The Little Consort

The Little Consort
Eps. 32: BBQ


Orang-orang paling menyukai hari libur. Setidaknya, dalam tujuh hari, mereka akan menghabiskan dua hingga tiga hari di akhir pekan untuk bersantai dan menenangkan diri, atau memanfaatkan quality time bersama keluarga, sahabat, atau teman.


Hari libur bagi Li Anlan di dunia modern adalah hampir setiap hari, karena dia selalu absen saat kuliah dengan berbagai alasan yang memang masuk akal. Padahal, dia menggunakan waktunya itu untuk bersenang-senang, menjalankan hobi, dan melakukan perjalanan untuk menambah pengetahuan dan wawasan tentang dunia di sekitarnya.


Bagi orang bebas yang terjebak di istana seperti Li Anlan, hari libur adalah hari kemerdekaan. Satu hari libur yang didapatnya adalah hari bahagianya, karena dia bisa terbebas sesaat dari penderitaannya dalam menjalani hukuman sebagai pelayan Long Ji Man. Setidaknya, untuk sehari saja, sudah terasa sangat berharga.


Hari ini, dia mendapatkan hari kemerdekaannya. Long Ji Man memberinya jadwal menjadi pelayan di Istana Hongwu selama enam hari kerja, dan hanya diberi libur satu hari. Li Anlan sudah protes, mempertanyakan mengapa ia hanya diberi waktu satu hari untuk beristirahat. Tapi, Long Ji Man malah mengalihkan pembicaraan ke topik yang lain.


Meskipun tugasnya hanya membantu membereskan pakaian dan jubah resmi kerajaan, membersihkan dan membereskan ruang kerja, serta menyusun arsip-arsip laporan para pejabat, Li Anlan tetap bisa merasakan lelah, terutama jika ruang kerja Long Ji Man acak-acakan dan arsip-arsip laporan berantakan. Saat fisiknya yang kuat sedikit melemah, dia sering kelelahan hingga tertidur di meja kerja Long Ji Man.


Hasil kerja Li Anlan tidak terlalu buruk. Dia sudah terbiasa hidup mandiri, hingga segala urusan dalam rumahnya, termasuk membersihkan dan membereskan barang-barang sudah menjadi hal yang lumrah dilakukan oleh dirinya. Jadi, saat wanita itu diberi tugas layaknya ibu rumah tangga yang membereskan ruang kerja suami, dia melakukannya dengan cukup baik. Long Ji Man juga tidak mencela hasil kerjanya.


Pekarangan Istana Xingyue yang diselimuti rumput hijau di musim semi, disulap oleh Li Anlan menjadi sebuah tempat piknik kecil-kecilan. Dia berencana untuk rekreasi sederhana, karena dia tidak bisa keluar istana untuk bersenang-senang. Wanita itu meminta Xie Roulan membantu menyiapkan segala keperluannya.


Li Anlan menggelarkan karpet persegi bermotif pemandangan hutan. Di tengahnya diletakkan sebuah kotak makan dari kayu yang besar. Isinya adalah mantou, wonton isi daging, keripik kentang renyah, sup jamur tiram, mie zangjiangmian kering, dan sup akar teratai. Di sebelah kotak makan besar itu terdapat sekeranjang buah-buahan segar, yang terdiri dari dua buah apel, dua buah pir, empat buah persik, seuntai anggur hijau, lima buah jeruk, satu buah melon, dan satu sepotong semangka. Agar acara rekreasi sederhananya terasa lebih manis, Li Anlan membuat beberapa gelas minuman jeruk peras di samping air putih dan teh. Tidak ada minuman anggur (arak), karena Li Anlan tidak menyukainya.


