The Little Consort

The Little Consort
Eps. 56: Tertinggal


Hari sudah beranjak sore saat Li Anlan selesai menemani Li Afan. Li bersaudara yang yatim piatu itu berpisah di depan Paviliun Lanxin dengan wajah bahagia. Hari ini, Li Anlan tidak hanya mengobati rasa sakit hati ditinggal kekasih sang kakak saja, tetapi juga mengisi harinya yang jarang keluar istana dengan sesuatu yang menyenangkan.


"Anlan, tangkap!"


Li Afan melemparkan sebuah kantong bersulam bunga kepada adiknya. Kantong itu berisi uang sebesar tiga ratus tael perak yang dikumpulkan Li Afan selama beberapa bulan ini. Li Anlan menangkap kantong itu dengan sigap, sekaligus bahagia karena pundi-pundi uangnya bertambah lagi.


"Itu adalah laba bersih dari gedung milikmu selama tiga bulan, yang kuhitung sesuai dengan arahanmu."


"Amazing! Aku benar-benar jadi seorang pengusaha muda! Kakak, terima kasih. Sampai jumpa!"


"Hati-hati!"


Li Afan mengantar kepergian adiknya dengan tatapan bahagia. Pria cantik yang baru kehilangan kekasih itu terus menatap ke depan hingga tubuh adiknya hilang di balik kerumunan orang. Setelah memastikan sang adik sudah pergi, Li Afan langsung masuk ke Paviliun Lanxin, melanjutkan kerjanya yang sempat tertunda karena acara pernikahan di keluarga Yao.


Di jalan, Li Anlan terus melangkahkan kaki sambil bersenandung. Sesekali dia berhenti di kedai penjual roti atau jepit rambut, melihat lalu memotretnya sebentar. Kali ini, dia berencana kembali ke kediaman keluarga Penasihat Negara untuk pulang ke istana bersama para pengawal kerajaan. Li Anlan tidak mau repot berjalan kaki lagi.


Tetapi, betapa terkejutnya dia saat mendapati kereta kerajaan sudah tidak ada di depan kediaman Yao. Di sana juga sudah sepi, tidak ada keriuhan atau keributan dari suara iring-iringan musik pengiring pengantin dan suara cengkrama orang-orang. Sepertinya, pesta pernikahan di sini sudah berakhir dan semua orang sudah kembali ke kediaman mereka masing-masing.


Li Anlan melihat seorang penjaga keluar dari kediaman itu sambil membawa sekotak hadiah pernikahan. Tanpa membuang waktu lagi, dia langsung bertanya padanya,


"Kakak penjaga, di mana semua orang?"


"Maaf, Nona. Pesta sudah berakhir siang tadi," pelayan itu menjawab sambil menunduk.


"Apa kau melihat dua kereta kerajaan yang tadi ada di sini?"


Penjaga itu menggeleng. Merasa tidak ada yang harus dibicarakan lagi, si penjaga itu pergi.


"Sial! Aku tertinggal. Apa mereka melupakanku? Jelas-jelas majikan mereka belum kembali, tapi sudah berani pergi?"


Li Anlan menggerutu sambil berjalan meninggalkan kediaman Penasihat Negara. Sang Permaisuri Bangsawan melangkah menyusuri jalan yang memanjang sambil menatap orang-orang. Li Anlan berkali-kali mengutuk dirinya yang bodoh.


Lagi-lagi, dia tidak bisa menghafal jalan. Jalan-jalan di sini terlalu banyak dan bercabang, hingga Li Anlan tidak tahu jalan mana yang harus ia ambil. Sepanjang perjalanan berangkat pagi tadi juga tidak bisa dilihat Li Anlan karena wanita itu berada dalam kereta yang tertutup tirai pintu dan jendelanya.


Li Anlan terus berputar-putar menyusuri jalan mana saja yang sekiranya dia yakini benar. Dia berbelok ke kanan, lalu ke kiri, lurus, ke kanan lagi, ke kiri lagi, begitu seterusnya hingga berulang kali.


