The Little Consort

The Little Consort
Eps. 73: Tempat Aneh


Penghujung musim semi di Kerajaan Dongling sudah memasuki tahap akhir. Bunga-bunga, daun-daun, pepohonan sudah mulai meranggas dan berguguran. Di sore hari, matahari tenggelam di ujung Danau Houchi, memantulkan cahaya emas di dalam riak air yang bergelombang. Dalam situasi damai seperti itu, Li Anlan berdiri di jembatan Danau Houchi sambil menikmati senja yang datang dengan indah. Wanita itu memakai hanfu jingga yang dihiasi sulaman bunga di bagian perut dan dadanya. Panjangnya sekitar setengah meter ke belakang, kepalanya dihiasi jepit rambut sederhana berwarna emas.


Setiap udara segar yang masuk ke dalam paru-parunya terasa sangat segar. Li Anlan memandang senja sebagai suatu keadaan terbaik dalam satu hari di setiap bulannya. Senja, bagi Li Anlan adalah saat terbaik untuk memanjakan diri dengan menikmati kedamaian yang tercipta dari setiap suasana yang ada.


Rasa lelah setelah beberapa hari mendampingi Long Ji Man di Ujian Kerajaan terbayar saat dia menikmati senja di atas Danau Houchi. Hasil dari ujian tersebut akan diumumkan satu minggu kemudian. Kali ini, dia tidak perlu repot untuk memeriksa, karena seluruh kunci jawaban sudah diserahkan kepada petugas bersangkutan. Tidak aka nada petugas yang berani berbuat curang membetulkan jawaban atau berpihak pada salah satu peserta, karena Li Anlan meminta izin dari Long Ji Man agar pemeriksaan tersebut dilakukan di


Istana Hongwu, di bawah pengawasan langsung dari raja.


Dari kejauhan, dia melihat Xiao Biqi datang kepadanya dari arah Istana Hongwu. Li Anlan merubah posisinya hingga ia bisa melihat Xiao Biqi dengan jelas dari depan. Begitu kasim tersebut sampai, bungkukan tubuh dan ucapan salam hormat terlontar dari mulutnya.


“Nyonya, Yang Mulia memintamu datang ke Istana Hongwu sekarang,” seloroh Xiao Biqi.


“Ada apa?”


“Yang Mulia tidak memberitahuku perihal tujuannya. Mari, Nyonya.”


Xiao Biqi mempersilakan Li Anlan untuk berjalan terlebih dahulu. Senja semakin tenggelam dan malam sebentar lagi datang. Istana yang sepi ini menjadi semakin sunyi di malam hari. Para penjaga berganti shift, dan para pelayan paruh waktu pulang ke kediaman mereka masing-masing. Selain Li Anlan, wanita lain yang ada di istana Kerajaan Dongling sudah berdiam diri di dalam istananya masing-masing.


Long Ji Man tampak sedang duduk di kursi kerjanya.


Dokumen-dokumen kenegaraan yang diperiksanya sudah disingkirkan semua. Malam ini, tugasnya berakhir dengan dokumen dari kabupaten di perbatasan yang mengabarkan ucapan selamat atas pernikahan Yang Mulia Raja dengan Long Da Yin, yang berakhir dengan pembakaran dokumen tersebut oleh Long Ji Man. Pria itu masih marah karena selir barunya itu menambahkan bubuk mabuk pada arak pernikahan mereka.


Raut wajah Long Ji Man yang semula datar berubah saat wanita itu masuk. Kedatangannya seperti kedatangan seseorang yang tanpa sadar dia nanti-nanti. Sosok Li Anlan sang Permaisuri Bangsawan telah menghantui malam Long Ji Man secara perlahan hingga membuat pria itu sering kesulitan tertidur, memikirkan berbagai hal yang berkaitan dengan Li Anlan. Wanita itu seperti air, bisa berubah menyesuaikan wadah dan tidak mudah ditebak. Sejak awal, dia sudah membuat Long Ji Man tidak berhenti menerka-nerka.


“Yang Mulia, ada apa?” tanya wanita itu sembari duduk di kursi tamu.


