Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 245 (Pulang ke Rumah)


...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


...****...


Olivia menatap rumahnya bersama Faiz dengan penuh kerinduan, matanya juga berkaca-kaca karena pada akhirnya ia bisa menginjakkan kaki di rumah ini lagi.


"Bunda dan Ayah pulang saja. Aku sudah tidak apa-apa," ujar Olivia dengan tersenyum.


"Tapi..."


"Aku tidak apa-apa, Bun. Bunda dan Ayah pulang saja," ujar Olivia meyakinkan.


Anjani dan Rio terlihat bimbang meninggalkan anaknya di rumah ini. Ya, walaupun ini adalah rumah anaknya dengan Faiz tetapi tetap saja mereka tahu jika Faiz belum memaafkan Olivia, mereka takut kesehatan Olivia akan memburuk setelah mendapatkan perlakuan dingin dari Faiz. Tetapi melihat binar mata Olivia membuat keduanya tidak tega, ada perasaan bimbang di hati mereka saat mengantarkan Olivia kembali ke rumah ini dalam keadaan Faiz yang masih kecewa dengan Olivia dan keluarganya.


"Sayang, biarkan Ayah dan Bunda bertemu dengan Faiz dulu ya!" ujar Rio tampak ragu.


Olivia menggelengkan kepalanya. "Aku sudah sangat merindukan Mas Faiz, Yah. Biarkan aku menyelesaikan semuanya berdua dengan mas Faiz ya, Ayah tidak perlu khawatir mas Faiz tidak akan sejahat itu dengan Olivia," ujar Olivia dengan tersenyum mencoba meyakinkan kedua orang tuanya dan dirinya sendiri yang terlihat ragu sekarang.


"Tapi biarkan Ayah dan Bunda bertemu dengan Faiz sebentar ya!" ujar Rio yang sangat tidak rela meninggalkan anaknya begitu saja.


"Sebaiknya Ayah dan Bunda pulang saja untuk beristirahat. Aku baik-baik saja di sini, Yah!" ujar Olivia dengan tegas.


Rio dan Anjani menghela napasnya dengan pelan. "Ya sudah jika itu mau kamu, Sayang! Ayah dan Bunda pulang dulu ya," ujar Anjani dengan tersenyum walaupun di dalam hatinya sangat berat sekali meninggalkan Olivia sekarang.


"Iya, Bunda!" jawab Olivia dengan tersenyum.


Rio dan Anjani melangkah dengan berat, mereka melihat ke arah Olivia sebelum memasuki mobil. Melihat Olivia yang sangat ceria dan melambaikan tangannya membuat mereka akhirnya bisa tersenyum walaupun masih ada rasa bimbang di hati keduanya meninggalkan Olivia begitu saja.


Mobil Rio dan Anjani sudah meninggalkan rumah Olivia bersama dengan Faiz. Setelah mobil kedua orang tuanya sudah tidak terlihat, Olivia menghela napasnya dengan perlahan meyakinkan dirinya sendiri untuk berjuang mendapatkan maaf dari suaminya yang sudah terlanjur kecewa dengan dirinya.


Olivia melangkah masuk ke rumahnya, semua pelayan tampak terkejut melihat Olivia akhirnya pulang ke rumah ini karena mereka juga merindukan Olivia yang sangat baik.


"Selamat datang di rumah ini lagi, Nyonya. Akhirnya Nyonya pulang lagi ke rumah ini," ujar kepala pelayan dengan perasaan harunya.


"Terima kasih, Bi. Di mana mas Faiz, Bi?" tanya Olivia dengan tersenyum.


"Tuan Faiz belum ada pulang ke rumah dari kemarin, Nyonya. Kami sangat takut dengan Tuan, Nyonya. Karena tuan akhir-akhir ini selalu marah-marah tidak jelas," ujar kepala pelayan dengan perasaan was-was.


Olivia terdiam, ia menatap satu persatu pelayan di rumah ini dengan pandangan teduhnya. "Saya yang salah. Maafkan saya ya karena perbuatan saya kalian juga terkena imbasnya. Tapi saya akan berusaha memperbaiki semuanya. Do'akan saya ya semoga mas Faiz mau memaafkan kesalahan saya," ujar Olivia dengan tersenyum tulus.


"Nyonya tidak salah mungkin pekerjaan kami saja yang kurang baik jadi tuan marah. Semoga Nyonya dan tuan bisa baikan secepatnya," ujar pelayan dengan memberikan semangat kepada Olivia.


"Terima kasih ya. Kalau begitu lanjutkan pekerjaan kalian ya. Nanti siang buatkan makan siang kesukaan suami saya ya, saya mau ke kamar dulu," ujar Olivia yang memang sudah sangat merindukan kamarnya bersama dengan Faiz.


