Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 138 (Misi Pertama Olivia)


...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


****


Olivia menatap ruangan kerja Faiz dengan tatapan yang tak bisa ia jelaskan. Permintaan adiknya membuat Olivia tidak bisa berpikir dengan jernih karena sebenarnya Olivia sedikit takut dengan Faiz jika lelaki itu sedang marah. Tetapi Olivia tidak bisa memungkiri jika Faiz sangatlah tampan sekali.


Olivia menghela napasnya dengan perlahan, ia bertopang dagu dengan menatap pintu ruangan kerja Faiz.


"Olivia!" panggil seseorang dengan pelan tetapi sama sekali tidak ada respon dari Olivia yang membuat pria yang memanggil Olivia menggelengkan kepalanya.


"Olivia!" panggil lelaki itu dengan sedikit keras yang membuat Olivia terkejut menatap lelaki tampan yang berada di depannya.


"Ah iya Tuan Rajendra. Maaf saya tidak mendengar anda memanggil nama saya," ucap Olivia tidak enak hati.


Rajendra tersenyum tipis. "Tidak apa-apa. Saya ingin bertemu dengan Faiz apakah dia berada di dalam?" tanya Rajendra menatap Olivia.


Rajendra sudah menyukai Olivia sejak dua tahun terakhir tetapi Rajendra belum ada keberanian untuk mengungkapkan perasaannya karena papanya melarang ia berdekatan dengan keluarga Agni karena bagaimanapun Agni dan keluarga Olivia pernah menipu keluarganya untuk mendapatkan harta keluarganya. Walaupun papanya sudah memaafkan kesalahan mereka tetapi tetap saja semua itu sangat membekas di hati keluarganya.


"Ada di dalam, Tuan. Mari saya antar," jawab Olivia dengan tersenyum.


"Baik!"


Rajendra mengikuti Olivia dengan perlahan dengan mata menatap punggung Olivia dengan tersenyum tipis. "Untuk saat ini begitu rumit biarlah seperti ini dulu sebelum aku mendekati Olivia," gumam Rajendra di dalam hati.


Tok...tokk...tokkk...


"Tuan ada Tuan Rajendra ingin bertemu dengan anda," ucap Olivia.


"Silahkan suruh dia masuk!" balas Faiz yang masih sibuk dengan laptop yang ada di hadapannya.


"Silahkan masuk, Tuan!" ucap Olivia dengan tersenyum.


"Terima kasih," balas Rajendra yang di angguki oleh Olivia.


Olivia kembali ke meja kerjanya sedangkan Rajendra masuk ke ruang keponakannya sendiri.


Faiz menatap Rajendra dengan tersenyum. "Duduk, Om!" ucap Faiz menyuruh Rajendra untuk duduk.


"Sibuk? Maaf mengganggu waktu kamu. Tapi aku ingin membahas kerja sama kita," ucap Rajendra dengan tegas.


"Kalau membahas itu aku tidak sibuk, Om!" jawab Faiz dengan terkekeh.


"Sebentar aku panggil Olivia untuk masuk ke ruangan ini kita akan bahas bertiga. Oo iya Om belum mendapatkan sekretaris baru?" tanya Faiz.


"Belum! Masih belum ada yang cocok. Jika kamu ada rekomendasi untuk sekretaris katakan saja," jawab Rajendra dengan entengnya.


"Oke nanti aku katakan dengan Olivia mungkin dia ada rekomendasi yang sesuai dengan keinginan Om," jawab Faiz dengan tegas.


Faiz menelepon Olivia dan menyuruh gadis itu masuk ke ruangannya. Dan setelah Olivia masuk ketiganya benar-benar membahas pekerjaan dengan Rajendra yang mencuri pandang ke arah Olivia bahkan Faiz mencurigai sikap om-nya yang menatap Olivia begitu aneh.


"Apa om Rajendra menyukai Olivia? Kenapa ini? Kenapa hatiku merasa tidak terima?" gumam Faiz dengan lirih.


Faiz ingin marah melihat tatapan Rajendra kepada Olivia tetapi ia tidak tahu ia marah karena apa, hingga berulang kali Faiz menghela napasnya dengan berat.


