
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...📌 Dan jangan lupa ramaikan novel terbary author ya! Berikan dukungan di sana ya yang pasti ceritanya tidak kalah seru loh...
...Happy reading...
...****...
Rio dan Anjani menatap makam yang masih basah milik Agni dengan perasaan yang begitu sangat hampa, tak ada tangisan lagi di mata mereka. Namun, mata keduanya masih sama-sama terlihat bengkak karena sejak tadi mereka menangis hingga kini air mata keduanya tak lagi keluar, hanya kehampaan yang mereka rasakan saat menatap gundukan tanah itu ternyata milik Agni sekarang.
"Yang tenang di sana, ma! Maaf Rio belum bisa membahagiakan mama!" ujar Rio dengan lirih.
"Ma, maaf selama aku menjadi menantu mama mungkin ada perkataan aku yang menyakiti hati mama. Yang tenang di sana ya, Ma. Kami di sini berusaha untuk bangkit kembali, kami yakin Olivia akan kembali berkumpul bersama dengan kami," gumam Anjani dengan lirih.
Rio mengusap punggung istrinya dengan lembut. "Ayo kita pulang, Sayang! Kasihan Olivia jika kita tinggal terlalu lama," ujar Rio dengan lirih.
Anjani mengangguk dengan pelan. "Mas sudah ikhlas kan mama pergi?" tanya Anjani dengan lirih.
"Sudah, Sayang. Ini sudah takdir dari Allah jika mama harus kembali kepada-Nya. Ayo kita pulang," ujar Rio dengan tersenyum.
Anjani tahu senyuman suaminya saat ini mengandung luka yang sangat dalam. Anjani berusaha untuk terlihat tenang agar suaminya tidak terus bersedih. Keduanya melangkah bersama meninggalkan makam Agni yang masih basah. Meninggal rasa rindu mereka yang tak lagi bisa memeluk Agni, mereka tahu rindu tanpa bisa memeluk itu adalah hal yang sangat menyakitkan selain do'a yang mereka panjatkan agar rindu itu tersampaikan.
Keduanya berharap setelah ada kesedihan ini ada kebahagiaan yang akan datang setelah ini, walaupun mereka tidak tahu kebahagiaan itu kapan datangnya yang jelas harapan itu sangat besar agar tidak ada lagi air mata yang menjatuhi pipi mereka.
*****
Olivia membuka matanya dengan perlahan, ia menatap sekelilingnya dengan perasaan bingung, ia merasa ada yang memegang tangannya. Dan jantungnya langsung berdetak dengan kuat saat melihat Faiz lah yang mengenggam tangannya dengan tertidur di samping tangannya, Olivia tahu posisi duduk dengan kepala yang di letakkan di dekat tangannya adalah posisi tidur yang sama sekali tidak membuat Faiz nyaman tetapi Olivia tidak berani bersuara maupun bergerak takut Faiz marah kepada dirinya, walaupun Olivia merasa sangat haus sekarang.
Faiz langsung terkejut karena ia tidak sadar sudah tertidur padahal ia ingin menjaga Olivia hingga istrinya itu sadar, Faiz menatap ke arah Olivia, ia mengerjapkan matanya saat melihat mata Olivia terbuka.
"S-sayang, kamu sudah sadar?" tanya Faiz dengan terbata karena ia masih tidak percaya jika saat ini Olivia sudah membuka matanya.
Olivia hanya diam, ia masih bingung dengan Faiz. Karena yang ia tahu Faiz masih marah kepada dirinya. Tapi kenapa tadi ia mendengar Faiz memanggil dirinya dengan sebutan 'sayang'? Mungkinkah telinganya yang saat ini bermasalah? Tapi rasanya itu seperti nyata.
"Sayang bicaralah jangan diam saja! Apa yang sakit, Sayang?" tanya Faiz dengan begitu cemas.
"S-sayang? B-bukannya Mas Faiz sudah tidak mau dengan aku?" tanya Olivia pada akhirnya karena ia sungguh sangat penasaran saat ini.
Faiz menggelengkan kepalanya. Ia memeluk Olivia dengan sangat erat, agar Olivia tidak berbicara yang aneh-aneh lagi. "Maaf, Mas banyak salah sama kamu! Mas lebih mementingkan ego Mas daripada kamu," gumam Faiz dengan lirih.
Olivia tidak tahu harus senang atau sedih, ia hanya diam saat Faiz memeluknya dengan sangat erat. Olivia ingin membalas pelukan itu. Namun, niat itu ia urungkan saat mengingat Faiz akan menceraikan dirinya setelah ia melahirkan nanti.
