
Li Anlan kembali mendapatkan tugas keluar istana dari Long Ji Man. Kali ini, dia diperintahkan untuk pergi ke Akademi Kerajaan, menyampaikan pesan dari raja bahwa satu minggu lagi akan diadakan Ujian Kerajaan untuk memilih para pejabat muda yang baru. Pesan tersebut ditulis dalam sebuah dekret yang diletakkan dalam kotak kayu berwarna merah tua. Li Anlan setuju untuk melakukan tugas tersebut karena ini pertama kalinya ia keluar setelah sakit selama kurang lebih lima hari.
Wanita itu tak lagi memakai hanfu bangsawan biasa. Dia mengenakan jubah resmi Permaisuri Bangsawan, lengkap dengan mahkota dan hiasan kepalanya. Sebenarnya, Li Anlan lebih nyaman memakai hanfu biasa karena lebih ringan dan simple, tidak berlapis-lapis dan tidak panjang seperti jubah ini. Tetapi, saat ia menggunakan hanfu biasa, Long Ji Man menariknya ke dalam ruangan ganti Istana Hongwu dan menyuruhnya berganti baju. Dia bilang, kejadian seperti di kediaman Penasihat Negara tidak boleh terulang lagi.
Pengawalannya juga dua kali lebih ketat. Long Ji Man mengutus delapan orang pengawal dan tiga orang kasim serta dua orang pelayan wanita untuk menemani perjalanan Li Anlan.
Padahal, jarak dari Istana Kerajaan Dongling ke Akademi Kerajaan tidak terlalu jauh, tidak memerlukan pengawalan yang ketat karena Akademi Kerajaan terletak di tengah kota, di tengah keramaian yang tidak memungkinkan adanya bahaya. Para penjahat juga akan berpikir dua kali ketika hendak melakukan aksinya karena di pusat kota ini, puluhan penjaga keamanan berlalu lalang mengontrol keadaan.
Iring-iringan Permaisuri Bangsawan sampai di Akademi Kerajaan saat matahari sedikit lebih tinggi. Li Anlan disambut Wakil Kepala Akademi dan Sekretaris Akademi yang tempo hari pernah dijumpai Li Anlan saat melakukan kunjungan bersama Long Ji Man. Beberapa orang siswa Akademi Kerajaan juga tampak hadir menyambutnya di gerbang masuk Akademi Kerajaan. Salah satu diantaranya adalah Pangeran Ding, Long Ji Mu.
“Salam hormat, Nyonya Permaisuri Bangsawan. Maafkan kelancangan kami karena tidak mengenalimu saat itu,” ujar Wakil Akademi Kerajaan tulus.
“Ah, jangan membahas masa lalu. Statusku saat itu hanya seorang pelayan. Kau tidak perlu membahasnya.”
“Tidak, Nyonya Huang. Yang Mulia Raja memberitahu kami bahwa Anda adalah selirnya,” lanjut Sekretaris Akademi Kerajaan.
“Aku datang untuk menyampaikan pesan, bukan untuk membahas masa lalu!”
“Baik, silakan masuk, Nyonya.”
Para siswa yang tadi menyambut Li Anlan berhamburan membubarkan diri. Kebanyakan dari mereka kembali ke kelas masing-masing, sebagiannya kembali ke asrama dan sisanya bermain di halaman Akademi Kerajaan. Mata Li Anlan menangkap sosok Long Ji Mu sedang berdiri di dekat gerbang, menatapnya dengan datar tanpa ekspresi. Tetapi, yang menarik perhatian Li Anlan adalah mata jernih bocah itu, yang sama persis seperti mata milik Long Ji Man. Mungkin karena keduanya adalah saudara, jadi terlihat mirip satu sama lain.
Saat Li Anlan sampai di hadapan Long Ji Mu, dia berjongkok. Posisinya sejajar dengan tinggi anak itu.
“Hei, bocah kecil. Kau ingin buah persik lagi?”
