The Little Consort

The Little Consort
Eps. 89: Kebingungan


“Yang Mulia, ada satu kabar yang tidak tahu harus kuberitahukan atau tidak.”


Tao Zhun bersimpuh di hadapan Long Ji Man dengan ragu. Ada sesuatu yang penting yang harus dia katakan pada rajanya perihal kondisi Han Jinxi. Pagi-pagi sekali saat Balai Pengobatan Kerajaan baru dibuka, seorang utusan dari penjara Biro Keadilan Istana datang terburu-buru meminta bantuannya.


Utusan itu memberitahunya bahwa tahanan mantan Permaisuri Utama yang berada di sel kelas satu jatuh tak sadarkan diri. Tao Zhun, tanpa surat perintah tidak bisa berangkat ke sana. Untung saja ada Long Ji Yu, atau Pangeran Agung sang paman Long Ji Man membantunya.


Hasil pemeriksaan terhadap tubuh Han Jinxi membuat Tao Zhun kebingungan. Wanita tahanan itu baik-baik saja, tetapi mengapa dia bisa pingsan di pagi hari? Tao Zhun kemudian memeriksanya sekali lagi. Dia merasakan sesuatu yang aneh dari denyut nadi Han Jinxi. Denyut nadi itu berantakan sekali. Tao Zhun memeriksanya untuk memastikan praduganya.


“Katakan saja!”


“Permaisuri… Mantan Permaisuri, dia sedang hamil.”


Long Ji Man yang sedang duduk di kursi kerjanya seketika berdiri. Bohong jika dia tidak terkejut setengah mati. Apa yang baru saja dikatakan oleh Tao Zhun membuat Long Ji Man berdecak tidak percaya. Hamil? Bagaimana mungkin Han Jinxi hamil di saat dia tidak pernah menyentuhnya sama sekali?


Pria itu kemudian bertanya sekali lagi. Tao Zhun tetap pada jawaban semula. Tabib itu bahkan berani bersumpah dengan nyawanya jika dia benar-benar tidak berbohong.


Pemeriksaannya tidak mungkin salah. Dia sudah bekerja di istana selama bertahun-tahun dan sudah memeriksa banyak wanita istana. Dengan kemampuan dan pengalaman kerjanya, diagnosisnya tidak mungkin keliru.


“Bagaimana mungkin?”


“Yang Mulia, mantan Permaisuri memang hamil. Usia kandungannya sudah sekitar dua belas minggu.”


“Biqi!”


“Ya, Yang Mulia.”


“Di mana Huang An?”


“Menjawab, Yang Mulia. Permaisuri Bangsawan sedang keluar istana.”


Long Ji Man kebingungan. Situasi sudah berada di luar kendali. Di saat genting seperti ini, kabar mengejutkan datang dari penjara istana sementara hukuman akan dijatuhkan sebentar lagi. Dia tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Han Jinxi hamil sementara dia tidak pernah menyentuhnya.


Li Anlan sedang berada di luar istana. Wanita itu pergi mengunjungi kakaknya di Paviliun Lanxin setelah kesembuhannya. Jika Long Ji Man memanggilnya sekarang, Li Anlan pasti akan marah dan kesal kepadanya. Wanita itu pasti akan mengamuk dan mengatakan bahwa dia sama sekali tidak pengertian.


Pada akhirnya, Long Ji Man harus mengambil sikap. Setelah berganti baju dengan setelan resmi kerajaannya, Long Ji Man pergi ke Balai Pengobatan Kerajaan tempat Han Jinxi dirawat. Wanita itu dipindahkan dari penjara Biro Keadilan Istana untuk mempermudah pemeriksaan dan perawatan. Sebelum pergi, dia meminta salah seorang bawahan untuk mencari Wang Tianshi dan menyampaikan pesannya pada Li Anlan bahwa ada urusan penting yang harus diselesaikan.


Sesampainya di Balai Pengobatan Kerajaan, Long Ji Man mendapati Han Jinxi sedang terbaring lemah di atas ranjang pengobatan. Saat mengetahui kedatangan Long Ji Man, Han Jinxi memalingkan wajahnya ke samping, tidak ingin melihat wajah mantan suami yang memenjarakannya.


“Katakan, siapa ayahnya?” Long Ji Man langsung memburunya dengan pertanyaan.


