The Little Consort

The Little Consort
Eps. 70: Mengembalikan Teror


Permasalahan mengenai terbakarnya ruang penyimpanan soal sudah teratasi. Kini, hanya tinggal menunggu hari dilaksanakannya ujian dan semua tugas Li Anlan akan selesai. Ia sudah cukup bosan dengan pekerjaannya. Menjadi Permaisuri Bangsawan ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Gajinya memang besar, tetapi tenaga dan pikiran yang dikorbankan juga harus sepadan dengan bayarannya. Pantas saja orang bilang kalau posisi ini sangat istimewa, karena memang tidak semua wanita sanggup melakukan tugasnya.


Pagi ini, saat Li Anlan selesai membersihkan diri, dia mendapati Xie Roulan berlari ke arahnya sambil berteriak panik. Seolah sedang dikejar hantu, gadis pelayan itu bersembunyi di balik tubuh majikannya sambil terengah-engah. Wajahnya pucat seperti kehabisan darah.


“Mengapa kau begitu panik?”


Pelayan itu sempat tersengal-sengal, lalu menarik napas dan mengaturnya.


“Nyonya. Istana kita sepertinya sedang diteror!”


“Teror?”


“Aku menemukan kotak berisi bangkai tikus di pintu depan Istana Xingyue. Nyonya, ini benar-benar mengerikan!”


“Oh? Benarkah?”


Li Anlan menyeringai. Ada yang sedang ingin bermain-main dengan dirinya rupanya. Trik kecil seperti mengirimkan bangkai tikus ke depan pintu adalah trik paling murahan yang sudah umum di pasaran. Terror macam itu mana bisa menipu seorang Li Anlan yang sudah mengalami berbagai situasi hidup dan mati baik di dunia modern maupun dunia kuno. Itu saja tidak cukup untuk membuatnya terkejut atau takut.


Apa yang disebut bangkai tikus oleh pelayannya memang benar bangkai seekor tikus yang cukup besar. Tikus malang itu sepertinya mati tadi malam saat sedang mencari makan di dapur kerajaan, lalu kebetulan tertangkap dan dibunuh untuk dijadikan objek menakut-nakuti orang. Sungguh tikus yang malang. Nasibnya tidak mujur, bukan mendapat untung tetapi hidupnya malah buntung.


Li Anlan memanggil keempat penjaga gerbang Istana Xingyue untuk diintrogasi. Dia bertanya siapakah yang datang saat malam hari ke istananya. Para penjaga itu menggeleng, menjawab tidak tahu. Tidak ada siapapun yang datang ke Istana Xingyue saat malam hari. Jika benar begitu, maka hanya ada satu kemungkinan. Si peneror pasti datang melewati pagar atau tembok hingga para penjaga tidak mengetahuinya.


“Tapi, saat aku kembali dari kamar mandi, aku melihat bayangan empat orang wanita menghilang di balik jembatan Danau Houchi yang gelap, Nyonya,” ungkap salah satu penjaga.


“Wanita? Empat orang?”


“Ya, Nyonya.”


Li Anlan tersenyum licik. Menemukan keempat wanita itu sangat mudah. Dengan otoritasnya sebagai Permaisuri Bangsawan, dia bisa meminta informasi pada beberapa pelayan yang ada di sekitar istana ini. Hanya dalam waktu kurang dari delapan jam, wanita itu sudah mengantongi identitas keempat wanita yang berani menaruh bangkai tikus di istana kesayangannya.


Keempat wanita itu mungkin belum tahu seperti apa Li Anlan. Mereka pasti para katak dalam tempurung yang tidak pernah mendengar kabar perihal sosok seperti apa Permaisuri Bangsawan milik raja. Orang yang pantang menyerah dan tidak pernah gagal membalas dendam, mereka semua pasti belum pernah mengetahuinya. Keempat wanita itu sungguh sudah melakukan sebuah kesalahan yang besar.


Raja saja kalah, apalagi mereka yang hanya bernaung di bawah ketiak Ibu Suri Han Yuemei dan sehari-hari hidup manja?


Dia sudah punya rencana untuk membalas keempat orang wanita itu. Hutang mata dibayar mata, hutang terror maka dibayar terror. Dia akan melakukan pembalikan pada keempat pelaku yang sudah berani mengusik hidupnya di dunia ini. Sudah dikatakan sejak dulu bahwa Li Anlan tidak suka ditindas dan dirundung.


“Roulan, kembalikan tikus kecil ini pada pemiliknya.”


“Nyonya, kau yakin?”


“Tikus ini bukan milikku. Setiap darah dan bulunya adalah milik keempat wanita itu. Jadi, untuk apa kita menyimpan barang milik orang lain?”


Xie Roulan yang patuh mengangguk mengerti. Atas perintah dan petunjuk dari Li Anlan, gadis pelayan tersebut berhasil mengembalikan kotak berisi bangkai tikus kepada si pemilik secara diam-diam tanpa ketahuan. Kotak itu diletakkan persis di depan pintu istana mereka yang megah dan indah. Melihat pelayannya kembali dengan cepat, Li Anlan bertepuk tangan. Dia memuji ketangkasan dan kepekaan pelayannya yang setia dari muda. Hanya Xie Roulan yang bisa diandalkan dalam situasi seperti ini.


