
Langit Kerajaan Dongling membiru cerah tanpa awan. Matahari bersinar seperti biasa, hangatnya yang tidak biasa. Pertengahan musim gugur sudah tiba. Daun-daun beterbangan tertiup angin. Pagi hari, seluru wilayah Kerajaan Dongling seperti bersemu. Suasana terasa sangat berbeda hari ini. Seolah ini adalah hari yang akan tercatat sebagai hari penting sepanjang sejarah.
Istana Xingyue yang biasanya ribut oleh suara seorang pelayan, dua kasim, dan empat penjaga kini bertambah berisik karena beberapa orang wanita dan beberapa orang pria datang mengganggu pagi si pemilik istana. Mereka datang atas perintah Ibu Suri Han Yuemei dan Yang Mulia Raja.
Hari ini adalah hari penobatan Li Anlan sebagai Permaisuri Utama dan Ratu Agung Kerajaan Dongling sekaligus hari pernikahannya. Saat dia membuka mata, dia mengira ia hanya sedang bermimpi. Nyatanya, apa yang ada di hadapannya adalah sebuah realita yang benar-benar nyata, bukan ilusi atau mimpi. Dia, seorang wanita berusia dua puluh tiga tahun kini akan menikah dan menjadi istri orang secara resmi.
Bibi pengurus istana berkata bahwa agenda hari ini sangat banyak. Untuk itulah, dia datang untuk melihat apakah semua persiapan sudah selesai atau belum. Sejak kemarin, Istana Xingyue milik Permaisuri Bangsawan sudah dihias dan didekorasi oleh berbagai bunga dan kain merah. Ini bukan keinginan Li Anlan, ini adalah keinginan Ibu Suri Han Yuemei. Wanita itu memaksa agar Istana Xingyue dihias layaknya kediaman tempat melangsungkan pernikahan.
Li Anlan mematut dirinya di depan cermin. Hanfu merah yang indah nan panjang bersulam benang emas dan berenda bunga phoenix begitu cocok dipadukan dengan hiasan rambut dari emas dan mahkota bunga yang terbuat dari emas murni. Postur tubuh, wajah cantik, dan warna kulit Li Anlan yang cantik membuat wanita itu tampak sangat menawan dan tampil sempurna. Dia bak supermodel terkenal dunia.
Li Afan berdiri di sudut ruangan sambil menangis. Dia mendapat perintah resmi dari raja untuk mendampingi Permaisuri Bangsawan menuju altar pernikahan, karena Li Afan adalah satu-satunya wali Li Anlan. Pria cantik pujaan banyak wanita itu sedikit sedih karena setelah ini adik kesayangannya benar-benar menjadi seseorang yang sangat penting.
Dia tidak percaya kalau wanita yang dulunya sangat bodoh, tidak punya teman dan hanya tahu makan, kini menjelma menjadi wanita luar biasa yang tidak hanya cerdas, tetapi kuat, bermartabat, berpengetahuan luas dan memiliki kemampuan yang tidak bisa diterka. Sungguh, sebuah keajaiban bahwa adik semata wayangnya yang berusaha dia lindungi mati-matian kini dapat berdiri di atas kakinya sendiri.
Dulu dia selalu mengira bahwa adiknya yang menjadi selir terbuang tidak akan pernah muncul ke publik dan selamanya menjadi selir kecil yang bahkan keberadaannya tidak diketahui dan tidak pernah bertemu dengan suaminya. Dia pikir dia akan selalu bisa datang mengunjunginya setiap akhir bulan sambil membawa sekantong uang sampai adiknya menua. Dia kira dia bisa menjadi satu-satunya pria yang disayangi dan berdiri paling depan ketika adiknya berada dalam bahaya.
Kini, semua pemikiran dan perkiraannya sirna. Adiknya tidak hanya menjadi seorang wanita biasa, dia bahkan akan menjadi wanita nomor satu di Kerajaan Dongling. Hati seorang kakak laki-laki yang selalu memanjakan adiknya tidak akan sekuat itu ketika melihat adik kesayangan satu-satunya menikah dengan seorang pria. Terharu, bangga, sedih, bahagia, semuanya bercampur menjadi satu.
Kakak mana yang tidak bersedih melihat adik perempuan satu-satunya menjadi istri orang lain?
“Kakak, mengapa kau menangis?”
“Huaaaa… Anlan, adik kesayanganku! Sekarang kau sudah mau jadi istri sah seseorang!”
Li Afan memeluk adiknya dengan erat. Sungguh hatinya masih tidak rela jika adiknya menikah sekarang. Dia masih merasa adiknya adalah bocah berumur tujuh tahun yang selalu merengek minta digendong padanya. Di sisi lain, dia juga bahagia karena sekarang adiknya menemukan tambatan hati dan hidupnya yang sejati, sehingga dia bisa menjelaskannya pada orang tuanya jika bertemu di akhirat nanti.
