The Little Consort

The Little Consort
Eps. 52: Tugas Pertama


Istana Xingyue, pagi hari.


Li Anlan mendapatkan kembali barang-barang modernnya. Betapa senangnya ia ketika melihat ponsel, kamera, teropong, ransel gunung beserta isinya yang sangat ia sayangi kembali ke tangannya. Selama beberapa minggu ini, hidupnya terasa hampa tanpa keberadaan benda-benda itu. Hari-harinya berjalan lambat dan biasa.


Lalu bagaimana hari-harinya bersama Long Ji Man?


Li Anlan adalah wanita dewasa yang tidak pernah mengikat diri dalam hubungan asmara. Dalam dua puluh tiga tahun kehidupannya di dunia, dia tidak pernah menemui arti dari kata tersebut. Li Anlan bergaul dan berteman dengan siapa saja tanpa membedakan status dan pekerjaan. Semua orang yang ia temui ia anggap sebagai saudara. Dia punya banyak teman lelaki yang mapan dan tampan, tapi tidak ada satu orang pun yang berhasil menggerakkan hatinya. Wanita itu terlalu kaku dalam percintaan dan terlalu bebas untuk kehidupan seorang wanita.


Bersama Long Ji Man, dia memang merasa nyaman. Meskipun Long Ji Man menyebalkan dan terkadang bersikap dingin, tapi dia punya sisi yang tidak pernah Li Anlan temukan pada diri teman-temannya di dunia modern. Long Ji Man adalah sosok pria kharismatik yang penuh dengan misteri. Mungkin karena latar belakangnya sebagai seorang raja dan mewarisi darah bangsawan murni, hingga pria itu terlihat seperti giok langka yang berharga.


Long Ji Man memang tampan. Tapi, Li Anlan belum merasakan apapun. Dia hanya merasa nyaman saat dia berada di sisi lelaki itu, meskipun berada dalam bahaya sekalipun. Li Anlan belum terbiasa berada di dunia ini, hingga ia dituntut untuk selalu waspada pada setiap orang, termasuk Long Ji Man. Perempuan pendaki gunung itu tidak bisa sepenuhnya percaya pada raja yang menjadi suami sekaligus majikannya, yang memberinya uang dan gaji setiap bulan.


Tapi, Li Anlan tidak dapat mengingkari kalau perlahan, hatinya mulai merasakan sesuatu yang aneh. Bersama pria itu sepanjang waktu sedikit demi sedikit telah meluluhkan tembok es besar di dalam hatinya yang beku. Saat dia melihat pria itu terluka karena penyerangan tempo hari, secara tiba-tiba rasa khawatir dan takut menjalari hatinya.


Li Anlan penakut terhadap pembunuh, tapi membiarkan orang yang ia kenal di dunia ini mati sia-sia bukanlah tujuan akhir dari perjalanannya. Li Anlan masih harus hidup dengan baik di sini, sampai tiba saatnya ia bisa pulang ke dunia modern, itu pun jika bisa. Jadi, Li Anlan tidak bisa membiarkan orang itu terluka atau berada dalam bahaya.


Dia mungkin telah menjadi seorang pembunuh. Tetapi, melenyapkan nyawa orang karena keadaan terdesak dan untuk menyelamatkan diri adalah sesuatu yang legal. Jika tidak melawan, maka nyawa sendirilah yang melayang.


Hari itu, saat Li Anlan merenung di bawah pohon persik sambil memandangi kedua tangan yang telah melesatkan anak panah pada sejumlah pembunuh, Long Ji Man datang menenangkannya. Li Anlan bersyukur dan sangat berterima kasih karena pria itu berhasil meyakinkan dirinya bahwa dia tidak melakukan kesalahan sama sekali. Jika Long Ji Man tidak datang, dia mungkin akan selamanya menutup diri dan hidup bersembunyi lagi.


Li Anlan tidak mau berangan-angan tinggi. Dia membuang jauh semua pemikiran yang tidak masuk akal dan memilih untuk fokus dalam menjalankan peran barunya sebagai Permaisuri Bangsawan. Saat penobatan di Aula Taiji kemarin selesai, Long Ji Man memerintahkan bawahannya untuk membawa Li Anlan berkeliling sebentar di sekitar Istana Taiji dan Istana Shiyue, lalu dilanjutkan ke istana-istana lain. Hanya saja, Li Anlan menolak menginjakkan kaki di Istana Harem. Dia yang baru saja dinobatkan tentu saja tidak ingin menyakiti hati para selir yang sudah berada di istana ini lebih lama darinya. Dia tahu betul bagaimana hati para wanita milik raja.


Saat itu, dia kerepotan dengan kostum yang dikenakannya. Jubah resmi Permaisuri Bangsawan begitu panjang dan tebal hingga berlapis-lapis. Jubah itu juga panjang, hingga setiap ia berjalan, kakinya sering tersandung dan ekor jubahnya tersangkut sesuatu. Li Anlan benar-benar ingin menggunting jubah ini dan merubahnya menjadi stelan pendek tapi masih sopan dan menutupi tubuh.


