
Long Ji Man, Raja Kerajaan Dongling yang muda dan bersemangat baru kembali dari pengadilan di Istana Taiji setelah hampir satu hari penuh berkerja. Agenda hari ini begitu padat. Selain laporan dari para menteri, mereka juga meminta waktunya untuk membahas perburuan musim gugur yang menjadi aktivitas rutinan kerajaan setiap tahun.
Jika bukan karena sudah menjadi tradisi, Long Ji Man tidak mau membuang-buang uang untuk mengadakan perburuan tersebut. Seperti kata Li Anlan, manusia harus berhemat agar menjadi kaya. Pengeluaran istana selalu membengkak setiap tahun, sementara pajak dari rakyat sering terlambat dibayarkan. Alhasil, Long Ji Man terpaksa memangkas gaji para menteri dan para wanita istana untuk mengurangi pengeluaran. Tidak boleh lebih besar pasak daripada tiang.
Pria itu duduk di kursi kebesarannya. Harum aroma tubuh Li Anlan berbaur di udara, merangsek masuk ke dalam hidungnya yang mancung. Wanita itu pasti ada di sini beberapa saat yang lalu. Dia ingin tahu keributan apa lagi yang dibuat permaisuri kecilnya hari ini.
"Tianshi!" panggil Long Ji Man. Wang Tianshi masuk entah dari mana.
"Apa yang dilakukan Permaisuri Bangsawan hari ini?"
"Lapor, Yang Mulia. Nyonya Huang bermain panah dengan para pelayan dan menembakkan anak panah ke rambut Selir Ling, Selir Shui, dan Selir Lixia setelah mereka bertengkar hari ini."
Long Ji Man tersenyum simpul.
"Ada lagi?"
"Tidak ada, Yang Mulia. Eh, ada, Yang Mulia. Tadi Nyonya Huang meminta izin untuk mendaki Gunung Feiyun, tetapi kembali ke Istana Xingyue karena Yang Mulia tidak ada."
Long Ji Man manggut-manggut tanda mengerti. Gunung Feiyun? Ah, wanita itu pasti belum puas karena saat itu ia hanya mengajaknya ke wisma, bukan ke puncaknya yang tinggi dan agung.
Dari luar, Xiao Biqi yang sedang berjaga di depan pintu terkejut dengan kedatangan Xie Roulan, pelayan pribadi Permaisuri Bangsawan. Gadis pelayan itu datang dengan napas tersengal dan raut wajah khawatir. Pipinya merah dan keringat membasahi keningnya yang putih.
"Kasim Bi, apa nyonyaku ada di sini?"
Mendapat pertanyaan seperti itu, Xiao Biqi mengernyitkan dahi. Wang Tianshi baru saja mengatakan kalau Permaisuri Bangsawan kembali ke istananya, tetapi pelayannya justru malah datang kemari dan mempertanyakan majikannya.
"Bukankah Nyonya Huang ada di Istana Xingyue?"
Xie Roulan menggeleng. Sejak sore hari tadi, dia sama sekali belum melihay majikannya menunjukkan batang hidungnya di Istana Xingyue. Dia pikir majikan kesayangannya ada di sini, jadi dia menyusulnya untuk membawanya kembali ke Istana Xingyue.
"Ada apa ini?" tanya Long Ji Man di ambang pintu.
"Yang Mulia, apa nyonyaku ada di sini?"
"Bukankah Huang An sudah kembali dari tadi?"
Xie Roulan kembali menggelengkan kepala. Dia sungguh belum melihat majikannya menginjakkan kaki di istana pribadinya. Xie Roulan mana mungkin berani berbohong kepada raja seperti ini. Jika bukan karena khawatit, dia tidak akan jauh-jauh datang ke sini.
"Aneh. Ke mana perginya dia?"
"Yang Mulia, apa mungkin telah terjadi sesuatu yang buruk pada nyonyaku?"
"Sstt.... Jangan bicara sembarangan!"
