Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 27 (Pengkhianat)


...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya...


...Happy reading...


****


Sastra masuk bersama dengan karyawan yang sudah membuat nonanya marah. Karyawan itu yang belum mengetahui jika bosnya sudah mengetahui perbuatannya hanya bisa bingung dan takut saat Sastra membawanya ke ruangan Rania.


"Duduk!" ucap Rania dengan datar.


Karyawan yang bernama Robby itu duduk di hadapan Rania di sampingnya ada juga Sastra. Suasana ruangan yang sangat tegang membuat Robby menjadi tegang juga.


"Kamu tahu kenapa saya memanggil kamu ke ruangan saya?" tanya Rania dengan dingin.


"T-tidak tahu, Bu! Saya juga tidak membuat kesalahan, Bu. Jadi, saya benar-benar bingung saat Tuan Sastra menemui saya dan menyuruh saya ke ruangan Ibu," jawab Robby dengan terbata.


"Ya Tuhan... Tatapan Ibu Rania benar-benar sangat tajam. Apakah beliau sudah mengetahui jika aku mengambil uang perusahaan? Tapi itu aku lakukan untuk membawa anakku yang sedang sakit," gumam Robby di dalam hati dengan perasaan yang sangat takut jika Rania mengetahui kejahatannya.


"Sastra katakan padanya! Saya sangat malas mengatakannya," ujar Rania dengan datar.


Terlihat sekali Robby sangat gugup, ia memegang tangannya dengan kuat sampai telapak tangannya berkeringat.


"Baik, Nona!" sahut Sastra dengan tenang.


Sastra kemudian menatap Robby dengan pandangan dinginnya. "Pak Robby dari kinerja anda selama 4 tahun ini memang terlihat sangat baik. Tapi 4 tahun itu terasa sia-sia ketika anda menjadi pengkhianat di dalam kantor ini," ujar Sastra dengan tenang.


"P-pengkhianat? M-maksud anda apa, Tuan Sastra?" tanya Robby dengan terbata, ia terlihat semakin gugup.


"Anda mengambil uang perusahaan secara diam-diam untuk kesenangan diri anda sendiri. Bukankah anda itu bisa di sebut sebagai seorang pengkhianat?" tanya Sastra dengan dingin.


"Robby, seharusnya anda tahu bekerja dengan saya tidak ada ampun bagi pengkhianat atau para koruptor di perusahaan saya," ujar Rania dengan dingin.


"Kemasi barang-barang kamu dari sini saya tidak ingin melihat wajah seorang maling di perusahaan saya," ujar Rania dengan tajam.


Robby langsung bersujud di kaki Rania tetapi Rania sama sekali tidak memiliki iba, ini sudah sebuah resiko bekerja di perusahaannya. Tak ada ampun bagi karyawan yang merugikan perusahaan miliknya.


"Bu, tolong jangan pecat saya! Saya akui kesalahan saya karena telah mengambil uang perusahaan secara diam-diam, tapi itu saya lakukan untuk pengobatan anak saya yang sedang sakit dan membutuhkan biaya yang besar untuk ke rumah sakit," mohon Robby dengan lirih.


"Saya bakal sujud di kaki Ibu jika itu bisa membuat Ibu memaafkan saya! Saya benar-benar terpaksa melakukan itu, Bu!" ujar Robby dengan mata memerah.


"Jika saya dipecat istri dan anak-anak saya mau makan apa, Bu? Anak bungsu saya terkena gagal ginjal dan harus melakukan perawatan di rumah sakit," ujar Robby dengan memohon.


"Keluar dari perusahaan saya atau kamu harus membayar semua uang perusahaan yang kamu ambil?" ujar Rania dengan dingin dan tak ada belas kasih sedikitpun dari wajahnya, seorang pengkhianat tetaplah pengkhianat.


"Bu, saya mohon jangan pecat saya! Saya harus tetap bekerja di perusahaan ini demi menghidupi istri dan anak-anak saya, Bu!"


"Jika kamu tetap bersikeras untuk tetap bekerja di perusahaan ini maka siap-siap kamu akan membusuk di penjara! Saya tidak akan segan-segan melakukan itu semua!" ujar Rania dengan dingin.


"Bu tolong..."


Rania mengambil telepon. "Datang ke ruangan saya bawa keluar pengkhianat dari kantor saya," ujar Rania pada satpam.


Rania mematikan teleponnya. "Saya masih berbaik hati dengan memberikan pesangon terakhir kamu! Silahkan bereskan semua barang-barang kamu dari perusahaan saya!"


"Bu jangan pecat saya! Saya mohon, Bu!" ujar Robby dengan sangat memohon tetapi Rania sama sekali tidak tersentuh, wajahnya tetap datar dan sangat dingin.


"Ayo keluar!" ujar satpam saat masuk ke ruangan Rania.


"BU SAYA MOHON JANGAN PECAT SAYA! SAYA MASIH SANGAT MEMBUTUHKAN PEKERJAAN INI, BU!" teriak Robby saat tubuhnya ditarik paksa ole dua satpam.


