
Orang bilang, ketika sekali mencoba sesuatu, maka akan terus mencobanya. Awalnya mungkin hanya coba-coba, tapi lama kelamaan menjadi kebiasaan, dan menjadi kecanduan. Itulah yang dialami Li Anlan saat ini. Sekali ia mencoba, dia ingin mencoba lagi.
Li Anlan ingin mencoba keluar istana lagi. Sejak hari kepulangannya beberapa waktu lalu, tidur Li Anlan tidak lagi nyenyak karena dia selalu memikirkan keramaian yang terjadi di pusat kota, serta bagaimana lezatnya makanan di luar istana, terutama makanan di Paviliun Lanxin. Li Anlan juga memikirkan nasib anak-anak kumuh yang ia temui tempo hari.
Oleh karena itu, dia diam-diam mengirimkan surat kembali kepada kakaknya. Li Anlan meminta Li Afan untuk mengirimkan sejumlah uang dan sejumlah makanan yang bisa dinikmati oleh anak-anak kumuh itu. Penghasilan Si Pencuri itu pasti tidak menentu. Bisa saja anak-anak itu kelaparan karena Si Pencuri tidak berhasil mendapatkan apapun sewaktu-waktu.
Di dalam suratnya, Li Anlan juga menunjukkan jalan melalui deskripsi menuju rumah tua. Meskipun tulisannya lebih jelek, tapi masih dapat dibaca. Orang cerdas seperti Li Afan tidak akan menemui kesulitan dalam menebak isi surat itu. Selain meminta Li Afan untuk mengirimkan uang dan makanan, Li Anlan juga memintanya untuk mencarikan dia sebuah gedung bertingkat dua yang bagus dan strategis. Untuk tujuannya, Li Anlan tidak menyebutkannya.
Rencananya, Li Anlan akan menggunakan gedung itu untuk memulai bisnisnya. Dia berencana membuka sebuah restoran dan penginapan. Untuk para pekerjanya, dia akan mencarinya dan menentukan sendiri kualifikasi seperti apa yang sesuai dengan keinginannya. Jika gedung itu sudah didapatkan, Li Anlan akan berusaha menyelinap lagi, menyamar lagi sebagai orang lain.
Li Anlan tidak lagi menyuruh Xie Roulan untuk mengirimkan surat itu karena khawatir pihak penjaga istana akan curiga. Jika seorang pelayan selir rendahan keluar istana sesering mungkin, mau tidak mau mereka pasti akan waspada. Mereka akan bertanya-tanya hal penting atau keperluan apakah yang mengharuskan pelayan sepertinya keluar istana lebih banyak dari siapapun.
Untuk itulah, Li Anlan memelihara seekor merpati putih dan melatihnya. Setelah dirasa cukup terampil, Li Anlan lalu menerbangkannya. Suratnya dia ikat di kaki kanan merpati putih. Beberapa hari setelah itu, merpati itu kembali ke Istana Xingyue dengan sepucuk surat terikat di kaki kirinya. Li Anlan buru-buru mengambil surat itu. Ternyata, surat itu adalah surat balasan dari Li Afan.
“Gedung yang kau inginkan sudah tersedia.”
“Akhirnya aku mendapatkannya!” Li Anlan bersorak sendiri.
Pintu Istana Xingyue terbuka. Xie Roulan masuk membawa jatah sarapannya. Setelah dia menata makanannya di atas meja, dia hendak melanjutkan pekerjaannya yang lain. Tapi, Li Anlan mencegatnya dan menyuruhnya duduk untuk makan bersamanya.
“Kau pasti lapar.”
“Aku sudah makan bakpau, Nyonya,” ucap Xie Roulan.
“Itu tidak cukup untuk mengganjal perut kecilmu.”
Mau tidak mau, Xie Roulan akhirnya ikut makan bersama majikannya. Meskipun sudah sering makan bersama, Xie Roulan tetap saja merasa canggung. Dia seorang budak rendahan yang dibeli dengan uang, sedangkan majikannya adalah seorang gadis keturunan bangsawan kaya raya yang cantik. Hanya saja, nasibnya tidak begitu beruntung karena tidak berbakat dan tidak memiliki kecerdasan hingga terpaksa masuk ke istana menjadi selir yang terbuang.
Xie Roulan tumbuh bersama Li Anlan. Dia ingat, dia dibeli oleh seorang pemuda gendut yang kejam dan tamak. Xie Roulan pernah menjadi pengemis dan hidupnya sangat menderita. Sampai suatu hari di festival puncak musim semi, dia bertemu seorang pria berumur tiga puluh tahunan yang membawa seorang anak perempuan seusianya.
Pria tiga puluh tahunan yang membawa anak perempuan itu memberinya sebuah bakpau hangat dan bubur, lalu menanyakan siapa namanya dan dari mana asalnya. Saat itu, Xie Roulan tidak mempunyai nama. Orang-orang hanya memanggilnya gadis pengemis. Mengetahui hal itu, pria baik hati itu lalu memberinya nama ‘Xie Roulan’, yang menjadi namanya hingga kini.
