Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 209 (Pemaksaan)


...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


...***...


Cassandra menatap Rajendra yang sedang berada di atas kasur memegang ponsel miliknya. Keringat Cassandra sudah mengucur deras karena ia baru saja selesai membereskan rumah ini sendirian, ia benar-benar di jadikan babu oleh Rajendra. Ingin sekali Cassandra marah tetapi lebih takut kemarahan Rajendra yang membabi buta.


"Bersiaplah nanti karena malam ini kita menginap di rumah kedua orang tua angkatmu. Jangan pernah menceritakan apa yang kamu alami selama di sini atau tidak mamamu yang akan menjadi taruhannya. Kamu sudah melihatkan kekejaman saya terhadap papa kamu sendiri? Kamu tidak ingin nasib anak buah Roby akan terjadi pada mama yang sangat kamu sayangi itu?" ujar Rajendra memperingati Cassandra dengan suara yang amat dingin.


"K-kita menginap 3 hari ya, Mas!" ujar Cassandra dengan mata yang berbinar karena ia sangat merindukan ayah dan bundanya, Cassandra sangat ingin menangis di pelukan Anjani.


"Siapa kamu mengatur saya? Menginap semalam atau tidak sama sekali," ujar Rajendra dengan tajam yang membuat Cassandra beringsut takut.


Cassandra menunduk takut, ia sangat ingin menceritakan semuanya kepada Anjani bagaimana tertekannya hidupnya di rumah ini, tetapi Cassandra sama sekali tidak mempunyai keberanian, karena itu sama saja menggalih kuburannya sendiri karena ia sudah melihat video tentang kiriman paket kepala orang suruhan papanya ke rumah papanya.


"Jika kamu berani melanggar, siap-siap mereka mengetahui kebusukan kamu selama ini. Semua bukti ada di tangan saya Cassandra," ujar Rajendra dengan sangat tajam.


Cassandra merasa sesak pada hatinya, semua kejahatannya sudah Rajendra ketahui bahkan lelaki itu sudah memiliki bukti yang bisa kapan saja menghancurkan dirinya. Untuk saat Cassandra hanya bisa menurut saja, jika setelah ada cela maka ia akan kabur saja dari jeratan Rajendra di rumah ini.


"Iya, Mas!" gumam Cassandra dengan lirih.


Cassandra berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri, tubuhnya begitu sangat gerah sekali. Di rumah orang tuanya nanti mungkin ia akan melihat sikap lembut Rajendra terhadap dirinya walaupun itu hanya sekedar sandiwara yang Rajendra lakukan. Bahkan sekarang Cassandra tidak bekerja di perusahaan, dirinya sudah di gantikan dengan adiknya sendiri. Cassandra tahu pasti yang berhubungan dengan papanya tidak akan Rajendra lepaskan begitu saja termasuk adiknya juga. Jika tidak Rajendra yang memberitahu tentang Bunga mungkin Cassandra tidak pernah tahu bagaimana wajah adiknya saat ini.


"Bun, aku ingin pergi saja dari tempat ini!" gumam Cassandra mengingat kebaikan Anjani kepada dirinya walaupun dirinya hanya anak angkat.


Sesak kembali menghampiri dirinya saat ia memejamkan mata dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin agar ia bebas menangis di sana untuk menghilangkan rasa sesak di dadanya.


Sedangkan Rajendra menatap pintu kamar mandi dengan sangat dingin. Hatinya mati rasa untuk Cassandra, ia benar-benar sangat membenci Cassandra dan tak menyukainya walaupun ada terbesit rasa kasihan saat melihat Cassandra ketakutan karena dirinya.


Sedangkan kepada Bunga, ia merasa ada deberan yang berbeda. Rajendra ingin selalu melihat Bunga dalam jarak yang begitu sangat dekat, walaupun ia juga mengancam Bunga tetapi Rajendra yakin jika Bunga tak akan berani berbuat macam-macam bahkan selalu menuruti kemauannya walaupun sebenarnya Bunga sangat takut terhadap dirinya.


Sial!


Kenapa ia menjadi memikirkan Bunga? Gadis itu sudah membuat dirinya kacau akhir-akhir ini bahkan rasa ini seperti rasa yang pernah ada untuk Olivia. Rajendra mengacak rambutnya dengan frustasi, semakin ia ingin mengalihkan pikirannya semakin wajah Bunga terus terlintas di pikirannya.


"Bunga!" gumam Rajendra dengan geram. Rajendra ingin sekali mendekap Bunga sekarang dan menjadikan gadis itu miliknya walaupun memakai ancaman agar gadis itu mau.


Rajendra membuang napasnya dengan perlahan. Ia mengambil jas miliknya dan berlalu pergi begitu saja meninggalkan Cassandra yang masih menangis di dalam kamar mandi. Semua rumah ini sudah terpasang CCTV dan beberapa penjaga di luar tetapi untuk pembantu sama sekali tak Rajendra pekerjakan karena itu akan Cassandra kerjakan seorang diri. Jadi, Rajendra dengan sangat muda memantau semua gerak-gerik Cassandra di rumah ini termasuk niatan Cassandra untuk kabur dari dirinya. Dan Rajendra pastikan Cassandra tidak akan bisa keluar dari rumah ini tanpa pengawasan dari dirinya.


****


Bunga melihat kedatangan Rajendra ke rumahnya dengan menahan napasnya, tanpa di suruh pun Rajendra langsung masuk begitu saja yang membuat Bunga merasa waspada.


"T-tuan mau apa?" tanya Bunga dengan terbata.


"Buatkan saya kopi, hari ini kita libur bekerja," ujar Rajendra dengan santainya.