Wanita itu juga meminta Xie Roulan membuat sebuah tungku pembakaran dari batu bata merah lengkap dengan kayu bakar dan arang serta batu pemantik api. Dia juga menyuruh pelayannya untuk meminta satu kilogram daging sapi mentah yang sudah dibumbui dan dipotong-potong kecil. Saat Xie Roulan tiba dari dapur istana membawa permintaan Li Anlan, dia langsung bertanya pada majikannya,


“Nyonya, daging sapi sebanyak ini untuk apa?”


“Kau akan segera tahu. Letakkan di sini!”


Tungku pembakaran menyala. Dua kasim pembantu Istana Xingyue mengipasinya agar tetap menyala, hingga bara api menjalar membakar kayu bakar. Li Anlan memilah-milah potongan daging sapi, selanjutnya ia pisahkan antara yang berukuran besar dengan yang berukuran kecil di wadah yang berbeda.


Saat api yang membakar kayu bakar mulai padam, Li Anlan menyuruh dua kasimnya untuk meletakkan arang kering ke dalam tungku pembakaran. Dua kasim itu kembali mengipasinya, hingga bara api menyebar ke arang-arang tadi. Wanita itu meletakkan kawat pemanggangan yang ia rancang sendiri di atas tungku. Setelah diminyaki dengan minyak sayur yang dicampur dengan sedikit perasan jeruk nipis, Li Anlan meletakkan beberapa potong daging berukuran besar di atasnya, meminyakinya kembali lalu menyuruh dua kasimnya untuk terus mengipasi tanpa henti.


Aroma daging panggang yang menguap menjadi asap menyebar ke seluruh Istana Xingyue. Aroma harum khas itu terbang terbawa angin, membuat enam penjaga gerbang mengendus-endus, menebak aroma apakah yang terasa sangat wangi dan lezat ini. Enam penjaga itu masuk ke dalam, menyusuri jalan, hingga menemukan sumber aroma berasal.


“Kau, penjaga-penjaga besar, bantu mereka!” perintah Li Anlan pada enam penjaga gerbang yang meninggalkan tugasnya tanpa sadar. Enam penjaga gerbang itu tanpa pikir panjang langsung menuruti perintahnya, membantu dua kasim pembantu mengipasi tungku.


Sementara itu, Li Anlan juga menyuruh Xie Roulan untuk menata setiap makanan yang ada di atas karpet serapi mungkin. Kotak makan besar yang tadi ada di tengah dipindahkan ke sisi hingga tersedia ruang kosong yang cukup untuk meletakkan tiga buah piring dan satu keranjang buah-buahan.


“Nyonya, dagingnya menjadi hitam,” teriak salah seorang kasim. Li Anlan bergegas menghampiri mereka, lalu melihat apakah benar yang dikatakan kasim itu.


Beberapa potong daging memang mulai terlihat kehitaman, tapi dalamnya merekah merah. Li Anlan mengambil kembali minyak sayur, lalu menyipratkannya pada bagian atas potongan daging. Setelah itu, Li Anlan membalik daging potong hingga posisi yang hitam kemerahan ada di atas. Li Anlan mengajari cara mengasapi daging sapi pada dua kasim dan enam penjaga agar dia tidak perlu lagi bolak-balik.


“Roulan!”


“Ya nyonya!”


“Apa dapur istana punya jagung?”


“Aku rasa pasti ada.”


“Ambillah beberapa.”


“Baik.”


Li Anlan jongkok di antara kerumunan kasim dan penjaga. Asap dari tungku itu masuk ke hidungnya dan membuatnya terbatuk-batuk. Debu hitam dari tungku pembakaran menempel di tangan dan sikutnya. Ujung bajunya juga sudah kotor.


Saat Li Anlan asyik memanggang daging, seseorang dari arah pintu masuk tiba-tiba berteriak,


“Kebakaran! Lindungi Yang Mulia!”


Sembilan orang yang sedang berjongkok mengelilingi tungku api menoleh, menatap aneh pada Xiao Biqi yang memalangkan tubuhnya di depan Long Ji Man. Dia juga merentangkan kedua tangannya, seolah tidak membiarkan angin menyentuh rajanya. Melihat orang-orang di istana ini terdiam, Xiao Biqi semakin panik.


