
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
...*****...
Rini sudah berada di rumah sahabatnya, ia langsung memeluk Bunga dengan erat karena Rini juga sudah sangat merindukan sahabatnya ini. Sejak Bunga menikah Rini sudah jarang bertemu dengan Bunga, bahkan Rini masih tak menyangka jika kehidupan sahabatnya berubah 180 derajat setelah menikah dengan Rajendra.
Kehidupan yang berubah menjadi mewah, semua yang diinginkan Bunga terpenuhi dengan sangat mudah yang walaupun harus menjadi istri kedua di awal menikah. Namun, Bunga lah pemenang di hati Rajendra sampai kapanpun yang membuat Rini ingin juga seperti Bunga mendapatkan lelaki yang tepat.
"Rini saya mau pergi. Jaga istri saya dengan baik dan jangan keluar dari rumah selama saya tidak ada di rumah," ujar Rajendra dengan tegas yang membuat Rini langsung mengangguk patuh.
"Iya, Tuan. Saya mengerti! Dan saya akan menjaga Bunga dengan sangat baik di rumah ini," ujar Rini dengan tegas.
"Bagus!" sahut Rajendra dengan tegas.
Rajendra kembali menatap istrinya yang tampak cemberut. Ia mendekat ke arah istrinya dan mencium kening istrinya dengan lembut.
"Mas pergi dulu ya! Jangan kemana-mana sebelum Mas kembali ke rumah karena banyak bahaya yang mengincar kita kapan saja terutama kamu, Sayang! Ingat pesan Mas ini ya!" ujar Rajendra dengan tegas.
"Iya, Mas. Aku akan terus mengingatnya!" ujar Bunga tersenyum.
Rajendra mengusap kepala Bunga dengan lembut, setelah itu beralih ke perut Bunga. "Papa pergi ya! Jaga mama ya! Jangan rewel di rumah nanti setelah semuanya beres kita liburan ya," ujar Rajendra dengan lembut yang membuat Bunga terkekeh dan membuat Rini cukup merasa iri dan salting sendiri.
"Mas pergi ya, Sayang!" ujar Rajendra dengan lembut.
"Iya, Mas. Hati-hati!" ucap Bunga dengan tersenyum.
"Iya!"
Bunga menatap kepergian suaminya dengan tersenyum walaupun dadanya begitu sangat sesak karena setelah kepergian suaminya berarti papa dan mamanya akan segera mendapatkan balasan dengan apa yang mereka perbuat selama ini.
"Kamu beruntung sekali mendapatkan tuan Rajendra, Bunga!" ujar Rini dengan tersenyum.
Bunga tersenyum. "Awalnya aku pikir menikah dengan mas Rajendra akan membawa kesengsaraan untukku karena aku merasa dia hanya akan membalaskan dendamnya kepada papa dengan menikahiku sama seperti apa yang mas Rajendra lakukan terhadap kak Cassandra. Tapi ternyata aku salah, setelah menikah aku lebih mengenal siapa suamiku, dia akan melakukan apapun untuk melindungi keluarga yang sangat ia sayangi walaupun harus membunuh orang-orang yang telah melukai keluarganya," ujar Bunga dengan tersenyum.
"Termasuk membunuh kedua orang tuamu?" tanya Rini dengan tercekat.
Bunga tersenyum miris. "Mereka memang kedua orang tuaku tapi apa yang mereka lakukan sudah sangat keterlaluan. Aku terima semua keputusan mas Rajendra termasuk membunuh kedua orang tuaku sendiri," gumam Bunga dengan pedih.
Rini memeluk sahabatnya, ia juga ikut merasakan kesedihan yang dirasakan Bunga saat ini. "Sabar ya! Semua yang tuan Rajendra lakukan pasti demi kebaikan kamu juga," gumam Rini dengan tersenyum tipis yang akhirnya membuat Bunga juga ikut tersenyum karena dirinya.
"Duduk yuk! Kamu boleh cerita apa saja hari ini, aku akan mendengarkan semua cerita kamu!" ujar Rini.
"Iya ada banyak yang akan aku ceritakan. Tapi kamu juga harus cerita lelaki yang sedang dekat dengan kamu siapa. Aku mau tahu siapa yang bisa membuat sahabatku jatuh cinta," ujar Bunga yang membuat Rini langsung terdiam dengan kedua pipi yang tersipu malu.
Mungkinkah sekarang ia bercerita?
*****
Rajendra menatap rumah yang sedikit terlihat mewah dari dalam mobilnya, ia menyeringai dengan tajam ketika melihat rumah itu ternyata lebih nyaman dari rumah yang sebelumnya di mana Bunga masih tinggal di sana waktu itu.
"Cih... Orang tua macam apa kalian yang tega berbahagia di atas penderitaan anak kalian sendiri," gumam Rajendra dengan tajam.
