The Little Consort

The Little Consort
Eps. 63: Bercerita


“Kau mengambil alih hak asuh Pangeran Ding?” tanya Long Ji Man di pagi hari.


Li Anlan mengangguk.


Wanita itu baru bangun setelah lebih dari sepuluh jam tertidur. Saat ia bangun, ia mendapati kalau kain penutup tempat tidur yang ia pakai bukanlah kain penutup tidur di Istana Xingyue. Dia masih setengah bermimpi, tetapi suara berat seorang pria membawanya ke puncak kesadaran. Ini memang bukan kamar Istana Xingyue, melainkan kamar di Istana Hongwu, tempat tidur raja!


Li Anlan menoleh ke asal suara. Long Ji Man yang tampan tampak tengah duduk di kursi yang tak jauh dari sana, dengan hanya mengenakan pakaian tidur berwarna emas yang tipis. Li Anlan sempat dibuat terpana karena tubuh yang biasanya tegap dan gagah itu hanya dibalut kain tipis.


Sebelum berbicara, dia terlebih dahulu melihat pakaiannya. Seketika Li Anlan terkejut, pakaian yang ia kenakan bukan lagi pakaian pengantin, melainkan hanfu biasa.


“Selamat pagi, Yang Mulia Raja,” ucap Li Anlan sambil tersenyum paksa, karena ucapan tersebut bernada sindiran.


Long Ji Man hanya melirik dengan sudut mata. Tangannya meraih cangkir, lalu menuangkan air putih ke dalamnya.


“Mengapa kau melakukannya?”


“Haruskah aku bercerita saat aku baru membuka mata?”


“Hm?” Long Ji Man berdehem, seperti mengancam.


“Pengasuh yang disebut Bibi Wei oleh Mu’er mengajarkan hal yang tidak baik. Tentu saja aku tidak bisa membiarkannya,” terang Li Anlan sambil turun dari tempat tidur. Wanita itu kemudian duduk di hadapan Long Ji Man.


“Apa yang dia ajarkan?”


“Dia diam-diam menanamkan bibit kebencian di hati Mu’er. Coba kau tebak, apa jadinya jika seorang adik raja memiliki kebencian terhadap kakaknya sendiri?”


Long Ji Man mengernyitkan dahi. Dia belum mengerti arah pembicaraan Li Anlan.


“Yang Mulia, anak seumur Pangeran Ding sedang dalam masa perkembangan. Apa yang ia lihat, apa yang ia alami, apa yang ia dengar, akan bercokol kuat dalam ingatannya. Jika kebencian yang tertanam di hatinya, bukankah hanya akan menjadikan dia seorang pemberontak? Lagipula, anak sekecil itu seharusnya berada dalam asuhan orang tua, bukan pengasuh yang tidak jelas asal-usulnya.”


Long Ji Man baru mengerti sekarang. Rupanya, Li Anlan sengaja mengambil alih hak asuh Long Ji Mu agar bocah tersebut terhindar dari pengaruh buruk yang diajarkan oleh pengasuhnya. Sebelum Li Anlan dikabarkan menghilang, Long Ji Man mendapat kabar kalau Permaisuri Bangsawannya mengambil alih hak asuh Long Ji Mu di hadapan semua orang Akademi Kerajaan. Dia juga mempermalukan Bibi Wei dengan mengatakan bahwa pengasuh itu memberikan pengaruh buruk, melalaikan tugas, dan memulangkannya ke kampung halaman tanpa boleh kembali ke ibukota.


Bagaimana bisa wanita yang liar seperti Li Anlan berpikir sejauh itu?


Long Ji Man tidak tahu lagi kelebihan apa yang dimiliki Permaisuri Bangsawannya. Selama ini ia sudah dibuat terkejut berkali-kali oleh tingkah Li Anlan, oleh tindakannya, keputusannya, sifatnya, dan cara berpikirnya yang aneh tetapi cenderung mengarah pada kebenaran. Di Kerajaan Dongling, kebanyakan wanita hanya pandai berpuisi, berdandan, menyulam, menghabiskan uang, menindas orang, dan bersenang-senang. Jika Li Anlan seorang pria, dia mungkin bisa menjadi pejabat negara yang utama dan berpangkat tinggi.


“Yang Mulia, bagaimana dengan para keparat itu?”


“Kau mengatakan hal kasar di depan rajamu?”


“Ck… Yang Mulia, apa aku harus memanggil para bandit itu dengan sebutan Dewa?”


Long Ji Man menghela napas.


“Mereka di penjara. Satu orang berhasil melarikan diri.”


