The Little Consort

The Little Consort
Eps. 78: Jebakan


Kedekatan hubungan antara Li Anlan dan Long Ji Man akhir-akhir ini tak ayal membuat seseorang menjadi gusar. Hubungan antara Raja dan Permaisuri Bangsawan telah menjadi perbincangan hangat yang membuat banyak orang merasa terhibur dan secara tidak langsung memberikan dukungan kepada keduanya.


Tidak hanya soal kecerdasan dan kemampuan tidak terduga yang Li Anlan miliki, tetapi sifatnya yang unik membuat pihak-pihak borjuis sedikit menargetkannya sebagai objek politik. Banyak di antara mereka memohon pada raja untuk bertemu dengan Li Anlan secara langsung, namun ditolak mentah-mentah karena raja sendiri sudah berjanji tidak akan membiarkan dia ikut campur dalam pemerintahan.


Siapa yang akan tahan dengan perlakuan spesial macam ini? Orang paling baik hati pun akan merasa dongkol saat atasan mereka terus memperlakukan seorang bawahan dengan sangat berbeda meskipun itu adalah kewenangannya sendiri.


Di sebuah tempat di sudut Kerajaan Dongling, seorang "Tuan Besar" berjubah yang mengepalai para bandit Benteng Duanrou melemparkan segelas arak ke wajah bawahannya yang berlutut. Mengetahui bahwa hubungan Raja dan Permaisuri Bangsawan semakin dekat, dia menjadi sangat marah.


Berbagai upaya yang ia lakukan untuk menyingkirkan Permaisuri Bangsawa berakhir dengan ekspektasi yang gagal. Dia, sebagai seorang "Tuan Besar" bahkan tidak mampu melenyapkan seorang wanita lemah yang bahkan tidak memiliki latar belakang keluarga yang kuat. Rasa malu dan marah tentu sudah tidak dapat dibendung. Tuan Besar berjubah ini tidak bisa membiarkan wanita bernama Li Anlan terus duduk di posisinya.


"Apa barang yang kuminta sudah siap?" tanya Tuan Besar berjubah.


"Sudah, Tuan."


Seorang bawahan yang berdiri di samping kemudian menyerahkan sekantong bubuk obat kepadanya. Hanya dengan cara ini, dia sungguh berharap Permaisuri Bangsawan bisa menghilang selamanya. Akan lebih baik jika wanita itu tidak kembali lagi.


Setelah menerima barang tersebut, sang Tuan Besar berjubah kemudian menghunuskan pedangnya ke dada bawahan yang sedang berlutut dengan kejam, lalu menendangnya keluar dari ruangan. Darah mengalir begitu deras seperti sungai.


"Singkirkan mayatnya!"


"Baik, Tuan."


...***...


Li Anlan kembali melatih kemampuan memanahnya di Istana Hongwu setelah sekian lama. Suasana hatinya sedang sangat baik karena beberapa hari yang lalu, dia baru saja mendapatkan gajinya dan menerima bonus yang besar atas kerja kerasnya yang telah membantu mempersiapkan Ujian Akademi Kerajaan. Dia juga mendapat bonus tambahan berupa dua peti emas dari Long Ji Man sebagai bentuk penghargaan karena telah membantu pria tersebut mengeluarkan enam orang wanita dari Istana Harem secara tidak langsung.


Perihal Ujian Akademi Kerajaan, hasilnya sudah diumumkan satu minggu lalu. Sebanyak lima belas orang lulusan Akademi Kerajaan dinyatakan lulus ujian dan bisa menjadi pejabat di pengadilan. Mereka yang lulus adalah mereka yang lolos verifikasi dan kualifikasi sehingga mutu kerja dan sumber daya manusia yang mereka miliki terjamin.


Hari ini, Li Anlan menggunakan lebih banyak pelayan dan anak panah untuk menemaninya bermain-main. Apel-apel segar dari dapur istana sudah bertengger dengan patuh di kepala para pelayan. Jangan ditanya seperti apa raut wajah kasihan para pelayan itu. Mereka yang hidup atas hidup orang lain hanya bisa pasrah menerima nasib jika hari ini nyawa mereka harus berpisah dengan raga.