***


Setelah kepulangan Rajendra, Faiz menghela napasnya dengan lega ia memijat pelipisnya dengan perlahan dan semua itu tak luput dari penglihatan Olivia.


"Tuan kenapa? Kepala Tuan pusing?" tanya Olivia dengan khawatir.


"Saya tidak apa-apa," jawab Faiz dengan melirik sekilas ke arah Olivia.


Entah mengapa Faiz merasa kesal jika mengingat tatapan Rajendra kepada Olivia tadi.


Olivia berdiri dari duduknya. "Saya bantu pijat, Tuan!" ujar Olivia dengan sopan.


"Tidak usah!" jawab Faiz dengan datar.


Olivia menyatukan kedua alisnya dengan bingung melihat perubahan sikap Faiz saat ini. Tetapi Olivia tak pantang menyerah, ia harus menyelesaikan misi untuk mendekati Faiz walaupun sebenarnya ia takut dengan kemarahan Faiz sekarang.


"Tidak apa-apa, Tuan. Mungkin dengan pijatan saya rasa pusing di kepala anda berkurang," ujar Olivia dengan tersenyum.


"Maaf, Tuan!" Olivia mulai memijat kepala Faiz sesudah meminta maaf kepada Faiz.


Faiz memejamkan matanya merasakan pijatan Olivia begitu sangat enak. Rasa kesal yang tadinya menyerang hatinya kini telah hilang digantikan rasa rileks dengan pijatan Olivia.


"Bagaimana, Tuan? Sudah mendingan?" tanya Olivia menatap wajah Faiz dari atas.


Olivia menelan air liurnya dengan gugup saat mata elang milik Faiz mulai terbuka hingga kedua mata mereka saling mengunci satu sama lain hingga dekltai jantung mereka terdengar sangat kencang sekali.


"Kenapa ruangan ini menjadi panas? Apa AC di ruangan ini rusak?" tanya Faiz dengan melonggarkan dasi yang ia pakai.


"Tidak, Tuan! AC di ruangan anda masih berfungsi dengan baik," jawab Olivia dengan tersenyum manis.


"Sial! Senyumannya kenapa begitu manis sekali?" umpat Faiz di dalam hati


"Apakah kepala anda sudah mendingan, Tuan? Mau saya buatkan kopi?" tanya Olivia dengan lembut yang terdengar di telinga Faiz.


"Tidak! Saya mau kami pijat kepala saya saja," ujar Faiz yang membuat Olivia tersenyum.


"Baik, Tuan!" sahut Olivia.


Faiz benar-benar menikmati pijatan Olivia dan tanpa sadar ia tertidur saat ini. Olivia melihat ke arah Faiz, napas Faiz sudah teratur menandakan jika Faiz benar-benar tertidur saat ini.


"Saat tertidur seperti ini kenapa anda masih terlihat tampan sekali, Tuan?" gumam Olivia dengan tersenyum malu karena mengagumi atasannya sendiri.


"Apa bisa saya mendekati tuan untuk membuat keluarga kita kembali baik setelah apa yang keluarga saya lakukan di masa lalu? Andai saja keluarga kita masih bersama mungkin aku adalah orang yang pertama yang ingin selalu dekat dengan tuan selain nona Frisa. Tapi kesalahan keluarga saya di masalalu benar-benar sangat besar. Mungkin benar kata Cassandra jika saya mendekati tuan, itu bisa membuat keluarga kita bisa saling dekat seperti dulu," gumam Olivia dengan lirih menatap wajah Faiz yang begitu sangat tampan.


Tak mau mengganggu tidur Faiz, Olivia mulai membereskan semua berkas di meja Faiz agar tidak berantakan dan mematikan laptop yang masih menyala dan sebelum itu Olivia sudah menyimpan file penting di laptop Faiz. Setelah semuanya selesai Olivia kembali menatap Faiz dengan tersenyum.


"Misi pertama selesai," gumam Olivia dengan terkekeh melihat kelakuan dirinya sendiri yang sangat aneh menurutnya tetapi demi Cassandra dan keluarganya Olivia akan mendekati Faiz hingga Faiz menjadi miliknya.


"Selamat tidur calon masa depan," gumam Olivia dengan terkekeh.


"Aku sudah gila!" teriak Olivia di dalam hati.