
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
***
Eric datang dengan langkah tegasnya, ia sangat khawatir dengan keadaan anaknya. Eric harus memastikan sendiri keadaan Ferdians.
Eric mendengar semuanya jika Ferdians membutuhkan pendonor darah. Ia menyeringai sinis, mungkin saatnya ia mengambil Ferdians. Ini saatnya ia merencanakan semuanya, ia tidak ingin anaknya kembali berhubungan dengan keluarga Danuarta.
Eric melangkah mendekati Ben, Doni, dan juga suster Ana dengan langkah tegas dan wajah dinginnya.
"Biar saya yang mendonorkan darah saya untuk Ferdians," ujar Ferdians dengan tegas.
Ben dan Doni langsung menatap ke arah Eric. Keduanya menatap tajam ke arah Eric tetapi Eric juga membalas tatapan keduanya tak kalah tajamnya karena mengingat semua tuduhan yang membuat ia masuk ke dalam penjara.
"Kenapa kamu berada di sini? Bukannya kamu di penjara?" tanya Ben dengan tajam.
Eric terkekeh sinis. "Saya sudah keluar dari penjara. Sudah jelas saya katakan tadi jika saya akan mendonorkan darah saya untuk Ferdians," ujar Eric dengan tegas.
Ben menyeringai. "Saya tidak akan mengizinkannya!" ujar Ben dengan tegas.
"Atas dasar apa anda tidak mengizinkan saya untuk mendonorkan darah saya kepada Ferdians. Asal anda tahu Ferdians adalah anak kandung saya selama ini," ujar Eric dengan tegas dan tak ada keraguan di dalam dirinya untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Doni karena ini saatnya semuanya terbongkar agar ia bisa membawa Ferdians pulang ke rumahnya.
"Anak? Cih... Apa buktinya jika anda memang ayah kandung dari Ferdians?" tanya Doni dengan tajam.
"Anda bisa lihat sendiri bagaimana kemiripan saya dengan Ferdians bukan Kakek Tua? Untuk membuktikan itu semua lihat foto ini!" ujar Eric memberikan sebuah foto yang langsung di terima oleh Ben.
"Brengsek! Jadi selama ini Heera adalah istri anda dan Ferdians adalah anak anda?! Oo saya tahu kalian bekerja sama untuk menghancurkan keluarga saya? Itu tidak akan terjadi Eric! Secepatnya saya akan mengurus perceraian Rania dan Ferdians, mereka tidak boleh bersama lagi!" ujar Ben dengan tajam.
Eric tertawa dengan keras. "Itu lebih bagus, Ben. Ferdians harus menceraikan Rania secepatnya. Karena saya tidak ingin berhubungan dengan Danuarta lagi! Abraham dan Danuarta tidak boleh mempunyai hubungan apapun," ujar Eric dengan tajam.
"TIDAK ADA PERCERAIAN ANTARA FERDIANS DAN RANIA!" teriak Heera dengan keras.
Eric dan Ben menatap kedatangan Heera dengan tatapan yang sangat berbeda. Ben dengan tatapan tahamnya dan Eric dengan tatapan penyesalan dan penuh kerinduan terhadap Heera.
"Ya Tuhan... Heera, kenapa kamu terlihat pucat dan sangat kurus, Sayang?" gumam Eric di dalam hati.
Ben menyeringai. "Saya tidak akan merestui hubungan Rania dengan anak pembunuh istri saya, Heera! Kamu selama ini menyembunyikan semuanya dari saya dan juga Rania. Kalian benar-benar brengsek! Bawa saja Ferdians pergi dan jangan pernah menemui anak saya lagi," ujar Ben dengan tajam.
Heera menggelengkan kepalanya dengan meneteskan air matanya. "Itu bukan kesalahan Ferdians, Tuan Ben. Tolong jangan pisahkan Rania dan Ferdians. Saya akui saya pernah menikah dengan Eric, tetapi kami sudah bercerai karena dia lebih memilih wanita pilihan kedua orang tuanya. Saya membenci Eric karena dia telah memisahkan saya dengan anak saya Ferry! Sekali lagi apa yang di lakukan oleh Eric jangan dilimpahkan ke Ferdians, Tuan! Anak saya tidak bersalah," ujar Heera dengan berlinang air mata.
