Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 64 (Jantung Yang Berdebar)


...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


***


Rania membuka matanya saat ia teringat sedang menunggu Ferdians pulang. Ia melihat sekelilingnya dan ternyata ia sudah berada di dalam kamar. Rania melihat ke arah sampingnya, dan ia tersenyum melihat Ferdians yang tertidur dengan nyenyak.


Apakah Ferdians yang menggendongnya ke dalam kamar? Tentu saja iya karena tak ada yang berani menggendongnya selain Ferdians. Membayangkan itu membuat Rania tersenyum bahagia. Apakah Ferdians sudah tidak marah kepadanya?


Rania melihat ke arah jam dinding di kamarnya, ini masih pukul 3 pagi tetapi Rania sama sekali tidak mengantuk lagi, ia lebih memilih memandang wajah Ferdians dengan dalam.


"Ternyata mas Ferdians sangat tampan sekali," gumam Rania dengan pelan.


Dengan perlahan tangan Rania menyentuh rahang tegas suaminya, ia sangat merindukan Ferdians karena seharian ini Rania tidak bertemu dengan Ferdians akibat Ferdians yang sedang marah kepada dirinya.


"Kenapa aku jadi seperti ini sih? Apa benar aku sudah mulai mencintai mas Ferdians? Tidak mungkin!" gumam Rania menatap wajah Ferdians yang menurutnya semakin hari semakin terlihat tampan sekali.


Rania menepuk pipinya dengan perlahan. "Sadar Rania! Kamu sudah melakukan perjanjian dengan Ferdians dari awal," ujar Rania dengan pelan.


Jantung Rania berdebar dengan sangat kencang bahkan wajahnya memanas saat melihat wajah Ferdians.


Ferdians yang merasa ada seseorang yang memperhatikan dirinya mencoba membuka matanya dengan perlahan. Sadar jika Ferdians sudah terbangun membuka Rania mencoba memejamkan matanya.


Ferdians tersenyum geli dengan kelakukan istrinya, ia berpura-pura memejamkan matanya kembali dan ingin melihat apa yang sedang Rania lakukan kepada dirinya.


Rania membuka matanya kembali. "Untung saja tidak ketahuan," gumam Rania dengan lirih.


"Kamu masih marah ya? Kenapa kamu tidak memelukku saat tertidur?" gumam Rania menatap Ferdians dengan dalam.


Rania menghela napasnya dengan perlahan, apa yang ia rasakan saat ini membuat dirinya sendiri bingung. Rasa cintakah atau rasa suka yang bisa saja hilang dalam sekejap?


Rania mencoba meletakkan tangannya di perut Ferdians, ia ingin sekali memeluk Ferdians. Dan rasa ingin itu tidak bisa ia cegah.


Ferdians membuka matanya. Kedua matanya saling memandang dengan mata Rania yang membuat jantung Rania berdebar dengan sangat kuat.


"Mampus ketahuan!" gumam Rania di dalam hati.


Gengsi yang ia alami membuat Rania ingin menghilang saja dari kamar ini tetapi itu tidak bisa ia lakukan karena dirinya bukanlah seseorang yang memiliki kekuatan untuk menghilang.


Ferdians menatap Rania dengan datar, ia menyingkirkan tangan Rania di perutnya. "Saya sudah melakukan seperti apa yang kamu inginkan. Jadi, kebiasaan ini tidak perlu diterapkan, dulu sebelum menikah kamu juga terbiasa tidur tanpa di peluk, kan?" ujar Ferdians dengan sinis.


"Lagian ini tidak sengaja, kamu tidak usah kegeeran!" ujar Rania membalas perkataan Ferdians tak mau kalah.


Ferdians menyeringai sinis. "Ooo iya? Kamu pikir saya tidak tahu jika kamu sudah memperhatikan saya sejak tadi?" ujar Ferdians dengan datar.


"M-mana ada! Saya sama sekali tidak memperhatikan kamu! Dasar pria menyebalkan!" ujar Rania dengan ketus.


Rania membalikkan tubuhnya menjadi membelakangi Ferdians. Ia sudah terlanjur kesal dengan Ferdians padahal ia sangat ingin di peluk oleh Ferdians.


"Huh, kenapa keinginan ini sangat membuat diriku jengkel sendiri!" ujar Rania dengan kesal kepada dirinya sendiri, ia malu karena ketahuan Ferdians memeluk Ferdians diam-diam.


Ferdians menatap punggung Rania. "Kamu adalah wanita yang sangat menyebalkan yang saya kenal. Kenapa saya bisa mencintai kamu? Padahal banyak di luaran sana wanita baik, cantik, dan lebih menghargai saya!" ujar Ferdians dengan tajam yang membuat hati Rania tiba-tiba berdenyut sakit.


"Tidak seperti kamu! Galak, sombong, tidak menghargai suami. Padahal suami kamu sudah mati-matian untuk membuat kamu bahagia, terjun di perusahaan dengan tidak memiliki pengalaman sama sekali. Kamu pikir itu gampang?" ujar Ferdians dengan tajam.


Tangan Rania terkepal dengan sangat erat dan dada yang memanad mendengar ucapan Ferdians.


"Cukup! Ya saya memang sombong, galak, angkuh, tidak berperasaan. Kenapa kamu bisa mencintai wanita seperti saya! Jika kamu sudah tidak tahan dengan pernikahan ini kamu langsung bisa menceraikan saya!" ujar Rania dengan mata yang tersirat akan penuh luka.


Tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja yang membuat Rania menghapus air matanya dengan kasar.


"Silahkan cari wanita yang baik versi kamu! Wanita yang bisa menghargai kamu sebagai suaminya!" ujar Rania dengan tajam.