"Libur, Tuan? Bukannya hari ini bukan hari libur?" tanya Bunga dengan bingung.


"Saya bosnya dan kamu tinggal menurut saja sama saya! Jangan banyak tanya!" ujar Rajendra dengan datar yang membuat Bunga langsung mengangguk patuh, ia tidak ingin melihat Rajendra marah di hadapannya.


"Sebentar ya, Tuan!" ujar Bunga berlalu ke dapur.


Bunga masih tak menyangka jika Rajendra berada di rumahnya sekarang. Dan yang membuat Bunga bingung kenapa Cassandra tidak bekerja kembali? Apakah Rajendra melarang Cassandra bekerja? Cassandra begitu sangat di manjakan oleh Rajendra, terbesit rasa ingin menjadi Cassandra yang di cintai begitu tulus oleh Rajendra. Bunga ingin mempunyai lelaki yang juga sangat menyayangi dirinya, Bunga sudah lelah dengan bentuk amarah yang selalu di lontarkan papanya. Bunga butuh sandaran untuk setiap keluh kesahnya.


Bunga ingin bertanya tentang Cassandra pada Rajendra. Namun, itu bukan ranahnya karena ia takut di anggap mengurusi rumah tangga orang.


Padahal Bunga sudah siap dan tinggal berangkat bekerja saja. Namun, kenapa Rajendra malah datang ke rumahnya dan menyuruh ia untuk libur?


Rajendra mengambil gelasnya dan menyeruput kopi itu dengan perlahan. Bunga duduk di sebelahnya dengan perasaan yang begitu bingung tentangnya.


"Pernikahan saya dengan Cassandra bukan pernikahan yang saya impikan!" ujar Rajendra dengan datar.


Bunga begitu terkejut dengan ucapan Rajendra hingga membuat Bunga menatap Rajendra.


"Dia adalah kakakmu, Cassandra sudah bersekongkol dengan Roby dan juga Clara untuk menghancurkan keluarga saya. Saya mengetahui semuanya dan merencanakan pernikahan dengannya agar saya bisa menyiksa Cassandra, wanita seperti dia harus di beri pelajaran hingga dia sadar apa yang ia lakukan untuk membalas dendam benar-benar tidak berdasar sama sekali karena selama ini Roby dan Clara yang sudah menghancurkan keluarga saya bahkan Clara dan Agni telah membunuh istri pertama papa saya," ujar Rajendra bercerita dengan tatapan yang begitu tajam ke arah depan di mana foto Bunga dan kedua orang tuanya berada.


Deg...


Bunga sangat merasa syok dengan kebenaran yang Rajendra ucapan barusan. Nyawanya seakan melayang begitu saja. Cassandra kakaknya? Kenapa dunia sesempit ini?


"C-cassandra kakak saya, Tuan?" tanya Bunga begitu sangat syok.


Bunga terlihat sangat lemas. Ia pikir Rajendra dan Cassandra saling mencintai namun keduanya ingin saling menghancurkan.


"Hmmmm...."


"A-anda juga ingin menghancurkan saya sama seperti anda ingin menghancurkan kakak saya dengan terus menekan saja begitu, Tuan?" tanya Bunga dengan datar.


Bunga mengirup udara sebanyak-banyaknya. "Saya tahu saya adalah anak dari Roby. Tapi tolong, Tuan. Bebaskan saya! Saya benar-benar tertekan dengan semua ini, jika anda ingin menghancurkan mental saya dengan perlahan saya akui anda akan berhasil tapi bisakah anda membebaskan saya? Saya ingin hidup normal, Tuan!" ujar Bunga dengan sendu.


"Tidak!" jawab Rajendra dengan datar.


"K-kenapa? Saya janji tidak akan menganggu keluarga, Tuan!" ujar Bunga dengan memohon.


"Karena saya tertarik denganmu! Mulai sekarang kamu adalah kekasih saya tak peduli jika kamu adalah anak Roby dan adik dari Cassandra!" ujar Rajendra dengan tegas.


Rajendra sudah tidak mau berlama-lama mengungkapkan perasaannya, ia tidak ingin seperti dulu, dimana Olivia sudah menjadi milik orang lain yang tak lain adalah keponakannya sendiri.


"A-apa?" tanya Bunga dengan terbata berharap ia salah dengar tadi.


"Kurang jelas apa yang saya ucapkan?" tanya Rajendra dengan menyeringai.


Lalu Rajendra mendekatkan bibirnya ke telinga Rajendra. "Mulai sekarang kamu adalah milik saya Bunga Anastasya!" ujar Rajendra dengan tegas dan tak ada keraguan di dalam dirinya.


"Kamu tidak bisa menolaknya karena saya pun tahu kamu tertarik dengan saya bukan?"


"Ini tidak benar, Tuan. Anda adalah suami dari kakak saya bagaimana mungkin kita menjalin hubungan?!" ujar Bunga menolak dengan keras karena bagaimanapun Bunga tak ingin melukai hati kakaknya.


"Apa peduli saya? Cassandra menginginkan pernikahan ini hanya untuk menguasai harta saya dan menghancurkan keluarga saya. Lalu saya harus menjadi suami yang baik untuk dia begitu? Yang saya inginkan hanya kamu Bunga! Bagaimana kerasnya kamu menolak saya, saya akan tetap menjadikan kamu milik saya!" ujar Rajendra yang membuat Bunga ingin menghilang saja dari rumahnya sendiri tetapi Bunga tak memungkiri jika dirinya memang menyukai Rajendra.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" jerit hati Bunga dengan lirih.


****


Tim Rajendra-Cassandra?


Tim Rajendra-Bunga?


Kapal siapa yang akan berlayar bahagia?