Bagaimanapun, dia belum terbiasa dengan pakaian resmi seperti itu. Penderitaannya bertambah karena hiasan serta mahkota di kepalanya yang berat, hingga membuat lehernya sakit.


Lalu bagaimana dengan respon dari para penghuni istana yang lain?


Mereka memberikan respon yang beragam. Sebagian besar menunjukkan rasa heran dan kebingungan terhadap seorang wanita asing yang berpakaian mewah dan istimewa yang berjalan di sekitar komplek istana kerajaan. Sebagian lagi menunduk memberi hormat. Kebanyakan dari mereka yang menunduk memberi hormat adalah para dayang senior dan kepala pengurus istana, yang tentunya sudah hatam setiap perubahan dan peraturan yang ada di istana Kerajaan Dongling tempat mereka bernaung.


Li Anlan baru terbebas dari penderitaan itu setelah sore hari. Dia menahan lapar dan haus karena bawahan Long Ji Man yang mengajaknya berkeliling tidak memperbolehkan dia makan dan minum sebelum menyelesaikan tour kecilnya. Sembari berjalan mengikuti orang itu, Li Anlan berkali-kali mengutuk dan menyumpahinya dengan sumpah serapah.


Pagi ini, saat suara burung gelatik dedalu berkicau di dekat jendelanya, mata Li Anlan sudah terbuka. Dia sudah bangun sejak satu jam yang lalu, tapi masih berbaring di tempat tidurnya dalam posisi telentang. Seluruh tubuhnya terasa sakit. Tour kemarin membuat sendi-sendinya meradang. Li Anlan baru ingat bahwa ia sudah lama tidak berolahraga. Tubuhnya yang sakit pasti merupakan akibat dari sendi-sendinya yang kaku kembali.


Li Anlan memilih untuk bersantai sebentar lagi. Dia meraih ponselnya, lalu men-scroll layar dari kiri ke kanan dan dari atas ke bawah. Klik. Dia menekan aplikasi Candy Crush. Levelnya yang sudah mencapai ribuan terkunci. Sebelum memulai permainan, dia terlebih dahulu melakukan check in untuk mendapatkan booster tambahan.


Saat Li Anlan asyik bermain game, Xie Roulan tiba-tiba masuk dengan terburu-buru. Melihat ekspresinya yang panik, Li Anlan berasumsi bahwa pelayannya baru saja dikejar seseorang dan hendak melaporkan sesuatu.


“Nyonya, gawat!”


“Ada apa?”


“Gawat, Nyonya! Kasim Bi membawa seorang wanita ke istana kita dan memaksa masuk! Dua kasim dan para penjaga kita sedang berusaha menahan mereka di pintu gerbang!”


“Memangnya siapa yang dibawa Xiao Biqi?”


“Dia adalah Bibi Yang!”


“Siapa dia?”


“Bibi Yang adalah guru etika dan tatakrama istana! Nyonya, kau harus bersembunyi sekarang!”


Seketika Li Anlan langsung bangkit dari posisinya. Wajahnya berubah panik. Gawat! Wanita bernama Bibi Yang itu pasti utusan Long Ji Man. Dia pasti datang untuk mengajarinya! Tidak, Li Anlan tidak bisa menanggung penderitaan seperti itu. Li Anlan benci pelajaran seperti itu! Bermain game dan mendaki gunung lebih menyenangkan daripada belajar etika!


“Nyonya, cepat pergi! Aku akan menahan mereka!”


Li Anlan buru-buru turun dari tempat tidurnya. Wanita itu melemparkan ponselnya sembarang, lalu berlari menuju jendela. Jendela kertas itu ia buka kuncinya, lalu ia buka daun jendelanya. Udara segar dari halaman belakang Istana Xingyue berhembus menyapu wajah paginya.


“Nyonya Huang, Anda mau ke mana?”


Suara Xiao Biqi membuat Li Anlan menghentikan rencana melarikan diri. Kakinya menggantung sebelah di dekat pintu jendela, sebelah lagi masih menapak di lantai Istana Xingyue. Dia menoleh, lalu mendapati Xiao Biqi dan Bibi Yang berdiri tidak jauh dari tempatnya. Xie Roulan berdiri di belakang mereka sambil mengisyaratkan permintaan maaf karena tidak bisa menghentikan Xiao Biqi dan Bibi Yang.


Li Anlan tersenyum canggung. Dia seperti seekor kucing yang tertangkap basah mencuri ikan.


“Nyonya Huang, Yang Mulia sudah selesai bersiap sejak tadi. Dia sudah berangkat ke pengadilan beberapa saat yang lalu.”


“Lalu kenapa kau tidak mengikutinya? Kenapa kau malah kemari dan membawa wanita tidak menyenangkan itu?” tanya Li Anlan sambil menunjuk Bibi Yang.


“Aku datang untuk menjalankan perintah dari Yang Mulia.”