Alih-alih menjawab pertanyaan Li Anlan, Long Ji Mu malah balik bertanya,
“Kakak ipar, kau sudah menjadi Permaisuri Bangsawan?”
“Kalau bukan karena kakakmu yang menyebalkan itu memaksaku, aku lebih baik menjadi orang biasa saja.”
“Guru bilang, Permaisuri Bangsawan punya stempel yang cantik, benarkah?”
Li Anlan mengangguk.
“Kau ingin melihatnya?”
“Ya.”
“Ayo, ikut denganku.”
Li Anlan menggenggam tangan kecil Long Ji Mu. Mereka berdua berjalan masuk ke Akademi Kerajaan, menyusuri jalan yang dihiasi bebatuan putih. Jubah Li Anlan yang panjang dan indah tergusur pelan. Mereka yang melihat Permaisuri Bangsawan berjalan bersama Pangeran Ding merasa bahwa dua orang itu seperti sepasang ibu dan anak yang sama-sama memiliki status mulia dan berkedudukan tinggi. Usia Li Anlan yang terpaut sangat jauh dengan bocah kecil itu menjadikannya seperti seorang ibu, seperti seorang wanita yang sedang mendampingi putranya. Di zaman ini, usia dua puluh tiga tahun adalah usia yang terlampau matang, biasanya sudah harus memiliki dua orang anak berumur enam dan tiga tahun.
“Mu’er, kau tidak punya teman?”
“Dari kecil aku memang tidak punya teman.”
“Kau mau berteman denganku?”
“Apa boleh seperti itu?”
Raut wajah datar Long Ji Mu perlahan mulai memiliki ekspresi.
“Tentu saja.”
“Tapi, Bibi Wei bilang, seorang raja tidak boleh mempunyai teman.”
“Benarkah?”
Sialan sekali bibi pengasuh itu. Anak sekecil ini sudah diberi pengetahuan yang bisa mengotori hati. Meskipun Long Ji Mu cerdas, dia tetaplah anak kecil. Anak seusianya seharusnya diberikan pendidikan dan pengetahuan dasar yang dapat berguna untuk masa depannya, bukan pengetahuan yang dapat menanamkan kebencian dan menumbuhkan perselisihan secara perlahan seperti itu. Kebencian, jika ditanam dan ditumbuhkan perlahan, suatu saat bisa menghancurkan tempatnya tumbuh dan memporak-porandakan tanah di sekitarnya.
Lain kali, jika Li Anlan bertemu pengasuh Long Ji Mu, dia akan memukulnya dengan keras.
“Perkataan Bibi Wei tidak usah kau dengarkan. Siapa bilang seorang raja tidak bisa memiliki teman? Kakakmu juga memiliki teman.”
“Siapa teman kakakku?”
“Aku. Aku adalah teman kakakmu.”
“Benarkah?”
Li Anlan mengangguk.
“Mu’er, apa kau ingin punya pengasuh baru?” tawar Li Anlan. Dia tidak bisa membiarkan Long Ji Mu berada dalam asuhan seorang pengasuh yang toxic seperti Bibi Wei.
“Kenapa harus ganti pengasuh?”
“Kalau kau ingin menjadi temanku, kau harus ganti pengasuh. Bagaimana?”
Li Anlan dan Long Ji Mu sampai di depan Aula Guru. Di sana, terdapat sebuah panggung kecil dari kayu berbentuk bulat. Tingginya sekitar lima puluh sentimeter. Di atasnya terdapat beberapa set meja dan kursi yang khusus digunakan oleh para petinggi Akademi Kerajaan dan tamu kehormatan. Tidak jauh dari sana, terdapat beberapa set meja dan kursi yang disediakan untuk para siswa Akademi Kerajaan yang berada di tingkatan atas atau yang sudah siap mengikuti ujian.
