
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
****
Anjani menatap Rio yang tertidur di sebelah dirinya, ia sudah bertekat untuk pergi dari kehidupan Rio dan tak akan mengganggu kehidupan Rio.
"Tuan Rio bangun! Ada yang ingin saya bicarakan," gumam Anjani dengan pelan.
Rio mengerjapkan matanya dengan perlahan, ia menatap Anjani dengan datar. "Ada apa? Bisa tidak sih jangan menganggu saya?" ujar Rio dengan sarkas.
"S-saya ingin membicarakan hal penting, Tuan!"
"Apa?"
Drtt...drtt...
Saat ingin bicara ponsel Rio berbunyi yang membuat Anjani mengurungkan niatnya terlebih dahulu karena tak ingin menganggu Rio saat menerima telepon.
Rio mengambil ponselnya. Ia sangat malas ketika melihat nama mamanya lah yang tertera di ponselnya.
[Halo!] Sapa Rio dengan malas.
[Hiks...hikss... Rio tolong Mama dan adikmu!] ujar Agni di seberang telepon.
[Mama dan Clara kenapa?] tanya Rio dengan panik. Bagaimanapun Agni dan Clara adalah mama dan adik kandungnya walaupun keduanya sering membuat Rio kesal dan selalu memanfaatkan dirinya.
[Hiks... Mama dan Clara di penjara, Rio. Ini semua gara-gara Anjani dan Ferdians. Papa menuduh jika Mama dan Clara yang sudah membuat Rania dan Ferdians kecelakaan]
Rio terdiam mendengar penjelasan mamanya yang menangis. Rio merasa kasihan kepada mama dan adiknya tetapi bukankah dulu mereka yang sudah membuat Dewi meninggal? Dan sekarang tidak menutup kemungkinan jika mereka yang melakukan kejahatan ini lagi.
[Dulu mama Dewi juga Mama yang mencelakainya hingga dia meninggal dan menyebabkan hubungan saya dan Rania retak. Tidak menutup kemungkinan jika mama dan Clara juga melakukan hal yang sama terhadap Ferdians dan Rania. Jujur jika Ferdians yang meninggal saya ikut senang karena dengan begitu saya bisa mendekati Rania lagi tetapi jika Rania kenapa-napa saya tidak akan memaafkan Mama!]
[Kamu masih membela Rania? Sekarang cepat ke sini bebaskan Mama dan Clara! Adik kamu sudah ketakutan sejak tadi. Roby kabur, dia tidak mau bertanggungjawab dengan kecelakaan yang dia lakukan]
Rio mematikan sambungan teleponnya, ia menatap Anjani yang terdiam. Mungkin Anjani sakit hati dengan kata-katanya yang masih menginginkan Rania tapi Anjani tidak peduli.
"Saya harus pergi!" ujar Rio dengan tegas.
"Tuan tunggu sebentar!" ujar Anjani menahan Rio.
"Saya janji ini tidak akan lama!" ucap Anjani dengan cepat.
"Ada apa? Saya ingin menemui Rania di rumah sakit karena dia kecelakaan! Cepat katakan!"
"Ibu Rania masuk rumah sakit, Tuan?" tanya Anjani dengan terkejut.
"Iya! Cepat katakan apa yang ingin kamu bicarakan kepada saya," ujar Rio dengan dingin.
"Sesuai janji saya saat kita pertama kali menikah. Saya akan pergi dari kehidupan Tuan Rio dan tak akan menganggu Tuan lagi. Uang yang sudah mama minta ke Tuan sudah saya kirim ke rekening Tuan ya. Dan jika mama meminta uang lagi jangan anda kasih ya karena kita bukan siapa-siapa lagi," ujar Anjani dengan pelan.
"Ini surat cerainya sudah saya buat. Bisa Tuan talak saya sekarang? Saya tidak akan datang ke pangadilan supaya perceraian kita bisa di proses, walaupun saya sedang hamil. Jika di tolak oleh pengadilan nanti karena saya sedang hamil katakan saja jika ini bukan anak anda, Tuan. Katakan ini anak saya dengan lelaki lain," ujar Anjani dengan berusaha tegar di hadapan Rio walaupun dia ingin menangis sekarang tetapi yang terlihat Anjani tetap tersenyum di hadapan Rio.
"Tuan ayo terima surat ini! Saya tidak akan menahan anda pergi tapi tolong sekarang anda talak saya biar saya pergi dengan perasaan lega," ujar Anjani dengan pelan.
Rio menatap kertas yang diberikan Anjani. Tubuhnya mematung saat mendengar ucapan Anjani yang begitu dengan mudahnya keluar dari bibir Anjani.
"S-saya ceraikan kamu Anjani! Mulai sekarang kamu bukan lagi istri saya!" ujar Rio menatap wajah Anjani.
Anjani memejamkan matanya dengan tersenyum pedih. Anjani mengambil tangan Rio dan menciumnya dengan lembut.
"Saya pamit, Tuan! Terima kasih sudah mau membawa saya ke apartemen ini! Tolong jaga diri baik-baik, Tuan. Saya tidak pernah menyesal menikah dengan anda, Tuan. Untuk pertemuan kita yang terakhir saya ingin mengatakan sesuatu kepada anda jika saya mencintai anda, Tuan. Tapi saya akan berusaha menghilangkan perasaan saya ini," ujar Anjani dengan tersenyum.
