
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
...****...
Hari ini Melvin, Cakra, Agam, dan Gavin sedang mengobrol bersama. Usia mereka masih muda tetapi ke-empatnya memilih bekerja di rumah ini. Jika di pikir-pikir mereka bisa saja bekerja di perusahaan atau membuka usaha sendiri tetapi entah mengapa ke-empatnya sangat suka bekerja di sini. Mungkin karena kebaikan keluarga Rania kepada keluarga mereka.
"Dari kemarin gue merasa curiga dengan seseorang," ujar Cakra dengan serius.
"Siapa?" tanya Agam.
"Kalian ingat tidak ada seseorang yang beberapa terakhir ini lewat di rumah ini? Di depan gerbang berdiri seakan mengamati rumah ini dan setelah itu pergi lagi," ucap Cakra menatap para sahabatnya.
"Iya gue ingat. Kita tidak bisa diam begitu saja, siapa tahu itu orang yang tidak menyukai keluarga Danuarta. Jika terjadi sesuatu dengan nyonya Rania dan keluarganya nyawa kita adalah taruhannya," ujar Melvin dengan serius.
Melvin yang biasanya sering bercanda kini sangat terlihat serius sekali. Sedangkan Gavin hanya diam saja, matanya menatap ke arah gerbang dan benar saja ada seseorang yang berdiri di sana dengan wajah tertutup masker.
"Mau kemana lo?" tanya Cakra saat Gavin berjalan menjauh dari mereka begitu saja.
"Sebentar!" ujar Gavin dengan datar.
"Ck.... Anaknya om Sastra gitu amat. Sama-sama muka datar dan tidak banyak omong," ujar Melvin dengan terkekeh.
"Daripada lo banyak omong!" ujar Cakra dan Agam secara bersamaan yang membuat Melvin berdecak kesal.
"Sudah-sudah. Kita bahas seseorang tadi, kita tidak boleh kecolongan," ujar Cakra dengan tegas.
"Benar. Kita harus waspada mulai sekarang," ujar Agam yang di angguki oleh keduanya.
"Melvin!" panggil Frisa menghampiri ketiganya.
"Iya, Nona. Ada apa?" tanya Melvin dengan sopan.
Sebelum berbicara ia mencari keberadaan Gavin. Frisa mengerutkan dahinya saat melihat Gavin ada di gerbang depan dan berbicara dengan satpam yang menjaga gerbang.
"Loh kenapa gerbang banyak penjaganya?" tanya Frisa dengan heran.
Cakra, Agam, dan Melvin melihat ke arah gerbang dan benar saja banyak penjaga yang sudah ada di sana dan terlihat Gavin memberikan intruksi kepada para penjaga tersebut.
"Ada orang asing yang akhir-akhir ini melihat ke rumah ini, Nona. Awalnya tidak mencurigakan namun lama-lama tingkahnya terlihat sangat aneh dan mungkin Gavin mengetahui ini makanya dia memperketat penjagaan di gerbang. Nona tenang saja kami akan waspada dan melindungi Nona dan yang lainnya," ujar Melvin yang di angguki oleh Frisa.
Frisa sama sekali tidak takut, walaupun sifatnya terkadang manja jangan lupakan darah Rania yang mengalir di sana bahkan tangan Frisa terkepal dengan sangat erat jika benar orang tersebut akan berniat buruk maka Frisa tak akan segan-segan menghajar orang tersebut.
"Berani menyentuh keluargaku habis nyawa kalian," gumam Frisa dengan dingin yang masih bisa di dengar oleh ketiganya.
Melvin, Cakra, dan Agam mendadak merinding melihat tatapan yang begitu tajam dari Frisa. Ketiganya mengusap tengkuk mereka masing-masing dengan menelan ludah dengan kasar.
Namun, tatapan tajam itu berubah menjadi seperti biasa saat menatap ketiga pria tampan yang ada di hadapannya.
"Saya ingin berbicara dengan Melvin! Kalian berdua boleh pergi!" ujar Frisa dengan tegas.
Ketiganya nampak bingung. Namun, Cakra dan Agam mengangguk. "Kami permisi, Nona!" ujar Cakra dan Agam secara bersamaan.
"Iya!" sahut Frisa dengan tegas.
Setelah Cakra dan Agam pergi dari tempatnya sekarang. Frisa menatap Melvin. "Duduk!" perintah Frisa yang membuat Melvin mengangguk.
Entah mengapa Melvin menjadi bungkam sekarang, dirinya seakan waspada takut Frisa marah kepadanya. Tetapi kesalahan apa yang ia perbuat hingga Frisa marah? Pikiran itu ia buang jauh-jauh karena mungkin Frisa akan berbicara penting kepada dirinya.
"A-ada apa, Nona?" tanya Melvin dengan gugup.
