The Little Consort

The Little Consort
Eps. 48: Li Anlan Juara Bertahan


“Guifei, apa benar yang Selir An katakan?”


Sekali lagi Long Ji Man bertanya pada Xu Lingshu. Semua orang yang ada di dalam ruangan itu mengalihkan perhatian dari Li Anlan pada Xu Lingshu. Sejak wanita itu mengatakan bahwa Li Anlan mendorongnya, orang-orang di sini sudah mulai kehilangan kepercayaan padanya.


Orang-orang di sini tentu saja tidak semuanya bodoh, tidak semuanya akan percaya dengan kata-kata seorang wanita, apalagi ia seorang selir. Orang-orang juga tahu seperti apa keadaan di dalam harem. Selain sarang rubah, para penghuni Istana Belakang hanya terdiri dari sekumpulan wanita manipulatif yang pintar mengarang cerita.


“Ti-Tidak Yang Mulia! Itu tidak benar!” tegas Xu Lingshu.


“Kalau begitu, dari mana kau tahu kalau aku menggoda Yang Mulia?” tanya Li Anlan lagi.


“Itu… Pelayan! Pelayanku yang mengatakannya!”


“Yoo. Seorang selir utama percaya pada perkataan pelayan kecil? Guifei, mengapa kau sangat mudah diprovokasi? Bagaimana jika pelayan itu mengatakan hal-hal tidak masuk akal dan membohongimu?”


“Tidak mungkin!”


“Guifei, kau tidak akan berbohong di hadapan Yang Mulia Raja, bukan?”


Baik Ibu Suri maupun Long Ji Man, keduanya masih sama-sama menyaksikan pertarungan dua orang wanita di hadapan mereka. Pasangan ibu dan anak itu masih setia menunggu siapakah yang akan keluar sebagai pemenang, dan siapakah yang akan kalah sebagai pecundang. Hati mereka masing-masing menyebutkan satu nama.


Jika Xu Lingshu benar-benar memata-matai Istana Hongwu, Long Ji Man tidak akan segan-segan mengambil tindakan. Mengintai istana pribadi raja adalah pelanggaran berat. Xu Lingshu bisa kehilangan status dan gelarnya jika ketahuan telah melakukan pengintaian terhadap rumah pribadi raja, meskipun raja adalah suaminya sendiri. Di sini, pagar pembatas antara suami dan istri sangat nyata dan tampak dengan jelas di depan mata.


“Ampuni aku karena telah mempercayai perkataan pelayanku, Yang Mulia,” ucap Xu Lingshu sambil menunduk.


Babak akhir dari perdebatan ini dimenangkan Li Anlan. Orang-orang yang bersimpati bersorak ramai. Mereka baru saja menyaksikan pertunjukan yang sangat bagus. Perjamuan tahun ini benar-benar telah memberikan kesan yang berbeda. Mereka sungguh tidak menyangka, seorang selir terbuang yang bahkan belum pernah berjumpa dengan raja sejak masuk istana mampu mengalahkan seorang selir utama, yang latar belakang keluarganya kuat dan berkuasa.


Long Ji Man menghela napas lelah. Dia jelas marah. Tapi, sebagai seorang raja, dia tidak bisa sembarangan menumpahkan amarahnya. Pria itu menatap Xu Lingshu dengan dingin. Tindakan Xu Lingshu kali ini benar-benar sudah kelewatan. Dia berani menjebak Li Anlan di hari kemunculannya ke publik.


Jika yang bertengkar dengan Xu Lingshu adalah orang lain, Long Ji Man tidak akan peduli. Saat rumor menyebar tentang perkelahian para selir, Long Ji Man cukup memberikan kompensasi pada selir yang teraniaya. Dengan begitu, selir teraniaya akan menutup mulut dan kembali senyap, menjalani hidup mewah dan menyenangkan di dalam istana masing-masing. Tapi, jika yang bertengkar dengan Xu Lingshu adalah Li Anlan, Long Ji Man tidak bisa tinggal diam. Dia tidak rela jika ada seseorang yang mengganggu Li Anlan selain dirinya.


“Sudahlah. Kita lanjutkan perjamuannya,” ucap Ibu Suri Han Yuemei.