Setelah berkata seperti itu Anjani mengambil kopernya yang memang sudah ia siapkan sejak kemarin. Ia tersenyum kepada Rio, senyum yang mengandung kesedihan yang amat mendalam. Bahkan senyuman itu membuat dada Rio sesak, ia merasa bersalah yang luar biasa terhadap Anjani. Tetapi bukankah ini kemauannya? Seharusnya Rio senang bukan malah merasa sedih seperti ini. Ada apa dengan dirinya.
"Selamat tinggal, Rio. Selamanya kamu akan menjadi sahabat kecilku yang aku sayangi walaupun kamu sendiri melupakan aku. Aku tidak kuat mengatakan ini karena mungkin kamu juga sudah melupakan pertemanan kita sewaktu kecil dulu, buktinya saat kita SMA di sekolah yang sama kamu tidak pengenali aku sampai sekarang kita dewasa dan menikah. Awalnya aku juga ragu jika kamu adalah Rio teman masa keciku tetapi ketika aku melihat foto kecil kamu, aku yakin jika itu kamu!"
"Selamat tinggal Lio!" ujar Anjani dengan tersenyum yang membuat tubuh Rio mematung. Rio seperti mengenal panggilan itu tetapi Rio lupa kapan panggilan itu tersemat untuk dirinya hingga tubuh Anjani sudah tidak terlihat pun Rio masih memikirkan panggilan itu.
Rio mencoba mengingat tetapi sepertinya ia belum bisa mengingat itu semua. Setelah itu Rio tersedar jika Anjani sudah pergi dari apartemennya.
"Baguslah jika kamu sudah pergi dari apartemen ini! Hidup saya lebih tenang karena tidak mendengar suara kamu! Haha pergi yang jauh Anjani," ujar Rio dengan tertawa tetapi entah mengapa ia menjadi sangat gelisah seakan hatinya tidak ingin Anjani pergi dari hidupnya.
***
Anjani melihat ke belakang, ia sudah menaiki taxi. Ia tersenyum dengan air mata yang menetes membasahi pipinya. "Selamat tinggal Lio. Lily pergi ya!" gumam Anjani dengan lirih memanggil namanya dengan sebutan Lily karena itu panggilan Rio untuk dirinya dulu.
"Kenapa Lio tidak mau memanggil Anjani? Kenapa harus Lily?" tanya Anjani kecil saat itu.
"Karena kamu suka bunga Lily jadi Rio panggil kamu Lily. Lily kamu mau berjanji sama Rio?" jawab dan tanya Rio kecil kembali.
Anjani kecil tersenyum. "Janji apa Lio?" tanya Anjani kecil dengan antusias.
"Kamu tidak boleh melupakan kita berdua ya walaupun Rio nanti pergi karena mama mau pindah. Saat kita dewasa nanti Lily harus menjadi istri dari Rio! Janji!?"
"Janji! Lily tidak akan melupakan Lio!"
"Rio janji tidak akan melupakan Lily!"
Jari kelingking mereka saling tertaut hingga keduanya tertawa bersama.
"Yeee..."
Anjani menyeka air matanya dengan kasar saat ia kembali mengingat percakapannya dengan Rio dulu.
"Nyatanya kamu sendiri yang melupakan aku, Rio. Kita memang menikah tapi sekarang kita sudah bercerai. Hiks..hiks... Kamu ingkar janji Rio!" gumam Anjani dengan terisak.
Anjani tidak bisa lagi membendung tangisannya, ia benar-benar terluka sekarang. Hanya tangisan yang mungkin akan membuat dirinya lega saat ini.
****
Anjani sudah mengirimkan pesan untuk Rania, ia ingin mengunjungi Rania sebelum dirinya benar-benar pergi. Ia merasa prihatin dengan Rania yang dengan setia menunggu Ferdians membuka mata.
"Bu, bagaimana keadaan pak Ferdians?" tanya Anjani dengan pelan.
"Alhamdulillah sudah membaik. Tapi sampai sekarang mas Ferdians belum mau membuka mata," jawab Rania dengan lirih.
"Sabar ya, Bu. Pak Ferdians pasti akan kembali kepada Ibu."
"Terima kasih!"
"Bu, kedatangan saya ke sini selain ingin menjenguk Ibu dan pak Ferdians, saya ingin pamit, Bu. Sudah saatnya saya pergi," ujar Anjani yang membuat Rania menatap Anjani dengan serius.
"Kamu yakin?" tanya Rania.
"Yakin, Bu. Terima kasih bantuannya selama ini. Saya tidak akan melupakan kebaikan Ibu," ujar Anjani dengan lembut.
"Jika ini keputusan kamu, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Jika kamu membutuhkan pekerjaan kembali hubungi saya saja ya!" ujar Rania dengan pelan.
"Iya, Bu!"
Anjani dan Rania saling berpelukan untuk terakhir kalinya.
"Saya pastikan Rio akan menyesal telah melepaskan wanita sebaik kamu," ujar Rania dengan tegas.
"Tidak apa-apa, Bu. Saya bukan wanita pilihannya. Saya sudah menerima takdir saya, Bu. Saya pamit ya, Bu. Semoga pak Ferdians cepat sadar dan bisa berkumpul kembali dengan Ibu dan keluarga," ucap Anjani dengan tulus.
"Iya, Hati-hati. Jika sudah sampai kabari saya," ujar Rania dengan tersenyum tipis.
Anjani tersenyum. "Baik, Bu. Sehat-sehat ya, Bu!"
"Kamu juga!"
Anjani kembali melangkah pergi yang membuat Rania menghela napasnya dengan berat. Ia sudah kehilangan sekretaris sekaligus adik yang baik seperti Anjani. Rania kembali menatap suaminya.
"Mas, aku kangen. Kenapa kamu lama sekali tidurnya?" gumam Rania dengan lirih.