ibu. Setelah itu, perut yang robek itu dijahit kembali, dan meninggalkan bekas luka yang mengerikan jika dilihat.


Di sisi lain, Long Ji Man justru menaruh kagum pada Li Anlan. Wanita tidak terduga yang beberapa waktu ini memiliki kontak dengannya semakin membuat Long Ji Man penasaran. Bukan hanya keberaniannya, tapi juga kemampuan tidak terduganya. Kebanyakan wanita biasa, apalagi wanita bangsawan, akan menyingkir saat seorang wanita hamil hendak melahirkan. Mereka akan merasa takut lalu bersembunyi.


Tapi, dia, yang disebut-sebut sebagai gadis bodoh yang tidak memiliki bakat apapun, malah menyingkirkan atribut kebangsawanannya dan juga mengesampingkan statusnya sebagai seorang selir raja untuk membantu seorang wanita biasa yang tidak dikenalnya melahirkan dengan normal.


Li Anlan belum pernah hamil dan belum pernah melahirkan. Tapi, tindakannya tadi menunjukkan bahwa Li Anlan memiliki pengetahuan perihal persalinan dan ibu hamil, hingga dapat bertindak meskipun ragu-ragu. Keraguan itulah yang justru membangkitkan keyakinan dalam diri wanita itu hingga dia berhasil melakukannya dengan baik.


Meski tidak ingin percaya, tapi apa yang dilihat Long Ji Man oleh kedua matanya sendiri adalah kenyataan yang benar-benar terjadi.


“Tuan Muda, kita sudah sampai.”


Suara Wang Tianshi menyadarkan Long Ji Man dan Li Anlan dari pemikiran mereka. Long Ji Man bergegas turun dari kereta, disusul Li Anlan. Mereka sampai di depan sebuah bangunan megah berhalaman luas dan berpagar kokoh. Pintu-pintu dan jendela-jendelanya mengkilap. Li Anlan menebak bahwa ini adalah bangunan yang baru selesai dibangun.


“Tuan Muda, tempat apa ini?”


“Bukankah kau berkata kalau aku harus bertanggung jawab pada rakyatku?”


Li Anlan berpikir sejenak. Otaknya berputar mencari ingatan perihal kata tanggung jawab. Kapan dia berkata seperti itu pada Long Ji Man? Tanggung jawab apa yang dia pinta pada pria itu?


“Lihat, kakak cantik itu datang!” teriak seorang anak yang baru keluar dari dalam bangunan itu. Kemudian, beberapa orang anak yang lain ikut keluar. Mereka berlari menyambut kedatangan Long Ji Man dan Li Anlan.


Anak itu adalah anak yang beberapa waktu lalu berada di rumah tua di hutan itu. Selain dia, anak-anak yang lain juga ada di sini. Li Anlan memandang Long Ji Man seperti meminta penjelasan mengapa anak-anak ini ada di sini.


“Seperti yang kau tahu, pemotongan gaji para menteri kugunakan untuk membangun rumah bagi mereka.”


“Tuan Muda, kau benar-benar membuatkan tempat tinggal untuk mereka?”


Long Ji Man mengangguk. Ini adalah kejutan kecil yang ingin dia berikan untuk Li Anlan. Wanita itu sudah berjasa mengingatkannya bahwa tidak semua rakyatnya hidup sejahtera. Long Ji Man menepati perkataannya saat ia mengungkapkan akan membangun rumah untuk rakyatnya di pengadilan lalu. Sekarang, rumah itu sudah selesai dibangun dan sudah bisa ditinggali.


“Mereka baru pindah beberapa hari yang lalu,” ungkap Long Ji Man.


“Bagaimana kau melakukannya?”


“Aku seorang raja. Apa yang tidak bisa dilakukan orang lain, aku bisa melakukannya.”


Li Anlan sedikit mendengus. Tapi, meskipun narsisme pada diri Long Ji Man tinggi, tidak dipungkiri bahwa pria itu berhati baik. Meskipun Li Anlan sering menyinggungnya, dia tidak pernah mendapatkan hukuman berat. Sekarang, pria itu membuatkan sebuah rumah untuk anak-anak terlantar, menunjukkan bahwa dia cukup bijak meski sempat dikata-katai oleh Li Anlan. Bisa dibilang, Long Ji Man cukup berhati lapang.


Pria pencuri yang waktu itu dikejar Li Anlan juga keluar dari bangunan, ikut menyambut kedatangan Long Ji Man dan Li Anlan. Pakaiannya lebih rapih dari yang ditemui Li Anlan terakhir kali. Dia dan anak-anak itu menunduk memberi hormat.


“Hei, pencuri, otakmu sudah tidak berfungsi ya?”


Li Anlan bisa bersikap biasa jika pria itu mengetahui identitas Long Ji Man. Dia cukup memberi hormat pada Long Ji Man saja, tidak perlu memberi hormat padanya pula seperti ini. Terakhir kali, pencuri itu bersikap angkuh dan sombong padanya. Mengapa sekarang menjadi berbeda?


“Nyonya, maaf atas kelancanganku beberapa waktu lalu,” jawab pria itu.


“Tuan Muda, dia kenapa?” bisik Li Anlan pada Long Ji Man.


“Dia sudah tahu identitasmu.”


“Apa? Bagaimana bisa?”