“Kenapa kasim kecil itu heboh sendiri?” tanya Li Anlan entah kepada siapa.


“Mungkin dia terkejut melihat asap mengepul dari sini,” jawab salah seorang penjaga.


Kehebohan dan kepanikan yang diciptakan Xiao Biqi justru berbanding terbalik dengan suasana hati Long Ji Man. Melihat selirnya kotor dan wajahnya dipenuhi debu arang hitam hingga tampak seperti orang dekil, Long Ji Man tersenyum kecil. Wajah bingung dan kotor Li Anlan sangat lucu.


Long Ji Man bergegas menghampiri Li Anlan beserta para penjaga dan kasim. Pria itu berdiri dua meter dari tempat jongkok Li Anlan. Sebelum dia mengeluarkan kata-kata, Long Ji Man terlebih dulu melihat sekeliling, terutama ke karpet yang digelar lebar-lebar dan atasnya dipenuhi dengan makanan dan minuman. Kemudian, Long Ji Man menatap dua wadah berisi daging sapi mentah dengan ukuran potongan yang berbeda, dan satu wadah lain yang masih kosong. Terakhir, Long Ji Man menatap potongan daging lain yang berada di atas bara api.


Warnanya kemerahan tapi sedikit menghitam. Baunya harum. Aroma antara bumbu rempah-rempah dan minyak sayur bercampur menjadi satu, terbang ke dalam lubang hidungnya dan menusuk syaraf-syaraf penciumannya. Aroma ini begitu lembut, namun juga lezat di waktu yang bersamaan. Ini pertama kalinya Long Ji Man mencium aroma makanan yang sangat berbeda dari kebanyakan.


“Selir An, apa yang kau lakukan?” tanya Long Ji Man.


“Memanggang daging. Yang Mulia, kau mau ikutan?” ucap Li Anlan sambil mengacungkan sepotong bambu yang ia gunakan untuk membolak-balik daging. Ujung bambu yang runcing seperti basah dilumuri minyak.


“Nyonya, ini jagungnya!”


Xie Roulan setengah berlari. Saat tiba di hadapan raja, dia sedikit membungkuk, lalu menghampiri Li Anlan yang masih setia berjongkok menunggu daging-daging sapinya matang. Saat Xie Roulan meletakkan sejumlah jagung, Li Anlan mengambil salah satu, lalu menusukkan batang bambu yang runcing ke pongkol jagung. Dia memanggang jagung di dekat potongan daging sapi.


“Benar-benar sebuah pesta kecil!”


Long Ji Man memilih mendudukkan dirinya di karpet. Dia tidak berniat terlibat dalam proses pemanggangan daging dan jagung. Seorang raja yang terhormat dan agung seperti dirinya mana bisa turun tangan sendiri dalam hal makanan. Dia akan menunggu di sana sambil terus mengawasi Li Anlan.


Tidak berselang lama, Li Anlan membawa sepiring daging panggang yang sangat harum dan menggoda ke hadapan Long Ji Man. Debu hitam di wajah wanita itu semakin banyak. Ikatan rambutnya sedikit melonggar. Li Anlan meletakkan daging panggang hangat di antara piring-piring makanan lain. Dia terheran-heran melihat ekspresi Long Ji Man yang seperti sedang takjub dan bingung di waktu yang bersamaan, seolah sedang memikirkan sesuatu.


“Kasim kecil, mengapa wajah rajamu seperti itu?” tanya Li Anlan pada Xiao Biqi.


“Nyonya, aku bukan kasim kecil!”


“Jawab saja pertanyaanku!”


“Sebentar lagi ujian kerajaan akan digelar. Yang Mulia sedang kebingungan menentukan syarat untuk para peserta karena mereka pasti mengandalkan jabatan dan kuasa orang tua mereka.”


“Wah, nepotismeu yang sangat kuat!”