Li Anlan kemudian menuliskan sebuah surat berisi perintah sekaligus permintaan pada Li Afan, agar kakaknya itu datang ke Istana Xingyue hari ini juga. Kurir pengantar suratnya tentu saja Xie Roulan, karena gadis pelayan itu hendak keluar istana untuk membeli beberapa kebutuhan Li Anlan yang sudah mulai habis stoknya.


“Antarkan ini pada kakakku. Kita beraksi malam ini!”


“Baik, Nyonya.”


Sepeninggal Xie Roulan, Li Anlan merebahkan tubuhnya pada matras yang dia gelarkan di halaman Istana Xingyue. Matahari di awal musim gugur masih begitu indah dan hangat. Suhu udara memang mulai menurun, tetapi tidak terlalu ekstrem seperi yang terjadi di masa modern.


Dua jam kemudian, Li Afan melompat dari benteng luar Istana Xingyue ke halaman. Dia melihat adiknya sedang berbaring santai memakai benda aneh berwarna hitam di matanya. Saat dia menerima surat, Li Afan langsung menutup Paviliun Lanxin dan bergegas ke sini. Tidak disangka, adik kesayangannya ini malah sedang bermalas-malasan menikmati hari.


“Ehem.”


Li Anlan melepaskan kacamata hitamnya saat mendengar suara deheman. Wanita itu bangkit untuk melihat siapakah orang yang mengganggu waktu santainya. Saat tahu kalau dia adalah Li Afan, Li Anlan langsung berlari memeluk pria itu seperti boneka. Benar-benar adik yang manja!


“Mengapa kau memanggilku ke sini?” tanya Li Afan. Keduanya sudah duduk di atas matras Li Anlan sambil menikmati camilan asin hasil kreasi Li Anlan dan Xie Roulan.


“Aku butuh bantuanmu.”


“Apa ada yang mengganggumu?”


“Banyak. Aku ingin mengembalikannya pada mereka.”


Li Anlan kemudian membisikkan sesuatu ke telinga kakaknya. Li Afan seketika tertawa, kemudian berubah serius saat adiknya mengatakan semua rencananya secara detail dan terperinci. Rencana adiknya ini cukup bagus dan sepertinya cukup menyenangkan jika dilakukan. Lumayan, hiburan di akhir musim semi sebelum masuk musim gugur.


Sekitar pukul sembilan malam, Li Anlan, Li Afan, dan Xie Roulan keluar dari Istana Xigyue lewat benteng yang memagarinya. Penampilan mereka sungguh aneh. Li Afan mengenakan sebuah hanfu panjang berwarna putih. Rambutnya yang panjang dan lembut diurai hingga sepunggung, sebagian rambut depannya menutupi wajah dan mata. Tetapi, yang menjadi pusat perhatian dari penampilan Li Afan kali ini adalah riasan mengerikan yang ada di wajah cantiknya.


Li Anlan sengaja merias kakaknya sedemikian rupa agar cocok dengan karakter yang dia inginkan. Dia sendiri juga mengenakan hanfu putih panjang, namun di bagian lengan, perut, dada, punggung, dan kakinya ia beri bubuk cinnabar merah cair, hingga menyerupai warna darah. Riasannya juga sedikit menyeramkan. Pemerah bibir yang biasa dipakai dilebarkan penggunaannya hingga beberapa sentimeter ke pipi, membentuk sebuah bibir yang lebar. Hidungnya merah seperti tomat. Sekilas, Li Anlan mirip seperti seorang joker.


Rambutnya juga diacak-acak hingga tak berbentuk. Wanita itu juga merias pelayannya dengan riasan ala vampire dalam dongeng-dongeng Barat. Malam ini, ketiga orang itu akan beraksi untuk mengembalikan hutang sekaligus memberi pengajaran karena sudah meremehkan seorang Permaisuri Bangsawan yang hebatnya tidak tertandingi. Biarkan Li Anlan menunjukkan seperti apa dirinya yang sesungguhnya.


Ketiganya sampai di komplek Istana Harem. Kebetulan sekali tidak ada pelayan yang berlalu lalang, hingga mereka bisa melancarkan aksinya. Li Anlan kemudian naik ke koridor sebuah istana kecil yang ada di pinggir taman bunga. Setelah memastikan semuanya aman, dia melubangi jendela kertasnya dengan jari, lalu memasukkan sepotong bambu kecil. Cahaya di dalamnya sedang redup, kemungkinan penghuninya sedang bersiap untuk tidur.


Li Anlan mulai bersuara. Lewat bambu bulat itu, suaranya berubah menjadi nyaring tetapi sedikit menyeramkan, persis seperti suara raungan seorang wanita yang sedang menahan sakit. Si penghuni istana sepertinya mendengar suara tersebut, karena tak lama kemudian dia berteriak memanggil pelayannya. Sayang, pelayannya itu sudah dibereskan oleh Li Anlan terlebih dahulu, hingga berpuluh kalipun dipanggil, dia tetap tidak akan muncul. Si penghuni istana mulai ketakutan. Li Anlan justru semakin bersemangat. Semakin lama, suara menyeramkan itu semakin nyaring.


