
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
****
Olivia tampak merinding dengan tatapan Faiz yang begitu tak biasa kepada dirinya. Padahal ia sendiri yang gencar mendekati Faiz tetapi mengapa ia menjadi sangat gugup saat Faiz menatapnya begitu intens sekarang.
"A-ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya Olivia dengan terbata.
Faiz menyeringai, kemarin-kemarin gadis ini begitu berani kepada dirinya dan sekarang mengapa sangat terlihat gugup? Tapi itu bagus untuk membuat Olivia semakin tertekan sekarang.
"Mendekatlah!" perintah Faiz dengan tegas.
Olivia berjalan dengan perlahan mendekat ke aeah Faiz. Ia takut berbuat sesuatu yang membuat Faiz murka, bahkan banyak pertanyaan di benaknya sekarang.
Tanpa di duga oleh Olivia, Faiz menarik tangannya dengan kuat hingga Olivia kehilangan keseimbangannya dan akhirnya terjatuh di pangkuan Faiz.
"T-tuan..."
"Kenapa terlihat gugup? Padahal waktu itu kamu sangat berani mencium pipi saya," tanya Faiz yang mengingatkan kembali Olivia pada kejadian di mana ia mencium Faiz tepat di pipi saat itu.
"I-itu...."
"Itu apa? Bukannya kamu mengatakan jika kamu menyukai saya?" tanya Faiz dengan menyeringai.
"S-saya..."
"Kenapa kamu jadi gagap seperti ini? Kemana keberanian kamu waktu itu hmm?" tanya Faiz semakin mendesak Olivia yang saat ini berada di pangkuannya.
Faiz akui, Olivia begitu sangat cantik bahkan mirip seperti mamanya di waktu muda. Faiz memegang pipi Olivia yang membuat Olivia semakin gugup, Olivia tersadar jika saat ini dirinya ada di pangkuan Faiz. Seketika Olivia ingin bangun tetapi tangan Faiz menahannya begitu kuat.
Faiz semakin menatap Olivia dengan intens bahkan wajah keduanya semakin dekat, Olivia menahan napasnya saat wajah Faiz hampir tak berjarak bahkan hidung mereka sudah bersentuhan.
Cup...
Bagaikan terkena aliran listrik dengan tegangan yang sangat tinggi Olivia mematung dengan hebat saat Faiz mencium bibirnya dengan lembut dan tanpa ia duga sama sekali.
Faiz menahan tengkuk Olivia agar gadis itu tidak melepaskan ciuman mereka. Bahkan Olivia tidak diberikan cela sedikit pun untuk berbicara, Faiz mulai menggerakkan bibirnya dengan perlahan yang membuat Olivia mendelik karena tak percaya jika saat ini Faiz mencium bibirnya dengan begitu mesra.
"Kamu milik saya, Olivia!" gumam Faiz setelah melepaskan ciumannya sejenak.
Lalu tak ingin Olivia protes, Faiz kembali membungkam bibir Olivia dengan bibirnya. Ia menarik tubuh Olivia agar semakin nyaman duduk di pangkuannya. Olivia yang tadinya hendak melepaskan ciumannya kini malah ikut hanyut dalam ciuman mesra yang dilakukan Faiz bahkan ia juga membalas ciuman itu tak kalah lembutnya.
Di rasa Olivia sudah kehabisan napas Faiz melepaskan ciumannya dan beralih ke leher jenjang Olivia yang membuat Olivia menggigit bibirnya untuk menahan suara desah*nnya yang hendak keluar.
"T-tuan, t-tolong lepas!" gumam Olivia memejamkan matanya saat Faiz mengh*sap kulit lehernya dengan kuat.
Olivia yakin lehernya akan berbekas sekarang. Bagaimana cara dirinya menutupi bekas kemerahan yang dibuat oleh Faiz saat ini.
Setelah puas membuat Olivia tertekan, Faiz sedikit menjauhkan wajahnya dari leher Olivia. Faiz menyeringai, napasnya juga terasa panas saat menerpa wajah Olivia.
"Bagaimana ciuman saya? Lebih menggoda dari pada ciuman kamu yang tidak terasa sama sekali waktu itu, kan?" tanya Faiz yang membuat wajah Olivia memerah.
Faiz menempel telunjuknya di bibir Olivia yang terlihat sedikit membengkak karena ulahnya. "Kamu yang sudah memancing saya, Olivia. Jadi, jangan salahkan saya jika hari ini dan seterusnya kamu tidak akan bisa lepas dari saya," ujar Faiz dengan tegas.