“Besok kita akan keluar istana.”


Entahlah, saat Li Anlan mendengar kata ‘keluar istana’, rasanya tak lagi sama seperti dulu. Mungkin ini adalah efek dari pekerjaan beratnya akhir-akhir ini, hingga segala sesuatu yang berkaitan dengan kata ‘keluar istana’ menjadi tidak asyik dan tidak lagi menarik perhatian Li Anlan. Bagaimana tidak, sekali keluar istana, dia langsung mengerjakan tugas berat, diculik, dan melakukan tugas berat lagi. Sama sekali tidak ada kesenangan di dalamnya.


“Ke mana tujuan kita?”


“Kau akan tahu.”


Li Anlan tahu dirinya tidak bisa menolak keinginan pria ini. Malam ini, auranya terasa sangat berbeda, seolah-olah Long Ji Man adalah seorang Arjuna yang Li Anlan kenal lewat literatur India yang pernah ia baca di perpustakaan sekolah. Dia seperti melihat seorang raja yang sesungguhnya, yang benar-benar kaya akan kewibawaan dan pesona ketampanan.


Meskipun usia Long Ji Man berada di atas usianya, tetapi pria itu tidak bisa dikategorikan tua. Dia masih memiliki wajah seorang pria muda. Justru, hal tersebutlah yang menjadikan dia terlihat lebih dewasa. Tampilan perfeknya mengingatkan Li Anlan pada sosok salah satu dosennya di kampus, yang mempunyai kadar nasisme tinggi dan selalu berpenampilan sempurna layaknya pulic figure. Long Ji Man saat muda mungkin jauh lebih tampan dari ini.


“Baiklah.”


Akhirnya, Li Anlan menyetujui ajakan Long Ji Man. Wanita itu hendak kembali ke istananya, tetapi Long Ji Man menahannya. Pria itu berkata bahwa dia ingin mendiskusikan sesuatu dengan dirinya. Entah apa yang ingin pria itu bicarakan, tetapi Li Anlan merasa bahwa topik pembicaraannya tidak akan menyenangkan. Jadi, wanita itu menolak untuk tetap tinggal dan pergi meninggalkan Istana Hongwu.


Pagi-pagi sekali di hari berikutnya, Xiao Biqi sudah datang untuk membawa Li Anlan pergi. Baru saja dia hendak bersiap, Long Ji Man datang tanpa pemberitahuan. Sambil duduk manis di kursi tamu Istana Xingyue, dia meminta Li Anlan membawa beberapa peralatan yang aneh miliknya tanpa memberitahukan alasannya. Li Anlan hanya menurut, karena bertanya tidak akan menghasilkan apa-apa.


Pasangan Raja dan Permaisuri Bangsawan yang manis melewati gerbang belakang Istana Hongwu, kemudian naik ke atas punggung kuda. Saat Long Ji Man memintanya untuk naik bersamanya, Li Anlan menolak. Kuda adalah salah satu hewan yang paling ingin dia taklukan. Biasanya, jika bukan majikan aslinya, hewan ini akan memberontak saat ditunggangi. Tetapi, di masa modern, dia ingat bahwa dia pernah berpacu di arena lapangan berkuda bersama seorang joki kelas atas yang ia kenal lewat jalur pendakian. Jadi, Li Anlan memutuskan untuk mencoba dan menguji kembali kemampuan berkudanya yang sudah lama sekali tidak ia latih.


Arah yang mereka tuju adalah sebelah timur istana. Jalanna cukup sempit dan banyak ditumbuhi rerumputan liar. Ini bukan jalan ke pusat kota, melainkan jalan ke sebuah tempat terlarang yang sangat asing dan sangat jarang terjamah orang. Jalan kecil itu semakin lama semakin menanjak, kemudian beberapa bagian selanjutnya terdapat tanah datar yang ditumbuhi pohon wisteria berusia ratusan tahun.