"Tetap saja darah pembunuh mengalir di tubuh Ferdians! Saya akan segera mengurus perceraian Rania dan Ferdians," ujar Ben dengan tegas.
Suster Ana melihat situasi yang seperti ini menjadi bingung, ia tidak tahu harus apa. Di satu sisi ia kasihan dengan Heera dan ingin membantunya tetapi di satu sisi ia adalah istri dari Ben. Suster Ana benar-benar terjepit sekarang. Ia harus bagaimana sekarang?
"M-mas..."
"Jangan membela Heera, Ana! Mas tidak mau berhubungan dengan Abraham dan keturunannya. Darah pembunuh tidak boleh berhubungan dengan kita," ujar Ben dengan tajam.
Ben mengajak istri dan papanya meninggalkan Eric dan Heera. Ia sudah tidak peduli dengan Ferdians lagi, secepatnya ia menyuruh Rania untuk menceraikan Ferdians setelah anaknya sadar.
Satelah kepergian Ben, Doni dan suster Ana. Heera menatap Eric dengan penuh kebencian.
"Puas kamu Eric? Puas kamu telah memisahkan Rania dan Ferdians?"
"KAMU LAGI DAN LAGI MENGHANCURKAN HIDUP SAYA! APAKAH SEMUA ITU BELUM PUAS ERIC?! KAMU BELUM PUAS MENGHANCURKAN HIDUP SAYA?" teriak Heera dengan tidak terkontrol.
Eric menatap sendu ke arah Heera. "B-bukan maksudku seperti itu, Heera! Memang lebih baik mereka berpisah," ujar Eric dengan lirih.
"CUKUP!" teriak Heera dengan histeris.
Saat Eric ingin memeluk Heera, dokter datang dengan terburu-buru. "Siapa yang akan mendonorkan darahnya untuk tuan Ferdians? Pihak rumah sakit hanya bisa menemukan satu kantong darah saja. Dan kami butuh darah itu secepatnya untuk menolong tuan Ferdians," ujar dokter menatap Eric dan Heera secara bergantian.
"Saya, Dok. Ambil darah saya saja karena ssya adalah ayah kandungnya," ujar Eric dengan tegas.
"Baik ayo ikut saya!" ujar dokter walaupun ia terlihat bingung karena awalnya semua orang mengatakan jika ayah kandung Ferdians sudah meninggal.
Tapi dokter itu tak mau ikut campur. Danuarta dan Abraham adalah dua orang yang memegang kekuasaan yang tinggi. Dokter itu juga diam saat ternyata Ben tidak hanya memiliki satu istri melainkan dua istri karena itu bukan ranah pekerjaannya. Tugasnya hanya membantu pasien yang sedang membutuhkan pertolongan dirinya.
Sedangkan Heera terduduk dengan pilu. Ia menangis sejadi-jadinya tanpa seorang pun yang bisa menenangkan dirinya bahkan suster Ana yang melihat dari pintu ruangan Rania pun hanya bisa diam tidak bisa berbuat apa-apa saat Ben mencegah dirinya untuk menolong Heera.
"Bu, maafkan saya!" gumam suster Ana dengan lirih.
****
"Kamu sudah sadar, Sayang?" yanya Ben dengan tersenyum.
Rania hanya diam, ia mencoba mengingat semuanya hingga wajahnya terlihat sangat panik.
"Mas Ferdians! Pa, mana mas Ferdians? Saya mau bertemu dengannya!" ujar Rania dengan panik.
Wajah Ben langsung mengeras mendengar Rania mencari keberadaan Ben. "Dia baik-baik saja!" jawab Ben dengan dingin.
"Kepalanya penuh dengan darah saya tidak percaya dengan ucapan Papa! Saya harus menemui mas Ferdians!" ujar Rania yang ingin bangun tetapi Ben mencegahnya.
"Kamu tidak perlu menemui Ferdians lagi. Secepatnya kamu urus perceraian kamu dengan Ferdians! Papa tidak ingin kamu berhubungan dengan keluarga Abraham lagi!" ujar Ben dengan dingin.
"A-apa maksud Papa?" tanya Rania dengan datar.
