
Pangeran Agung Long Ji Yu langsung dinyatakan sebagai pemberontak dan penjahat. Dia diburu sebagai buronan kerajaan dan sekarang sedang dicari di seluruh penjuru Kerajaan Dongling. Raja Muda Dongling, Long Ji Man, meminta seluruh prajurit terbaiknya dan meminta seluruh pejabat daerahnya untuk bekerja sama menangkap penjahat kelas kakap itu.
Kediamannya disegel dan seluruh keluarganya ditahan. Dokumen-dokumen dan catatan pembukuan yang ada di kediamannya dibawa ke Biro Penyelidikan Istana untuk diperiksa. Dalam satu malam, keluarga Pangeran Agung Long Ji Yu hancur. Istri-istri dan anak-anaknya ditahan di sel khusus wanita, sementara pelayan dan laki-laki ditahan di sel pria, tak jauh dari sel tempat Han Jinxi berada.
Han Jinxi, melihat seluruh keluarga Pangeran Agung masuk penjara, semakin membenci mereka. Kebenciannya melebihi gunung yang tinggi. Dia sangat muak, dia ingin melenyapkan mereka satu persatu. Jika bukan karena paksaan Pangeran Agung, dia tidak akan menanggung malu yang sangat besar sebagai seorang pezina!
Di hari itu juga, Li Anlan membawa bukti-bukti yang membuat selir baru Long Ji Man, si putri utusan masuk penjara. Dia menyerahkan tumpukan buku catatan berisi riwayat hidup dan transaksi si selir baru yang dia dapat dari Li Afan. Begitu buku-buku itu sampai di hadapan Yang Mulia Raja, selir baru alias putri utusan yang bernama Long Da Yin langsung ditangkap atas tuduhan penipuan dan percobaan pencemaran nama baik, mengingat bahwa wanita itu telah menaruh bubuk perangsang di arak pernikahan dan menyerahkannya kepada raja.
Secara tidak langsung, mereka yang terusir dari istana, terutama para wanita, adalah mereka yang berusaha menyingkirkan Permaisuri Bangsawan. Sayang, kecerdasan mereka tidak sebanding dengan Li Anlan. Tidak mereka sadari bahwa mereka telah melawan seseorang yang jauh berada di luar dugaan.
Para pejabat yang menyadari kehebatan Permaisuri Bangsawan perlahan mulai mundur teratur. Mereka khawatir suatu saat, nasib mereka juga akan berakhir tragis seperi para wanita yang terusir, dan berakhir seperti mantan permaisuri dan Pangeran Agung. Menyinggung Permaisuri Bangsawan selain sebagai kejahatan, sama saja dengan mengantarkan diri sendiri ke gerbang kehancuran.
Berita mengenai terusirnya dua belas selir raja, satu Permaisuri Utama, dan satu Pangeran Agung tentu sudah menyebar dengan luar. Topik tersebut menjadi topik pembicaraan yang hangat. Bagaimana bisa peristiwa besar tersebut terjadi beruntun kurang dari waktu enam bulan? Bahkan musim semi baru saja berlalu.
Lupakan soal topik pembicaraan para rakyat.
Di istana, Long Ji Man dan Li Anlan secara langsung mengawasi perkembangan penyelidikan Han Jinxi dan keluarga Pangeran Agung. Mereka diinterogasi berkali-kali. Siapa yang tidak jujur, maka hukuman akan semakin bertambah. Mau tidak mau mereka harus berkata apa adanya.
Dari keterangan mereka, diketahui bahwa Pangeran Agung mulai berhubungan dengan Permaisuri Jin sejak satu tahun yang lalu. Mereka sering bertemu secara diam-diam. Pageran Agung yang selalu tampil bersahaja menyembunyikan wajah aslinya dengan sangat baik. Dia tidak menginginkan takhta, tetapi hanya menginginkan kekuasaan tanpa batas.
Pangeran Agung Long Ji Yu berencana menggunakan Pangeran Mu, Long Ji Mu yang masih kecil sebagai bonekanya. Karena itulah dia mengatur agar Bibi Wei, yang sebenarnya adalah bawahannya untuk mengasuh Long Ji Mu dan diam-diam menanamkan kebencian di hati bocah kecil itu. Sayang, gelagat Bibi Wei ketahuan oleh Li Anlan dan pengasuh sialan itu ditendang keluar dari ibukota.
Orang yang meminta Permaisuri Jin untuk menyerang raja pada malam itu juga adalah Pangeran Agung. Jika raja mati, maka raja baru akan segera diangkat. Dikarenakan Long Ji Man memutuskan untuk menjadikan Long Ji Mu sebagai putra mahkota, maka kesempatan yang baik akan datang. Pangeran Agung bisa memperalat Long Ji Mu kecil agar dia bisa menguasai seluruh kerajaan ini tanpa harus menduduki takhta.
Dialah sang “Tuan Besar” yang mengendalikan para bandit Benteng Duanrou dan menyuruh mereka menculik Permaisuri Bangsawan. Sejak Pangeran Agung tahu kemampuan Li Anlan, dia merasa terancam. Pembunuh dalam perjalanan kembali dari panti asuhan juga Pangeran Agung.