"Bawa dia keluar dari perusahaan ini! Jangan biarkan dia kembali masuk," ujar Rania dengan dingin.


"Baik, Bu!" ujar satpam itu dengan mengangguk.


"Ayo keluar jangan buat ibu Rania semakin marah!" ujar satpam dengan tegas.


Robby mengepal kedua tangannya saat di permalukan oleh Rania dengan para karyawan-karyawan yang melihat dirinya diseret paksa.


Sedangkan Rania melipat kedua tangannya dengan tatapan yang begitu angkuh, ia tidak suka ada pengkhianat di kantornya dan itu membuat emosinya semakin tersulut apalagi sekarang ia sedang haid.


"SAYA BERSUMPAH KAMU AKAN MENYESAL TELAH MEMPERLAKUKAN SAYA SEPERTI INI RANIA!" teriak Robby dengan penuh emosi.


Rania hanya menyeringai sinis saat mendengar ucapan Robby kepada dirinya. Ia kembali masuk ke ruangannya, tak mempedulikan teriakan Robby kembali.


"Bubar kalian! Saya peringatkan jangan membangkitkan kemarahan Nona Rania seperti Robby jika kalian masih mau hidup dengan tenang," ujar Sastra dengan tegas.


"B-baik, Tuan Sastra!"


Setelah memastikan semua karyawan sudah bekerja kembali Sastra masuk ke ruangan Rania.


"Nona, kenapa anda tidak memasukkan Robby ke penjara saja? Bisa saja dia melakukan sesuatu jika masih dibiarkan bebas," ujar Sastra dengan cemas.


"Dia mempunyai anak yang sedang sakit biarkan dia. Jika memang benar dia akan melakukan sesuatu maka saya tidak akan tinggal diam," ujar Rania dengan datar.


Sastra benar-benar bingung dengan Rania. Di satu sisi Rania terkenal dengan kesombongannya dan di satu sisi yang berbeda nonanya ini adalah wanita yang baik. Tetapi Sastra mengkhawatirkan nonanya karena dibalik sikap angkuh dan ucapannya yang sangat tajam bisa saja ada seseorang yang tak suka dan bisa mencelakai nonanya.


"Nona sebenarnya bagaimana dengan hatimu? Terkadang saya tidak mengerti dengan anda," gumam Sastra di dalam hati.


****


Kali ini Ferdians tidak telat untuk menjemput Rania. Bahkan ia sudah membelikan Rania beberapa botol minuman Kiranti.


Ferdians keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Rania. Sepertinya terjadi sesuatu dengan Rania karena wajah istrinya terlihat sangat lelah.


"Mau langsung pulang atau kita jalan-jalan dulu?" tanya Ferdians dengan pelan.


"Pulang!" jawab Rania dengan singkat.


Ferdians mengangguk. "Terjadi sesuatu di perusahaan?" tanya Ferdians menebak.


"Ya!" jawab Rania dengan singkat.


"Mau cerita?" tanya Ferdians menatap Rania sambil menjalankan mobil milik Rania yang lebih sering digunakan dirinya.


"Hmmm..."


Rania terdiam beberapa saat. "Ada satu karyawan yang mengambil uang perusahaan secara diam-diam," ujar Rania dengan datar.


Ferdians tidak kaget karena memang bekerja di perusahaan banyak menemui masalah seperti yang sedang dihadapi oleh Rania.


"Kamu sudah melaporkannya ke kantor polisi?" tanya Ferdians.


"Tidak. Dia mempunyai anak yang sedang sakit," jawab Rania yang tanpa sadar membuat Ferdians tersenyum.


"Istriku baik sekali," puji Ferdians yang membuat Rania menatap Ferdians dengan datar.


"Jika saya baik saya tidak akan memecatnya!" ujar Rania dengan datar.


"Tapi kamu sudah memberikan kesempatan dia untuk mencari pekerjaan di tempat lain bukan? Itu juga dikatakan baik, Sayang."


Rania terdiam, ia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi untuk mencari posisi yang membuatnya nyaman.


"Aku sudah membelikan beberapa botol Kiranti untukmu," ujar Ferdians yang membuat Rania terkejut.


Ferdians tersenyum. "Tidak perlu kaget seperti itu. Minumlah!" ujar Ferdians.


Tangan Ferdians mendarat di perut Rania. "Biasanya selesai haid berapa hari?" tanya Ferdians yang membuat Rania tersedak.


"Uhuk....uhuk...Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Rania tidak percaya.


Ferdians terkekeh. "Aku sudah merindukan kamu dan biasanya setelah haid adalah masa subur seorang wanita bisa saja anak kita akan segera hadir ketika kita berc*nta setelah kamu selesai haid," ujar Ferdians dengan tenang.


"Tak masalah jika anak kita tak jadi di Santorini biar kita membuatnya di rumah saja," ujar Ferdians dengan terkekeh.


Rania mendengkus dengan sebal. "Dasar mes*m!"