Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 127 (Kabar Meninggalnya Heera)


...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


****


Innalillahi wainnailaihi raji'un... Ibu mertua dari pengusaha muda Rania Danuarta menghembuskan napas terakhirnya pukul 10:00 WIB di rumah sakit setelah koma dua tahun. Penyebab meninggalnya mertua dari Rania Danuarta karena penyakit Leukimia yang di deritanya selama ini.


Eric menjatuhkan remot yang ada di tangannya, matanya menatap layar televisi dengan mata berkaca-kaca. "Tidak mungkin!" gumam Eric dengan lirih.


"Saya harus ke rumah Rania sekarang!" ujar Eric dengan memegang dadanya yang mendadak terasa sakit.


"Mas mau ke mana?" tanya Gista yang membawakan kopi untuk Eric.


Eric tak menjawab matanya masih fokus ke arah televisi hingga Gista juga ikut menatap televisi yang masih menayangkan berita meninggalnya Heera.


"Ya Tuhan... Mbak Heera!" ucap Gista menutup mulutnya tidak percaya.


Entah mengapa ia juga merasa kesedihan yang begitu mendalam ketika menyaksikan di televisi tubuh Heera yang tertutup kain dengan banyaknya pelayat di sana.


Eric mulai berjalan keluar rumah, ia ingin melihat Heera untuk terakhir kalinya. Kesedihan yang begitu mendalam begitu Eric rasakan apalagi rasa penyesalannya kepada Heera karena selama 2 tahun ini ia tidak bisa meminta maaf kepada Heera, selain keadaan Heera yang belum sadarkan diri Ferdians juga begitu melarangnya untuk menjenguk Heera.


Gista hanya mengikuti suaminya tanpa suara. Gista merasa sedih, ia tidak senang dengan berita duka ini walaupun suaminya masih mencintai Heera tetapi ia masih mempunyai hati nurani. Heera adalah orang yang baik, Gista tidak marah sama sekali melainkan ia yang merasa bersalah dengan wanita itu. Gista juga ingin menyaksikan pemakaman Heera untuk terakhir kalinya.


"Mas aku ikut!" ujar Gista dengan cepat.


Gista masuk ke dalam mobil. Ia melihat wajah Eric yang penuh dengan penyesalan, Gista mengelus punggung Eric dengan lembut.


"Jalan, Pak. ke rumah Rania ya!" ujar Gista dengan tegas.


"Baik, Bu!" jawab supir Gista dan Eric dengan sopan.


Mobil sudah berjalan meninggalkan rumah mewah milik Eric. Eric memejamkan matanya, air mata langsung menjatuhi pipi tirusnya.


"Ikhlaskan kepergian mbak Heera, Mas. Mbak Heera sudah tidak merasakan sakit lagi," ujar Gista menyeka air mata Eric dengan lembut.


"Saya belum sempat meminta maaf dengan Heera, Gista. S-saya... Aakhh..." Eric memegang dadanya yang membuat Gista panik.


"Mas kenapa? Kita ke rumah sakit dulu ya!" ujar Gista dengan cemas.


"Tidak! Aku tidak mau terlambat, Gista. Kita langsung ke pemakaman saja. Saya yakin Ferdians sudah menyuruh anak buahnya untuk berjaga di luar agar saya tidak bisa menemui Heera untuk terakhir kalinya," ujar Eric dengan penuh penyesalan bahkan ia mengabaikan sakit pada dadanya saat ini.


"Iya, Mas!"


"Pak kita langsung ke pemakaman Danuarta Memorial Park ya!" ujar Gista.


"Baik, Bu!"


****


Sedangkan di pemakaman Danuarta Memorial Park. Jenazah Heera baru saja sampai dengan ambulans dan banyak mobil mewah yang ikut mengiringi ambulans tersebut.


Ferdians juga ada di dalamnya, ia tidak pernah meninggalkan ibunya. Tak ada lagi air mata yang menjatuhi pipinya, Ferdians sudah ikhlas dengan kepergian ibunya.


Makam Heera berada di samping Ferry, Ferdians sengaja memakamkan ibunya di samping sang kembaran agar ibunya selalu dekat dengan Ferry.


"Nenek!" gumam Faiz dan Frisa dengan sendu seakan kedua anak kembar tersebut merasakan kehadiran Heera.


Kedua suster yang mengasuh Faiz dan Frisa dengan telaten menjaga keduanya karena Ferdians dan Rania masih sangat sibuk mengurus pemakaman Heera.


Ferdians ikut mengangkat jenazah ibunya. Keluarga, kerabat sudah ikut berjalan ke makam Heera.


Faiz dan Frisa merengek ingin ikut bersama dengan Rania. "Sayang, sama Kakek dulu ya. Mama sedang capek," ujar Ben dengan lembut.


"Tidak mau, Kek! Mau Mama!" rengek Frisa dengan suara yang sangat menggemaskan yang membuat Rania menggendong anaknya untung saja Faiz mau di gendong oleh Ben.


Rania memakai kacamata hitam untuk menutupi mata bengkaknya. Dua kali ia sudah kehilangan sosok ibu di dalam hidupnya dan itu sangat menyakitkan untuk dirinya tetapi ini adalah takdir yang ia harus terima. Setiap yang bernyawa pasti akan kembali ke Sang Pencipta, kan?


