The Little Consort

The Little Consort
Eps. 45: Pertarungan Sengit


Perjalanan menuju istana sedikit terganggu karena beberapa penjahat tiba-tiba datang menyerang. Mereka datang dari segala arah sambil membawa pedang. Wajah mereka ditutupi kain berwarna hitam. Li Anlan yang tidak bisa bela diri bersembunyi di dalam kereta, meringkuk seperti seorang anak kecil yang takut kegelapan.


Di luar, suara orang berkelahi semakin terdengar. Bunyi pedang beradu semakin nyaring. Long Ji Man dan Wang Tianshi menghadang para penjahat itu sendiri karena tidak membawa pengawal. Ilmu bela diri para penjahat itu cukup tinggi. Mereka terus menyerang tanpa ampun. Long Ji Man dan Wang Tianshi saling membelakangi, saling melindungi. Serangan para penjahat itu semakin ganas dan brutal.


Di dalam kereta, Li Anlan mulai merasa takut. Ini kedua kalinya dia bertemu dengan pembunuh. Kali ini, dia bisa bersembunyi dengan baik karena ada Long Ji Man dan Wang Tianshi yang menahan para penjahat itu. Bagaimana bisa dia yang tidak tahu apa-apa kembali menjadi incaran para pembunuh. Padahal, Li Anlan merasa tidak pernah membuat masalah dengan siapapun.


Dua orang pria yang sedang bertarung melawan belasan orang penjahat di luar sana sepertinya mulai kewalahan. Meskipun ilmu bela dirinya tinggi, tetapi jika menghadapi lawan yang banyak seperti ini tanpa henti, stamina mereka akan menurun dan suatu waktu akan kehabisan tenaga. Jika dua orang itu kehabisan tenaga dan tidak bisa menggerakkan pedang mereka, maka habislah sudah semuanya. Para penjahat itu pasti tidak akan melepaskannya dengan mudah.


Li Anlan berpikir untuk membantu Long Ji Man dan Wang Tianshi. Tapi, dia sendiri bingung. Dia tidak punya senjata apapun untuk menghadapi mereka. Dia juga tidak bisa berteriak meminta bantuan karena penjahat itu sangat pintar, menyerang mereka di jalan yang sepi. Apalagi, hari sudah semakin larut dan orang-orang tidak ada yang berlalu lalang lagi.


Tiba-tiba, Li Anlan melihat sebuah busur lengkap dengan anak panahnya di bawah tempat duduk di dalam kereta. Dia mulai lega, karena dia masih punya kesempatan untuk membantu Long Ji Man dan Wang Tianshi. Diambilnya busur dan panah itu, lalu dengan keraguan yang tidak menentu, dia mulai melangkahkan kaki ke luar kereta. Saat tubuhnya sudah berdiri tegak, dia melihat belasan orang sedang mengepung Long Ji Man dan Wang Tianshi.


Seettt….


Sebuah anak panah meluncur, lalu menembus dada salah seorang penjahat. Li Anlan terkejut sekaligus senang. Dia tidak percaya kalau tangannya akan digunakan untuk melubangi dada seseorang dengan anak panah. Li Anlan sempat ketakutan kembali, tapi melihat Long Ji Man yang kewalahan, dia mulai mengumpulkan keberaniannya. Satu persatu anak panah melucur mengincar dada, perut, leher, kaki, tangan, dan bahu para penjahat. Tembakan akurat itu tentu saja mengenai sasaran.


“Beraninya kalian menyakiti rajaku yang tampan!” seru Li Anlan berapi-api. Dia lalu menarik busur lagi, anak panah melesat kembali.


Melihat seorang wanita berpakaian sederhana berdiri di atas kereta sambil memegang panah, para penjahat itu mengalihkan perhatiannya dari Long Ji Man dan Wang Tianshi. Sebagian dari mereka mulai bergerak maju menuju Li Anlan. Kilatan marah begitu kentara di mata para penjahat itu karena teman-teman mereka ada yang mati tertusuk panah. Tapi, mereka tidak tahu, amarah di dalam diri Li Anlan lebih besar dari rasa marah mereka.


Tangannya yang bergetar menarik kembali busur, lalu mulai melesatkan anak panah pada para penjahat yang maju ke arahnya. Ceb, ceb, ceb, panah tajam itu menusuk dada dan perut para penjahat. Satu persatu tubuh para penjahat itu tumbang ke tanah bersimbah darah.


Di arah lain, Long Ji Man dan Wang Tianshi mulai kehabisan tenaga. Mereka bertarung terlalu lama. Gerakan pedangnya sedikit melambat dan kekuatannya sedikit berkurang. Para penjahat itu tidak membuang kesempatan, mereka terus menerus menyerang dan menerjang. Long Ji Man sempat terjatuh, kemudian berdiri lagi. Begitu pula Wang Tianshi. Pengawal pribadi Raja Dongling yang setia sudah memiliki beberapa luka berdarah di kaki dan tangannya.