“Untuk apa kau tahu?”


“Jinxi, siapa ayahnya?”


Alih-alih menjawab, Han Jinxi malah mengubah posisinya hingga membelakangi Long Ji Man. Dia sendiri juga tidak menyangka kalau ini akan terjadi. Dia menyalahkan takdir karena telah mempermainkannya hingga seperti ini. Jika bisa, dia ingin sekali membunuh anak yang masih berada di dalam kandungannya. Selain tidak boleh mengatakan siapa ayahnya, Han Jinxi juga tidak bisa membiarkan anak ini hidup.


“Apa dia orang yang berada di belakangmu?”


“Bisakah kau pergi dari sini? Aku tidak ingin berbicara dengan siapapun.”


Long Ji Man mengusap wajahnya dengan kasar. Han Jinxi sangat keras kepala dan tidak mau memberitahu siapa ayah dari bayi yang dikandungnya. Kesalahan Han Jinxi betambah satu lagi, yakni mengkhianati Yang Mulia Raja dan berani berselingkuh di belakangnya. Wanita itu sepertinya sudah tidak menginginkan nyawanya lagi!


“Han Jinxi, kau sungguh keterlaluan!”


“Lalu bagaimana? Lebih baik sekarang kau membunuhku, Yang Mulia!”


“Kau pikir dengan membunuhmu bisa menyelesaikan masalah?”


Han Jinxi tidak menjawab. Perlahan, air matanya mengalir tanpa ada yang tahu. Dia benci takdir. Dia benci dunia yang telah mempermainkan kehidupannya. Dia membenci semua orang, dia membenci dirinya sendiri.


Lupakan sejenak permasalahan baru yang terjadi di istana.


Di Paviliun Lanxin, Li Anlan diperlakukan bak seperti seorang ratu oleh Li Afan. Dia dimanjakan dengan berbagai makanan, uang, perhiasan, dan pakaian di lantai atas, di ruangan khusus yang sudah disiapkan Li Afan. Li Anlan juga diberikan beberapa benda berharga langka lain.


Saat dia datang ke Paviliun Lanxin, Li Afan langsung menyambutnya dengan pelukan hangat. Pria itu sangat merindukan adik kesayangannya. Setelah berpura-pura menjadi Li Anlan tempo hari, Li Afan langsung keluar dari istana karena merasa tidak nyaman. Dia mendengar kabar dari utusan khusus Yang Mulia Raja kalau adiknya sudah bangun tetapi belum dapat pergi ke manapun karena urusan di istana sangat pelik.


Li Afan bahagia karena orang yang mencelakai adiknya sudah ditemukan. Di sisi lain dia juga terkejut karena ternyata orang yang sudah mencelakai adiknya adalah Permaisuri Utama, calon ratu bangsa ini. Saat itu Li Afan ingin sekali menampar dan menjambak rambut Permaisuri Utama karena telah berusaha melenyapkan adik semata wayangnya. Tetapi dia tidak bisa melakukannya.


“Anlan, kau tahu, aku hampir saja menjadi selir baru suamimu,” ucap Li Afan sambil terus memperhatikan adiknya yang sedang makan.


“Karena kau berpura-pura jadi aku?”


Li Afan mengangguk. Geli rasanya saat dia ingat bahwa dia berdandan seperti adiknya.


“Apa jawabannya?”


“Yang Mulia mengatakan kalau aku adalah saudara kembarmu yang baru ditemukan.”


“Pppfttt…. Hahahaha… Kakak, kau memang mirip denganku jika berdandan.”


“Hah… aku sudah berusaha membantumu. Sekarang, kau baik-baiklah hidup di istana. Jangan biarkan orang lain mencelakaimu lagi!”


Li Afan senang karena adiknya sekarang sudah benar-benar sehat. Tidak ada lagi tubuh yang terbaring kaku dengan wajah pias dan bibir membiru yang membuatnya khawatir setengah mati selama sebulan yang lalu. Tidak ada lagi hawa dingin yang menyusup ke hatinya dan membuatnya menjadi pria penuh ketakutan saat melihat adik semata wayangnya terbaring tak berdaya di atas tempat tidur.