Tetapi, sekeras apapun Pangeran Agung berusaha menyingkirkan raja dan Permaisuri Bangsawan, semua usahanya tetap saja gagal. Raja bukan hanya selamat, tetapi menjadi lebih waspada. Permaisuri Bangsawan bukan hanya cerdas, tetapi menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Tampaknya, Pangeran Agung Long Ji Yu tidak mempunyai persiapan yang matang untuk menghadapi Raja dan Permaisuri Bangsawan.
“Yang Mulia, kau baik-baik saja?” tanya Li Anlan saat dia menggiling tinta untuk Long Ji Man.
Sejak kemarin, wajah raja yang menjadi suami dan atasannya selalu murung. Dia mungkin masih tidak percaya bahwa orang-orang terdekat yang paling dia percaya mengkhianatinya. Wajar jika Long Ji Man begitu kecewa. Dia bukan hanya kehilangan orang kepercayaan, dia juga kehilangan keyakinan pada keluarganya sendiri.
“Aku baik-baik saja.”
“Wajahmu mengatakan hal sebaliknya. Yang Mulia, orang jahat itu pasti akan segera tertangkap.”
“Huang An, katakan, di mana letak kesalahanku hingga mereka mengkhianatiku?”
“Kau tidak bersalah sama sekali.”
“Tapi mengapa mereka berbuat sampai sejauh itu?”
“Siapa yang dapat menebak hati manusia?”
“Huang An, mengapa hatiku merasa sakit?”
Li Anlan kemudian berdiri di samping Long Ji Man. Hati raja ini sedang rapuh. Pasti berat rasanya memikul beban sebesar itu di pundaknya. Dia memegang bahu Long Ji Man, kemudian menyandarkannya ke sisi tubuhnya dan mengusapnya dengan lembut. Kepala pria itu bersandar dengan pasrah di sisi tubuh Li Anlan. Sentuhan tangan Li Anlan yang mengusap bahunya dengan lembut memberikan sebuah kenyamanan yang tidak pernah dia rasakan.
“Yang Mulia, jika kau ingin menangis, menangis saja. Tidak ada orang yang melihatmu, tidak ada orang yang melarangmu.”
“Tapi, aku seorang raja.”
“Apa seorang raja bukan manusia?”
“Manusia.”
“Apa manusia berhak menangis?”
“Ya.”
“Kalau begitu, menangis saja.”
Pada akhirnya, Long Ji Man menangis di pelukan wanita itu. Air matanya turun seperti anak sungai. Dia sakit hati, dia sakit hati dikhianati keluarganya sendiri. Rasa sakit yang dirasakannya tidak akan pernah bisa dia lupakan seumur hidup. Mengapa mereka begitu tega berbuat jahat kepadanya?
Sementara itu, di sudut lain di Kerajaan Dongling, tepatnya di pedalaman Hutan Linghua, Pangeran Agung atau Long Ji Yu sedang memarahi semua bawahannya. Saat dia diumumkan menjadi buronan kerajaan, satu-satunya tempat yang terpikir olehnya adalah Benteng Duanrou, benteng bandit bawahannya yang sudah hancur diobrak-abrik pasukan kerajaan.
Rencananya sudah hancur! Long Ji Yu sangat marah. Jika bukan karena wanita bernama Li Anlan muncul di depan publik dan membuat raja terkesan, semuanya pasti berjalan normal. Dia tetap bisa menjadi penguasa dari belakang layar. Jika saja saat itu dia berhasil membunuh Permaisuri Bangsawan, hidupnya tidak akan hancur seperti ini!
Wanita bernama Li Anlan sungguh bukan wanita yang bisa dia tandingi! Wanita itu memiliki sesuatu yang tidak dipunyai siapapun di dunia ini. Kecerdasannya, kepintarannya, keteguhan hatinya, kemampuan tidak terduganya, semuanya bukan berasal dari dunia ini.
“Tuan, bagaimana sekarang?” tanya bawahannya.
“Bagaimana apanya? Apa kita harus menyerahkan nyawa begitu saja?”
“Tapi, Tuan sudah diumumkan sebagai buronan kerajaan. Seluruh keluarga ditahan dan kediaman disegel,”
“Bisakah kau diam? Kau sudah tidak menginginkan nyawamu lagi?”
Long Ji Yu perlu menyusun ulang rencana. Bagaimanapun caranya, dia harus menyingkirkan Permaisuri Bangsawan dan membuat keponakannya tunduk kepadanya. Dia juga harus bisa membebaskan Han Jinxi yang sedang mengandung anaknya dan mengembalikan statusnya sebagai Permaisuri Utama Kerajaan Dongling. Long Ji Yu harus bisa menguasai seluruh Kerajaan Dongling.
Dia bersumpah, takhta yang seharusnya menjadi miliknya akan dia rebut kembali apapun caranya!
...***...
...Yeay, penjahat sebenarnya sudah muncul! Apa yang akan terjadi selanjutnya? Stay tune terus, sampai jumpa di episode berikutnya! ...