Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 226 (Hari Bahagia)


...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


...****...


Bunga menatap Rajendra dengan haru ketika baru beberapa detik yang lalu ia sudah menjadi istri dari seorang Rajendra. Perasaan Bunga membuncah antara bahagia dan sedih bercampur menjadi satu.


Ana menatap Bunga dengan terharu, ia berharap Bunga akan menjadi istri yang Rajendra cintai sampai maut memisahkan dan untuk Cassandra, ia juga berharap jika Cassandra menyadari kesalahannya dan nantinya akan menemukan pendamping yang mencintai Cassandra dengan tulus.


Bunga mencium tangan Rajendra dengan penuh haru begituoun dengan Rajendra yang mencium kening Bunga dengan lembut. Rajendra tampak begitu sangat bahagia karena sudah berhasil menjadikan Bunga istrinya, dan ia berjanji di dalam hati setelah permasalahan dengan Cassandra selesai, ia akan menceraikan Cassandra karena ia tahu pasti hati Bunga akan sedih jika ia masih mempertahankan Cassandra walaupun di dalam hatinya tidak ada rasa cinta sama sekali untuk Cassandra.


Semua tampak bertepuk tangan bahagia melihat ke bahagia Rajendra dan Bunga saat ini, terpaan angin pantai membuat rasa kebahagiaan mereka bertambah karena kesejukan yang mereka rasakan.


Tangan Bunga mengapit lengan Rajendra mereka berjalan ke keluarga Rajendra. Walaupun acara pernikahan keduanya hanya di hadiri keluarga dan beberapa teman dekat saja tetapi membuat Rajendra dan Bunga bahagia. Namun, di dalam hati Bunga merasa sedih karena tak melihat kedua orang tuanya sendiri hadir di dalam pernikahannya saat ini.


"Kamu bahagia, Sayang?" tanya Rajendra menatap Bunga.


"Bahagia sekali, Mas. Walaupun hatiku sedikit kosong karena tidak ada kehadiran kedua orang tuaku di hari bahagia kita," jawab Bunga dengan tersenyum.


"Maaf ya, Sayang. Ini demi kebaikan kita bersama," ujar Rajendra dengan pelan.


"Iya, Mas. Tidak apa-apa," sahut Bunga dengan lembut.


Bunga memeluk Ana dengan erat ketika ia melihat mertuanya itu menatap dirinya dengan sangat dalam.


"Ma, terima kasih sudah mau menerimaku untuk menjadi menantu Mama. Maafkan aku ya, Ma!" ujar Bunga dengan lirih.


"Kenapa minta maaf, Sayang? Kamu tidak salah apapun tapi ini sudah takdir yang harus kamu terima, Sayang. Seharusnya Mama yang meminta maaf karena anak Mama ini sangat pemaksa sekali agar kamu menjadi istrinya," ujar Ana dengan mata yang berkaca-kaca.


"Aku bahagia, Ma!" ucap Bunga dengan tersenyum.


Ana tersenyum mencium kening Bunga dengan lembut menyampaikan rasa bahagia dan berterima kasihnya kepada Bunga karena sudah berhasil membuat anaknya jatuh cinta dan melupakan Olivia.


Bunga merasa sangat di sayangi oleh Ana yang membuat hatinya begitu sangat haru. Setelah itu ia memeluk papa mertuanya yang sudah tua. Namun, masih terlihat tampan walaupun keriputnya sudah menutupi ketampanannya.


"Selamat bergabung di keluarga Danuarta, Nak!" ujar Ben dengan tersenyum.


"Terima kasih, Pa!" sahut Bunga dengan tersenyum.


Setelah itu ia kembali memeluk Rania dan bergantian memeluk keluarga suaminya satu persatu.


"Ma, pa, aku bahagia bersama dengan keluarga Danuarta. Tapi kenapa kalian sangat membenci keluarga Danuarta? Padahal keluarga suamiku sangat baik sekali, mereka sangat hangat, lembut, dan penuh perhatian yang tak pernah aku dapatkan dari mama dan papa selama ini," gumam Bunga di dalam hati.


Semua orang berpesta dengan sangat gembira hari ini untuk merayakan pesta pernikahan Rajendra dengan Bunga.


Frisa dan Gavin bermain air di pantai sedangkan pengantin baru itu duduk menikmati suasana pantai dengan menikmati hidangan yang sudah di siapkan dan mengobrol bersama dengan para keluarga besar Danuarta dan kedua orang tua Ferdians serta teman dekat mereka yang juga ikut menyaksikan pernikahan Rajendra dengan Bunga.


"Lihat cucu kamu itu, Mas. Sudah menikah tapi seperti anak kecil sangat menggemaskan sekali," ujar Gista dengan tertawa melihat kelakuan Frisa bersama dengan Gavin yang sudah bermain di pantai dan tak mempedulikan baju mereka yang sudah basah.


Eric terkekeh. "Walaupun Frisa sudah dewasa tetapi di mata kita Frisa tetaplah Frisa kecil kita, Sayang! Mas sangat berharap bisa melihat anak Frisa lahir nantinya dan juga anak Faiz tentunya," ujar Eric dengan tersenyum.


Gista, Ferdians, dan Rania ikut tersenyum mendengar perkataan Eric. Memang benar sedewasa apapun Frisa sekarang, Frisa akan tetap menjadi Frisa kecil yang sangat menggemaskan untuk mereka.