Frisa menatap Melvin dengan dalam. "Kamu sudah memiliki kekasih?" tanya Frisa dengan serius.
Tak ada yang tahu jika sekarang jantung Frisa berdetak dengan sangat cepat karena ini pertama kalinya Frisa memberanikan diri untuk mengungkapkan isi hatinya kepada Melvin, rasanya Frisa sudah tidak sanggup memendam perasaannya sendiri sedangkan Melvin seakan terlihat biasa saja kepada dirinya.
Melvin cukup terkejut dengan pertanyaan Frisa kepadanya tetapi setelah itu Melvin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Bagaimana cara aku mengatakannya kepada nona Frisa? Sebenarnya pacar sih banyak cuma untuk yang serius ya belum ada," gumam Melvin di dalam hati.
"B-belum, Nona!" ujar Melvin dengan berbohong.
Frisa tersenyum dengan sangat senang. "Saya ingin kamu menjadi kekasih saya. Kamu tidak perlu menjawab sekarang. Saya beri waktu selama dua minggu," ujar Frisa yang membuat Melvin terkejut.
Tanpa mereka sadari Gavin mendengar Frisa mengatakan perasaannya. Tepatnya gadis itu yang meminta Melvin untuk menjadi kekasih, Gavin menghela napasnya dengan kasar, seharusnya dirinya tak boleh marah tetapi entah mengapa dirinya sangat marah. Gavin melangkah dengan cepat, ia pergi ke ruang olahraga yang ada di rumah ini untuk melampiaskan rasa amarah, kesal, dan cemburunya. Eh cemburu? Benarkah ia sedang cemburu?
"N-nona ini maksudnya bagaimana?" tanya Melvin dengan lungling.
"Kamu pasti paham maksud saya! Saya tidak akan mengulang perkataan saya untuk kedua kalinya. Saya tunggu selama dua minggu jawaban kamu!" ucap Frisa dengan tegas lalu meninggalkan Melvin yang terdiam dengan linglung.
"Nona Frisa menembak saya?" monolog Melvin dengan lirih.
Ini sebuah keberuntungan atau bencana besar untuk dirinya? Melvin tidak tahu harus menolak atau menerima Frisa sebab jika dia menerima Frisa pasti kedua orang tua Frisa dan Faiz akan marah kepadanya karena di luar sana Melvin banyak memacari gadis, jika ia menolak Frisa pasti gadis itu akan sangat marah kepadanya dan ia pasti akan mendapatkan hukuman yang berat. Frisa memang cantik tetapi ia tidak mungkin menyakiti hati nona-nya sendiri karena tingkahnya saat di luar pekerjaannya.
Sedangkan Frisa memegang dadanya dengan kuat, gugup tentu saja ia rasakan. Namun, ia berusaha untuk bersikap biasa saja di hadapan Melvin tadi hingga sekarang ia tak bisa lagi membendung perasaannya dan mengingat percakapannya tadi dengan Melvin wajah Frisa berubah menjadi sangat merah karena malu.
"Apa yang sedang kamu lakukan di sini, Sayang?" tanya Rania dengan bingung melihat anaknya bersandar di tembok dengan memegang dada dan memejamkan matanya.
"Mama!" ucap Frisa dengan gugup.
"Tidak apa-apa, Ma! Aku ke kamar dulu ini sudah mau magrib, aku mandi dulu ya, Ma!" ujar Frisa terburu-buru pergi dari hadapan mamanya yang sedang memandang dirinya dengan aneh.
"Kenapa dengan anak itu? Sikapnya sangat aneh sekali," gumam Rania dengan bingung tetapi ia tak ambil pusing Rania kembali melanjutkan langkahnya untuk menuju ke kamarnya juga.
*****
Gavin meninju samsak yang ada di depannya dengan keras, ia membayangkan jika itu adalah wajah Melvin yang sedang ia pukul dengan keras, keringat sudah membanjiri tubuhnya, rasa amarah yang tadi terpendam mulai hilang.
Buk...
Buk....
Napas Gavin mulai ngos-ngosan tetapi ia tetap memukul samsak tersebut dengan sekuat tenaganya. Mulai merasa lelah akhirnya Gavin menghentikan kegiatannya, ia menghirup udara lalu mengeluarkannya dengan kasar.
Gavin mengelap keringatnya dengan handuk kecil, baju yang ia pakai sudah banjir dengan keringat hingga bajunya membentuk badannya saat ini dan jika ada wanita yang melihatnya mungkin akan tergoda sekarang.
"Saya cariin ternyata kamu di sini!" ujar Frisa dengan berdecak kesal.
Gavin hanya melirik sekilas ke arah Frisa, ia melihat ponselnya ternyata banyak panggilan dari Frisa yang tak ia dengar sama sekali.
