
Long Ji Yu mulai menyadari kalau kedua orang ini sedang mengulur waktu. Long Ji Yu semakin mendekatkan pedangnya ke leher Li Anlan. Tetapi, tanpa dia duga, terjadi keributan di luar sana. Suara senjata yang beradu bergema memenuhi udara. Dia mengalihkan pandangannya ke luar. Beberapa orang bawahan rahasianya tampak sedang bertarung dengan beberapa orang asing.
Selagi lengah, Li Anlan menyikut perut Long Ji Yu hingga pria itu meringis dan melepaskan pedangnya. Kesempatan bagus seperti itu dia gunakan untuk melepaskan diri. Li Anlan berlari ke arah Long Ji Man, kemudian berdiri di belakang tubuh kekar pria itu sambil mengintip ke depan.
Long Ji Yu menggeram kesal. Dia ceroboh karena perhatiannya teralihkan sesaat. Sekarang, satu-satunya pilihan yang dapat dia lakukan adalah berhadapan langsung dengan keponakannya, bertarung satu sama lain. Long Ji Yu mengangkat pedangnya, begitu pula Long Ji Man. Pertarungan ini tidak akan bisa dihindari lagi. Sekali terjadi, maka terjadi. Salah satu dari keduanya harus mati atau menyerahkan diri.
“Huang An, larilah!”
“Bagaimana bisa? Yang Mulia, aku tidak mau melarikan diri lagi!”
“Ini sangat berbahaya!”
“Aku tidak peduli. Kalau kau mati, maka aku juga akan mati!”
“Huang An, kumohon pergilah!”
“Yang Mulia, bukankah kau bilang kau mencintaiku? Lalu bagaimana kau bisa membiarkanku pergi seorang diri sementara kau bertarung antara hidup dan mati di sini?”
Sambil tetap waspada, Long Ji Man kembali menyuruh Li Anlan untuk segera pergi. Di luar, suara ribut dari pertarungan pasukan Long Ji Yu dengan orang tidak dikenal semakin nyaring. Bau darah tercium terbawa angin. Anyir, udara di sekitar Wisma Gunung Feiyun sangat anyir!
“Sungguh pasangan suami istri yang sangat harmonis!”
“Hei tua bangka, kau masih ingin hidup atau tidak?” ucap Li Anlan kesal.
“Baiklah, kalau begitu kalian berdua mati saja!”
Long Ji Yu melompat ke arah Long Ji Man. Pedangnya tertahan oleh pedang Long Ji Man. Dalam sekejap, pertarungan antara keponakan dan paman berlangsung seru. Keduanya sama-sama kuat. Baik Long Ji Yu maupun Long Ji Man sama-sama memiliki kemampuan bertarung yang luar biasa.
Pedang Long Ji Yu berkali-kali menyasar tubuh Li Anlan. Untung saja, Long Ji Man bergerak cepat. Tangannya dengan tangkas menangkis setiap serangan yang mengarah pada Li Anlan dan pada dirinya sendiri. Pamannya seperti orang kesetanan, menyerang dengan brutal dan kasar ke segala arah. Bagian lengan kanannya sudah terluka akibat sabetan pedang dari Long Ji Man.
Dalam situasi yang kacau dan menegangkan, Long Ji Man tidak dapat lagi mengenali lawan yang ada di depannya. Tidak pedui jika dia harus membunuh paman kandungnya sendiri, dia tidak boleh kalah. Nasib Kerajaan Dongling dan nasib hidup keluarganya berada di tangannya. Dialah penentu kehidupan itu sekarang.
“Yang Mulia, hati-hati!”
Li Anlan memperingatkan suaminya tentang serangan acak yang dilakukan Long Ji Yu. Kedua orang kesatria Dongling yang berbeda jalan ini benar-benar sangat kuat. Sudah hampir satu jam berlalu, tapi pertarungan belum menunjukkan siapa yang akan menang atau kalah. Pertarungan benar-benar imbang.
Di luar Wisma Gunung Feiyun, puluhan orang bertarung mati-matian. Dari dua kubu, satu kubu sudah tampak akan mundur. Jumlah mereka memang tidak seimbang. Pasukan Long Ji Yu, meskipun sedikit tetapi kemampuannya tidak bisa diremehkan. Mereka pasukan terlatih dengan kemampuan terbaik. Mereka adalah pasukan berani mati yang disiapkan Long Ji Yu selama bertahun-tahun.
“Anlan! Kau di dalam?”