Dendam Li Anlan pada para bandit itu masih besar. Dia bersumpah jika dia melihat mereka, dia akan menghukum mereka dengan caranya sendiri. Oleh karena itu, Li Anlan kemudian meminta Long Ji Man untuk mengantarnya ke penjara, untuk melihat para bandit sialan yang hampir membuatnya menjadi pecundang karena dinikahkan dengan pria buruk rupa. Long Ji Man menyetujuinya dengan syarat bahwa Li Anlan tidak boleh bertindak sembarangan dan impulsif saat bertemu dengan mereka.


“Yang Mulia, ayo!”


“Kau mau ke mana?”


“Penjara.”


“Kau gila? Ini masih pagi. Apa kau akan pergi ke sana dengan pakaian seperti itu?”


Li Anlan melirik hanfunya. Dia hampir saja melupakan hal terpenting yang hendak ia tanyakan sedari tadi.


“Yang Mulia, siapa yang mengganti pakaianku?”


“Menurutmu?”


“Ah, karena kau menggodaku, itu berarti bukan Yang Mulia yang menggantinya.”


“Kau pikir aku tidak bisa melakukan apapun terhadapmu?”


“Tentu saja bisa. Tapi, Yang Mulia, aku yakin kau tidak benar-benar melakukannya. Orang seperti Yang Mulia mana mau repot-repot mengganti pakaian salah satu istrinya.”


“Masuk akal. Kau cukup pintar dalam hal ini.”


“Aku memang cerdas.”


Li Anlan tidak punya urusan apapun lagi di Istana Hongwu. Dia berniat kembali ke Istana Xingyue karena Xie Roulan pasti sedang menunggu dan mengkhawatirkannya. Hampir tiga hari dia tidak bertemu dengan pelayan setianya. Tapi, saat Li Anlan hendak melangkah pergi, Long Ji Man menahannya dan membuatnya kembali duduk di kursi yang tadi.


“Ceritakan apa yang kau ketahui saat berada di Benteng Duanrou!”


“Tahun depan!”


“Kalau begitu tahun depan saja.”


“Sekarang, Li Huang An!”


Hari masih pagi, tapi Long Ji Man sudah meminta Li Anlan berbicara sebanyak ini? Benar-benar raja yang menyebalkan! Li Anlan mulai merasa kesal. Saat bangun pagi, yang ada di hadapannya seharusnya adalah makanan dan minuman lezat yang masih hangat, yang bisa menggugah selera dan menaikkan mood, bukan pertanyaan yang menyebalkan seperti ini.


Mata Li Anlan berkilat jahil. Dia tiba-tiba teringat kalau gajinya sebagai Permaisuri Bangsawan bulan ini belum dibayarkan. Mengapa dia tidak menggunakan kesempatan ini untuk meraup keuntungan saja? Suaminya kaya dan berkuasa, mengeluarkan sedikit uang untuk membeli informasi mungkin bukan perkara yang sulit.


“Baik. Tapi, satu cerita, sepuluh tael emas!”


“Kau memerasku?”


“Bisa jadi.”


“Selain uang, apa yang ada di pikiranmu itu?”


“Bersenang-senang.”


Sudahlah.


Long Ji Man memilih menuruti permintaan Li Anlan. Permaisuri Bangsawannya yang mata duitan ini tidak ada tandingannya, dan hanya satu-satunya di dunia. Pintar memanfaatkan situasi, pandai mencari alasan, lincah berdebat, dan senang bermalas-malasan adalah karakter untuk mendefinisikan Li Anlan. Kali ini saja, Long Ji Man akan menuruti wanita tersebut demi sebuah informasi penting.


Li Anlan lantas menceritakan semua yang ia alami, mulai dari saat ia keluar dari Akademi Kerajaan, naik kereta, merasakan keanehan, melihat para pengawal dan pelayan menatap kosong, hingga saat mereka terkapar tak bernyawa. Dia juga bercerita saat dia turun untuk memastikan, seseorang tiba-tiba memukul pundaknya dengan keras hingga jatuh pingsan, dan saat sadar dia sudah berada di sebuah ruang penyekapan yang kumuh dan dipenuhi jerami.


“Selain aku, ada beberapa wanita lain yang disekap. Mereka bilang, para bandit itu akan menjual mereka ke pasar budak.”


“Perdagangan manusia secara illegal?”


“Memangnya ada yang legal? Di mana-mana, yang namanya perdagangan manusia itu dilarang! Itu melanggar hak asasi manusia!”


“Hak asasi?”


