
Sepuluh hari kemudian, Istana Xingyue terlihat berwarna kembali setelah sebelumnya menjadi suram karena pemiliknya tidak senang. Bunga persik di halaman sudah berguguran, hanya tinggal menyisakan reranting yang kering serta beberapa buahnya yang masih tersisa. Xie Roulan sibuk membersihkan dan merapikan tempat tidur majikannya.
Selagi pelayan itu berkerja, Li Anlan justru sudah tidak berada di sana. Wanita itu sudah pergi sejak pagi buta. Demi merayakan kebebasaannya, Li Anlan keluar dari istana untuk berjalan-jalan. Seperti biasa, dia memakai kostum kasim untuk menyamarkan dirinya.
Di Paviliun Lanxin, wanita itu telah menyantap dua posi ayam bakar kecap dan satu mangkuk sup teratai. Napsu makannya yang besar adalah bentuk pelampiasan dari rada gelisah dan rasa kesalnya selama sepuluh hari ini. Bisa menyantap makanan lezat dan gratis, itu adalah hal yang sangat membahagiakan.
Bagaimana tidak, selama sepuluh hari ini, malam-malam Li Anlan tidak bisa dilewati dengan lancar karena Long Ji Man terus membuatnya kesulitan. Siang hari pria itu pergi bekerja, dan malam datang ke Istana Xingyue untuk makan dan tidur, lalu pergi lagi pada pagi hari. Li Anlan berpikir bahwa istananya seperti rumah kos, yang hanya ditempati untuk tidur saja.
Long Ji Man juga terus memintanya bercerita tentang dunia masa depan. Sepanjang malam, Li Anlan harus memberitahu pria tersebut seperti apa keadaan dunia modern, siapa pemimpinnya, bagaimana sistem pemerintahannya, dan banyak hal lain yang mungkin menjadi pengetahuan baru bagi Long Ji Man. Bibirnya dan tenggorokannya bahkan sampai kering dan suaranya menjadi sedikit serak. Selain memaksanya bercerita, Long Ji Man juga banyak bertanya hingga Li Anlan harus berpikir untuk mencari jawaban.
“Pelan-pelan, tidak akan ada yang mengambilnya darimu!” seru Li Afan sambil menatap adiknya yang sedang makan dengan lahap. Pagi-pagi sekali saat Paviliun Lanxin baru buka, Li Afan dikejutkan dengan kedatangan Li Anlan yang tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu masuk. Untung saja koki di dapur sudah memasak, jadi dia langsung menyuguhkannya kepada Li Anlan. Li Afan tahu adik semata wayangnya sedang mencari pelarian dan belum makan.
“Kakak, kau tidak tahu. Selama sepuluh hari ini, Ji Man selalu mempersulitku,” ucap Li Anlan dengan mulut penuh makanan. Li Afan menggelengkan kepalanya. Wanita ini, sama sekali tidak bisa menjaga keanggunan saat makan.
“Apa yang dia lakukan?”
“Dia terus menginap di istanaku dan memintaku bercerita. Kakak, aku sudah seperti pendongeng yang handal tanpa dibayar!”
“Apa? Dia bermalam di istanamu?” Nada bicara Li Afan mulai meninggi. Dia tidak terima adiknya ditindas oleh raja sekalipun dia adalah suaminya.
“Kakak, tenanglah. Ini semua bukan keinginannya.”
“Lalu mengapa dia mau melakukannya?”
“Ibu Suri yang mengatur agar Yang Mulia tidur bersamaku.”
“Pppffttt….. Hahahaha….”
“Apa yang kau tertawakan?”
“Tampaknya, mertuamu sudah jatuh hati padamu.”
Li Anlan berdecak.
“Cih… Dia jatuh hati atau ingin menguji?”
Dia memasukkan sepotong paha ayam besar ke mulutnya. Jari-jari tangannya penuh dengan bumbu-bumbu masakan yang lezat. Paviliun Lanxin benar-benar restoran terbaik di tanah Dongling ini. Pantas saja pengunjungnya tidak pernah sepi. Pantas pula kakaknya sering mengiriminya uang setiap bulan.
“Oh ya, kakak, aku ingin meminta bantuanmu.”
“Apa yang harus kulakukan?”
“Aku ingin kau membantuku menyelidiki selir baru Yang Mulia.”
“Bukankah kau tidak ikut campur dalam urusan harem?”
“Memang. Tapi, wanita sialan itu sangat lancang pada Yang Mulia. Aku sebagai penasihat pribadinya tentu saja tidak bisa tinggal diam.”
Tatapan mata Li Afan berubah. Sekarang, mode serius dari pria cantik itu aktif secara otomatis. Selama ini, dia selalu mengkhawatirkan adiknya di istana. Sejak adiknya diangkat menjadi Permaisuri Bangsawan, Li Afan tidak bisa berhenti khawatir. Orang bilang, semakin tinggi status seseorang, maka semakin tinggi pula ancaman yang akan dihadapi. Resiko berbanding lurus dengan kedudukan.