Suara pria yang sangat familiar terdengar memanggil namanya. Selagi Long Ji Man dan Long Ji Yu bertarung, Li Anlan mengintip sebentar ke luar melalui jendela. Di sana, di bawah pohon wisteria yang sedang meranggas, dia melihat kakaknya, Li Afan berdiri dengan tegap sambil memegang sebuah pedang. Tidak ada lagi tampilan pria cantik yang melekat.
“Kakak? Apa yang kau lakukan di sini?”
“Apa aku datang terlambat? Aku datang untuk menyelamatkanmu,” seru Li Afan sambil menangkis satu persatu serangan yang datang kepadanya.
“Kakak, kau bisa bertarung? Siapa mereka?”
“Ah, itu tidak penting. Mereka adalah pasukan khusus keluarga Bangsawan Li.”
Li Anlan sungguh tidak menyangka kalau dia memiliki pasukan keluarga sekuat ini. Kakaknya yang cantik dan gemulai seperti seorang wanita ternyata memiliki kekuatan besar yang tersembunyi. Ini adalah suatu keajaiban yang bagus! Dengan adanya bantuan pasukan keluarga Bangsawan Li, pertempuran ini pasti akan dimenangkan oleh raja!
Li Anlan terpekik saat tubuh Long Ji Yu terlempar keluar dari dalam ruangan Wisma Gunung Feiyun. Kayu-kayu yang menjadi tembok pondok runtuh akibat benturan keras yang dihasilkan dari tabrakan antara tubuh Long Ji Yu dengan kayu-kayu itu. Sudut bibirnya berdarah dan sekujur tubuhnya dipenuhi luka sayatan dan darah.
Tidak lama setelah itu, Long Ji Man keluar. Dia juga memiliki banyak luka di sekujur tubuhnya. Napasnya memburu. Tanpa jeda, Long Ji Man langsung menyerang Long Ji Yu yang baru saja bangkit. Suara pedang beradu berdenting dengan keras. Perang kecil ini, meksipun hanya berlangsung di dalam hutan, sudah hampir menyerupai perang di medan yang sesungguhnya. Pasukan keluarga Bangsawan Li bertarung dengan sengit melawan pasukan Long Ji Yu.
Lama kelamaan, stamina tubuh pasukan Long Ji Yu menurun. Mereka banyak yang tumbang akibat pertempuran dalam durasi panjang yang tidak berkesudahan. Tangan, leher, kaki, dada, bahu, perut, hampir tidak ada yang utuh. Darah berceceran di mana-mana dan bau anyir begitu menyengat. Melihat adegan kekerasan yang kian mengerikan, Li Anlan hanya bisa terdiam. Sepanjang hidupnya, inilah adegan pembunuhan yang paling panjang dan paling sadis yang pernah ia saksikan. Ia mengerti, hukum rimba berjalan sesuai dengan zaman. Siapa yang kuat, maka dia yang akan menang. Yang lemah akan kalah dan berakhir di pemakaman.
Menyaksikan kakak dan suaminya bertarung mati-matian, keberanian Li Anlan naik berkali lipat. Dengan sebuah pedang bekas pasukan yang sangat berat, dia maju dan menyerang secara membabi-buta. Banyak pasukan Long Ji Yu yang terkena sabetan pedangnya. Napas Li Anlan tersengal-sengal dan tangannya sedikit kram. Pakaiannya selain kotor karena debu, juga kotor karena percikan darah.
Li Anlan tiba-tiba melihat seseorang hendak menyerang Long Ji Man dari belakang. Li Anlan melemparkan pedangnya, kemudian mengambil busur dan anak panah yang entah datang dari mana. Tali busurnya direntangkan, kemudian tiga buah anak panah yang tajam melesat membelah udara. Anak panah yang tajam itu mengenai punggung si penyerang. Menyadari ada yang tidak beres, Long Ji Man berbalik. Si penyerang sudah terkapar tak bernyawa dengan tiga anak panah menancap di tubuhnya.
Dia melirik Li Anlan dengan napas yang memburu. Wanita itu menyelamatkannya sekali lagi. Sekarang, dia harus memenangkan pertarungan ini. Long Ji Man kembali menyerang Long Ji Yu. Dua pria yang sama-sama gagah itu kembali bertarung beradu kemampuan.
Tepat pada saat Long Ji Yu hendak menghunuskan pedang ke dada Long Ji Man, sebuah anak panah melesat menusuk kakinya. Long Ji Yu terduduk, pedang di tangannya terjatuh begitu saja. Melihat pemimpinnya berlutut, pasukan Long Ji Yu langsung panik. Mereka lari pontang-panting menyelamatkan diri. Peluang untuk menang sudah hilang. Tidak ada gunanya jika mereka terus membuang tenaga melawan pasukan keluarga Bangsawan Li yang kuat.