"Ferdians adalah anak dari pembunuh mama. Ferdians anak kandung dari Eric. Jadi, kamu dan Ferdians harus bercerai secepatnya!" ujar Ben dengan tegas.
Rania mematung mendengar penjelasan papanya. "Tidak mungkin!" gumam Rania dengan lirih.
"Ini kenyataannya Rania! Eric datang menemui Papa dan mengatakan jika ia akan mendonorkan darahnya untuk Ferdians karena dia adalah ayah kandungnya. Selama ini kita di bohongi oleh Ferdians dan ibunya. Ceraikan Ferdians!" ujar Ben dengan tegas.
"Papa bohong! Tidak mungkin mas Ferdians anak dari om Eric!" ujar Rania dengan sinis.
"Kalau tidak percaya tanya saja kakek dan mama Ana!" ujar Ben dengan datar.
"Kek, Ma, Papa bohong, kan? Katakan pada saya kalau Papa sedang berbohong sekarang!" ujar Rania dengan lirih.
"Apa yang dikatakan papa kamu benar, Rania. Ferdians adalah anak dari seorang pembunuh mama kamu. Jadi, untuk apa pernikahan kalian di pertahankan? Ceraikan Ferdians secepatnya!" ujar Doni dengan tegas.
"Ma..."
Suster Ana hanya bisa mengangguk dan tidak bisa berkata apa pun karena dirinya masih merasa kasihan dengan Heera saat ini.
"Tidak mungkin!" gumam Rania dengan lirih.
"Tapi saya mau bertemu dengan mas Ferdians! Saya tidak peduli jika dia adalah anak om Eric!" ujar Rania mencabut jarum infus di tangannya dan mencoba bangun dari brankar.
"Tetap di sini Rania! Jangan buat Papa marah!" ujar Ben dengan tajam tetapi Rania sama sekali tidak peduli.
Ferdians sudah menyelamatkan nyawanya. Bagaimana mungkin ia bisa tenang di sini jika keadaan suaminya tidak baik-baik saja?
"Ana cegah Rania kaluar!" ujar Ben dengan tegas.
Suster Ana terdiam, ia melihat sorot mata Rania yang sangat khawatir dengan Ferdians. suster Ana ingin mendekat ke arah Rania seakan ingin mencegah Rania keluar tetapi tiba-tiba suster Ana memegang perutnya. Ia mengedipkan matanya ke arah Rania yang membuat Rania mengerti dan langsung keluar dari ruangannya tanpa mempedulikan papa dan kakeknya yang terlihat khawatir dengan suster Ana yang sedang berpura-pura.
"Sayang kamu kenapa? Perut kamu kenapa?" tanya Ben dengan panik.
Ben benar-benar bingung sekarang. Ia ingin mencegah anaknya untuk bertemu dengan Ferdians tetapi melihat istrinya seperti ini Ben benar-benar tidak tega.
"Sakit, Mas!" lirih Suster Ana.
"Mas panggil dokter ya! Kamu di sini sama Papa!" ujar Ben dengan lirih.
Suster Ana menggelengkan kepalanya. "Sepertinya anak kita tidak suka papanya marah-marah terus. Jangan marah-marah ya, Mas. Kamu tidak mau kan terjadi sesuatu dengan anak kita?" ujar Suster Ana yang membuat Ben menghela napasnya dengan pelan.
"Tapi Rania..."
"Aww..."
"Sayang!" Ben menggendong istrinya dan ia tidurkan di brankar Rania.
"Mas panggilkan dokter dan kamu jangan membantah lagi," ujar Ben dengan tegas.
Suster Ana hanya pasrah saat Ben benar-benar keluar untuk memanggil dokter kandungan.
"Jaga kandungan kamu dengan baik. Papa tidak ingin cucu Papa kenapa-napa," ujar Doni dengan tegas.
"Iya, Pa. Tapi saya benar-benar tidak suka melihat mas Ben marah. Perut saya langsung sakit, Pa!" ujar Suster Ana dengan sendu.
"Papa yang akan menegurnya nanti," ujar Doni dengan tegas.
"Maaf mas, Pa. Aku harus berbohong demi kebaikan Rania. Kasihan dia, dia terlihat begitu takut kehilangan Ferdians tadi," gumam Suster Ana di dalam hati.