“Ah, nanti kujelaskan. Oh ya, Yang Mulia, para bandit itu sering menculik wanita miskin dan yatim piatu. Mereka juga mengatakan bahwa ‘tuan’ mereka yang memerintahkan mereka untuk menculikku, tapi tidak memberi instruksi selanjutnya dan tidak memberitahu mereka perihal identitasku.”


“Tuan” yang dimaksud oleh para bandit masih menjadi misteri. Siapakah dia, bagaimana orangnya, di mana dia berada, dan jabatan apa yang dimilikinya hingga mampu mengendalikan komplotan bandit, belum diketahui kebenarannya. Yang jelas, “Tuan” yang dimaksud memang benar-benar ada, benar-benar seseorang yang berkuasa. Entah dia laki-laki atau perempuan, tua atau muda, karena semua kemungkinan bisa menjadi kenyataan. Di zaman ini, pria berpakaian wanita dan wanita berpakaian pria sering dijumpai, hingga terlihat sama persis seperti aslinya.


Penampilan mungkin bisa menipu, tapi jati diri tidak bisa dinilai hanya dari satu sudut pandang saja.


Li Anlan melanjutkan ceritanya. Dia memberitahu Long Ji Man bagaimana dia berteriak hingga suaranya hampir serak, hanya untuk membuat para penjaga pintu ruang penyekapan jengkel dan memarahinya. Jika mereka jengkel dan marah, mereka akan mudah diprovokasi. Dengan begitu, Li Anlan bisa meraup keuntungan lain dengan memanfaatkan situasi para penjaga pintu. Sayangnya, dua bandit utusan Si Ketua Jelek datang dan menyeretnya ke bangunan utama di markas tersebut.


“Apa lagi yang kau ketahui?”


“Si Ketua Jelek bilang kalau status tuan mereka lebih tinggi dariku. Yang Mulia, apa mungkin tuan yang mereka maksud adalah orang dalam istana?”


“Mungkin. Semua orang punya rahasia sendiri di sini. Anlan, mulai sekarang, berhati-hatilah terhadap orang yang tidak kau kenal, terhadap orang baru yang kau temui di istana ini. Kita belum bisa mempercayai siapapun.”


“Aku memang berencana melakukannya. Sejak awal, aku memang tidak pernah sembarangan mempercayai orang.”


“Kau percaya padaku?”


“Tentu. Meskipun kau seorang raja, kulihat Yang Mulia tidak memiliki motif untuk memusuhi atau membunuhku. Jika tidak, bagaimana mungkin Yang Mulia mau repot-repot keluar istana dan mencariku sampai sejauh itu?”


Apa dia sedang memujiku? Tanya Long Ji Man dalam hati.


Telinga pria itu memerah dan hidungnya mengembang. Melihat reaksi Long Ji Man yang malu, Li Anlan sungguh ingin tertawa. Long Ji Man yang seperti ini terlihat lucu dan menggemaskan. Pria itu seperti seorang anak kecil yang dipuji orang dewasa karena kemampuannya yang baru menonjol.


Tidak ada yang menyadari kalau mereka berdua yang sedang duduk berhadapan sambil mengobrol sudah sama persis seperti sepasang suami istri dan sepasang tuan besar – nyonya besar di kediaman-kediaman besar yang hidupnya harmonis. Mereka seperti sepasang kekasih yang dihiasi kisah percintaan tidak terlalu romantis namun hangat. Interaksi sederhana yang terhubung antar keduanya membuat Li Anlan dan Long Ji Man terlihat seperti pasangan yang serasi.


“Yang Mulia, apa aku boleh kembali sekarang?”


“Oh. Ya, tentu. Kembalilah.”


“Terima kasih atas tumpangan tidurnya! Yang Mulia, kau berhutang tiga pulu tael emas padaku!”


Li Anlan pamit pergi. Xiao Biqi yang sedang berjaga di teras Istana Hongwu menunduk memberi hormat saat Li Anlan keluar, kemudian masuk ke dalam untuk membantu Long Ji Man membersihkan diri. Hari ini hari libur, jadi rajanya punya banyak waktu luang dan bisa sedikit bersantai.


Xiao Biqi terheran-heran karena saat ia masuk ke ruang tidur raja, Long Ji Man tengah duduk di kursi sambil tersenyum-senyum. Tidak biasanya rajanya seperti ini. Saat bangun tidur, biasanya langsung berekspresi datar atau dingin, tapi pagi ini sangat berbeda. Tampaknya, Permaisuri Bangsawan yang baru saja pergi sudah membuat rajanya memiliki suasana hati yang baik.


...***...