Selain wisteria ratusan tahun, di sekitarnya juga terdapat beragam tumbuhan dengan bentuk, aroma, dan warna yang aneh, seperti hanya tumbuh di sini. Beberapa hewan yang ia jumpai saat di perjalanan juga belum pernah ia lihat sebelumnya. Tanah tempatnya berpijak ini seperti negeri dongeng kedua bagi Li Anlan setelah Kerajaan Dongling. Aneh namun membuat hati terasa nyaman dan tenang.


“Aneh. Mengapa benda ini rusak lagi?” kesal Li Anlan sambil memasukan dua benda modern tersebut ke dalam saku ransel.


“Ada apa?” tanya Long Ji Man saat menyadari wanita di belakangnya menghentikan laju kuda dan menggerutu.


“Kompasku mati lagi.”


“Apa kegunaan benda itu?”


“Untuk menunjukkan arah.”


Wanita itu memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Dia membiarkan Long Ji Man memimpinnya di depan hingga dia bisa mengikuti jejaknya dengan jalan yang benar. Kali ini, dia tidak boleh tersesat lagi.


Setelah dua jam berkuda, keduanya sampai di sebuah tanah yang dipenuhi pepohonan rindang. Di tengah tanah yang lapang tersebut terdapat sebuah bangunan dari kayu yang tampak sudah tua namun masih terawat. Pagar-pagarnya terbuat dari kayu gelondongan yang dipotong persegi kecil-kecil. Di sekitar rumah tersebut terdapat berbagai jenis bunga berwarna-warni yang harumnya khas dan terasa sangat manis seperti madu.


Long Ji Man mengikatkan tali kendali kudanya pada sebuah pohon, kemudian membantu Li Anlan turun. Kuda Li Anlan juga ia ikat tali kendalinya di pohon sebelahnya, agar kedua kuda tersebut tidak lepas. Lantas, Long Ji Man membawa Li Anlan untuk masuk ke dalam bangunan tersebut. Jalan untuk dipijakinya terbuat dari batu-batu kecil yang tersusun rapi.


“Yang Mulia, kita di mana?” Li Anlan tidak bisa menahan kepenasaran. Sejak tadi dia sudah tertarik pada bangunan di tengah hutan belantara ini.


“Bukankah kau selalu ingin mendaki Gunung Feiyun?”


Mata Li Anlan membelalak.


“Jadi, ini adalah?”


“Benar. Ini adalah hutan Gunung Feiyun yang dilindungi.”


“Pantas saja jalannya agak asing.”


“Tumbuhan dan hewan yang kau lihat sepanjang jalan adalah inti dari hutan ini.”


“Wah, jadi yang kulihat tadi adalah hewan endemik?”


Sungguh tidak disangka, Long Ji Man membawanya ke tempat yang dilindungi oleh hukum negara dan tidak boleh dimasuki orang karena termasuk kawasan hutan lindung! Li Anlan benar-benar masuk ke dalam kawasan konservasi in-situ di negeri kuno!


Pria ini tidak dapat ditebak. Dulu begitu menentang Li Anlan dan melarang wanita ini memasuki Gunung Feiyun meskipun Li Anlan sudah meminta izin berkali-kali bahkan setengah memaksa. Sekarang, dia sendiri yang justru membawanya masuk ke dalam hutan larangan ini tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Bagaimana bisa seorang pria menjadi begitu labil?


“Mengapa Yang Mulia membawaku ke sini?”


Sebelum menjawab, Long Ji Man menatap mata wanita itu terlebih dahulu. Ada sebuah kesan berbeda dari tatapan itu. Lembut namun terasa asing.


“Aku selalu merasa kau bukan berasal dari dunia ini.”


Kini, Li Anlan terpaku di tempatnya berdiri. Apakah Long Ji Man sudah tahu kalau dia adalah seorang penjelajah dari dunia lain?


...***...


...Halooo kesayangan Author! Hari ini Author up cuma satu ya, karena weekend selalu sibuk sama kegiatan. Kemarin juga, kebetulan Author lagi agak nggak enak badan terus lagi dalam perjalanan keluar kota, jadi kalau liat HP atau laptop suka pusing. So, doain semoga semuanya cepet selesai. Stay tune terus, sampai jumpa di episode berikutnya! ...