Jika bisa, dia tetap ingin membawa Li Anlan pergi dari istana dan tinggal jauh di luar kota. Di sana, kehidupannya mungkin lebih baik. Li Anlan tidak perlu khawatir akan disakiti atau diancam posisinya. Adiknya tidak perlu berusaha dan bekerja keras mengeluarkan keringat dan tenaga. Li Afan punya banyak uang yang bisa menyenangkan dan menjamin keselamatan adiknya. Dia punya segala yang dibutuhkan adiknya.


Tetapi, Li Afan menyadari bahwa adiknya tidak akan pernah menyetujuinya. Long Ji Man, yang awalnya tidak mengenal Li Anlan, sekarang sudah jatuh cinta pada adiknya. Dia secara tidak langsung telah menciptakan ikatan yang kuat dan tidak bisa diputuskan. Pria itu memberikan tanggung jawab dan amanah besar kepada Li Anlan sebagai Permaisuri Bangsawan dan penasihat khusus raja.


Sebagai warga negara yang baik, Li Afan menyadari bahwa adiknya bukan lagi seorang wanita biasa yang bebas berkehendak. Adiknya sekarang adalah seorang wanita anggota keluarga kerajaan yang memiliki tanggung jawab besar.


“Kakak, bagaimana dengan sesuatu yang kuminta?”


Li Afan menyerahkan beberapa lembar buku yang dia dapat. Buku-buku itu berisi segala informasi yang dibutuhkan oleh Li Afan.


“Ini adalah daftar catatan selir baru rajamu.”


“Apa ini berkas-berkas putri utusan itu?”


Li Afan mengangguk. Li Anlan kemudian membukanya dan membacanya satu persatu. Keningnya berkerut, namun beberapa saat kemudian dia tertawa. Saat Li Anlan menutup lembaran terakhir buku-buku itu, dia menatap wajah kakaknya penuh arti.


“Kau menemukan sesuatu?”


“Putri utusan itu ahli racun. Dengan buku ini, aku tidak yakin apakah dia bisa menikmati hari nyamannya di istana atau tidak.”


“Kau ingin menyingkirkannya?”


“Aku harus menyingkirkan wanita-wanita licik di samping Long Ji Man.”


Seorang pelayan Paviliun Lanxin kemudian mengetuk pintu ruangan. Saat ditanya ada perlu apa, dia mengatakan bahwa ada seorang pria yang mengaku utusan seorang tuan muda bernama Long Ji Man sedang menunggunya di bawah dan memintanya untuk bertemu.


“Persilakan dia masuk!”


“Baik, Tuan Muda.”


Tidak lama setelah itu, seorang pria berseragam prajurit masuk ke dalam ruangan yang ditempati oleh Li Anlan dan Li Afan. Li Anlan terkejut saat dia tahu utusan yang dimaksud oleh pelayan itu adalah Wang Tianshi.


“Pengawal kecil, mengapa kau mencariku?”


“Nyonya, Anda harus kembali ke istana sekarang juga!”


“Ada apa?”


“Yang Mulia, dia sedang kesulitan.”


“Katakan dulu mengapa dia menjadi kesulitan!”


“Mantan Permaisuri Jin, hamil!”


“Hamil? Tianshi, kau tidak sedang bercanda bukan?”


“Tidak, Nyonya. Yang Mulia sekarang sedang memastikan keadaan yang sebenarnya.”


“Kakak, aku harus kembali ke istana sekarang.”


“Berhati-hatilah!”


Li Anlan menuruni tangga Paviliun Lanxin dengan terburu-buru. Karena tidak berhati-hati, dia menginjak ujung pakaiannya sendiri dan terjatuh. Li Anlan terguling dari tangga hingga ujung sikut dan keningnya berdarah. Tidak ingin memperpanjang masalah dan memancing keributan, dia memilih untuk diam dan terus melanjutkan langkahnya meski orang-orang di sana melihatnya dengan heran dan simpati.


Satu-satunya yang dia pikirkan sekarang adalah: bagaimana situasi yang sedang berlangsung di istana!


...***...


...Hai, pembaca kesayangan Author. Itu Han Jinxi kenapa bikin masalah mulu ya? Ada yang bisa nebak nggak siapa ayah dari bayinya? Tulis di kolom komentar ya! Stay tune terus, setelah ini akan ada perang besar yang harus dihadapi Anlan sama Jiman. Sampai jumpa di episode berikutnya!...