Orang-orang yang tadi riuh sekarang kembali ke tempat duduk masing-masing. Hidangan enak tersaji di depan mata, begitu menggoda hingga membuat lidah bergoyang-goyang. Tapi, Li Anlan justru masih berdiri. Sikapnya tentu saja mengundang tanya dari Long Ji Man dan beberapa orang yang berada di seberangnya.


“Yang Mulia, karena masalah sudah selesai, aku mohon pamit.”


Li Anlan berjalan mundur tiga langkah, lalu membalikkan badan. Perasaannya sudah sangat kacau hari ini. Dia tidak hanya kesal, tapi marah, emosi, dan terasa ingin mencabik-cabik objek apapun yang ada di depannya. Sayang sekali sekarang ia sedang berada di istana orang lain.


“Selir An, kau mau ke mana?” cegat Long Ji Man.


Langkah Li Anlan terhenti.


“Yang Mulia, bukankah permasalahannya sudah selesai? Tolong, jangan menahanku di sini, aku sungguh tidak bersalah,” ujar Li Anlan dengan nada yang dibuat se-memelas mungkin.


“Kembali ke tempatmu!”


“Yang Mulia, aku mempunyai urusan yang mendesak. Izinkan aku meninggalkan tempat ini.”


“Tidak.”


“Yang Mulia, kumohon.”


“Kubilang kembali ke tempatmu!”


Sebelum ia memutuskan, Li Anlan melihat keadaan di sekitarnya terlebih dahulu. Di sini terlalu banyak orang. Jika ia pergi secara terang-terangan, orang-orang itu pasti akan membicarakannya lagi. Li Anlan bisa-bisa dianggap sebagai wanita tidak tahu malu jika ia pergi sekarang. Li Anlan tahu, hati orang-orang ini sangat labil seperti seorang remaja.


Akhirnya, Li Anlan terpaksa kembali ke tempat duduknya. Melihat Li Anlan menjadi patuh, hati Long Ji Man bersorak. Setidaknya, dia masih bisa menahan Li Anlan sebentar lagi di sini sampai perjamuan selesai. Setelah ini, dia berencana untuk menanyakan sesuatu yang penting pada wanita itu.


Permaisuri Jin atau Han Jinxi yang duduk di sampingnya tersenyum manis. Senyumnya melebihi manisan madu di musim semi. Lesung pipitnya terbentuk. Wajah putihnya bersinar, berseri seperti wajah seorang peri cantik di negeri dongeng. Wanita pendamping resmi raja itu menatap Long Ji Man dengan lembut.


“Ada apa, Permaisuri Jin?” tanya Long Ji Man.


Sebelum menjawab, Permaisuri Jin melebarkan senyumnya.


“Ini pertama kalinya aku melihat kau tidak marah saat seseorang bertingkah tidak sopan padamu.”


Ya, ini memang pertama kalinya ia melihat suaminya tidak marah saat seseorang bertingkah tidak sopan padanya, apalagi itu seorang wanita. Selama ini, Han Jinxi sering menyaksikan Long Ji Man marah dan menghukum orang-orang saat ia merasa tersinggung atau karena perilaku yang kurang sopan padanya. Saat menyaksikan perdebatan tadi, Han Jinxi tidak pernah melepaskan pandangannya pada Li Anlan. Dia merasa putri mendiang Tuan Bangsawan Li Han sedikit berbeda dengan para wanita yang ada di istana harem.


“Itu hanya perasaanmu saja.”


“Benarkah?”


“Makanlah agar kesehatanmu segera membaik.”


Netra Li Anlan menangkap pemandangan yang begitu langka di depannya. Interaksi antara Long Ji Man dan Han Jinxi sungguh menarik perhatiannya. Dia melihat dengan jelas saat Han Jinxi tersenyum begitu manis pada Long Ji Man. Li Anlan juga melihat dengan jelas sikap Long Ji Man pada wanita itu. Wajah berseri, tidak dingin seperti es batu, tidak kaku, dan seperti seseorang yang sedang jatuh cinta, tampak jelas di diri Long Ji Man. Ini pertama kalinya Li Anlan melihat pria itu bersikap begitu lembut dan ramah pada seorang wanita!