Ferdians mengazankan ibunya untuk terakhir kalinya dengan suara yang gemetar karena sesak yang ia rasakan. Hingga tubuh Heera mulai di tutupi dengan tanah.


Acara pemakaman sudah selesai. Kini, tinggal menaburkan bunga dan berdo'a untuk Heera. Tanpa ada yang menyadari Eric dan Gista melihat pemakaman Heera dengan hati yang begitu terluka, dan setelah Ferdians dan yang lainnya pulang maka Eric akan melihat pemakaman Heera.


"Mau kasih bunga buat nenek Heera?" tanya Rania kepada anaknya.


"Mau, Mama!" ujar Frisa dan Faiz berbarengan.


Rania membimbing anaknya untuk menaburkan bunga di makan Heera. Rania tercekat saat kedua anaknya bergantian mencium nisan Heera. Rania tersenyum tipis, ternyata anaknya mengerti situasi ini. Walaupun Rania tahu Faiz dan Frisa tidak mengerti sepenuhnya tetapi apa yang dilakukan kedua anaknya membuat Rania, Ferdians dan yang lainnya terharu.


"Mama, nenek suka bunga!" ujar Frisa dengan ceria.


"Iya, Sayang. Nenek sangat suka!" ujar Rania dengan tersenyum tipis.


"Sebaiknya kita pulang ya. Hujan sudah mulai datang," ujar Ben.


Dengan berat hati Ferdians dan Rania mengangguk karena bagaimanapun Faiz dan Frisa tidak boleh berlama-lama di tempat ini.


"Bu, kami pulang dulu ya!" ujar Ferdians dengan mencium nisan ibunya.


Rania juga ikut mencium nisan ibu mertuanya. Lalu setelah itu mereka benar-benar melangkah untuk pulang dengan hati yang sangat hampa karena setelah ini tidak adalagi Heera di tengah-tengah mereka.


****


Setelah memastikan Ferdians dan yang lainnya pulang Eric dan Gista melangkah mendekati makam Heera dengan membawa bunga bawah merah kesukaan Heera.


Walaupun Eric dan Ben sudah berdamai karena Ben sudah mengetahui jika Eric tidak bersalah dalam meninggalnya sang istri tetapi Ben seakan menjaga jarak dengan Eric karena menghargai Ferdians yang sangat membenci Eric dan sampai sekarang belum bisa memaafkan Eric. Entah sampai kapan Ferdians akan memaafkan kesalahannya dan jujur saja itu membuat Eric tersiksa.


Eric langsung bersimpuh di makam Heera. Ia memeluk nisan Heera dengan erat dengan menangis yang terdengar menyayat hati Gista yang mendengarnya.


"Hiks...hiks... Maafkan Mas yang sudah membuat hidup kamu penuh luka, Heera. Bahkan penderitaan yang kamu rasakan itu semua karena, Mas. Andai waktu bisa di ulang Mas akan menentang semuanya dan mempertahankan kamu. Tapi semua itu tidak bisa di ulang hingga Mas benar-benar kehilangan kamu untuk selama-lamanya. Bagaimana sekarang Mas meminta maaf atas kesalahan yang sudah Mas perbuat, Heera? Sungguh Mas menyesal telah menyakiti kamu dan Ferdians!" ujar Eric dengan terisak memeluk makam Heera tak peduli pakaiannya yang kotor terkena tanah karena dengan begini ia bisa memeluk Heera walaupun jasadnya tak lagi bisa ia lihat.


Hujan turun dengan deras tetapi tak membuat Eric pergi dari tempat ini.


"Mas hujan semakin deras ayo kita pulang. Besok lagi kita ke sini ya," ujar Gista membujuk suaminya.


Tetapi Eric sama sekali tak bergeming, ia menaburkan bunga untuk Heera tak peduli dengan tubuhnya yang basah kuyup hingga sang supir datang membawa payung untuk mereka.


"Mas ayo pulang nanti kamu sakit!" ujar Gista dengan cemas.


Eric terus memeluk makam Heera dengan rasa penyesalan yang sangat besar. Bahkan ucapan istrinya sama sekali tak ia dengar.


Gista berusaha untuk kembali membujuk suaminya tetapi akhirnya ia menyerah membiarkan Eric mengeluarkan semua kesakitannya di makam Heera walaupun ia tahu ini tidak baik tetapi saat ini Gista tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu suaminya.


Sudah setangah jam Gista menunggu suaminya tetapi Eric tetap pada posisi memeluk makam Heera yang membuat Gista khawatir. Akhirnya Gista berjongkok di di samping suaminya dan betapa terkejutnya Gista saat mengetahui jika Eric sudah tak sadarkan diri di makam Heera.


"Pak tolong bantu suami saya. Dia pingsan!" ujar Gista dengan panik.


"Mas bangun, Mas!" ucap Gista dengan panik tetapi Eric sama sekali tak merespon. Wajahnya begitu pucat dengan air mata yang masih terlihat di sudut matanya yang tertutup.


"Baik, Bu!" supir mereka dengan sigap membopong Eric dan membawanya ke rumah sakit.


Rasa penyesalan yang begitu sangat mendalam membuat Eric seperti ini dan itu membuat Gista sangat terluka sekali.