Rania bangun dari tidurnya, ia sudah tidak bisa bersama dengan Ferdians di dalam satu ruangan yang sama semakin ia melihat wajah Ferdians, semakin sakit hatinya. Benar kata Ferdians, ia wanita yang tidak baik.


"Mau kemana kamu?" tanya Ferdians dengan cemas.


Ferdians tidak bermaksud melukai hati Rania. Ia hanya ingin Rania sadar jika dirinya sangat menginginkan Rania menjadi istri yang sesungguhnya untuk dirinya.


"Bukan urusan kamu!" ujar Rania dengan datar.


Rania keluar dari kamar dengan membanting pintu kamar dengan keras hingga Ferdians mengusap wajahnya dengan kasar.


"Aku tidak bermaksud begitu, Rania. Aku hanya ingin kamu sadar jika aku benar-benar menginginkan pernikahan kita bertahan sampai maut memisahkan kita," ujar Ferdians dengan lirih.


Tak mau terjadi sesuatu dengan Rania dan kehamilannya, Ferdians segera menyusul Rania.


"Nona mau kemana?" tanya Sastra yang memang berada di rumah Rania.


Rania sama sekali tidak menjawab, wanita hamil itu mengambil kunci mobil miliknya. Sebenarnya Rania memiliki rasa trauma saat menyetir sendiri tetapi trauma itu ia kesampingkan karena sudah sakit dengan ucapan Ferdians. Trauma itu ia dapatkan karena mamanya meninggal dalam kecelakaan mobil.


"Nona, saya antar anda mau kemana tapi saya mohon anda jangan menyetir sendiri," ujar Sastra mengikuti Rania.


"DIAM! TIDAK ADA YANG BOLEH MENGIKUTI SAYA!" ujar Rania dengan keras.


"Nona...."


"DIAM SASTRA!" teriak Rania dengan penuh emosi.


Sastra diam saat Rania sudah emosi seperti ini. Lebih baik ia mengikuti Rania dari belakang dan di susul dengan Ferdians yang berlari dengan cepat.


"Mau kemana kamu?" tanya Ferdians dengan cemas tetapi Rania seakan tuli, ia berjalan dengan cepat menuju garasi.


"Rania, stop! Apa yang kamu lakukan bisa membahayakan kandungan kamu," ujar Ferdians dengan khawatir.


"Minggir!" ujar Rania dengan tajam saat Ferdians menghalangi mobilnya.


"Aku tidak akan minggir sebelum kamu keluar dari mobil itu. Oke... Aku minta maaf! Perkataanku barusan yang telah melukai hatimu," ujar Ferdians dengan tegas.


Raut wajahnya begitu sangat menyesal sekarang. Seharusnya ia tidak berkata seperti itu kepada Rania, karena Rania sangat sensitif sekali semenjak hamil.


Rania tidak peduli, dengan mata menatap tajam ke arah depan Rania mulai menghidupkan mobilnya dan menjalankan mobilnya hingga Ferdians menyingkir begitu saja.


"Sastra, Liam, Ricard, Nico, ayo kejar Rania!" ujar Ferdians dengan panik pasalnya ini masih pukul 3 pagi dunia masih gelap dan Rania tak tahu mau kemana.


"Iya, Tuan!" ujar Ke-empatnya dengan serempak.


Akhirnya Ferdians dan yang lainnya menyusul Rania yang sedang kalut. Ferdians benar-benar menyesal telah berkata seperti itu kepada Rania.


***


Rania menjalankan mobilnya dengan cepat hingga akhirnya ia sampai di pemakaman Danuarta Memorial Park.


Rania keluar dari mobilnya dengan tubuh yang gemetar karena tiba-tiba saja wajah berlumuran darah mamanya kembali terbayang di pikirannya.


Penjaga tersebut langsung menyambut kedatangan Rania. Tetapi wajah Rania terlihat begitu datar dengan bekas air mata yang sudah mengering di kedua pipinya.


Rania berjalan ke makam mamanya tanpa rasa takut sedikitpun, ia menatap makam mamanya dengan wajah yang penuh luka.


"Ma!" gumam Rania dengan lirih.


"Seharusnya Rania tidak sakit hati dengan perkataan Ferdians! Yang dikatakan dia benar jika Rania adalah wanita sombong, galak, tidak berperasaan, bahkan tidak menghargai dia sebagai suami. Seharusnya Rania biasa saja tapi mengapa hati Rania sakit, Ma?" ucap Rania pada makam mamanya.


Ferdians, Sastra, Liam, Ricard, dan juga Nico melihat ke arah Rania yang sedang bersimpuh di makam mamanya.


"Kenapa hati Rania seperti ini, Ma? Kenapa Rania menjadi lemah?" tanya Rania dengan meneteskan air matanya kembali.


Ferdians yang sudah tidak kuat menghampiri istrinya. "Maaf!" gumam Ferdians memeluk Rania dari samping.


Rania melihat ke arah Ferdians dan ia langsung memeluk Ferdians dengan erat. "Hikss..hikss...Saya tidak suka menjadi wanita cengeng!" ujar Rania memeluk Ferdians dengan erat.


"Maaf, Sayang! Aku hanya ingin membuat kamu sadar kalau aku benar-benar tulus mencintai kamu," ujar Ferdians mengecup kening Rania dengan lembut.


Rania sama sekali tidak mau melepaskan pelukannya dari Ferdians. Ia juga malu dengan anak buahnya yang melihat kelakuannya yang menangis seperti ini. Semenjak hamil kenapa Rania menjadi sangat emosional dan mudah menangis? Rania benci menjadi lemah.


"Kita pulang ya!" bujuk Ferdians yang di angguki oleh Rania.


Ferdians menggendong Rania, ia menatap Rania dengan penuh rasa bersalah.


"Maaf, Sayang!"