Sementara itu, di Istana Hongwu, Long Ji Man marah atas laporan Xiao Biqi mengenai perlakuan keluarga Penasihat Negara pada Permaisuri Bangsawan. Dia juga marah karena Si Tetua Yao yang sudah tua malah mempersulit kasimnya. Long Ji Man ingin memberikan hukuman berat, tetapi Xiao Biqi berkata bahwa Li Anlan menyarankan hukuman potong gaji saja.


"Karena Permaisuri Bangsawan yang menyarankannya, kalau begitu turuti saja!"


"Baik, Yang Mulia."


"Di mana wanita itu sekarang?"


"Menjawab, Yang Mulia. Nyonya Huang meminta izin berkeliling sebentar. Hamba sudah memerintahkan para pengawalnya untuk menunggu di kediaman Penasihat Negara."


"Benarkah? Lalu mengapa kereta kudanya ada di depan istana?"


Xiao Biqi langsung terkejut. Jika kereta kudanya ada di depan istana, itu berarti para pengawal sudah kembali. Kasim muda itu langsung berlari ke luar, menuju para pengawal yang sedang bersitirahat tidak jauh dari sana. Long Ji Man juga ikut ke luar untuk memastikan keadaan.


Melihat Kasim Bi dan rajanya, para pengawal yang semula bersantai langsung mengubah posisi menjadi bersujud. Mereka melihat kilatan amarah di wajah dingin sang raja, yang dapat membekukan sekaligus membakar tubuh di waktu yang bersamaan.


"Di mana Nyonya Huang An?" tanya Xiao Biqi.


"Bukankah... Bukankah Nyonya pulang bersama Anda?" salah seorang dari pengawal itu balik bertanya dengan ragu-ragu.


Xiao Biqi memukul kepala para pengawal itu denyan tongkat kasimnya. Bisa-bisanya mereka meninggalkan atasan mereka sesuka hati. Bagaimana jika Li Anlan mencari mereka ke kediaman Penasihat Negara?


Tiba-tiba, Xie Roulan datang dari arah gerbang depan. Napas pelayan pribadi Li Anlan tersebut terengah-engah dan putus-putus, akibat berlari kencang dari Istana Xingyue menuju Istana Hongwu. Hari sudah mulai gelap, dan di langit awan hitam sudah menggulung. Aneh, ini masih penghujung musim semi, tetapi hujan datang lebih awal.


"Yang Mulia, mengapa Nyonyaku belum kembali?"


"Dia benar-benar belum kembali?"


"Dia belum kembali! Yang Mulia, hamba mohon, temukan Nyonya! Dia tidak bisa menghafal jalan dengan baik, hamba takut dia tersesat," pinta Xie Roulan sambil menunduk. Tidak terasa, air mata pelayan itu jatuh, khawatir kepada majikannya yang tak kunjung kembali setelah gelap.


Panik, sudah pasti. Long Ji Man ingin sekali menghukum para pengawal sialan ini, tetapi mencari Li Anlan adalah sesuatu yang harus segera dilakukan. Wanita itu harus segera ditemukan sebelum hari bertambah gelap. Dengan wajah dinginnya, dia memerintahkan para pengawal itu untuk keluar istana mencari sang Permaisuri Bangsawan dan melarang mereka kembali sebelum menemukannya. Long Ji Man juga menyuruh pengawal lain untuk membantu.


"Biqi, jangan ribut!"


"Yang Mulia, Yang Mulia mau ke mana?"


"Mencari Permaisuri Bangsawan."


"Yang Mulia tidak perlu turun tangan. Sangat berbahaya jika berada di luar malam-malam begini!"


"Lalu kau akan membiarkan seorang wanita lemah sepertinya terlunta-lunta di jalanan?"


Xiao Biqi tak lagi berani menjawab. Lebih baik dia menuruti perkataan rajanya yang tetap bersikeras turun tangan mencari Li Anlan. Xiao Biqi lebih baik tetap tinggal di istana untuk berjaga-jaga, kalau-kalau ada anggota keluarga kerajaan yang lain datang ingin bertemu raja. Sebisa mungkin dia akan mengulur waktu sampai Long Ji Man kembali.


