
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
***
Eric sudah mulai aktif bekerja di perusahaannya kembali setelah sekian lama perusahaannya di pegang oleh keponakannya.
"Selamat pagi, Om!" ujar Alex masuk begitu saja ke ruangan Eric.
Eric menghela napasnya dengan kasar saat merasakan tabiat keponakannya yang tidak berubah.
"Kenapa Alex?" tanya Eric berusaha sabar dengan sikap keponakannya sendiri.
"Pagi Tuan Eric!" sapa Citra yang ikut dengan Alex kemana pun pria itu pergi karena selain sekretaris Alex, Citra adalah asisten pribadi Alex.
"Pagi Citra!" balas Eric dengan tersenyum tipis.
Alex menyuruh Citra untuk duduk di sebelahnya. Ia menatap Eric dengan serius.
"Karena Om sudah kembali ke perusahaan maka saya sudah tidak berhak memegang perusahaan Abraham Grup lagi karena saya sudah berhasil membangun perusahaan saya sendiri berkat bantuan, Om!" ujar Alex dengan tegas.
"Terima kasih bantuannya kamu selama ini. Jika tidak ada kamu mungkin perusahaan Om akan bangkrut karena tidak ada pemimpin di perusahaan ini. Andai saja Ferry masih hidup mungkin dia yang akan menjadi CEO di perusahaan Abraham Grup," ujar Eric dengan menghela napasnya dengan pelan.
Alex membenarkan posisi duduknya. Ia menatap Eric dengan sangat serius. "Kak Ferry sangat mirip dengan seseorang, Om! Bahkan saat saya pertama kali bertemu dengannya saya pikir memang kak Ferry," ujar Alex yang membuat Eric terdiam.
"Di mana kamu bertemu dengan orang yang mirip dengan Ferry?" tanya Eric dengan penasaran karena ia yakin itu adalah Ferdians kembaran dari Ferry.
"Berapa kali saya bertemu di perusahaan dan di pernikahan anak tiri Ben! Namanya Ferdians, dia adalah suami dari Rania. Menantu dari musuh Om sendiri," ujar Alex dengan menyeringai yang membuat Eric begitu terkejut.
"F-ferdians? M-menantu Ben?" tanya Eric yang di angguki oleh Alex.
"Ya namanya Ferdians, dia baru menikah dengan Rania beberapa bulan ini, Om. Keluarga Danuarta sedang menantikan cucu pertama mereka," ujar Alex dengan serius.
Tangan Eric langsung terkepal dengan sangat erat. Bagaimana bisa Ferdians menikah dengan Rania? Ini tidak bisa di biarkan, anaknya tidak boleh berhubungan dengan keluarga Danuarta. Sudah cukup Danuarta membuat hidupnya menderita. Dan ia yakin Ferdians yang mirip dengan Ferry adalah anak bungsunya yang selama ini di urus dengan Heera, mengingat Heera membuat hati Eric kembali di liputi rasa bersalah.
Eric memegang dadanya yang tiba-tiba saja merasa nyeri.
"Om kenapa?" tanya Alex dengan sigap.
"Tidak apa-apa," jawab Eric dengan tegas.
Alex mengangguk mengerti. "Kalau begitu saya pamit dulu, Om. Karena masih ada pekerjaan," ujar Alex.
"Iya!" bjawab Eric dengan singkat.
"Permisi Tuan Eric!" ucap Citra dengan menunduk sopan yang di angguki oleh Eric.
Eric menatap kepergian Alex dan Citra setelah keduanya benar-benar menghilang Eric menghela napasnya dengan sangat berat. Perlahan Eric membuka laci kerjanya mengambil sesuatu dari sana.
Eric membalikkan kertas tersebut hingga terlihat foto yang membuat hati Eric semakin berdenyut sakit. Eric mengelus foto Heera dan kedua anaknya yang masih bayi dengan begitu lembut.
"Maafkan aku, Heera! Mungkin jika aku tidak mengambil Ferry dalam hidupmu maka Ferry tidak akan meninggal. Aku lalai dalam menjaganya! Aku sangat menyesal, aku ingin bertemu dengan kalian berdua," gumam Eric menatap foto mantan istrinya dan kedua anaknya dengan mata berkaca-kaca.
"Mengapa Ferdians bisa menikah dengan Rania, Heera? Tapi tak apa karena dengan begitu aku dengan mudah menghancurkan Ben dan juga Doni. Karena mereka, aku di penjara padahal itu bukan kesalahanku," ujar Eric dengan penuh dendam.
"Ferdians kamu adalah jembatan untuk Papa menghancurkan keluarga Danuarta. Mereka semua sudah membuat hidup Papa menderita, jika saatnya tiba kita akan bertemu kembali, Nak!" ujar Eric dengan tatapan yang begitu tajam seakan ada Ben dan juga Doni di hadapannya.
"Ini adalah sesuatu keberuntungan jika Ferdians menikah dengan Rania karena itu semakin memudahkan aku untuk menghancurkan mereka," gumam Eric dengan penuh dendam.
Eric yang dulu sangat baik terhadap Danuarta berubah menjadi seseorang yang sangat membenci seluruh keluarga Danuarta akibat kesalahan yang di tuduhkan kepada dirinya padahal Eric tidak berbuat apa-apa atas kematian istri dari Ben tersebut.
"Lihatlah kalian akan hancur sebentar lagi! Karma akan segera menghampiri kamu, Ben!" ujar Eric dengan menyeringai.