"Tapi, jika dia tidak ada di sini atau di Istana Xingyue, di mana dia berada sekarang? Nyonyaku tidak hafal jalan di istana ini. Yang Mulia, kita harus mencarinya."
Pelayan ini benar. Daripada panik dan terus bertanya-tanya, lebih baik segera mencari Li Anlan. Pria itu kemudian mengerahkan seluruh pengawal di istana untuk membantu mencari Li Anlan. Dalam sekejap, istana Kerajaan Dongling berubah seperti tempat pencarian mayat. Setiap sudut istana tidak lepas dari pemeriksaan.
Satu jam sudah berlalu, tetapi pencarian masih tidak memperlihatkan hasil. Long Ji Man langsung khawatir, rasa takut menjalar ke dalam sumsum tulangnya. Berbagai prasangka buruk mulai bergantian membayangi benak dan otaknya. Wanita itu, di mana sebenarnya dia berada?
Seorang pengawal berlari kencang ke arah Long Ji Man. Begitu sampai di depan rajanya, dia menyerahkan sebuah jepit rambut perak berbentuk bunga magnolia kepada Long Ji Man sambil menunduk.
"Yang Mulia, kami menemukan ini di dekat pagar pembatas jembatan Danau Houchi," ungkap si pengawal.
"Bukankah ini milik nyonyaku?" seloroh Xie Roulan.
"Kau yakin?"
"Ya, Yang Mulia, hamba sangat yakin. Hamba sendiri yang memasangkannya tadi pagi."
"Gawat!"
Long Ji Man berlari sekencang mungkin meninggalkan istananya. Ketika ia sampai di jembatan Danau Houchi, dia melirik ke dalam air yang gelap. Tanpa pikir panjang, pria itu melepas jubah panjang beserta mahkotanya. Long Ji Man langsung melompat ke dalam Danau Houchi tanpa pertimbangan.
Long Ji Man terus berenang dan menyelam. Semakin dalam, semakin gelap pula penglihatannya. Di dalam air, dia terus mencari dan mencari, berharap menemukan petunjuk atau paling tidak sedikit tanda-tanda kalau wanita itu pernah tercebur ke sini.
Air danau yang tenang di permukaan memiliki arus deras di bawahnya. Long Ji Man berkali-kali terhunyung terbawa arus, namun terus bertahan dengan segala kekuatan yang ada. Setelah sekian lama, netranya menangkap bayangan sesosok wanita tersungkur di dasar danau yang berlumpur.
Long Ji Man segera meraih tangan sosok itu. Wajah wanita itu terlihat membiru, matanya terpejam rapat. Dalam kekalutan dan kekhawatiran yang luar biasa, Long Ji Man membawanya kembali ke atas permukaan air. Xiao Biqi dan para pengawal, beserta Xie Roulan berteriak saat kepala raja mereka menyembul dari dalam danau bersama kepala seorang wanita.
"Yang Mulia!"
"Nyonya!"
Long Ji Man membawa tubuh Li Anlan yang sudah lemas ke tepian danau. Xiao Biqi dan Xie Roulan langsung begegas menghampiri. Gadis pelayan yang sehari-hari bersama Li Anlan mulai menangis. Majikannya mengapa bisa tampak seperti mayat?
Bahkan tidak ada warna di wajahnya! Bibir indah itu membiru, pipinya mulai bengkak dan suhu tubuhnya sudah sangat dingin. Long Ji Man menggendong tubuh Li Anlan ke Istana Xingyue, kemudian meminta para pengawalnya untuk segera membawa Tabib Tao Zhun kemari. Di atas ranjang, tubuh lemas Li Anlan dibaringkan. Air mengalir membasahi tempat tidur tersebut.
"Cepat ambilkan pakaian ganti!" seru Long Ji Man setengah berteriak. Xie Roulan kembali dengan satu set hanfu kering lengkap dengan baju dalamnya.