Rombongan Long Ji Man memacu kuda sekencang mungkin. Mereka melewati gerbang istana, lalu melaju membelah malam menyusuri jalan ibukota yang cukup ramai. Di tengah jalan, Long Ji Man memerintahkan para pengawalnya untuk berpencar, mencari ke setiap sudut kota dan gang-gang sempit. Sebagian yang lain memeriksa di setiap gedung yang masih buka. Para pengawal yang berangkat lebih awal diperintahkan untuk mencari ke kediaman Penasihat Negara. Dia sendiri mencari ke arah utara, ke arah hutan kota.


Rintik-rintik air dari langit mulai turun. Semakin lama, semakin deras. Awan hitam itu sudah tidak bisa menanggung beban yang dikandungnya, sehingga memilih menjatuhkannya di atas tanah Kerajaan Dongling yang sedang musim semi.


Seluruh pakaian Long Ji Man basah kuyup. Dia memacu kembali kudanya sambil berteriak memanggil Li Anlan. Jarak pandangnya tidak bisa cukup jauh karena terhalang derasnya air hujan dan kabut. Long Ji Man mempunyai firasat buruk. Hatinya tidak bisa tenang sebelum ia melihat Li Anlan.


Panik, khawatir, takut, semuanya bercampur menjadi satu. Entah sejak kapan Raja Muda itu memiliki pemikiran dan perasaan seperti ini. Dia sudah terbiasa dengan keributan yang diciptakan Li Anlan setiap kali berada di sisinya. Long Ji Man sudah terlalu terbiasa beradu mulut, berdebat, dan berebut benda dengan wanita itu. Mengetahui bahwa dia belum kembali sejal tadi, hati Long Ji Man menjadi kosong seperti tak berisi. Sel-sel syarafnya bekerja dua kali lipat hingga menciptakan suasana yang tidak begitu baik di dalam tubuhnya.


Mata setajam elang Long Ji Man melihat sesosok tubuh wanita yang tidak asing sedang berjalan di tengah hujan di depan sana. Wanita itu menggendong sebuah ransel. Seluruh tubuhnya basah kuyup, pakaiannya yang panjang terseret di tanah, menyapu air hujan dan segala sesuatu yang ada di permukaan jalan.


"Aku menemukannya."


"Anlan!"


Li Anlan yang sedang berjalan di tengah hujan seketika menoleh saat seseorang memanggil namanya. Raut wajahnya yang ketakutan berubah bahagia saat ia mengetahui siapa orang yang telah memanggilnya. Semua kebingungannya terasa sirna seketika.


"Yang Mulia! Sedang apa kau di sini?"


"Seharusnya aku yang bertanya. Sedang apa kau malam-malam begini, di tengah hujan seperti ini?"


"Kalau bukan karena para pengwalmu meninggalkanku, aku tidak akan sampai di sini!"


"Aku tahu."


"Yang Mulia datang mencariku?"


"Pelayanmu sangat khawatir dan memohon padaku untuk mencarikan majikannya yang tidak kunjung pulang."


"Terus saja berdalih. Matamu sudah menjelaskan kebenaranya."


"Kau akan terus berbicara denganku di bawah hujan seperti ini?"


"Lalu bagaimana cara kita kembali?"


"Dengan..."


Long Ji Man terpaku seketika. Kuda yang tadi dia tumpangi sudah tidak ada di belakangnya. Kuda itu kabur karena Long Ji Man tidak memegang tali kendalinya dengan benar. Li Anlan mau tak mau akhirnya tertawa atas kecerobohan suaminya sendiri. Saat Long Ji Man menatapnya, pria itu terpaku sesaat.


"Ki-kita berjalan saja!"


"Baik. Yang Mulia, kau jadi pemandunya!"


Tetapi, baru saja dua langkah, Li Anlan tersandung bajunya sendiri hingga wanita itu terjatuh. Hanfu yang basah ternyata lebih menyulitkan ketimbang hanfu kering nan panjang. Long Ji Man refleks membantunya berdiri. Tetapi, Li Anlan baru menyadari kalau kakinya sudah sakit karena terlalu lama berjalan di bawah guyuran air hujan.