Li Anlan melesatkan anak panahnya satu persatu. Apel-apel segar itu pecah dan berhamburan ke udara. Para pelayan yang tidak kuat menahan rasa takut lebih memilih pingsan dan melarikan diri, membuat Li Anlan kesal dan berdecak berkali-kali.


"Mereka ini bodoh atau apa? Jelas-jelas aku tidak akan membunuh mereka!"


Li Anlan menggerutu di tengah lapangan bidik. Dia menatap malas pada para pelayan yang berlari kalang kabur seperti sedang menghindari sebuah bom yang akan segera meledak.


Bosan dengan panahan, wanita itu kemudian duduk di tengah lapangan bidik sambil memakan sebuah apel segar. Musim sudah berganti, kehidupannya di sini juga perlahan naik ke tingkatan yang lebih tinggi. Li Anlan sama sekali tidak pernah bermimpi untuk naik ke posisinya saat ini. Niat awalnya hanya ingin menjalani hidup dengan baik meskipun tanpa dikenali, bukan disegani banyak orang karena kemampuan kecil yang dia miliki.


Dia kemudian teringat saat Long Ji Man membawanya ke Wisma Gunung Feiyun. Sampai saat ini, Li Anlan masih belum menarik kesimpulan tentang bagaimana cara kakek buyut suaminya menjadi pelintas dan kembali ke zamannya dengan selamat. Li Anlan sepertinya melupakan detail terpenting dari kejadian tersebut.


"Apa mungkin gerbang dimensinya tertutup?"


Li Anlan mencoba mengingat kembali setiap detail perjalannnya. Tiba-tiba, sebuah bayangan ingatan terlintas seperti kilat di dalam otaknya yang cerdas!


Saat itu, kompasnya mati di sebuah daerah hutan yang agak datar. Kemudian, Li Anlan menghubungkan semua kemungkinan dengan saat dia berada di dunia modern, tepatnya saat dia berada di atas jurang jalur pendakian beberapa saat sebelum dia terjatuh.


Kompasnya juga mati saat dia berada di jalur pendakian. Kompas itu tiba-tiba hidup saat Li Anlan ada di Istana Xingyue, kemudian mati lagi saat dia berada di hutan Gunung Feiyun. Jika boleh menarik kesimpulan, maka mungkin saja Gunung Feiyun adalah gunung yang ia telusuri jalur pendakianya saat itu, dan hutan tempat kompasnya mati adalah hutan di bawah pohon besar yang menyandung kakinya!


"Apa benar Gunung Feiyun adalah gerbang dimensi? Kalau begitu, apakah aku bisa kembali ke duniaku?"


"Tapi, bagaimana caranya? Bisakah aku kembali dengan selamat? Bukankah aku bisa saja sudah menjadi mayat saat ditemukan?"


"Yo, bukankah itu Permaisuri Bangsawan?"


"Ah, rubah betina. Apa kau datang untuk mencari keributan?"


"Lihat, bahkan mulutnya lebih kotor dari sampah!"


"Orang yang mengatai dirinya sendiri tanpa sadar adalah orang yang tidak berguna."


"Atas dasar apa kau menghina seorang selir sepertiku?"


"Aku lupa kalau aku tidak ikut campur dalam urusan harem. Selir Ling, sebaiknya jangan mencari masalah denganku!"


Xu Lingshu dan kedua temannya sepertinya mulai kesal. Ketiga wanita pengganggu itu berbalik pergi. Namun, baru beberapa langkah, mereka langsung berteriak kaget dan ketakutan. Tanpa diduga, tiga buah anak panah sudah bertengger di sanggul rambut mereka dengan indah. Ujung anak panah yang tajam itu bahkan berkilat seperti es.


"Ups... Maaf, nona-nona. Tanganku tergelincir."