Wakil Kepala Akademi mempersilakan Li Anlan untuk duduk di kursi yang sudah disediakan. Long Ji Mu yang kecil tidak bergabung atau kembali ke kelasnya, melainkan duduk di pangkuan Li Anlan dengan nyaman. Anak kecil itu menatap semua kakak kelasnya yang duduk di bawah sana dengan tatapan polos. Li Anlan lantas meminta kotak kayu berisi dekret yang dibawa salah satu pelayan, kemudian menyerahkannya pada Wakil Kepala Akademi. Pria setengah baya itu segera membuka kotaknya dan membacakan isi dekret Yang Mulia Raja.
“Selain dekret, Yang Mulia juga memberikan titah lisan. Mulai hari ini sampai hari dilaksanakannya Ujian Kerajaan, kalian harus mendaftar dan dikarantina, tidak boleh keluar dari Akademi Kerajaan,” sela Li Anlan saat Wakil Kepala Akademi selesai membacakan dekret.
“Nyonya, apa sebaiknya tidak ditulis saja? Siswa-siswa di sini tidak semuanya mempunyai ingatan yang baik,” usul Sekretaris Akademi.
“Kalau begitu kau saja yang menulisnya.”
Sekretaris Akademi Kerajaan mengambil sebuah kertas resmi kerajaan, lalu menuliskan titah lisan Yang Mulia Raja. Setelah selesai ditulis, dia menyerahkannya pada Li Anlan untuk diperiksa. Li Anlan kemudian membubuhkan stempel Permaisuri Bangsawan pada kertas tersebut, sebagai bukti legalitas yang menjamin bahwa semua yang tertulis di sana adalah benar. Long Ji Mu yang berada di pangkuan Li Anlan takjub. Matanya berbinar saat melihat bentuk stempel berwarna putih di tangan kakak iparnya. Stempel Permaisuri Bangsawan memang benar-benar cantik!
“Ah, satu lagi. Wakil Kepala, panggilkan pengasuh Pangeran Ding!”
“Baik, Nyonya.”
Seorang pelayan kemudian pergi memanggil Bibi Wei. Tidak lama kemudian, orang itu muncul. Bibi Wei sempat terkejut saat ia melihat Long Ji Mu duduk di pangkuan seorang wanita yang pernah ia jumpai sekali saat di taman Danau Houchi. Bibi pengasuh tersebut tidak percaya bahwa wanita itu adalah Permaisuri Bangsawan, wanita Yang Mulia Raja. Pantas saja saat itu Long Ji Mu mengatakan bahwa dia bukan orang asing.
Bibi Wei menunduk memberi hormat, sekaligus menahan rasa malu yang tidak terkira. Dia dapat mendengar bisik-bisik para siswa Akademi Kerajaan yang bertanya-tanya di belakangnya.
“Bibi Wei, kau pulanglah ke kampung halamanmu,” ucap Li Anlan ringan.
“Ny..Nyonya, apa maksud Anda?”
“Mulai sekarang, Pangeran Ding berada di bawah asuhanku.”
“T-Tapi Nyonya, aku adalah pengasuh resmi yang ditugaskan oleh Ibu Suri,” bantah Bibi Wei.
“Benarkah? Lalu mengapa kau melalaikan tugasmu?”
“Nyonya, boleh aku tahu apa kesalahanku?”
“Kau menanamkan nilai-nilai buruk pada adik iparku. Bibi Wei, apa kau ingin menjadikannya seorang pemberontak?”
“Aku..Aku tidak-”
“Sekretaris Akademi, tuliskan surat pemecatannya! Bibi Wei perlahan menanamkan kebencian dalam hati Pangeran Ding, dia telah melanggar aturan dan mencoreng integritas pengasuh keluarga kerajaan.”
“Baik, Nyonya Huang.”
Setelah Sekretaris Akademi selesai menulis, Li Anlan mengecapnya dengan stempel Permaisuri Bangsawan. Setelah ini, Bibi Wei tidak perlu datang ke ibukota lagi. Dia dibebastugaskan dan dipulangkan ke kampung halaman. Mengenai hukuman, biarkan pihak pengadilan istana saja yang mengurusnya. Li Anlan tidak mau repot membuang tenaga lagi.