“Anlan, bagaimana jika kau keluar dari istana saja? Kita pergi dari ibukota dan jangan pernah kembali lagi.”
“Mengapa?”
“Aku tidak mau adik semata wayangku dicelakai orang di kemudian hari.”
“Kakak, aku sudah bilang kalau aku bisa menjaga diriku. Kau fokus saja pada bisnismu dan kumpulkan lebih banyak uang agar adik kesayanganmu ini hidup berkecukupan.”
“Kau yakin?”
“Sangat yakin.”
“Baiklah. Tapi kau harus tetap berhati-hati!”
“Tentu, kakakku yang cantik dan tampan.”
Suara ribut dari lantai dasar Paviliun Lanxin menyapa indra pendengaran Li Anlan. Kepalanya berdengung mendengar suara bising yang membuat seluruh nafsu makannya hilang. Orang gila mana yang berbuat onar di tempat ramai sepagi ini? Bahkan matahari saja belum sampai ke tengah langit!
Li Anlan meletakkan ayam bakar kecapnya di piring.
Matanya berkilat kesal ingin mencari si pelaku. Wanita itu kemudian berdiri, lantas ia mencondongkan tubuhnya ke pagar pembatas yang membuatnya bisa melihat langsung ke lantai bawah. Di sana, dia melihat seorang pemuda cantik tersungkur di lantai dalam keadaan basah kuyup. Di depannya, tiga orang pria yang mungkin berusia sekitar tujuh belas tahun berdiri dengan congkak sambil terus memaki si pemuda cantik. Tidak hanya itu, ketiga pria itu juga kembali menyiramkan sepoci air ke kepala si pemuda cantik. Tak ayal, keributan itu mengundang banyak perhatian orang. Bahkan mereka yang bukan pelanggan pun tiba-tiba sudah berkerumun.
“Aku paling benci saat acara makanku terganggu!”
Wajah wanita itu mulai suram. Atmosfer di dalam ruangan Paviliun Lanxin tiba-tiba berubah dingin seperti musim salju. Orang-orang tidak tahu malu yang berdiri di bawah sana sudah mengganggu acara makan Li Anlan hingga wanita itu kehilangan nafsu makannya. Karena mereka mencari masalah, maka Li Anlan dengan senang hati membalas mereka.
“Kakak, siapa mereka?”
“Ah, penindasan terhadap sesama saudara rupanya.”
Di negeri kuno ini, sesama saudara saling menindas bukan hal yang aneh. Mereka yang terlahir dari selir dianggap sebagai anak tidak sah, hingga kekuasaan dan status mereka rendah, tidak seperti yang lahir dari istri sah. Putra sah biasanya paling suka menindas saudaranya yang berasal dari ibu berbeda. Perhatian dan kasih sayang yang didapatkan juga tentunya sangat berbeda.
Dendam, amarah, rasa tidak suka, rasa tidak ingin disaingi, tidak ingin dibandingkan, tidak ingin beradu kecerdasan, tidak ingin disamaratakan dan kebencian biasanya tertanam di dalam hati mereka yang terlahir dari istri sah. Bahkan, untuk mewujudkan ambisi yang besar dan menyingkirkan rival, membunuh saudara sendiri juga sudah menjadi hal yang lumrah. Mereka keluarga kaya, tidak perlu menggunakan pisau saat ingin membunuh. Cukup meminjam tangan orang lain, maka tujuan mereka bisa tercapai.
“Ckckck… Sistem mengerikan macam apa ini?”
Li Anlan mengambil sisa ayam bakar kecapnya yang tinggal setengah. Tidak lama kemudian, wanita itu melemparkannya ke bawah, ke arah para pembuat onar. Tidak disangka, potongan ayam bakar itu tepat mengenai wajah Tuan Muda Pertama Xin. Wajahnya sekarang dipenuhi kecap, sambal, dan bumbu masakan.
Orang-orang yang melihatnya sangat terkejut. Tuan Muda Pertama Xin adalah pria paling terkenal di kotaraja. Dia sering bermain perempuan dan menghabiskan waktu di rumah bordil, kemudian pulang untuk mengambil uang dan menghabiskannya di tempat-tempat pelacuran. Selain bermain wanita, pria itu juga sangat hobi menindas orang, terutama adik keduanya sendiri. Seperti yang ia lakukan hari ini.
“Brengsek! Siapa yang berani melempariku ayam?” teriak Tuan Muda Pertama Xin marah.
“Hei, bocah! Apa kau sedang meneriaki dirimu sendiri?” teriak Li Anlan dari lantai atas. Suaranya yang keras membuat semua orang yang ada di sana ikut menoleh menatap Li Anlan.
“Heh, seorang kasim gadungan ternyata! Berani sekali kau!”
“Aku memang berani. Kenapa? Kau takut?”
Li Afan turun disusul Li Anlan. Wanita itu mengambil sisa paha ayam bakarnya kemudian dia makan sambil menuruni tangga. Tangan kirinya membawa semangkuk sup hangat yang sangat pedas dan asin. Hari ini, Li Anlan pasti akan memberi pelajaran pada bocah kurang ajar ini.