Melupakan batasan antara pria dan wanita, Long Ji Man merobek hanfu basah yang dipakai Li Anlan, menggantinya dengan yang kering. Untun mencegah basah kembali, dia terlebih dulu melemparkan sprai dan kasur, kemudian menggantinya dengan yang kering. Xie Roulan dan Xiao Biqi membalikkan badan saat raja mereka memakaikan pakaian satu persatu.
"Di mana Tao Zhun? Mengapa dia lambat sekali?"
"Hamba di sini, Yang Mulia!"
Tao Zhun datang dengan napas terengah. Saat melihat orang yang selalu menyebutnya dukun terbaring dengan wajah membiru dan suhu tubuh yang sangat dingin, Tao Zhun terkejut bukan main. Mengapa wanita itu menjadi seperti zombie?
Dia mulai memeriksa Li Anlan. Di samping tempat tidur, Long Ji Man berdiri dengan raut wajah sangat khawatir. Dia takut, dia benar-benar takut. Long Ji Man sangat takut jika wanita yang terbaring di hadapannya bukan lagi Li Anlan yang memiliki napas, tetapi Li Anlan yang sudah kehilangan detak jantungnya. Ketakutannya melebihi ketakutan saat pemberontak menyerang kerajaannya.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Long Ji Man setelah beberapa saat. Pertanyaan itu membuat Tao Zhun menunduk.
"Katakan, bagaimana keadaannya?"
"Maaf, Yang Mulia. Denyut nadi Nyonya Huang sangat lemah dan hampir tidak terasa. Mungkin, mungkin tidak akan bertahan lama," ujar Tao Zhun pelan.
"Apa maksudmu? Tao Zhun, cepat cari cara untuk mempertahankan napasnya!"
"Yang Mulia, Nyonya Huang sudah terlalu lama di dalam air. Pembuluh darahnya membeku, syarafnya hampir tidak berfungsi. Ini, ini di luar kuasaku."
Long Ji Man terduduk lesu. Dia mendekati tubuh kaku Li Anlan, memegang tangannya dan memberikan kehangatan, berharap suhu tubuhnya membaik dan denyut nadinya kembali normal. Tangan itu sangat dingin seperti es. Bahkan, warna kulitnya sudah senada dengan warna kuku-kukunya.
"Tidak, Huang An, kau punya banyak akal dan kau hebat. Kau tidak mungkin menyerah secepat ini! Huang An, bangun!"
Xie Roulan menangis sejadi-jadinya. Xiao Biqi dan Tao Zhun serta Wang Tianshi menunduk dalam. Raja gagah yang mereka cintai tampak begitu rapuh seperti ranting di musim gugur.
"Me.... Menantuku!"
Di pintu masuk, Ibu Suri Han Yuemei yang baru datang juga langsung terduduk lesu. Menantu yang bahkan belum sempat ia ajak bicara, kini malah terbujur kaku di tempat tidur. Ambang kematian yang membayang membuat atmosfer di ruangan dalam Istana Xingyue begitu mencekam dan menyedihkan.
"Huang An, kau tidak boleh pergi! Aku tidak akan pernah mengizinkanmu!"
Untuk pertama kalinya, mereka melihat raja mereka meneteskan air mata.
"Periksa semua orang yang ada di istana ini! Aku ingin pembunuhnya segera ditangkap!" perintah Long Ji Man dengan marah. Dia bersumpah, dia akan menemukan pelaku yang membuat Permaisuri Bangsawannya seperti ini!
"Kunci Istana Harem! Tidak ada satu orang pun yang boleh meninggalkan istana tanpa seizinku!"
"Baik, Yang Mulia."
Air mata Long Ji Man, bukan hanya air matanya sendiri. Itu adalah air mata Ibu Suri, air mata para prajurit, dan air mata bawahan-bawahannya. Permaisuri Bangsawan yang sedang di ambang kematian, membuat langit di Kerajaan Dongling semakin gelap. Bahkan, bulan pun sudah tidak ingin lagi bersinar.
...***...