Pria baik itu adalah ayah Li Anlan, Tuan Bangsawan Li Han. Anak perempuan yang saat itu bersamanya adalah Li Anlan. Melihat Xie Roulan, Li Anlan kecil lalu meminta Tuan Bangsawan Li Han untuk membawanya masuk ke kediaman dan menjadi teman belajarnya. Tuan Bangsawan Li Han lalu meminta Xie Roulan membawa mereka kepada tuannya untuk membelinya kembali. Saat Tuan Bangsawan Li Han bertemu dengan Si Pria Gendut, dia langsung memberikan sejumlah uang untuk menebus Xie Roulan. Setelah kesepakatan itu selesai, Xie Roulan dibawa pulang ke kediaman Bangsawan Li.
Xie Roulan kecil tahu balas budi. Dia menolak menjadi teman belajar Li Anlan dan lebih memilih menjadi pelayan. Dia berjanji bahwa dia akan selalu ada untuk Li Anlan sepanjang hidupnya. Selama ia bernapas, dia akan menjadi pelayan Li Anlan untuk selama-lamanya. Dia baru menyadari kalau majikannya itu ternyata tidak pandai dalam hal apapun saat usianya dua belas tahun. Xie Roulan semakin tidak ingin meninggalkan Li Anlan. Jadi, dia terus mengikuti dan menemani majikannya ke manapun ia pergi, termasuk ke istana yang sepi ini.
“Roulan, carikan aku sebuah baju lagi!” perintah Li Anlan saat keduanya selesai makan. Pelayan itu mengangguk. Dia sudah mengerti maksud dari perkataannya. Jika Li Anlan menyuruhnya mencari sebuah baju, maka itu berarti bahwa majikannya akan menyelinap keluar lagi.
“Kali ini apa yang akan nyonya lakukan?”
“Berbisnis.”
Xie Roulan tidak yakin. Tapi, dia juga tidak berani bertanya lagi. Gadis pelayan itu memilih untuk segera mencari pakaian yang diminta Li Anlan.
Siang hari, di pusat kota yang ramai, orang-orang sibuk berlalu lalang. Gedung-gedung restoran dan toko-toko sibuk melayani pelanggan. Dapur-dapur bangunan mengepul, menerbangkan asap dan uap dari panci kukusan, wajan penggorengan, dan tungku pembakaran. Cuaca musim semi juga sangat cerah. Bunga-bunga bermekaran dengan menawan.
Gedung yang paling ramai dan paling menarik perhatian adalah sebuah gedung yang berjarak tiga puluh meter dari Paviliun Lanxin. Gedung itu dikerumuni banyak orang-orang. Tapi, yang menjadi keanehan adalah bahwa para pengunjung gedung itu adalah para pria muda.
“Tuan, mengapa gedung itu sangat ramai?” tanya seorang pemuda pada seorang pemuda lainnya.
“Tuan Muda pemilik gedung sedang mencari pekerja.”
“Mengapa hanya laki-laki yang datang?”
“Karena memang Tuan Muda itu hanya membutuhkan pekerja laki-laki yang muda dan tampan.”
Pernyataan aneh itu membangunkan rasa penasaran yang besar di hati pemuda tadi. Pekerja laki-laki yang muda dan tampan, apa maksudnya? Seharusnya, jika ingin memulai bisnis, tidak boleh pilih-pilih pekerja. Asalkan bersedia dan dibayar, itu sudah termasuk luar biasa. Pemilik gedung itu pasti orang bodoh.
Pemuda itu kemudian ikut masuk ke dalam gedung. Di dalamnya, puluhan bahkan ratusan pria muda dan tampan berdesak-desakan untuk mendapatkan antrian. Di sebuah panggung yang ada di tengah ruangan, dua orang berpakaian laki-laki sedang duduk bertumpang kaki. Salah satu di antara dua laki-laki itu berwajah cantik, satunya lagi berwajah tampan dengan kumis tipis di atas bibir atasnya.
“Jangan berebut! Kalian akan aku rekrut jika memenuhi kualifikasi!” seru Si Pria Tampan yang berkumis.
Suara itu sepertinya terdengar tidak asing. Si pemuda yang baru masuk maju ke depan, membelah antrian yang panjang hingga membuat pemuda-pemuda lainnya berteriak kesal. Sampai di depan panggung tempat Si Pria Tampan berkumis dan Si Pria cantik duduk, pemuda itu mengibaskan jubah bajunya dan melebarkan kipasnya.
Si Pria Tampan berkumis tipis, saat mendengar suara itu, langsung bangkit dari duduknya. Saat matanya menatap pemuda di depannya, seketika bulu kuduknya berdiri semua. Tatapan pemuda itu tajam menusuk jantung dan hatinya. Si Pria Tampan berkumis tipis menjadi salah tingkah.
Si Pria Cantik yang tadi duduk di sampingnya ikut bangkit. Hatinya bertanya-tanya mengapa Si Pria Tampan tiba-tiba berdiri dan mematung seperti arca saat melihat pemuda itu.
“Ada apa?” bisiknya pada Si Pria Tampan berkumis.