“Wah, benar-benar sepasang naga dan phoenix sejati,” puji Li Anlan tanpa sadar.


“Nyonya, kau tidak cemburu?”


Li Anlan mendelik pada Xie Roulan yang berdiri di belakangnya.


“Untuk apa aku cemburu?”


“Yang Mulia dan Permaisuri Jin, mereka sangat mesra.”


“Dia kan seorang raja, Han Jinxi adalah seorang permaisuri. Apa yang salah dengan itu?”


Xie Roulan pasrah dengan menggelengkan kepalanya. Dia pikir, setelah semua yang majikannya lalui bersama raja, hatinya bisa tergerak untuk memikirkan kalau raja harus menjadi miliknya. Xie Roulan pikir Li Anlan akan mulai menyukai Long Ji Man setelah keduanya melalui banyak hal di dalam dan di luar istana. Nyatanya, majikannya ini benar-benar tidak memiliki ambisi dan tidak berminat pada hal-hal menjemukan seperti ini.


Tapi, seperti ini juga bagus. Xie Roulan tidak akan khawatir nyonyanya disakiti dan ditindas oleh selir lain lagi. Jika majikannya terlibat permasalahan harem, hidupnya tidak akan aman. Apalagi, di istana yang luas tapi sepi ini, Li Anlan tidak punya siapapun yang bisa dijadikan sandaran atau kekuatan saat posisinya melemah dan hidupnya terancam hilang. Xie Roulan lebih suka majikannya hidup tenang di Istana Xingyue tanpa diganggu siapapun.


Perjamuan makan sudah selesai. Kegiatan di dalam istana Ibu Suri Han Yuemei dilanjutkan dengan jamuan teh yang diracik oleh masing-masing. Alat-alat untuk meracik seperti teko air panas, cangkir, teh, gula, dan beberapa bahan herba yang biasa ditambahkan ke dalam teh tersedia di setiap meja.


Meskipun Li Anlan tidak pernah belajar seni membuat teh, tapi dia pernah belajar teknik membuat dan menyajikan kopi dari seorang teman yang berprofesi sebagai barista. Teh dan kopi pada dasarnya sama, yakni sama-sama diseduh menggunakan air panas. Li Anlan bisa menggunakan teknik menyeduh kopi yang ia pelajari untuk menyeduh segelas teh, sekalian bereksperimen. Dia ingin tahu sejauh mana dia dapat menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang belum pernah ia gunakan selama ini.


Setiap orang yang diperintahkan untuk menyeduh teh diberikan batas waktu. Jika tidak berhasil membuat teh yang enak dalam waktu yang sudah ditentukan, mereka yang gagal akan mendapat rasa malu yang luar biasa, karena kalah di depan orang-orang terpandang. Yang paling parah, mereka akan merasa tidak berguna karena tidak berhasil mengerjakan sesuatu yang kecil di hadapan Ibu Suri dan Raja.


Saat waktu sudah berjalan setengahnya, Li Anlan sudah menyelesaikan pekerjaannya. Segelas teh hangat yang ia racik sudah tersaji di atas meja. Li Anlan memandang ke sekeliling. Kebanyakan orang masih berusaha, mengaduk, menumbuk, bahkan ada yang menimbang-nimbang takaran agar rasa tehnya bisa pas dan enak.


Xu Lingshu juga sudah selesai melakukan pekerjaannya. Dia memandang Li Anlan yang sedang mengedarkan pandangan ke segala arah. Dalam beberapa detik, wanita itu langsung tahu kalau Li Anlan selesai lebih cepat dari dirinya. Perlahan, rasa iri dan kesal di hatinya menjalar kembali. Tiba-tiba muncul keinginan untuk menjatuhkan Li Anlan sekali lagi.


“Yang Mulia, aku sudah selesai!” seru Xu Lingshu. Teriakannya membuat orang-orang yang sedang fokus menghentikan aktivitas mereka.


“Guifei memang berbakat!” puji Ibu Suri.


“Bawa kemari. Biarkan aku mencicipinya.”