***
Prang...
"Astaghfirullah, Ibu. Ibu tidak apa-apa?" tanya Suster Ana membantu mengambil serpihan gelas yang terjatuh dan akhirnya pecah di lantai.
Heera memegang dadanya, perasaan takut yang tiba-tiba saja datang membuat perasaan Heera sangat tidak tenang.
Ada apa ini? Kenapa hatinya sangat sakit sekali? Tiba-tiba saja Heera teringat dengan Ferry, anak pertamanya yang tidak pernah ia lihat wajahnya lagi serta wajah Eric dan Ferdians yang bergantian silih berganti berada di pikirannya.
"Ibu duduk dulu ya. Biar saya bereskan serpihan kaca ini agar tidak mengenai Ibu," ujar Suster Ana dengan lembut.
Heera mengangguk dengan pelan, tatapannya juga sangat terlihat kosong seperti sedang ada beban berat yang menimpanya.
"T-tidak! A-aku tidak mau kehilangan Ferdians," gumam Heera dengan menangis yang membuat suster Ana panik.
"Bu, Ibu kenapa?" tanya Suster Ana dengan cemas.
"Aku tidak mau kehilangan Ferdians!" gumam Heera dengan menangis yang membuat suster Ana semakin cemas.
"Sus, telepon Ferdians dan Rania untuk segera pulang! Tolong, Sus!" ujar Heera yang membuat suster Ana mengangguk, ia takut terjadi sesuatu dengan Heera.
Dengan cepat suster Ana mengambil ponselnya dan segera menelepon Ferdians.
[Halo, Tuan] sapa Suster Ana dengan nada paniknya yang membuat Ferdians langsung merasa cemas.
[Ada apa, Sus? Apa terjadi sesuatu dengan ibu?] tanya Ferdians dengan panik. Di sebelahnya juga ada Rania yang mendengarkan dan ibu hamil itu terlihat sangat cemas.
[Ibu tiba-tiba saja menjatuhkan gelas dan sekarang menangis, Tuan. Ibu meracau dan mengatakan ia tidak ingin kehilangan Tuan. Beliau menyuruh saya untuk menelepon Tuan dan menyuruh Tuan dan nona Rania untuk segera pulang] jawab Suster Ana.
[Saya akan segera pulang. Tolong tenangkan ibu jangan sampai ibu drop!]
[Baik, Tuan]
Telepon sudah di matikan dan suster Ana kembali menyimpan ponselnya.
"Bagaimana, Sus? Ferdians dan Rania mau pulang, kan?" tanya Heera dengan cemas.
"Iya, Bu. Tuan dan nona akan segera pulang, Ibu tenang saja ya!" ujar Suster Ana yang membuat Heera tampak sangat lega.
"Apa yang sedang ibu Heera pikirkan? Kenapa ibu Heera tiba-tiba terlihat sangat panik sekali?" tanya Suster Ana di dalam hati menatap wajah Heera yang masih terlihat sama seperti tadi, panik dan terlihat sangat cemas sekali.
Heera memegang kepalanya yang tiba-tiba saja berdenyut sakit. Darah segar keluar dari hidungnya sangat banyak.
"Ibu mimisan!" ujar Suster Ana dengan panik.
"Pelayan, Liam, tolong saya!" teriak Suster Ana dengan panik.
"Ibu bertahan ya!" ujar Suster Ana membantu membersihkan darah dari hidung Heera.
"S-sakit sekali, Sus! Argghhh...."
Liam dan pelayan datang dengan cepat. Liam dengan sigap membopong Heera.
"Buka kan pintu mobil kita harus membawa Ibu Heera ke rumah sakit," ujar Liam dengan tegas.
"Baik, Tuan!" ujar pelayan dengan cepat.
Sedangkan suster Ana kembali menghubungi Ferdians dan mengatakan yang sejujurnya jika Heera di bawa ke rumah sakit karena penyakitnya yang kambuh secara tiba-tiba padahal beberapa minggu ini keadaan Heera terlihat baik-baik saja.
****
Ferdians tidak bisa berlari dengan cepat karena di sampingnya ada Rania yang sedang hamil, tak mungkin ia meninggalkan Rania begitu saja karena sekarang Sastra berpamitan pergi entah kemana.
Rania juga tampak panik, keduanya menelusuri lorong rumah sakit hingga mereka menemukan suster Ana dan Liam yang terlihat cemas menunggu.
"Bagaimana keadaan Ibu?" tanya Rania dengan cepat.
"Masih di tangani oleh dokter di dalam, Nona!" jawab Suster Ana dengan pelan.
"Kenapa ini bisa terjadi?" tanya Rania.
"Saya tidak tahu, Nona. Karena tiba-tiba saja ibu menjatuhkan gelas dan langsung mengatakan jika dia tidak mau kehilangan tuan Ferdians. Ibu menyuruh saya untuk menelepon tuan Ferdians dan menyuruh tuan dan Nona untuk pulang, setelah itu ibu kembali mimisan dan mengerang kesakitan," jelas Suster Ana yang membuat Ferdians dan Rania panik.
Ferdians menuntun istrinya untuk duduk. Ia menggenggam tangan Rania dengan erat, Rania pun sama menggenggam tangan Ferdians dengan erat seakan mereka saling menguatkan satu sama lain.
"Ibu sebenarnya apa yang sedang ibu pikirkan?" gumam Ferdians dengan lirih.