“Yang Mulia, hati-hati!” seru Wang Tianshi. Tiba-tiba, sebuah pedang menyayat perut Long Ji Man saat pria itu sedang menyerang yang lain. Long Ji Man limbung, tangannya memegang perutnya yang mulai mengeluarkan darah.


“Bajingan!” Li Anlan semakin marah saat salah seorang penjahat berhasil melukai Long Ji Man. Li Anlan menarik tiga buah anak panah, lalu ia arahkan pada penjahat yang tadi menyayat perut suaminya. Seperti angin, panah itu melesat cepat tanpa suara. Tiga buah anak panah yang dilesatkan Li Anlan mengenai dada, perut, dan mata si penjahat.


“Tangkap wanita itu!” seru si penjahat yang terkena panah. Para penjahat mulai bergerak menyerang Li Anlan. Anak panahnya hanya tinggal sedikit, tidak akan cukup untuk melawan mereka lagi. Li Anlan mundur ke belakang sambil memikirkan cara untuk melawan.


“Jangan pernah menyentuh wanita itu!”


Long Ji Man maju, menebas leher setiap penjahat yang hendak menyerang Li Anlan. Rasa sakitnya semakin terasa karena luka di perutnya semakin terbuka. Long Ji Man kembali bertarung dengan para penjahat, dibantu Wang Tianshi. Gerakan mereka tidak setangkas tadi.


Tiba-tiba, sebuah ide terlintas di benak Li Anlan. Wanita itu melepaskan tali kendali kuda yang terikat dengan kereta. Lalu, dia memanah bagian paha si kuda. Dalam hitungan detik, kuda itu mengamuk kehilangan kendali. Kuda yang malang itu lari ke depan, menerjang siapapun yang menghalangi jalannya. Para penjahat yang tidak sempat mengelak terkena serangan si kuda, hingga sebagian dari mereka terinjak. Sebagian lagi lari kocar-kacir.


“Mundur!” seru salah seorang penjahat. Mendengar seruan itu, para penjahat yang tersisa langsung melarikan diri, meninggalkan rekan mereka yang terkapar tanpa nyawa.


Long Ji Man ambruk. Setengah kesadarannya mulai hilang. Li Anlan melompat turun, menghampiri Long Ji Man dan Wang Tianshi. Dia berteriak panik saat melihat begitu banyak darah keluar dari luka Long Ji Man. Bau anyir begitu menyengat. Li Anlan menekan luka itu, berharap pendarahannya bisa berkurang.


“Tianshi, cepat papah Yang Mulia!”


Wang Tianshi, dengan sisa tenaganya memapah Long Ji Man ke kereta. Karena kuda yang ia tumpangi masih ada, kereta itu bisa berjalan kembali. Wang Tianshi menjadi kusir karena kusir yang tadi menyertai mereka sudah mati terlebih dahulu.


“Ji Man, jangan mati! Aku tidak akan memaafkanmu jika kau mati malam ini!”


Li Anlan terus menekan luka Long Ji Man. Dia hampir menitikkan air mata karena ketakutan dan khawatir. Darah begitu banyak, dan pria ini mulai kehilangan kesadaran. Jarak menuju istana masih jauh. Jika memaksakan diri untuk kembali malam ini, Li Anlan tidak yakin Long Ji Man akan selamat. Dia harus memperhitungkan waktu agar luka Long Ji Man segera mendapat penanganan.


“Tianshi, ke Paviliun Lanxin!”


“Tidak, Nyonya. Kita harus segera kembali ke istana!”


“Kau bodoh atau dungu? Apa menurutmu rajamu masih bisa bernapas sampai kita tiba di istana?”


Perkataan buruk Li Anlan memang ada benarnya. Waktu yang mereka miliki tidak cukup untuk mempertahankan napas Long Ji Man jika terus memaksakan diri pulang ke istana. Akhirnya, Wang Tianshi membawa kereta kuda ke Paviliun Lanxin.


Agar tidak menarik perhatian di tengah keramaian, Li Anlan menyuruh pengawal pribadi itu lewat jalan belakang. Di sana sangat sepi dan tidak akan ada orang yang memperhatikan mereka. Li Anlan menggedor pintu belakang Paviliun Lanxin seperti orang kesetanan.


“Anlan? Apa yang terjadi?” tanya Li Afan saat ia membuka pintu.


“Tidak ada waktu untuk menjelaskannya. Kau harus menolong dia dulu!” tunjuk Li Anlan pada Long Ji Man yang sedang dipapah Wang Tianshi. Seketika Li Afan ikut panik, lalu menyuruh mereka masuk ke dalam Paviliun Lanxin.


Lewat tangga rahasia, Li Afan membawa tiga orang itu menuju sebuah kamar di lantai atas. Long Ji Man langsung dibaringkan di atas ranjang. Li Afan keluar sebentar, lalu kembali lagi bersama seorang pria yang membawa sebuah kotak kayu. Pria itu adalah tabib khusus yang sering diminta Li Afan memeriksa kesehatannya, yang kebetulan baru selesai memeriksanya malam ini.