Di tiga istana lain, Li Afan dan Xie Roulan silih berganti menjalankan aksi mereka. Keduanya beraksi sesuai dengan arahan Li Anlan. Tiga wanita pemilik istana juga menampilkan reaksi yang sama. Mereka sama-sama ketakutan tetapi tidak ada seorang pun yang datang memenuhi panggilan. Mereka sudah terkejut karena tadi siang tiba-tiba mendapat kotak berisi bangkai tikus yang mereka kirim kembali kepada mereka. Kini, saat malam, justru muncul suara-suara aneh yang menyeramkan. Atmosfer komplek Istana Harem yang biasanya tenang menjadi mencekam bagi keempat orang wanita itu.


Tidak lama kemudian, keempat wanita itu keluar dari istananya masing-masing dan berkumpul di tengah halaman istana mereka. Keempatnya saling pandang dan saling melempar tatapan, kemudian bersiaga dan menajamkan mata dan telinga.


“Kau dengar itu? Itu suara yang menyeramkan,” ucap salah satu wanita.


“Aku juga mendengarnya.”


“Istanaku menjadi menyeramkan setelah suara itu datang.”


“Apa kita telah melakukan kesalahan?”


“Tidak, istana ini mungkin memang berhantu.”


Alam sepertinya sedang berada di pihak korban. Angin tiba-tiba berhembus dan lampu-lampu penerang semuanya padam. Dalam sekejap, komplek istana keempat wanita itu menjadi gelap gulita. Keempatnya menjerit, kegelapan sudah menyelimuti. Mereka hanya bisa memegang tangan satu sama lain untuk menghilangkan ketakutan. Tetapi, semakin berusaha tidak takut, mereka malah menjadi semakin takut.


Tanpa disadari, Li Anlan yang menyeramkan sudah berdiri di belakang mereka. Dia menyalakan senter ponselnya, lalu meletakannya di bawah dagunya hingga cahayanya mengarah ke atas, ke wajahnya yang sudah dirias. Dia menepuk salah seorang diantara mereka. Lalu saat mereka berbalik untuk melihat, Li Anlan melebarkan senyumnya yang menyeramkan sambil disorot oleh cahaya senter ponsel.


“Aaaaaaaaa…..”


“Haa…Hantu….”


“To…tolong!”


Keempat wanita itu melangkah ke utara, tetapi di sana sudah ada Li Afan. Mereka melangkah lagi ke timur, Xie Roulan menghadang mereka dengan gigi taring buatan Li Anlan. Keempatnya melangkah ke selatan, tetapi dengan tangkas Li Anlan berpindah tempat hingga mereka terhadang dan teriakan mereka semakin kencang.


Mereka kemudian lari ke arah gerbang keluar Istana Harem. Li Anlan memberikan kode pada kakak dan pelayannya. Ketiganya ikut berlari mengejar keempat wanita yang sedang ketakutan. Sepanjang jalan, mereka terus berteriak dan menangis.


Li Anlan sengaja mengarahkan mereka menuju Istana Hongwu. Rencananya adalah membuat keempat orang ini mengaku secara pribadi di hadapan raja, barulah dia akan merasa puas. Saat keempat wanita kurang ajar sampai di Istana Hongwu, mereka menghentikan langkahnya. Antara takut dan ragu menjadi satu. Tetapi, hantu-hantu di belakang mereka tidak memberi kesempatan untuk berpikir banyak. Keempat wanita tersebut masuk ke dalam Istana Hongwu dengan tergesa.


Long Ji Man yang baru selesai membaca laporan terpekik kaget saat empat orang wanita tersungkur ke dalam ruang kerjanya. Wanita tidak beradab mana yang berani menerobos masuk ke dalam istana raja malam-malam begini. Saat keempat wanita itu melihat Long Ji Man, kepalanya langsung tertunduk dan posisi tubuh mereka berubah menjadi sujud.


“Lancang! Berani kalian menerobos istana Yang Mulia?” teriak Xiao Biqi.


“A..Ampun Yang Mulia. Mohon Yang Mulia menolong kami,” ucap salah seorang dari mereka dengan takut.


“Masih berani meminta tolong?”


“Sebentar, Biqi. Apa yang membuat kalian ketakutan seperti ini?”


“Yang Mulia, ada hantu di istana kami! Mohon Yang Mulia membantu kami!"


“Hantu?”


“Be-benar. Hantu, tiga hantu. Yang Mulia, tolonglah kami!”


“Kami janji kami akan berperilaku baik mulai sekarang.”


Long Ji Man masih tidak mengerti. Mana ada hantu di dunia ini? Long Ji Man hanya percaya kalau hantu itu adanya di dalam hati manusia, yang suka menghantui dan membawa pengaruh buruk dalam bentuk kebencian, kejahatan, keserakahan, dan hal-hal jahat lainnya.


“Apa hantu yang kalian maksud adalah aku?”