Long Ji Man tidak mau menjawab pertanyaan Li Anlan. Pria itu malah mengikuti si pencuri masuk bersama anak-anak ke dalam bangunan. Li Anlan menyusul meskipun belum merasa puas. Saat dia melangkahkan kaki di ruang utama bangunan, dia terpukau. Desain ruangan dalam bangunan ini begitu indah. Ukiran-ukiran kayu di setiap tiangnya hampir menyerupai ukiran kayu di tiang Istana Hongwu. Di sini bahkan lebih indah dari Istana Xingyue milik Li Anlan.


Long Ji Man dan Li Anlan dipersilakan duduk di kursi kayu paling depan, yang biasa digunakan oleh para tuan dan nyonya besar di kediaman-kediaman keluarga bangsawan. Sementara itu, si pencuri dan Wang Tianshi duduk di kursi lain, yang letaknya menyamping dari arah pandang Li Anlan dan Long Ji Man.


Pria pencuri itu berdiri, lalu bersujud di hadapan Li Anlan. Melihat apa yang dilakukan orang aneh itu, seketika Li Anlan membelalak. Dia berdiri, lalu menyingkir ke samping. Tapi, si pria pencuri malah merubah arah sujudnya mengikuti arah pergerakan Li Anlan.


“Aku ingin berterima kasih pada Nyonya. Mohon terima sembah sujudku.”


“Untuk apa?”


“Jika waktu itu aku tidak bertemu denganmu dan kau tidak mengikutiku ke rumah tua, nasib kami mungkin akan lebih buruk.”


“Hei, itu karena aku belum selesai berdebat denganmu!”


“Jika Nyonya tidak membawa Yang Mulia, kami tidak akan mempunyai tempat tinggal yang layak,” ucap si pria pencuri, masih dalam posisi sujudnya.


“Ahahaha…. Sudahlah, semuanya sudah terjadi. Kau bangunlah, jangan menakutiku dengan bersikap seperti itu!”


“Terima kasih atas kerendahan hati Nyonya.”


Si pria pencuri bangkit, lalu kembali duduk di tempatnya. Li Anlan juga kembali ke tempatnya. Long Ji Man menyunggingkan sedikit senyum saat dia melihat respon Li Anlan. Di dunia ini, jika ada orang yang bersujud pada seseorang, maka kehormatan seseorang yang diberi sujud itu akan naik berkali lipat. Banyak orang menghalalkan segala cara agar mendapatkan pengakuan dan sembah sujud dari orang lain. Tidak pria, tidak wanita, semuanya sama. Tapi, Li Anlan justru ketakutan dan menolak sujud itu.


“Siapa namamu?” tanya Li Anlan pada pria pencuri.


“Namaku He Ziyue, Nyonya.”


“Kau tidak akan menjadi pencuri lagi kan?”


“Tidak, Nyonya. Yang Mulia memberiku pekerjaan tetap yang gajinya cukup tinggi. Yang Mulia juga sudah mengatur orang untuk mengirimkan bahan makanan dan pakaian setiap bulan ke sini. Itu sudah cukup untuk menghidupi anak-anak di sini.”


“Bagus. Lalu bagaimana dengan pendidikannya?”


“Maksudmu, mereka juga harus bersekolah?” sela Long Ji Man.


“Tentu saja. Pendidikan itu seharusnya menjadi hak setiap orang, entah itu bangsawan atau rakyat jelata. Yang Mulia, kau tidak akan membiarkan anak-anak itu memiliki masa depan yang samar bukan?”


Long Ji Man berpikir sejenak. Perkataan Li Anlan sedikit jauh dari perkiraan. Pendidikan untuk anak terlantar, sepertinya adalah hal yang baru. Selama ini, anak-anak yang bersekolah adalah anak-anak bangsawan, pejabat, dan orang kaya. Anak-anak dari kalangan bawah tidak pernah bersekolah. Mereka hanya bermain dan membantu orang tua, serta belajar membaca dan menulis hanya sebagai dasar.


“Kalau Yang Mulia tidak memfasilitasi mereka, aku sendiri yang akan mengajar mereka.”


“Tidak boleh!”


“Mengapa?”


“Identitasmu tidak boleh terbongkar! Kau wanita istana, tidak bisa sembarangan keluar!”


Sudah Li Anlan duga, Long Ji Man akan bersikap seperti itu. Prediksi Li Anlan tepat sasaran.


“Kalau begitu, apa Yang Mulia punya ide?”


“Aku akan mengutus seorang cendekiawan untuk mengajari mereka.”


“Begitu baru bagus.”


Li Anlan ikut senang. Sekarang, anak-anak itu tidak hanya mempunyai rumah, tapi juga bisa bersekolah. Li Anlan berharap, masa depan mereka bisa cerah. Biarlah mereka tidak punya orang tua, asal mereka berusaha dan punya kemampuan, pasti akan ada yang mau menggunakan tenaga mereka bila besar nanti. Di sini, pekerjaan yang paling menjanjikan adalah menjadi pejabat.


Jika anak-anak itu bisa membaca, menulis, dan berpengetahuan, mereka bisa menjadi pejabat, meskipun hanya menjadi petugas biasa atau menjadi pejabat tingkat rendah. Raut bahagia di wajah anak-anak itu sungguh menyentuh hati. Senyum mereka seperti tanpa beban.


“Yang Mulia,” panggil Li Anlan.


“Em?”


“Terima kasih.”


...***...