Olivia tak menyangka jika apa yang ia lakukan akan berakibat seperti ini. Tetapi bukannya itu bagus karena dirinya semakin dekat dengan Faiz? Olivia berusaha memberanikan diri sekarang, dekat dengan Faiz bukankah rencananya yang ingin membuat Cassandra lebih dekat dengan keluarga Danuarta dan meminta maaf atas kejadian di masa lalu di antara orang tua mereka.
Dengan memberanikan diri Olivia mengalungkan kedua tangannya di leher Faiz dan ia tersenyum manis kepada pria itu. "Tapi saya merasa tidak pantas menjadi milik anda, Tuan! Saya takut keluarga anda tidak bisa menerima saya," ucap Olivia dengan lirih.
Faiz kembali mencium bibir Olivia. "Mereka semua akan bisa menerima kamu, Olivia. Kamu tenang saja," ujar Faiz dengan tegas.
"Benarkah? Jika mereka tidak menerima saya bagaimana?" tanya Olivia.
"Saya akan membuat keluarga saya percaya dengan pilihan saya," ujar Faiz dengan tegas.
Olivia merasa tersanjung dengan ucapan Faiz. Entah mengapa Olivia merasa bahagia dengan ucapan Faiz yang begitu sangat serius.
"Jadi kita?" tanya Olivia memberanikan diri.
"Menurutmu?" tanya Faiz berbalik yang membuat Olivia cemberut tetapi membuat Faiz gemas bahkan Faiz tak segan memeluk Frisa dengan erat walaupun posisi keduanya masih sangat intim sekali.
"Kamu milik saya, Olivia! Ingat itu! Tidak ada yang bisa memiliki kamu selain saya," ujar Faiz dengan tegas.
"Saya tahu, Tuan!" gumam Olivia menyandarkan kepalanya di dada bidang Faiz dengan nyaman.
Keduanya saling menatap kembali dan Faiz maupun Olivia kembali melanjutkan ciuman mereka bahkan mereka tak peduli jika nanti ada yang melihat mereka sedang berciuman dengan mesra.
"Cassandra, Kakak berhasil menjadikan tuan Faiz menjadi milik Kakak," gumam Olivia di dalam hati.
****
Sejak Faiz mengklaim Olivia adalah miliknya sore ini ketika mereka pulang dari kantor, Faiz mengajak Olivia untuk satu mobil dengan dirinya. Tetapi Olivia menolak karena ia sudah membawa mobil sendiri yang tak mungkin ia tinggal, Olivia berjanji mulai besok ia akan berangkat dan pulang bersama dengan Faiz dan untung saja lelaki itu tidak memaksanya tetapi Faiz tetap mengikuti Olivia dari belakang.
Olivia tersenyum-senyum sendiri melihat mobil Faiz yang berada di belakangnya. "Ya Tuhan, kenapa tuan Faiz menjadi sangat baik seperti ini kepadaku? Aku takut baper dengan perlakuannya," gumak Olivia dengan lirih.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan lama karena macet akhirnya Olivia sampai di rumahnya, ia melambaikan tangan saat mobil Faiz kembali melaju setelah memastikan Olivia sampai di rumah dengan aman. Faiz hanya tersenyum tipis saat Olivia melambaikan tangannya kepadanya.
Setelah mobil Faiz benar-benar tidak terlihat barulah Olivia masuk ke dalam rumahnya dengan senyum yang sama sekali tidak memudar.
"Olivia!" panggil Rio saat melihat Olivia masuk ke dalam rumah.
"Iya, Pa!" sahut Olivia dengan tersenyum.
"Apa tuan Faiz ikut bersamamu? Papa melihat mobilnya tadi," tanya Rio.
"Iya, Pa. Kenapa, Pa?" tanya Olivia berusaha santai walaupun ia tahu papanya sedang menahan amarah sekarang.
"Papa sudah berjanji dengan keluarga Danuarta agar tidak kembali berhubungan dengan keluarga Danuarta. Jadi, Papa harap kamu tidak menyukai tuan Faiz. Keluarga kita tidak sebanding dengan keluarga Danuarta," ujar Rio dengan tegas.
"Itu masa lalu, Pa. Aku yakin keluarga Danuarta sudah melupakannya," ujar Olivia dengan tersenyum.
"Kali ini dengarkan ucapan Papa, Olivia! Jika kamu memiliki hubungan dengan tuan Faiz maka Papa adalah orang yang pertama menentang hubungan kamu dengan tuan Faiz," ujar Rio dengan tajam dan setelah itu meninggalkan Olivia yang mematung saat Rio berkata dengan nada yang penuh ancaman.