Melihat keterdiaman istrinya membuat Faiz melepaskan pelukannya, ia menatap wajah Olivia dengan sendu. "Maaf, kamu jangan memikirkan semua perkataan Mas dulu ya! Itu semua tidak benar-benar dari hati. Kita tidak akan pernah berpisah sampai maut memisahkan kita, Sayang! Kita akan mengurus anak kita sama-sama sampai mereka dewasa," ujar Faiz dengan tulus.
"Kenapa diam lagi, Sayang! Bicaralah! Atau ada yang sakit? Katakan sama Mas biar Mas panggilkan dokter sekarang," gumam Faiz dengan lirih.
Olivia menggelengkan kepalanya. "Mas tidak marah lagi sama aku? Atau karena aku sakit Mas peduli sama aku? Kalau begitu aku mau sakit saja biar Mas peduli sama aku," gumam Olivia dengan lirih.
"Tidak! Mas tidak suka kamu sakit! Apalagi melihat kamu terbaring lemah seperti kemarin-kemarin. Sudah cukup kamu menyiksa Mas, Sayang. Mas ingin kita kembali seperti dulu lagi! Bahagia, bahagia, dan bahagia," ujar Faiz yang membuat Olivia tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
"Mas tidak bohong, kan?" tanya Olivia dengan sendu.
"Tidak, Sayang! Mas mencintai kamu sampai kapanpun itu! Maafkan sikap Mas kemarin ya! Mau kan kamu memulai semuanya dari awal bersama dengan Mas lagi," sahut Faiz menatap Olivia dengan dalam.
Olivia mengangguk dengan pelan karena ia ingin pernikahannya kembali seperti dulu yang penuh kebahagiaan. Faiz yang melihat anggukan Olivia membuat Faiz refleks mencium bibir istrinya hingga membuat Olivia mematung lalu tersenyum dan membalas ciuman suaminya dengan pelan.
"Aku haus, Mas!" ujar Olivia dengan lirih setelah tautan bibir mereka terlepas.
"Sebentar, Sayang!" ujar Faiz dengan tersenyum dan memberikan minum untuk istrinya.
Keduanya saling menatap dengan penuh cinta, seakan beban yang menimpa keduanya hilang entah kemana di gantikan dengan kelegaan yang sangat luar biasa di hati mereka.
"Terima kasih, Sayang!"
"Terima kasih, Mas!"
ucap Faiz dan Olivia berbarengan yang membuat keduanya akhirnya tertawa bersama. Sungguh Faiz merasa ini adalah hari yang sangat membahagiakan untuk dirinya, karena di hari ini Olivia kembali bersama dengan dirinya lagi.
****
Tentang sadarnya Olivia sudah sampai di telinga kedua orang tuanya serta keluarga Faiz yang lainnya, mereka datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan Olivia. Anjani dan Rio tak henti-hentinya memeluk sang anak, mereka tidak berani mengatakan jika Agni sudah tiada kepada Olivia karena keadaan Olivia belum sepenuhnya membaik. Biarlah nanti Olivia akan mengetahuinya walaupun terlambat karena ini semua demi kebaikan Olivia.
"Bunda senang sekali akhirnya kamu sadar, Sayang!" ujar Anjani dengan tersenyum.
"Bunda dan ayah sangat takut kehilangan kamu. Terima kasih ya masih mau membuka mata dan berkumpul bersama kami lahi," ujar Anjani mencium pipi anaknya dengan menangis.
"Kok Bunda nangis sih? Seharusnya bahagia. Senyum dong, Bun!" ujar Olivia yang merasa ada yang berbeda dari kedua orang tuanya saat ini.
"Bunda nangis bahagia, Sayang!" ujar Anjani menghapus air matanya dengan kasar dan tersenyum kepada anaknya.
"Mama juga menangis bahagia tahu!" ujar Rania dengan terharu karena menantunya sudah sadar.
Olivia menatap satu persatu keluarganya yang hadir. "Terima kasih semuanya masih peduli sama aku padahal aku banyak kesalahan sama kalian semua," ujar Olivia dengan sendu.
"Itu bukan salah kamu, Olivia. Kami semua menyayangi kamu," ujar Ferdians dengan tegas yang membuat Olivia sangat terharu.
Olivia memeluk suaminya dari samping. Betapa bahagianya Olivia hari ini dan semoga saja ini bukan mimpi yang membuatnya tersadar dari kenyataan jika ini benar-benar tidak terjadi. Olivia berharap ini adalah kenyataan yang sampai kapanpun akan seperti ini. Kehangatan keluarga yang sangat ia inginkan sejak dulu.