Pasukan keluarga Bangsawan Li kemudian mengerubungi Long Ji Yu sambil mengarahkan ujung pedang mereka. Penjahat itu sudah terkepung, ruang geraknya sudah sangat sempit. Dia tidak bisa berdiri, tubuhnya yang dipenuhi luka menimbulkan rasa sakit luar biasa yang baru dia rasa dan baru dia sadari. Long Ji Yu menghela napas panjang.
“Mengapa? Mengapa aku kalah semudah ini?”
Long Ji Man tidak mempedulikan perkataan paman jahatnya. Dia melihat ke belakang. Li Anlan berdiri sempoyongan sambil tersenyum. Tangannya bergetar memegang busur yang baru saja dia gunakan untuk melumpuhkan Long Ji Yu.
“Yang Mulia, kita menang….”
Wanita itu langsung rubuh ke tanah. Seluruh tubuhnya terasa lemas dan tidak bertenaga. Pandangannya memburam. Kesadarannya perlahan hilang. Dia sama sekali tidak mampu menggerakkan seluruh tubuhnya. Peperangan kecil ini begitu mengerikan dan membuat jiwanya terguncang.
“Huang An!”
“Anlan!”
Long Ji Man dan Li Afan langsung menangkap tubuh Li Anlan yang rubuh. Luka-luka sayatan di tubuh wanita itu sangat banyak. Kepalanya terkulai, matanya terpejam rapat. Long Ji Man menahan kepala istrinya di tangannya. Wajahnya yang kotor berubah panik. Pertempuran sudah usai, tetapi wanita ini malah kehilangan kesadaran diri.
Tidak lama setelah itu, pasukan utama kerajaan yang diperintahkan berpencar oleh Long Ji Man datang. Mereka terlambat. Pasukan Long Ji Yu yang tersisa berada di bawah kurungan pasukan keluarga Bangsawan Li. Para prajurit itu menyesal karena mereka tidak bisa membantu raja mereka bertarung hingga harus membuat pasukan keluarga Bangsawan Li turun tangan.
“Tahan mereka! Sisanya ikut aku kembali ke istana!”
Long Ji Man menggendong tubuh Li Anlan. Setelah naik ke atas kuda, dia langsung memecut kudanya hingga kuda itu berlari menuruni Gunung Feiyun. Li Afan menyusulnya dari belakang. Sementara itu, Long Ji Yu digiring ke penjara istana dalam keadaan terluka dan seluruh tubuh terikat tali. Pasukan keluarga Bangsawan Li yang tidak punya urusan lagi langsung membubarkan diri. Sisa-sisa kekacauan bekas pertarungan dibereskan oleh pasukan utama kerajaan.
Di halaman belakang Istana Hongwu, Xiao Biqi, Xie Roulan, Ibu Suri Han Yuemei dan pelayannya sudah menunggu dengan harap-harap cemas. Hari sudah hampir malam, tetapi raja dan Permaisuri Bangsawan tak kunjung kembali. Wajah mereka mulai menampilkan sedikit warna saat pintu gerbang belakang halaman itu terbuka.
Long Ji Man menggendong tubuh Li Anlan dan berjalan secepat mungkin. Tampilan keduanya acak-acakan dan darah memenuhi pakaian. Di belakang mereka, Li Afan turun dari kuda dan menyusul. Ibu Suri Han Yuemei tampak terkejut melihat orang yang disebut kembaran menantunya berubah menjadi seorang laki-laki yang gagah.
“Putraku, apa yang terjadi pada menantuku?” tanya Ibu Suri Han Yuemei cemas.
“Dia hanya terkejut. Biqi, cepat bawa Tao Zhun kemari!”
“Baik, Yang Mulia.”
Long Ji Man meletakkan tubuh lemah Li Anlan di tempat tidurnya. Setelah menyuruh Xie Roulan membawakan baju ganti, Long Ji Man mengganti pakaian Li Anlan dengan tangannya sendiri, sama seperti saat wanita itu baru diangkat dalam keadaan tak sadarkan diri dari dalam Danau Houchi. Long Ji Man tidak ingin lagi kehilangan. Dia tidak mau melihat Li Anlan yang dicintainya kembali berada di ambang kematian seperti beberapa waktu lalu. Dia harus selamat, wanita itu harus selamat!
***