"Aku tidak bisa berjalan lagi."


"Mengapa?"


"Kakiku sepertinya bermasalah. Yang Mulia, bagaimana jika kita menunggu para pengawalmu kembali? Atau, kau nyalakan saja kembang api agar mereka menemukan kita? Di drama yang sering kutonton, para aktor sering melakukannya."


"Apa yang kau bicarakan? Kau ingin menyalakan kembang api di tengah hujan seperti ini? Orang mungkin akan bertanya orang gila mana yang bertindak tidak masuk akal seperti itu."


Long Ji Man tiba-tiba berjongkok di hadapan Li Anlan. Pria itu menepuk punggungnya dengan tangan.


"Naiklah."


"Yang Mulia yakin?"


"Naik!"


Karena situasi yang sangat mendesak dan tidak memungkinkan lagi, tidak ada cara lain selain menuruti keinginan Long Ji Man. Dengan sedikit ragu Li Anlan naik ke punggung Long Ji Man. Setelah itu, dia merasa tubuhnya yang kecil terangkat ke udara dan kedua kakinya menggantung. Long Ji Man menggendong Li Anlan seperti seorang kakak menggendong adik perempuannya.


Bodoh. Li Anlan bodoh. Jika mereka menunggu, saat para pengawal itu menemukan keduanya, mereka akan melihat Li Anlan yang basah kuyup. Pemandangan seperti itu tentu saja sangat tidak pantas. Tubuh Permaisuri Bangsawan bukan barang publik, mana boleh dilihat orang sembarangan.


"Lain kali, kau yang basah seperti ini tidak akan aku maafkan."


"Mengapa?"


"Kau seorang wanita, mana boleh sembarangan memamerkan bentuk tubuhmu!"


"Ini karena hujan. Kalau kering, juga tidak akan terlihat."


"Hanya aku yang boleh melihatmu dalam keadaan seperti ini!"


Tidak ingin berdebat lebih lanjut, Li Anlan menyetujui tanpa mengerti maksud sebenarnya dari kalimat yang terakhir dilontarkan Long Ji Man. Dia terlalu lelah karena berjalan. Seluruh tenaganya terasa habis tak bersisa. Li Anlan sendiri bingung mengapa dirinya bisa kalah dengan hujan. Padahal, di dunia modern, dia sudah sering mendaki gunung dalam keadaan basah kuyup.


"Yang Mulia seharusnya tidak turun tangan. Biarkan para pengawalmu yang mencariku."


"Mereka sangat lambat. Kau ingin mereka melihatmu sudah tidak sadarkan diri saat mereka menemukanmu?"


"Yang Mulia khawatir padaku?"


"Tugasmu masih banyak. Kalau kau tidak ada, pekerjaanku akan bertambah banyak."


"Cih.. Alasan yang sangat bijak."


Teruslah berdalih, Ji Man. Aku tahu hatimu mengatakan sebaliknya, ucap Li Anlan dalam hati.


"Kau harus mengurangi berat badanmu, Anlan."


"Apa? Aku sudah seperti lidi, tapi kau bilang aku gendut?"


"Aku tidak mengatakannya. Aku hanya bilang kau harus mengurangi berat badanmu."


"Keduanya bermakna sama, Ji Man. Kau melakukan body shaming terhadapku!"


Sepasang suami istri itu memilih untuk berbincang sepanjang perjalanan. Ini pertama kalinya mereka berbicara santai tanpa dihalangi formalitas aturan kerajaan. Di tengah hujan yang deras ini, tidak ada yang menyadari kalau Raja dan Permaisuri Bangsawan mereka tengah berjalan kaki di jalanan, menikmati perjalanan pulang yang melelahkan tetapi sedikit membahagiakan.


...***...


...Ehm.. ada yang mulai manis, nih😆 Sekarang Ji Man punya hobi baru, yakni marah-marah dan potong gaji pejabat. Besok-besok potong gaji selir kayaknya, biar pengeluaran nggak bengkak. Stay tune terus, sampai jumpa di episode berikutnya!...