Istilah asing apa lagi ini? Long Ji Man bertanya dalam hati. Dia menatap wanita itu, ingin mengetahui penjelasan atas sesuatu yang baru saja dikatakan.


“Kau punya cara?” tanya Long Ji Man.


“Biar kupikirkan. Jika memang seperti itu, artinya orang-orang yang kau pilih selamanya tidak bisa terlepas dari belenggu. Mereka tidak punya kemampuan apa-apa kalau begitu.”


Long Ji Man menuntut penjelasan.


“Biarkan mereka membuat CV mereka sendiri saat pendaftaran. Yang Mulia bisa langsung melakukan seleksi untuk menentukan siapa saja yang lolos ke babak penyisihan berikutnya hanya dengan melihat kualifikasi yang ada pada CV mereka.”


“CP? CV?”


“Curicullum vitae. Ah, itu daftar riwayat hidup yang ditulis oleh mereka sendiri. Biarkan mereka menuliskan data diri, prestasi, dan pengalaman organisasi apa saja yang pernah mereka dapatkan. Dengan begitu, Yang Mulia akan mudah menyeleksi mereka, memilah mana yang benar-benar berkualitas dan mana yang tidak.”


“Apa ini bisa dilakukan?”


“Tentu saja. Itu bukan sesuatu yang melanggar hukum.”


“Lalu, bagaimana cara melakukannya?”


“Detailnya akan aku jelaskan nanti.”


Li Anlan kembali ke dekat pemanggangan. Wanita itu meninggalkan penjelasan yang menggantung untuk Long Ji Man. Daging-daging panggang yang belum matang dia balikkan, begitu dan begitu terus hingga semuanya matang sempurna. Selain daging, jagung bakar juga matang semua.


Saat semua makanan tersaji, Li Anlan memanggil para penjaga dan kasim untuk bergabung bersamanya. Tapi, mereka tidak berani beranjak selangkah pun. Li Anlan sempat bingung, namun kemudian dia menyadari alasan mereka tidak mau bergabung duduk dengannya. Long Ji Man ada di sini. Mereka yang berstatus rendah dan hanya sebagai bawahan tidak mungkin duduk di karpet yang sama dengan rajanya. Itu dianggap tidak sopan dan melanggar aturan.


Menyadari situasi yang tidak bisa dipungkiri itu, Li Anlan tidak bisa memaksa. Hukum tetaplah hukum, tapi kesetaraan harus tetap ada. Apalagi, mereka telah berjasa membantunya memanggang daging dan jagung. Maka, Li Anlan menyuruh Xie Roulan untuk menggelarkan satu karpet lagi di dekat karpet yang didudukinya. Makanan dibagi dua hingga terbentuk dua tempat untuk makan-makan.


Li Anlan menyuruh mereka duduk di karpet yang baru. Tapi, mereka tetap tidak berani mendudukinya.


“Mengapa masih berdiri? Duduk!”


“Nyonya, ini sepertinya kurang pantas,” ujar salah seorang kasim.


“Karena dia adalah raja?” tunjuk Li Anlan pada Long Ji Man. Para penjaga dan kasim mengangguk.


“Siapa bilang kalian duduk bersama Yang Mulia? Apa kita duduk di karpet yang sama?”


Barulah para penjaga dan kasim mengerti. Mereka duduk di karpet yang baru, lalu mulai makan.


“Yang Mulia, silakan.”


Long Ji Man tersenyum tipis. Dia mulai menyantap makanan dengan santai. Long Ji Man puas melihat tindakan cerdas Li Anlan yang membuat para penjaga dan kasim menurut pada perintahnya. Suasana hati Long Ji Man yang semula buruk perlahan membaik. Pesta barbeque kecil di Istana Xingyue menghangatkan hati mereka, mendekatkan sang raja menjadi selangkah lebih dekat dengan para bawahan yang jauh di bawah status dan kedudukannya.


...**"...