Bahkan aura Rajendra terlihat sangat menyeramkan sekali, tak ada Rajendra yang penuh kehangatan lagi di tempat seperti ini. Bahkan jika Bunga yang melihatnya pun pasti akan ketakutan.
"Apa yang harus kami lakukan, Tuan?" tanya anak buah Rajendra dengan datar.
"Bius mereka berdua dan bawa ke ruangan di mana Cassandra juga berada di sana saat ini," jawab Rajendra dengan datar.
Benar dugaan Rajendra, tak lama Roby dan Sherly pulang dengan wajah yang sangat gembira.
"Mas jika seperti ini terus kita bisa kaya, Mas. Mereka semua sangat bodoh bisa-bisanya mereka tidak tahu jika berlian dan emas yang kita jual itu palsu, Mas!" ujar Sherly dengan terkekeh.
"Hahaha... benar, kan? Rencanaku tidak membawa Bunga juga semakin melancarkan usaha kita, Sayang. Jika ada Bunga pasti anak itu akan mengomel terus yang membuat kepalaku mendadak pusing mendengar ocehannya itu," ujar Roby dengan terkekeh.
"Benar, Mas. Anak itu hanya menghambat usaha yang sedang kita bangun sama-sama selama ini," ujar Sherly dengan tersenyum.
Roby dan Sherly bahkan seakan lupa jika Bunga adalah anak kandung mereka. Rajendra yang mendengar semua percakapan Roby dan Sherly mengepalkan kedua tangannya dengan wajah yang begitu terlihat sangat dingin sekali.
"Sekarang tangkap mereka! Pasung mereka!" ujar Rajendra dengan tajam.
Dada Rajendra terlihat naik turun menahan emosi karena ucapan Roby dan juga Sherly yang sama sekali tidak peduli dengan istrinya dan jika Bunga tahu pasti Bunga akan sangat bersedih mendengar kenyataan jika dirinya memang sengaja ditinggalkan begitu saja oleh kedua orang tuanya.
"Baik, Tuan!" jawab anak buah Rajendra dengan tegas.
Rajendra menyeringai menatap kedua mertuanya itu. "Saat ini kalian boleh tertawa tetapi nanti kalian akan memohon meminta untuk dilepaskan," gumam Rajendra dengan sinis.
Sedangkan Roby dan Sherly sangat terkejut karena tiba-tiba saja ada beberapa orang berbadan besar menghampiri mereka berdua.
"Siapa kalian?" tanya Roby dengan tajam yang membuat semua anak buah Rajendra tertawa dengan keras sehingga Sherly terlihat ketakutan.
"Kalian tidak perlu tahu siapa kami. Kami hanya ingin nyawa kalian berdua!" ujar anak buah Rajendra dengan tajam.
Roby dan Sherly terlihat sangat syok dengan ucapan lelaki berbadan besar tersebut. Mereka berdua mundur ke belakang.
"Pergi kalian dari rumah ini! Kami tidak berurusan dengan kalian semua," ujar Sherly dengan ketakutan memegang lengan suaminya.
"Tentu saja ada, Sherly! Urusan kita cukup banyak jika kamu mau tahu!" ujar anak buah Rajendra dengan menyeringai.
Melihat Roby dan Sherly begitu sangat ketakutan membuat Rajendra tersenyum sinis. Tak ada yang bisa bermain-main dengan Rajendra atau nyawa mereka akan terancam bahaya.
Anak buah Rajendra memberikan kode kepada teman-temannya yang lain yang ternyata ada di belakang Roby dan juga Sherly.
"Mau kabur kemana kalian berdua hmm? Kalian tidak bisa kabur dari sini," ujar anak buah Rajendra yang memang sudah sangat dipercaya oleh Rajendra dalam menjalankan tugas seperti ini.
"Mas gimana ini!" bisik Sherly dengan ketakutan.
"Hitungan ketiga kita lari," bisik Roby yang di angguki oleh Sherly.
"Satu..."
"Dua..."
"Ti... emmphhh..."
"Tiga... Hahaha..." ucap anak buah Rajendra yang melihat Roby dan Sherly sudah di bekap hingga keduanya pingsan.
"Sudah saya katakan kalian tidak bisa kabur dari tuan Rajendra!" ujar anak buah Rajendra meremehkan.
"Bawa mereka!" ujar Rajendra dengan dingin.
"Baik, Tuan!"
Rajendra sudah benar-benar sangat ingin menghabisi keduanya. Ia sudah tidak mengingat jika Roby dan Sherly adalah orang tua dari Bunga sekarang karena emosinya yang lebih mendominasi saat ini.
"Kita lihat saja apa yang akan saya lakukan nanti dengan kalian berdua," gumam Rajendra dengan menyeringai.