“Ternyata bisa seperti itu ya,” ucap salah seorang siswa Akademi Kerajaan.
“Kau tidak tahu? Permaisuri Bangsawan memiliki beberapa otoritas khusus yang bahkan tidak dimiliki Permaisuri Utama!” timpa salah seorang lainnya.
“Wah, kalau aku jadi perempuan, aku ingin seperti Nyonya Huang. Dia tidak hanya cantik dan berintegritas, tetapi juga tegas dan baik hati,” ucap yang lain.
“Kau sebaiknya fokus pada pelajaranmu saja! Sebentar lagi kita akan menghadapi Ujian Kerajaan!”
Mengabaikan mereka yang berdebat tentang dirinya, Li Anlan memilih untuk mengelilingi Akademi Kerajaan bersama Long Ji Mu. Ketika sudah lewat tengah hari, Li Anlan menghentikan tournya. Dia harus kembali ke istana dan memberikan laporan pada suaminya. Long Ji Mu sempat tidak ingin berpisah dengannya, tetapi sebisa mungkin Li Anlan menghiburnya.
“Mu’er, belajarlah dengan baik. Setelah usiamu tiga belas tahun, aku akan menjemputmu.”
“Kau janji?”
“Aku janji.”
“Kalau begitu, kakak ipar, aku akan belajar dengan baik!”
Setelah dibujuk cukup lama, akhirnya Long Ji Mu bersedia melepaskan genggaman tangan Li Anlan. Bocah itu kembali masuk ke Akademi Kerajaan sambil berlari riang. Senang rasanya melihat seorang anak kecil yang dingin dan cukup menyebalkan menjadi penurut. Kehadiran Long Ji Mu telah menumbuhkan rasa ingin melindungi di hati Li Anlan.
Wanita itu naik kereta kuda, lalu meninggalkan Akademi Kerajaan diiringi para pengawal dan para pelayannya. Sepanjang perjalanan, Li Anlan tak henti-hentinya berpikir apa yang akan ia lakukan setelah kembali ke istana nanti. Tugasnya sudah selesai, artinya dia tidak punya kegiatan apapun lagi. Kalau begitu, itu adalah waktu yang pas untuk memanjakan diri dengan bermalas-malasan.
Lama kelamaan, Li Anlan merasakan suatu keanehan. Mereka sudah meninggalkan Akademi Kerajaan cukup lama, seharunsya sudah sampai di depan gerbang istana. Tetapi, Li Anlan justru merasa bahwa ia dan rombongannya semakin menjauh dari pusat kota, karena tidak terdengar keramaian sama sekali. Li Anlan memberanikan diri mengintip lewat jendela, kemudian dia terkejut saat mendapati pemandangan di sekitarnya adalah sebuah hutan yang dipenuhi dengan pepohonan!
Li Anlan juga bisa melihat para pengawal dan pelayan yang berjalan dengan tatapan kosong. Mereka seolah dikendalikan sesuatu. Berkali-kali dia berteriak tetapi tidak ada satu pun yang mendengarnya. Saat Li Anlan merasakan kereta berhenti, dia langsung meloncat keluar. Ia terpekik saat mendapati seluruh pengawal dan pelayan terbaring di tanah. Wanita itu mengecek keadaan sekitar yang sepi. Dia menghampiri salah satu pengawal, lalu menggoyang-goyangkan tubuh pengawal itu sambil berteriak.
“Sial! Mereka diracuni!”
Li Anlan tidak menyadari bahwa sekelompok orang tidak dikenal sudah berdiri di belakangnya. Karena terlalu panik, dia menjadi tidak waspada. Li Anlan merasakan bahunya sakit seperti dipukul oleh sesuatu yang sangat keras. Setelah itu, kepalanya terasa berputar, penglihatannya menjadi kabur, dan dunianya menjadi gelap.
Sekelompok orang itu membawa Li Anlan yang tidak sadarkan diri ke sebuah tempat yang jauh, yang sukar dijangkau oleh manusia biasa.
...***...