Sedangkan Rajendra dan Bunga juga merada tertarik dengan apa yang Frisa dan Gavin lakukan saat ini.


"Tapi bajunya nanti basah, Mas!" ujar Bunga dengan pelan karena sangat menyayangkan jika pakaian menikah mereka harus basah.


"Ganti pakaian dulu dong baru kita bergabung lagi di sini," ujar Rajendra yang membuat Bunga mengangguk setuju karena sejak tadi Bunga sudah sangat ingin bergabung dengan Frisa dan juga Gavin tetapi pakaian yang ia kenakan membuat Bunga mengurungkan niatnya.


"Iya aku mau, Mas!" ujar Bunga dengan mata berbinar.


"Ya sudah ayo!" ujar Rajendra dengan tersenyum.


"Ma, Pa, dan yang lainnya kami ke kamar dulu ya. Kami ingin berganti pakaian dan segera bergabung dengan Frisa maupun Gavin di sana," ujar Rajendra dengan berpamitan sebentar.


"Iya, Rajendra. Jangan di apa-apain dulu Bunga ya! Kalian harus menikmati pesta kalian ini," ujar Ana yang mengundang gelak tawa semua orang.


Rajendra terkekeh. "Iya tidak, Ma!" jawab Rajendra yang membuat kedua pipi Bunga bersemu merah membayangkan malam pertamanya dengan Rajendra nanti.


Sedangkan Faiz terlihat tidak bersemangat, seharusnya ia juga ikut bergabung di sana tetapi istrinya tidak ada di sini. Faiz terus menempel pada mamanya dengan mengelus perut mamanya dengan penuh sayang yang membuat Ferdians ingin sekali mengomel dengan tingkah manja Faiz saat ini. Namun, melihat kesedihan di wajah anaknya membuat Ferdians mengurungkan niatnya.


"Seandainya semua tidak sesulit ini aku sudah membawa Olivia ke tempat ini, Ma!" gumam Faiz dengan lirih.


"Kamu bisa membawa Olivia ke sini setelah ini, Faiz. Jika kamu merasa bersalah dengan istri kamu," ujar Rania dengan tegas.


"Seharusnya Olivia juga ikut merasakan kebahagiaan ini, Ma. Kami ikut berfoto bersama di pernikahan om Rajendra dan tante Bunga. Tapi semuanya tidak segampang itu," gumam Faiz dengan lirih.


"Apa mau di kata, Faiz. Ini semua demi kebaikan sebelum semuanya ke bongkar," ujar Ferdians yang di angguki oleh Faiz.


Sama seperti Faiz, Rini juga merasa kesepian di tempat ini karena ia tidak mempunyai teman sama sekali. Dan untungnya keluarga Danuarta sangat ramah yang membuat Rini tidak terlalu canggung. Apalagi ada Melvin yang membuat dirinya ikut tertawa dengan tingkah konyol Melvin. Setelah di hajar oleh Rajendra, Melvin bukannya tobat, ia malah semakin mendekati sahabat dari Bunga tersebut. Rini yang awalnya merasa tidak suka dengan Melvin kini bisa membuka diri dengan Melvin dam ternyata Melvin sangat asyik ketika di ajak mengobrol.


Dan tentu saja selain keluarga Danuarta yang datang ada para mantan pengawal Rania dan juga pengawal Frisa yang juga ikut menyaksikan kebahagiaan Rajendra dan Bunga.


****


Rajendra dan Bunga sudah asyik bermain air sejak tadi hingga tak menyadari jika hari sudah beranjak malam.


Keduanya duduk di pasir dengan menikmati matahari tenggelam bersama. Bunga memeluk lututnya dengan menatap matahari yang mulai tenggelam dan terlihat sangat indah, sedangkan Rajendra menatap wajah Bunga tanpa berkedip sedikitpun.


"Sunset-nya cantik banget ya, Mas!" ujar Bunga dengan tersenyum tanpa melihat ke arah Rajendra karena ia masih menikmati sunset di depannya.


"Lebih cantik kamu, Sayang!" jawab Rajendra yang membuat Bunga tersipu malu.


"Apaan sih, Mas!" protes Bunga dengan malu-malu.


Rajendra terkekeh. "Loh kenapa? Kamu memang yang tercantik di mata Mas selain wanita di keluarga, Mas! Kamu istri Mas yang paling cantik," ujar Rajendra dengan tersenyum.


"Kalau Cassandra? Dia kan istri Mas juga," ujar Bunga yang membuat senyum Rajendra langsung memudar.


"Untuk apa cantik wajah jika hatinya terlihat begitu busuk. Mas mohon di hari bahagia kita kamu jangan bahas dia. Bisa, kan?" ujar Rajendra dengan serius.


"Iya, Mas. maaf," gumam Bunga dengan lirih.


Bunga menyandarkan kepalanya di bahu Rajendra. "Aku berharap kita akan terus bersama sampai maut memisahkan kita ya, Mas!" ujar Bunga dengan penuh harap.


"Aamiin, Sayang. Dan itu pasti!" ujar Rajendra dengan mencium Bunga di saksikan sunset yang sangat indah.


Keduanya sangat menikmati ciuman penuh kasih sayang antara keduanya. Tidak ada n*fsu yang ada hanya ciuman kasih sayang yang mereka curahkan bersama. Berharap semua do'a dan harapan mereka akan terkabul.