Xu Lingshu beranjak dari tempat duduknya dengan membawa secangkir teh yang ia racik. Sebelum sampai kepada Ibu Suri, tepatnya beberapa langkah di depan singgasana, dia menghentikan langkahnya, lalu menoleh pada Li Anlan yang sedang memandangnya dengan datar. Xu Lingshu lantas berkata,


“Yang Mulia, Selir An sepertinya juga sudah selesai. Bagaimana jika Yang Mulia juga mencicipinya dan membiarkan dia bergabung bersamaku?”


Li Anlan tentu saja terkejut. Dia pikir, perkelahiannya sudah berakhir beberapa saat lalu. Rupanya, Xu Lingshu ini pendendam juga. Dia belum puas dengan hasil bahwa Li Anlan yang menjadi pemenang, hingga rubah betina itu berusaha menjebaknya kembali. Li Anlan tahu niatan hati Xu Lingshu. Rubah itu ingin mempermalukan dirinya!


“Tidak, Yang Mulia. Aku membuatnya dengan asal karena aku tidak pandai. Sungguh, sangat tidak enak dan tidak pantas,” tolak Li Anlan.


“Bagaimana Yang Mulia akan tahu rasa tehmu jika dia tidak mencobanya?”


Li Anlan sungguh ingin memukul dan menenggelamkan wanita itu ke Danau Houchi sekarang juga. Mengapa Xu Lingshu sangat sulit dihadapi? Tidak bisakah Xu Lingshu melepaskannya hari ini saja?


Akhirnya, Li Anlan bangkit dari tempat duduknya. Dia berjalan melewati beberapa barisan sambil membawa secangkir teh hasil racikannya. Sekarang, posisi tubuhnya sejajar dengan Xu Lingshu. Dua wanita kepunyaan raja berjalan bersama menuju meja Ibu Suri Han Yuemei. Namun, saat tiga langkah terakhir, Xu Lingshu berhenti hingga posisi tubuhnya agak ke belakang.


Pikiran licik wanita itu mulai berjalan. Dia menginjak ujung hanfu Li Anlan yang menjuntai. Li Anlan hampir terjengkang karena merasa ujung pakaiannya ditarik paksa. Tubuhnya mulai goyah. Selangkah lagi, dia akan sampai pada meja Ibu Suri. Jika ia jatuh sekarang, teh yang ia bawa akan tumpah ke depan. Kemungkinan besar akan menyiram pakaian Ibu Suri. Lebih parahnya lagi, air teh yang panas itu mungkin akan mengenai wajah Ibu Suri.


Wanita bodoh, batin Li Anlan.


Li Anlan segera memutar tubuhnya dengan sudut putaran seratus delapan puluh derajat, hingga posisinya sekarang membelakangi meja Ibu Suri dan menghadap Xu Lingshu. Dua wanita itu kini saling berhadapan. Dengan tempo yang sangat singkat seperti kedipan mata, teh di tangan Li Anlan tumpah membasahi pakaian indah Xu Lingshu. Bahkan, teh panas itu juga mengenai kulitnya.


Xu Lingshu yang terkejut tidak bisa menghindar. Dia tanpa sadar membuka mulutnya lebar-lebar saat bajunya terkena tumpahan teh. Cangkir di tangannya refleks terjatuh, airnya tumpah membasahi ujung hanfu Li Anlan yang sedang ia injak. Alhasil, teh yang masih panas itu juga mengenai kakinya. Xu Lingsu meloncat-loncat mundur, hingga posisi tubuhnya sedikit menjauh dari Li Anlan.


Tanpa sadar, kakinya yang meloncat-loncat menabrak meja Selir Shu atau Duanmu Shui. Karena kehilangan keseimbangan, tubuh Xu Lingshu jatuh menimpa Duanmu Shui. Teh di meja Duanmu Shui ikut tumpah, membasahi pakaian Xu Lingshu.


Li Anlan ingin sekali tertawa sekeras-kerasnya. Xu Lingshu sekarang seperti seekor kucing yang disiram air. Melihat Xu Lingshu dan Duanmu Shui bertumpuk seperti tumpukan karung berisi beras, Li Anlan sungguh tidak bisa menahan tawa lebih lama. Dia menutup mulutnya dengan tangan.


“Ups, guifei, kau baik-baik saja?”


...***...


Note: setelah ini, kehidupan Li Anlan akan menemui babak baru:)