“Long-Long-Long-”
“Longlonglong?”
“Long Ji Man ada di sini!” balas Si Pria Tampan dengan pelan.
“Siapa? Pemuda ini? Siapa Long Ji Man?”
“Yang Mulia Raja!”
Si Pria Cantik, yang tak lain dan tak bukan adalah Li Afan, sontak terkejut setengah mati. Pemuda di hadapannya adalah Raja Dongling, suami adiknya! Pantas saja Li Anlan seperti kerasukan setan dan terdiam seperti arca. Dia seperti seorang pencuri yang ketahuan! Li Afan kehilangan semua kata-katanya. Dia tidak tahu harus berbicara apa. Dia saja merasa terkejut dan gugup, apalagi Li Anlan. Wajahnya sudah pias seperti mayat.
“Ahahahaha, Tuan Muda sangat percaya diri!”
Li Anlan turun untuk menghampiri Long Ji Man. Dia membawa pria itu ke sudut ruangan yang agak lengang. Long Ji Man mengibas-ngibaskan kipasnya. Udara di dalam ruangan ini berubah menjadi panas.
“Yang Mulia, apa yang kau lakukan di sini?”
“Seharusnya aku yang bertanya! Mengapa seorang selir menyelinap keluar dari istana?”
Li Anlan tidak menjawab pertanyaan rajanya. Wanita yang menyamar menjadi laki-laki itu menengok sebentar ke arah kerumunan orang-orang. Dia harus menyelesaikan urusannya dulu.
“Nanti kujelaskan.”
Li Anlan lalu kembali ke panggung dan memberitahu kepada semua orang kalau perekrutan pekerja akan dilanjutkan. Dia meminta Li Afan untuk meng-handle pekerjaannya. Melihat selirnya berbicara akrab dengan seorang pria, entah mengapa hati Long Ji Man jadi tidak nyaman. Apalagi, jarak mereka begitu dekat. Dia seorang raja yang berkuasa, pemilik seluruh tanah Dongling ini. Mengapa ia merasa seperti akan kehilangan sesuatu yang kecil dan tidak berarti?
Long Ji Man berjalan menghampiri Li Anlan. Dia naik ke atas panggung hingga membuat orang-orang di sekelilingnya berteriak memakinya, menganggapnya menerobos antrian. Li Anlan tidak bisa mencegahnya. Dia tidak ingin mengacaukan semuanya.
“Siapa dia?” tanyanya setengah berbisik, sambil menunjuk Li Afan dengan isyarat mata.
“Dia teman lamaku!”
“Kau punya teman?”
“Apa aku tidak boleh memiliki kenalan karena aku orang bodoh yang tidak berbakat?”
Sinisme yang terlontar dari mulut Li Anlan membuat Long Ji Man mengibaskan baju dan kipasnya. Wajahnya berubah menjadi datar dan dingin. Wanita ini berani beradu mulut dengannya lagi. Dia bahkan tidak merasa takut atau merasa bersalah sama sekali.
“Jika kau tidak kembali ke istana sekarang, aku akan membuatmu tidak bisa melihat keramaian lagi selamanya!”
Nada dingin itu menyiratkan sebuah perintah yang mengandung kekuatan dan kekuasaan yang kuat, yang tidak bisa dibantah oleh alasan apapun dan oleh siapapun. Wajah datar tanpa ekspresi, nada dingin yang keluar dari mulut seorang raja, membuat Li Anlan terintimidasi. Untuk pertama kalinya dia merasa sedikit takut.
Sementara itu, Li Afan yang melihat interaksi adik dan adik iparnya tidak bisa berbuat apa-apa. Li Anlan sudah ketahuan dan bersalah, jika membelanya pun tidak aka nada gunanya. Li Anlan akan semakin tersudut jika Li Afan membuka suara. Wajah datar dan dingin Raja Dongling itu benar-benar menakutkan!
Li Anlan tidak bisa membiarkan Long Ji Man semakin marah padanya. Otaknya berputar keras memikirkan cara tercepat untuk membawa pria itu pergi dari gedung ini tanpa menimbulkan kericuhan. Tapi, orang-orang ini terlalu banyak. Sekarang, tiga orang di atas panggung itu sudah menjadi pusat perhatian.
“Ahahaha, Tuan-Tuan sekalian, aku harus mengantarkan temanku ini ke belakang. Pria cantik di sisiku akan mengurus kalian.”
Setelah mengatakan itu, Li Anlan langsung menarik lengan baju Long Ji Man, membawa pemiliknya keluar dari gedung lewat jalan belakang. Ekspresi Li Anlan yang semula panik berubah datar, bahkan lebih mengarah ke kesal.
“Jangan berbicara! Aku akan membawamu ke suatu tempat!”
Long Ji Man tidak berkata apa-apa. Dia membiarkan selir terbuangnya menyeretnya, membawanya menjauh dari gedung dan pergi menyusuri jalanan sempit dan sepi. Long Ji Man ingin melihat tindakan apa yang akan dilakukan Li Anlan selanjutnya. Dia ingin tahu sejauh apa wanita bodoh ini dapat bertindak.
...***...