“Kakak, aku hanya menikah, bukan mau dimakamkan,” ujar Li Anlan sambil membalas pelukan kakaknya. Dia ingin menangis, tetapi sebisa mungkin dia tahan.
“Dulu kau hanya bocah kecil yang nakal, sekarang sudah mau jadi ibu negara. Huaaa….”
Kakaknya ini seperti anak kecil. Adiknya mau menikah dan jadi wanita nomor satu, dia malah menangis seperti bocah yang kehilangan permen. Li Anlan sebenarnya juga sedih, tetapi ini adalah takdirnya. Dia sudah memilih untuk menjadi orang penting, dia tidak bisa menghindarinya lagi. Ini adalah takdirnya, ini adalah jalan hidupnya.
“Kakak, aku ini adikmu. Mau setinggi apapun posisi yang kududuki, aku tetaplah adikmu.”
“Benar. Kau tetap adikku yang manja.”
Li Afan melerai pelukannya. Dia menghapus air matanya. Sudah cukup acara tangis-tangisannya, sekarang waktunya dia mengantar adiknya menuju altar pernikahan yang agung. Bibi istana kemudian memberitahukan bahwa tandu pernikahannya sudah siap dan waktu yang baik sudah tiba.
Li Anlan yang cantik jelita bak burung phoenix yang mewarisi kecantikan Dewi dan bidadari di seluruh Istana Langit. Xie Roulan dan dua kasim Istana Xingyue berjalan di belakangnya.
Di depan pintu gerbang, sebuah tandu pernikahan mewah sudah siap. Tak jauh dari tandu itu, ada seekor kuda putih yang sangat cantik dan lembut bulu-bulunya. Beberapa orang pengangkat tandu sudah bersiaga mengangkut pengantin agung mereka.
“Aku bukan orang yang mainstream. Kakak, ayo!”
Dua kakak beradik itu memilih untuk naik kuda. Li Anlan duduk paling depan. Jubah pengantinnya berkibar seperti selendang yang melambai. Di belakang mereka, Xie Roulan berlari menyusul sambil membawa kipas penutup wajah. Majikannya ini, di hari pernikahannya sendiri, tidak bisa bersikap anggun walau hanya sekali. Tidak hanya Xie Roulan, rombongan pengiring pengantin juga berlari menyusul Li Anlan dan Li Afan.
Di dalam aula, Ibu Suri Han Yuemei sudah duduk di tempat para orang tua. Li Afan memegang tangan Li Anlan, kemudian membawa adiknya masuk ke dalam aula leluhur. Saat tiba di altar suci, genggamannya terlepas. Tangan pria lain kemudian menggenggam tangan Li Anlan. Li Anlan menoleh ke samping. Pria tampan yang selama ini menjadi sandaran sekaligus rekan hidup dan matinya berdiri dengan gagah berbalut busana serba merah yang mewah dan panjang.
Long Ji Man dan Li Anlan kemudian melakukan prosesi upacara pernikahan dipandu oleh petugas pernikahan. Ibu Suri Han Yuemei meneteskan air matanya ketika dia melihat putra sulungnya sekaligus putra kesayangannya berdiri di samping seorang wanita cantik yang tidak hanya berbakat, tetapi berkemampuan dan memiliki sesuatu yang luar biasa.
Suasana semakin terasa haru ketika Li Anlan dan Long Ji Man saling mengucap janji sambil bertukar arak pernikahan. Seluruh keluarga kerajaan, baik yang ada di luar aula leluhur maupun di dalam ikut menangis menyaksikan raja mereka bersanding dengan seorang wanita sempurna yang tidak lama lagi akan menjadi ratu mereka.
Usai upacara pernikahan selesai, Li Anlan dibawa ke sebuah ruangan untuk berganti baju. Dia harus mengganti pakaian pernikahannya dengan pakaian resmi seorang ratu, yang lebih panjang, lebih mewah, dan lebih indah dari pakaian apapun di dunia ini. Mahkota pernikahannya juga diganti dengan mahkota ratu yang indah dari emas murni. Dalam sekejap, dia kembali menjelma menjadi bidadari paling cantik di seluruh muka bumi.
Long Ji Man juga berganti busana. Pria itu segera memakai jubah resmi kerajaan, kemudian pergi bersama para pejabatnya ke Istana Taiji untuk penobatan Permaisuri dan Ratu Kerajaan Dongling. Dia diarak bak seorang Dewa yang sangat dipuja-puja. Hari bahagia raja, adalah hari bahagia seluruh manusia.
Para menteri dan pejabat utama langsung berbaris begitu Yang Mulia Raja memasuki Aula Taiji dengan langkah tegap dan tenang. Auranya dan wibawanya bertambah kuat dan besar hingga berkali-kali lipat. Siapapun yang memandangnya tidak bisa tidak terpesona.