“Kau dukun! Kau akan kehilangan kepalamu jika tidak bisa mengobati dia!”


“Nona, luka ini sangat dalam. Kemampuanku belum cukup untuk mengobatinya,” ucap tabib sambil menundukkan kepala, takut akan kemarahan yang berapi-api di mata Li Anlan.


“Bodoh! Biar aku saja!”


Li Anlan mendorong tabib hingga tubuhnya menyingkir. Li Anlan mulai menggantikan tabib itu, mengobati luka Long Ji Man. Dia membersihkannya dengan arak, lalu menaburkan bubuk obat pereda nyeri. Setelah itu, Li Anlan mengambil sebuah jarum dan benang. Kemudian, dia menjahit luka Long Ji Man dengan teliti tanpa rasa takut.


Di sisi lain, Wang Tianshi menyaksikan kembali tingkah menakjubkan selir rajanya. Ini kedua kalinya dia melihat Li Anlan menjahit luka di tubuh Long Ji Man. Keberanian wanita ini sungguh besar. Dia bahkan tidak mempedulikan luka akibat dari melesatkan anak panah di tangannya dan lebih memilih fokus mengobati luka Long Ji Man.


Setelah beberapa lama, Li Anlan akhirnya menyelesaikan pekerjaannya. Seluruh kulit yang robek di tubuh Long Ji Man sudah dijahit dan diperban. Kini, hanya tinggal menunggu pria itu pulih tenaganya saja. Bekas darah yang ada di baju Long Ji Man mengering, tetapi bau anyirna masih tercium. Seakan mengerti, Li Afan segera keluar dari kamar. Tidak lama berselang, kakak Li Anlan itu kembali dengan satu set pakaian bersih di tangannya.


“Tianshi, gantikan pakaiannya. Dan kau, dukun, ambil barang-barangmu dan pergi dari sini!”


Tabib tidak berdaya menuruti perintah Li Anlan. Seluruh peralatan medisnya dibereskan, lalu dimasukkan ke dalam kotak. Bersamaan dengan keluarnya tabib dari kamar, Li Anlan juga keluar bersama Li Afan. Li Anlan tidak mau menyaksikan tubuh telanjang Long Ji Man yang sedang berganti baju.


“Anlan, sebenarnya apa yang terjadi?”


“Kami diserang pembunuh. Kakak, kenapa mereka terus menyerangku?”


“Ini bukan pertama kalinya kau diserang?”


“Ya..Itu, itu yang kedua kali.”


Li Afan terkejut. Ekspresi pria cantik itu berubah serius. Mengapa Li Anlan tidak pernah bercerita kalau dia pernah diserang pembunuh? Selama ini Li Afan berpikir hidup adiknya baik-baik saja. Itulah sebabnya dia tidak datang ke Istana Xingyue akhir-akhir ini. Tapi, begitu mendengar penuturan Li Anlan, Li Afan sepertinya tidak bisa membiarkan ini terus berlanjut. Dia tidak bisa membiarkan hidup Li Anlan berada dalam bahaya.


“Anlan, kau harus meminta cerai darinya!”


“Kakak, apa maksudmu?”


“Istana sudah tidak aman lagi untukmu. Kau harus segera keluar dari sana!”


“Kau khawatir aku akan terluka?”


“Tentu saja!”


Hati wanita itu menghangat. Dia tahu kalau kakaknya di dunia ini begitu menyayanginya. Li Anlan juga sebenarnya ingin pergi, tapi entah kenapa hatinya tidak memberinya keberanian. Entah apa yang menahannya di sana. Li Anlan juga tidak tahu. Dia hanya merasa kalau istana adalah rumahnya, sekaligus tujuan kedatangannya ke dunia ini. Ada sesuatu yang tidak diketahui yang membuat Li Anlan tidak bisa meloloskan diri dari sana.


“Kakak, tenanglah. Aku bisa menjaga diri. Kau percaya pada kemampuan adikmu ini kan?”


Meskipun sedikit tidak rela, tapi Li Afan juga tidak bisa memaksa.


“Baiklah. Tapi, obati lukamu dulu.”


Li Anlan mengangguk.


“Kakak, sepertinya mala mini aku akan merepotkanmu. Kau harus rugi seharga tiga buah kamar VVIP.”


“VVIP?”


“Ah, kamar spesial, kamar khusus.”


“Oh kamar khusus. Tidak apa-apa, yang penting kau selamat dan aman.”


Li Anlan kemudian pergi ke ruangan lain. Di sana, dia mulai mengobati luka di tangannya, lalu membungkusnya dengan kain kasa. Rasa sakitnya mulai terasa. Tangan indahnya sudah menyentuh darah sebanyak dua kali dalam satu hari ini. Pertama digunakan untuk menyelamatkan hidup, yang kedua digunakan untuk mengakhirinya.


Li Anlan tidak mengetahui, pilihan mana yang akan diambil oleh tangannya di kemudian hari.


...***...