Li Anlan kembali tersenyum, senyum yang sangat dipaksakan.


“Aku tahu kemarin adalah penobatan. Kasim kecil, kenapa aku harus begitu sibuk hari ini? Tidak bisakah aku menikmati pagiku yang berharga ini?”


“Nyonya Huang, ini adalah tugas pertamamu sebagai Permaisuri Bangsawan.”


Li Anlan mendengus. Dia merutuki Long Ji Man keras-keras di dalam hatinya. Pria bermarga Long itu tetap tidak melepaskan dirinya dari aturan. Ya, Long Ji Man memang mengatakan bahwa dia membebaskan Li Anlan dari urusan harem, tapi tidak mengatakan bahwa dia akan melepaskannya dari aturan dan tatakrama. Li Anlan menyesal karena tidak teliti hingga melupakan hal ini dalam syarat yang diajukannya pada pria itu.


“Nyonya, silakan.”


“Tunggu! Biarkan aku membersihkan diriku dulu!”


Bibi Yang menunggu majikan barunya membersihkan diri. Bibi yang menjadi guru etika istana itu berwajah datar tanpa ekspresi. Sehari-hari, dia bisa mendidik hingga sepuluh orang putri, dan dengan kemampuannya yang cakap itu, dia dinobatkan sebagai guru etika terbaik di Kerajaan Dongling. Dalam mengajar, dia tidak pernah memberikan toleransi pada setiap kesalahan. Karena itulah, dia tidak pernah tersenyum dan terkesan sangat dingin.


Ketika Li Anlan selesai membersihkan diri, Bibi Yang langsung mengajari beragam etiket dan tatakrama wanita istana, mulai dari cara berjalan, menunduk, memberi hormat, membawa baki teh dan makanan, duduk, makan, minum, bahkan sikap saat menulis pun diajarkan. Bibi Yang juga mengajarkan cara bersikap dan berbicara saat berhadapan dengan para pejabat dan bangsawan yang ada di Kerajaan Dongling.


Setelah teorinya disampaikan, Li Anlan langsung disuruh praktek. Yang ia lakukan pertama kali adalah belajar cara berjalan seorang wanita bangsawan. Di pekarangan Istana Xingyue yang tidak terlalu besar, Bibi Yang meminta Li Anlan berjalan di atas batang bambu yang kecil dan panjang, dengan meletakkan dua buah mangkuk porselen di kedua bahu Li Anlan. Li Anlan harus berjalan tegak dan seimbang tanpa boleh menjatuhkan mangkuk porselen di bahunya. Jika terjatuh, Bibi Yang terpaksa menghukumnya dengan rotan.


Bukan Li Anlan namanya jika dia bisa bertahan lama dalam posisi menyebalkan itu. Sang Permaisuri Bangsawan sudah memecahkan sekitar sepuluh buah mangkuk porselen dan menendang bambu yang dipijaknya hingga bergeser. Dia juga berlari saat Bibi Yang hendak menghukumnya. Dua wanita itu sering berkejar-kejaran mengelilingi Istana Xingyue karena Li Anlan terus melarikan diri.


“Bibi Yang, kenapa kau sangat keras kepala?” tanya Li Anlan sambil berlari menghindari pukulan rotan Bibi Yang.


“Nyonya, Anda harus belajar dengan baik!”


“Aku bisa belajar sendiri. Kau tidak perlu menggunakan benda mengerikan itu untuk mengancamku!”


“Nyonya Huang, berhenti berlari! Seorang wanita istana tidak diperbolehkan berlari!”


“Omong kosong! Bagaimana jika bertemu pembunuh? Bibi Yang, kau harus masuk akal sedikit!”


Dari kejauhan, Long Ji Man berdiri sambil memperhatikan Permaisuri Bangsawannya berkejar-kejaran dengan Bibi Yang. Dia menggelengkan kepalanya. Li Anlan bukannya belajar dengan baik. Wanita itu malah membuat guru etika istana terhebat kesal dan marah setengah mati. Selama ini, belum ada satu orang pun yang bisa membuat Bibi Yang marah dan kesal hingga seperti itu.


“Dia memang wanita yang sangat berbeda.”


“Yang Mulia, kau ingin mengunjunginya?” tanya Xiao Biqi.


“Tidak. Biarkan dia tetap seperti itu.”


“Tapi, bagaimana dengan tujuanmu?”


“Kita lihat sampai mana Bibi Yang mampu menangani wanita itu,” tukasnya sambil berbalik pergi dari Istana Xingyue. Sepanjang perjalanan, Long Ji Man terus tersenyum tanpa henti.


...***...


...Pertanyaan untuk pembaca: Apakah Li Anlan mulai menyukai Long Ji Man atau sebaliknya? ...


...A. Anlan suka Ji Man...


...B. Ji Man suka Anlan...


...C. Anlan dan Ji Man saling memanfaatkan...


...D. Tidak ada jawaban yang benar...


...Boleh dijawab di kolom komentar atau di dalam hati ya, hihihi... ...