
Tabib Tao Zhun baru saja selesai melakukan pemeriksaan rutin dari istana para selir. Niatnya sekarang adalah pergi ke Balai Pengobatan Kerajaan, mengambil beberapa herba yang dapat digunakan untuk dikonsumsi sebagai suplemen multivitamin yang berguna untuk meningkatkan kesehatan tubuh para selir. Meskipun raja tidak pernah menyentuh para selir itu, mereka tetap harus menjaga kesehatan tubuh agar suatu saat, jika raja tiba-tiba datang, mereka bisa memberikan pelayanan terbaik.
Pemeriksaan rutin itu dilakukan sebulan sekali, tepat saat pertengahan bulan atau hari kelima belas. Tao Zhun akan memeriksa denyut nadi para selir satu persatu untuk memastikan apakah ada penyakit atau racun yang bersarang di tubuh berharga mereka atau tidak. Jika ada, maka Tao Zhun akan mengerahkan pasukannya untuk membantu si selir agar segera sembuh. Jika tidak ada, Tao Zhun akan memberi para selir ramuan herba yang bisa menyehatkan dan menjaga kesuburan.
Saat akan berbelok ke Balai Pengobatan Kerajaan, seorang wanita berpakaian pelayan berteriak sambil berlari kencang ke arahnya. Tao Zhun menghentikan langkahnya, lalu memicingkan mata agar ia dapat melihat lebih jelas siapakah wanita yang sedang berlari itu.
"Tabib Tao! Celaka! Celaka!"
Wanita itu adalah Xie Roulan, pelayan pribadi Selir An dari Istana Xingyue. Mengingat nama Istana Xingyue, wajah tabib itu berubah masam. Dia masih ingat betul bagaimana ia diperlakukan tidak adil oleh si pemilik istana, yang bahkan menyebutnya dukun. Sekarang, pelayan pribadinya datang kemari dengan terburu-buru, Tao Zhun tentu saja kesal.
"Ada apa?"
"Bu... Burung Yang Mulia terluka parah! Nyonyaku bilang kau harus segera mengobatinya!" seru Xie Roulan dengan napas terengah-engah. Paru-parunya hampir kering saking banyaknya udara yang harus ia keluarkan untuk sampai di sini secepat mungkin.
"Burung apa?" Tao Zhun bertanya kembali.
"Burung Yang Mulia!"
Tao Zhun termenung sejenak. Burung? Burung Yang Mulia? Burung apa yang dimiliki Yang Mulia Raja?
Namun, sekejap kemudian, Tao Zhun terbelalak. Wajahnya berubah panik.
"Gawat! Cepat bawa aku ke sana!"
Tao Zhun berlari kencang sambil membawa kotak medisnya, meninggalkan Xie Roulan yang terpaku di depan pintu gerbang Balai Pengobatan Kerajaan. Gadis pelayan itu kebingungan melihat tabib kerajaan yang biasanya tenang menjadi panik seperti orang melahirkan, bahkan lebih panik dari dirinya sendiri.
Sambil dilanda kepanikan yang luar biasa, Tao Zhun terus berlari kencang. Beberapa penjaga dan pelayan yang berpapasan dengannya menyapa, namun tidak dihiraukan karena pria muda itu sedang panik. Dia bahkan mengabaikan sapaan para pejabat istana yang baru selesai rapat di kementrian masing-masing.
Akan sangat berbahaya jika dia sampai terlambat. Masa depan Dongling dipertaruhkan.
Sebenarnya, apa yang sudah dilakukan selir itu pada rajanya? Tao Zhun berspekulasi bahwa Li Anlan sedang membalas dendam pada Yang Mulia Raja atas pengurungannya di Istana Xingyue. Ya, Tao Zhun memang memiliki sedikit andil dalam hal ini, karena ia sendiri yang melaporkan perbuatan Li Anlan padanya tempo hari.
Tapi, apakah harus sampai benar-benar mencelakai raja? Menurutnya, ada banyak cara untuk membalas dendam pada Yang Mulia Raja. Bukan dengan cara mencelakai burungnya. Tao Zhun tau keberanian yang dimiliki Li Anlan, dia tahu wanita itu mati-matian menyebrangi Long Ji Man.
Lupakan soal itu. Hal terpenting yang harus ia lakukan adalah sampai di Istana Hongwu sesegera mungkin, lalu mengobati burung Long Ji Man sebelum lukanya bertambah parah. Tao Zhun terus berlari dan berlari hingga napasnya tersengal dan keringat membanjiri baju dinasnya.
Beberapa saat kemudian, dia sampai di depan gerbang Istana Hongwu. Tao Zhun menghentikan langkah untuk mengambil napas, lalu berlari kembali ke dalam Istana Hongwu. Saat itu, keadaan sedang sepi karena hari sudah hampir sore. Tao Zhun melihat Xiao Biqi sedang berjaga di teras depan. Kasim muda itu berdiri dengan tegap, memperhatikan keadaan sekeliling.