Jika wanita, mereka pasti akan jatuh cinta. Jika pria, maka kepala mereka pasti akan menunduk saking kuatnya aura Sang Raja Muda yang gagah perkasa ini. Ribuan kata bahkan tidak dapat digunakan untuk mendeskripsikan pesona pria tampan yang baru mengucap janji suci ini.
Dia mendudukkan dirinya di kursi singgasana yang megah. Dua kolam kecil dengan jembatan kecil yang memisahkannya dari tempat para pejabat seperti ikut bergetar karena pesona raja. Para pejabat yang berseragam dan berbaris rapi menunduk memberi hormat.
Tidak lama setelah itu, seorang wanita berjalan masuk ke dalam Aula Taiji dari arah pintu depan Istana Taiji. Langkah wanita itu begitu tenang dan wajahnya begitu bersinar. Mata kejoranya yang indah menatap lurus ke depan sana, ke arah Long Ji Man yang sedang duduk menunggunya datang ke hadapannya. Seluruh mata para pejabat kini terpusat kepadanya.
Untuk yang kedua kalinya, Li Anlan memasuki Istana Taiji untuk penobatan. Dulu, dia masuk ke sini dengan langkah tegas untuk penobatan dirinya sebagai Permaisuri Bangsawan diiringi tatapan tidak suka dari para pejabat dan menteri. Kini, dia kembali masuk ke sini untuk penobatan dirinya sebagai Permaisuri Resmi sekaligus Ratu Kerajaan Dongling diiringi tatapan hormat dan takjub para pejabat dan menteri. Mereka semua seperti tersihir.
Tatapan mereka berubah hanya dalam waktu kurang dari satu tahun.
Takdir berjalan seperti air mengalir. Hidup bergulir layaknya sebuah tredmill.
Di hadapan suami sekaligus rajanya, Li Anlan berlutut untuk menerima titah yang akan membuatnya menjadi wanita nomor satu, ibu negara Kerajaan Dongling yang agung.
“Nyonya Huang, Li Anlan, berbudi pekerti dan pekerja keras. Kecerdasan dan kebaikan hatinya membawa berkah bagi Kerajaan Dongling tercinta. Dia adalah rahmat dari langit. Atas rahmat dan kehendak langit, serta cinta kasih dari Raja sebagai utusan langit, Nyonya Huang, Li Anlan, diangkat sebagai Permaisuri dan Ratu Agung Kerajaan Dongling tanpa menghilangkan statusnya sebagai Permaisuri Bangsawan.”
Long Ji Man membubuhkan stempel resmi yang menjadi tanda legalitas dan peresmian secara hukum ke dekret yang baru saja dibacakan. Dengan ini, Li Anlan resmi menjadi Permaisuri Utama sekaligus Ratu Agung Kerajaan Dongling. Hari ini, detik ini juga, dialah wanita nomor satu di hati raja dan di hati rakyat Kerajaan Dongling. Dialah wanita hebat yang berperan sebagai ibu negara dari Kerajaan Dongling ini.
“Hamba menerima titah,” ucap Li Anlan sambil menerima lembaran dekret. Dia juga menerima stempel phoenix yang menandakan kekuasaan Ratu Dongling langsung dari tangan Long Ji Man. Dia secara sah sudah menjadi seorang ratu.
Di tempat khusus yang letaknya tak jauh dari singgasana raja, Ibu Suri Han Yuemei terisak. Dia sangat terharu karena putranya akhirnya memiliki seorang Permaisuri yang baik hati dan bersedia melalui hidup dan mati bersamanya. Ibu Suri bahagia karena akhirnya Raja Kerajaan Dongling memiliki seorang Ratu pilihannya sendiri. Kebahagiaannya sungguh tidak dapat didefinisikan dengan kata-kata.
“Huang An, ratuku,” ucap Long Ji Man sambil menatap mata kejora Li Anlan.
“Yang Mulia,” ujar Li Anlan sambil membalas tatapan Long Ji Man.
Tidak dapat dipungkiri, hari itu menjadi hari paling bersejarah dalam hidup Li Anlan dan Long Ji Man. Hari itu, seorang Ratu Agung diangkat. Li Anlan adalah Ratu pertama yang menyandang status sebagai Permaisuri Utama sekaligus Permaisuri Bangsawan yang sangat istimewa. Dia adalah wanita pertama yang memiliki kedudukan begitu tinggi dan terhormat sepanjang sejarah Kerajaan Dongling yang agung.
...***...
...Huhuhu Author nulisnya sambil nangis, terharu sama perjuangan Li Anlan yang naik sampai ke posisi tinggi. Author juga sedih karena sebentar lagi kita akan pisah sama Li Anlan dan Long Ji Man😭...