"Dasar Permaisuri Bangsawan gila!"


Li Anlan tertawa terbahak-bahak. Reaksi tiga rubah betina pengganggu itu bahkan lebih buruk daripada para pelayan yang menemaninya bermain! Salahkan mereka yang telah mengusiknya terlebih dahulu. Li Anlan belum melupakan bagaimana Xu Lingsu berusaha mempermainkannya di perjamuan Ibu Suri yang membuat dirinya terekspos dan menyebabkan ia diangkat menjadi Permaisuri Bangsawan.


Dia bahkan belum memulai balas dendamnya!


Untuk saat ini, Li Anlan belum memutuskan balasan apa yang akan ia berikan pada wanita itu. Waktunya sedang ia gunakan untuk memikirkan cara kembali ke dunia modern lewat Gunung Feiyun. Jika dia bisa pergi sekali lagi ke gunung tersebut, mungkin saja dia bisa menemukan jalannya.


Dia kemudian bangkit hendak meminta izin pada Long Ji Man. Tetapi, pria itu ternyata belum kembali dari pengadilan istana. Wang Tianshi berkata bahwa agenda rapat hari ini sangat banyak dan raja harus bekerja di Istana Taiji hingga sore hari.


Oleh karena itu, Li Anlan memutuskan kembali ke Istana Xingyue. Saat tiba di tepi jembatan Danau Houchi, dia merasakan bahwa fungsi tubuhnya bermasalah. Kepalanya berdenyut hebat seperti dipukul benda tumpul berkali-kali. Pandangannya menjadi buram dan sekelilingnya terasa gelap. Kaki Li Anlan seperti dirantai oleh rantai besi.


"Apa yang terjadi? Mengapa kepalaku tiba-tiba sakit begini?"


Li Anlan memegang pagar pembatas sebagai acuan agar tetap berdiri tegak. Apel! Apel yang ia makan pasti bermasalah! Dia hanya memakan apel itu beberapa saat yang lalu. Apel itu pasti beracun!


Denyutan di kepalanya semakin menjadi. Li Anlan berteriak sekeras mungkin. Tetapi, rasa sakit itu semakin bertambah, bukan berkurang. Bahkan, sekarang telinganya berdengung dengan keras, membuat seluruh syaraf pendengaran Li Anlan terasa putus.


Kemudian, dia merasa tubuhnya tiba-tiba melayang...


Byur.....


Tubuh Li Anlan masuk ke dalam Danau Houchi. Li Anlan hendak menggerakkan tubuhnya, tetapi seluruh persendiannya terasa kaku dan terpaku. Tubuhnya terus tenggelam menuju dasar danau. Dia sama sekali tidak bisa bergerak.


Di dalam air, dia mulai kehabisan napas. Samar-samar, dia melihat bayangan seorang wanita berjubah indah bermahkota phoenix tengah berdiri di atas jembatan Danau Houchi sambil tersenyum.


Li Anlan perlahan mulai kehilangan kesadaran. Semua bayangan yang ada kemudian menjadi gelap seperti malam tanpa cahaya. Hilang, sesuatu yang berharga perlahan hilang dari dalam kepalanya. Napasnya terus habis seiring semakin dalamnya ia tenggelam.


"Apa aku akan mati hari ini?"


Di tengah ketidakberdayaan, Li Anlan mulai ketakutan. Rasa sakit sepertu dicekik ini lebih mengerikan daripada rasa sakit yang ia dapat saat jatuh dari tebing di atas gunung. Li Anlan perlahan memejamkan mata. Tidak tahu apakah ia akan selamat atau tidak.


...***...


...Halo, para pembaca! Author cuma mau ngasih bocoran, kalau sebentar lagi ceritanya akan sampai pada konflik utama. Nah, ada yang bisa nebak siapa wanita yang sudah menjebak Li Anlan? Bisakah Anlan selamat? Stay tune terus, sampai jumpa di episode berikutnya! ...