"Mandi dan ayo makan bersama di ruang keluarga!" ujar Frisa dengan menyilangkan kedua tangannya menatap Gavin dengan tajam.
"Saya hari ini pulang ke rumah, Nona!" ujar Gavin dengan datar.
"Yak.... pulang? Apa kamu lupa besok kita berangkat pagi sekali ke Taiwan? Saya tidak ingin kamu te..."
"Saya akan kembali tepat waktu!" ujar Gavin dengan datar dan berlalu pergi begitu saja meninggalkan Frisa.
"Gavin!" teriak Frisa dengan kesal.
Gavin menghentikan langkahnya, melihat kekesalan di wajah Frisa membuat Gavin menghela napasnya.
"Berani kamu membantah saya?! Mau saya hukum?!" ucap Frisa dengan kesal, entah mengapa wajah datar Gavin benar-benar membuat Frisa gelisah, tidak tahu kenapa yang jelas Frisa tidak suka melihat Gavin yang acuh tak acuh kepada dirinya.
"Besok saya akan menyelesaikan hukuman yang anda berikan, Nona!" ujar Gavin dengan tegas lalu kembali melangkah meninggalkan Frisa begitu saja.
Frisa menghentakkan kakinya dengan kesal. Sifat Gavin hari ini benar-benar menguji kesabarannya. Akhirnya Frisa keluar dari ruang olahraga ini dengan wajah yang sangat tidak bersahabat.
Frisa sudah sampai di meja makan, wajah Frisa yang cemberut membuat kedua orang tua serta kembarannya dan Olivia merasa heran.
"Kamu kenapa? Dimana Gavin?" tanya Ferdians kepada anaknya.
"Pulang!" jawab Frisa dengan ketus.
Ferdians dan yang lainnya mengerutkan kedua alisnya. Merasa heran apa yang terjadi dengan Frisa.
"Kenapa kamu ketus seperti itu sama Papa? Apa Papa ada salah?" tanya Ferdians dengan heran.
"Atau kamu marah saat Gavin pulang ke rumahnya?" tanya Rania.
"Besok kami terbang ke Taiwan pagi-pagi sekali tapi Gavin memilih pulang dan memilih mendapatkan hukuman dariku! Aku kesal dengan dia!" ujar Frisa yang membuat Ferdians dan Rania menggelengkan kepalanya.
"Biarkan saja Gavin pulang, Sayang. Dia masih mempunyai kedua orang tua yang harus dikunjungi! Dan pastinya Gavin akan menikah, dia pasti akan mempunyai keluarga kecil nantinya. Tidak selamanya dia harus bekerja dengan kita," ujar Rania dengan bijak karena ia sudah belajar dari masa lalu dan tidak ingin kejadian ith terulang lagi pada anaknya.
"Pasti dia akan kembali tepat waktu besok!" ujar Faiz kepada adiknya.
"Tidak! Selamanya Gavin harus bekerja di sini! Titik! Kalau perlu istrinya juga bekerja di sini!" ujar Frisa dengan menggebu-gebu.
"Frisa, kamu tidak boleh egois seperti itu!" ujar Rania dengan tajam yang membuat Frisa terdiam.
Frisa menunduk, ia akhirnya memakan nasinya dengan malas. Membayangkan Gavin mementingkan istrinya nanti membuat dada Frisa bergemuruh.
"Aku sudah kenyang!" ujar Frisa dan berlalu pergi begitu saja dari meja makan.
"Anak itu. Kenapa dengan dia hari ini? Papa rasa Papa harus membicarakan ini kepada Sastra dan Citra. Kita jodohkan saja Frisa dengan Gavin jika setiap hari Frisa seperti ini tidak bisa berjauhan dari Gavin," ujar Ferdians dengan menghela napasnya.
"Sebaiknya begitu! Aneh sekali dia, dulu aku tidak begitu dengan Sastra!" ujar Rania menghela napasnya dengan berat.
"Oke... Setelah Frisa dan Gavin pergi kita bahas ini dengan Sastra dan Citra. Lebih baik mereka menikah daripada nanti Gavin menikah dengan orang lain dan Frisa benar-benar membuktikan ucapannya tadi. Yang ada istri Gavin cemburu nantinya," ujar Rania dengan tegas.
"Terserah Mama dan Papa. Aku ikut saja tapi sebaiknya biarkan saja dulu mereka seperti ini, Ma. Jika sikap Frisa masih egois seperti tadi Papa dan Mama bisa melanjutkan perjodohan antara Frisa dan Gavin," ujar Faiz dengan tegas.
Olivia hanya bisa diam mendengarkan pembicaraan keluarga calon suaminya tersebut. Ia menjadi sangat sangat merindukan keluarganya. Apa sebaiknya besok dia pulang saja? Olivia juga merasa tidak enak hati sudah lama menumpang di rumah ini.