Xiao Biqi langsung bertanya,
"Tabib Tao, mengapa kau kemari?"
"Bukankah burung Yang Mulia Raja terluka parah?"
"Burung?"
Belum sempat Xiao Biqi menjelaskan lebih jauh, Tao Zhun sudah menerobos masuk ke dalam ruangan utama Istana Hongwu. Saat dia masuk, Long Ji Man tampak sedang fokus membaca dokumen kerajaan di meja kerjanya.
"Yang Mulia, aku datang untuk menyelamatkanmu!"
Long Ji Man, mendengar tabib kerajaannya datang, langsung mengernyitkan dahi. Dia heran mengapa Tao Zhun datang padahal dia tidak memanggilnya sama sekali. Apalagi, Tao Zhun datang dengan kepanikan luar biasa tercetak di wajahnya yang sedikit tampan.
"Bukankah Selir An melukai burungmu? Biarkan aku mengobatinya, Yang Mulia."
"Benar. Tapi, burungku sudah mati."
"Sudah mati? Dengan senjata apa Selir An melukainya?"
"Anak panah."
Tao Zhun langsung terduduk lesu. Dia terlambat. Burung Yang Mulia Raja sudah mati. Semuanya sudah berakhir. Dunia ini akan tamat. Tao Zhun mengutuk dirinya sendiri yang tidak bisa datang lebih cepat.
"Maafkan hambamu ini yang tidak mampu menyelamatkan masa depan Yang Mulia," sesal Tao Zhun sambil bersujud.
"Apa kau sudah gila?"
"Aku pantas gila karena aku tidak bisa menyelamatkan burung Yang Mulia yang sangat berharga."
Long Ji Man semakin kebingungan. Perkataan Tao Zhun sangat aneh dan tidak masuk akal.
"Hanya seekor elang, mengapa kau sampai seperti ini?"
Tao Zhun langsung terdiam. Tabib muda itu membutuhkan waktu beberapa detik untuk mencerna pertanyaan Long Ji Man.
"Juga, apa masa depan yang kau maksud?"
Long Ji Man menatap lurus ke arah Tao Zhun. Namun, sejenak kemudian, dia tiba-tiba terbelalak,
"Tao Zhun! Apa isi kepalamu itu? Apa kau pikir aku sudah..."
Long Ji Man melirik sebentar ke bagian bawah tubuhnya yang tertutup jubah. Tao Zhun, si tabib malang semakin dalam dan larut dalam sujudnya. Sungguh, dia sudah salah paham dengan kata 'burung' yang dilontarkan oleh pelayan Li Anlan. Tao Zhun semakin merasa bersalah karena ia bodoh dan tidak bertanya terlebih dahulu perihal maksud dan kebenarannya.
"Ampuni aku, Yang Mulia."
Long Ji Man melemparkan dokumen yang sedang dibacanya ke depan. Dokumen itu jatuh tepat di dekat kepala Tao Zhun.
Tiba-tiba, terdengar suara tawa terbahak-bahak dari arah luar, hingga perhatian Long Ji Man dan Tao Zhun teralihkan ke asal suara. Kepala Li Anlan dan Xiao Biqi menyembul dari balik pintu yang terbuka. Li Anlan tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. Pertunjukan di sini sangat bagus!
"Yang Mulia, burungmu kan sudah mati!"
"Anlan, apa ini ulahmu?"
"Tidak. Si dukun Tao Zhun saja yang bodoh. Yang Mulia, aku sudah menunaikan tanggung jawabku karena mencelakai elang kesayanganmu. Aku akan kembali ke Istana Xingyue. Terima kasih atas pertunjukan menariknya!"
Li Anlan langsung kabur. Sepanjang perjalanan menuju Istana Xingyue, dia tidak bisa berhenti tertawa. Tao Zhun sungguh sangat bodoh. Bisa-bisanya dia menyalahpahami arti dari 'burung Yang Mulia'. Pemikiran tabib itu sungguh dangkal sekali.
Sementara itu, akibat perbuatannya, Long Ji Man memberi hukuman kepada Tao Zhun. Tabib malang itu dihukum dengan kurungan selama dua hari di Balai Pengobatan Kerajaan untuk mengintrospeksi diri. Gajinya juga dipotong selama setengah tahun. Tugasnya sementara akan diwakilkan kepada tabib lain yang sama kompetennya.
Dia beruntung karena raja tidak memberinya hukuman yang lebih berat. Jika diperhitungkan berdasarkan Hukum Istana Kerajaan Dongling, kecerobohan Tao Zhun hari ini akan dianggap sebagai penghinaan terhadap raja dan keluarga kerajaan. Dia bisa selamat karena ini hanya sebuah kesalahpahaman saja.
...***...