Ketika sampai di depan Tuan Muda Pertama Xin, Li Anlan langsung menyiramkan sup tersebut ke kepalanya. Sup panas nan pedas itu membasahi rambut, wajah, dan pakaian Tuan Muda Pertama Xin. Orang-orang di sekelilingnya semakin terkejut tidak percaya. Di dunia ini, ternyata ada seseorang yang berani menindas balik pria brengsek yang ketenarannya menyebar ke seantero kotaraja.
“Cepat tangkap orang sialan ini!”
Dua orang di belakang Tuan Muda Pertama Xin maju hendak menangkap Li Anlan. Belum sampai tangan mereka meraih tangan Li Anlan, wanita itu terlebih dahulu menyiramkan air teh dan menendang area terlarang mereka sekuat tenaga. Dua orang suruhan tersebut tersungkur di lantai sambil berguling-guling, meringis memegangi area bawah tubuhnya.
“Kau! Kenapa kau ikut campur urusanku?” tanya Tuan Muda Pertama Xin.
“Aku tidak mencampuri urusanmu. Aku hanya sedang memberimu pelajaran karena sudah merusak hari baikku!”
“Yo, bukankah ini Permaisuri Bangsawan?” ucap suara dari balik kerumunan. Tidak lama kemudan, seorang wanita berhanfu merah jambu dan berjepit rambut emas dan bersepatu Aladdin datang bersama seorang temannya.
“Permaisuri Bangsawan? Orang berpakaian kasim itu adalah Permaisuri Bangsawan?” tanya orang-orang di sana.
“Tidak mungkin! Aku pasti salah mendengar!”
Li Anlan kira wanita ini orang baik. Tidak disangka dia begitu angkuh dan sombong, bahkan seperti ingin menjatuhkan dan mempermalukan Li Anlan lewat perkataan dan nada bicaranya. Dilihat dari penampilan, hanfu dan hiasan rambut yang dipakainya seharusnya berasal dari dalam istana. Mungkinkah mereka adalah selir raja?
“Apa yang sedang dilakukan Permaisuri Bangsawan di tempat seperti ini?”
“Kau siapa? Ibuku? Bibiku? Nenekku? Mengapa aku harus memberitahumu?”
“Yo. Permaisuri Bangsawan menyelinap keluar istana dengan pakaian seperti ini, kemudian datang ke restoran bersama seorang pria. Nyonya, kau tidak berniat menyelingkuhi Yang Mulia bukan?”
Mulut wanita itu berbisa. Li Anlan harus berhati-hati jika tidak ingin mendapatkan masalah besar. Namun, wanita di hadapannya mungkin belum tahu siapa dia yang sebenarnya. Jadi, untuk memberitahunya, dia akan dengan senang hati menemaninya bermain sampai akhir.
“Apa kau sedang mengatai diri sendiri? Nona, kau dan temanmu ini mungkin selir Yang Mulia. Aku justru ingin bertanya padamu, apa yang dilakukan seorang selir Istana Harem ke luar istana dan datang kemari?”
“Tentu saja untuk urusan resmi!”
“Oh? Maksudmu, berjalan-jalan? Kebetulan, aku juga datang atas urusan resmi. Nona, ini adalah plakat keluar istana milik Permaisuri Bangsawan. Ini adalah tanda bahwa aku keluar untuk bertugas.”
Li Anlan mengeluarkan plakat atau token miliknya, memperlihatkannya pada semua orang yang ada di sana. Mereka yang awalnya tidak percaya, dalam sekejap mengubah pandangan mereka. Yang berdiri di hadapan mereka benar-benar Permaisuri Bangsawan!
“Nona manis, mana plakat izinmu? Jangan bilang bahwa kau menyelinap keluar istana secara diam-diam tanpa izin Ibu Suri dan Permaisuri Jin?”
Wanita di hadapannya salah tingkah. Wajahnya sangat panik seperti maling yang sedang ketahuan saat beraksi. Mata semua orang tertuju pada wanita itu, menunggu apakah dia memiliki plakat izin keluar istana sebagai bukti tugas resminya. Tetapi, setelah beberapa saat, wanita tadi tidak mengeluarkan plakat apapun.
“Itu…Itu tidak penting! Nyonya Huang, kau berani berselingkuh dari Yang Mulia?”
Li Anlan menatap Li Afan sekilas. Kemudian, dia tertawa terbahak-bahak.
“Aku? Selingkuh? Dengan dia? Yang benar saja! Hahaha!”
Li Afan menyunggingkan seulas senyum tipis untuk mencibir wanita di hadapan Li Anlan. Kemampuan pembelaan diri adiknya lumayan juga.
“Ada apa ini?” tanya sebuah suara yang sangat tidak asing dari arah pintu masuk Paviliun Lanxin. Pria itu berjalan menghampiri dua orang wanita yang sedang bertengkar.
“Yang Mulia! Kau di sini?” seru Li Anlan dengan nada yang gembira. Tak ada yang tahu, di balik nada tersebut, tersembunyi niat lain yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri.
...***...