Olivia berjalan menaiki tangga dengan perlahan sambil memandang seluruh rumah dengan penuh kerinduan. Apalagi ketika dirinya sudah berada di kamarnya dengan Faiz, Olivia dengan tidak sabaran membuka pintu kamarnya tersebut. aroma tubuh Faiz langsung tercium di indra penciumannya yang membuat rasa rindunya terhadap Faiz semakin besar. Mungkin jika Faiz ada di sini Olivia sudah memeluk suaminya dengan erat.


Dengan perlahan Olivia berjalan ke ranjangnya dan duduk di sana menatap foto pernikahannya dengan Faiz yang tampak sekali bahagia. Namun, kebahagiaan itu telah sirna karena kesalahannya sendiri. Ia sudah menghilangkan kepercayaan suaminya bahkan sekarang suaminya sudah sangat kecewa dengan dirinya.


Olivia mengambil bingkai foto kecil itu dan memeluknya dengan erat bersamaan ia membaringkan tubuhnya di ranjang.


"Maafkan aku, Mas! Aku akan berjuang mendapatkan maaf dari kamu lagi," gumam Olivia dengan lirih.


Tanpa sadar Olivia tertidur dengan memeluk foto pernikahannya dengan Faiz. Dan baru pertama kalinya setelah masalah itu Olivia kembali tidur dengan nyenyak.


*****


Olivia mengerjapkan matanya dengan perlahan, rasanya tubuhnya sudah terlihat segar setelah tidur. Olivia mencium foto tersebut dan meletakkannya di tempat semula kembali. Setelah itu Olivia turun dari kasur dan berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri agar jika Faiz pulang sudah melihatnya dengan penampilan rapih dan wangi.


15 menit ia selesai mandi Olivia sudah berganti pakaiannya dan ia terlihat lebih segar walaupun bibirnya masih terlihat pucat. Setelah selesai Olivia ingin keluar kamarnya, ia membuka pintu kamarnya dengan perlahan, tubuhnya langsung mematung saat melihat Faiz juga sedang ingin membuka pintu, keduanya sama-sama diam apalagi Faiz sekarang yang syok melihat Olivia ada si kamar ini sekarang.


"Mas sudah pulang? Mau makan siang bersamaku?" tanya Olivia dengan tersenyum tetapi wajah datar Faiz membuat senyum Olivia memudar.


Faiz melewati Olivia begitu saja tetapi pelukan Olivia dari belakang membuat langkah Faiz terhenti mendadak. Tubuhnya kaku saat pelukan itu semakin erat ia rasakan, mata Faiz terpejam, sungguh ia masih sangat kecewa dengan Olivia.


"Mas maafkan aku! Aku tahu aku salah sama kamu karena aku sudah mengikuti Cassandra. Tapi jujur aku tidak tahu sama sekali tentang dendam yang Cassandra tanamkan itu, Mas!" ujar Olivia dengan lirih.


Faiz melepaskan pelukan Olivia dengan kuat. Dan menghembuskan napasnya dengan kasar. "Stop seperti ini. Walaupun kamu tidak tahu apa-apa tapi kamu sudah membuat saya kecewa, hati saya benar-benar sangat kecewa dengan kamu, Olivia! Silahkan juga kamu tinggal di sini karena rumah ini sudah milik kamu, tapi jangan harap kita akan seperti dulu. Setelah anak itu lahir kita akan bicarakan bagaimana pernikahan kita nanti," ujar Faiz dengan datar yang membuat Olivia sangat terkejut.


"M-mas..."


"Satu lagi jika nanti kita berpisah saya mau hak asuh anak-anak jatuh ke tangan saya. Saya tidak mau mereka sama seperti ibunya," ujar Faiz dengan tajam.


Mata Olivia berkaca-kaca. "Seburuk itu aku di mata kamu, Mas?" tanya Olivia dengan lirih.


Faiz menyeringai. "Menurutmu?" tanya Faiz dengan datar walaupun dadanya begitu sangat sesak mengatakan itu kepada istrinya.


Jujur saja Faiz tidak munafik, ia masih sangat mencintai Olivia tapi mengingat rasa kecewanya Faiz menekan rasa cinta dan rindunya untuk Olivia. Kecewanya terhadap Olivia sudah sangat dalam dan membuat Faiz sangat teriksa. Namun, ia harus melakukan ini agar Olivia tahu bagaimana kecewanya saat ini.


Faiz berjalan ke arah lemari dan ia mengambil semua pakaiannya. "Mulai hari ini kita tidur terpisah!" ujar Faiz yang semakin menohok hati Olivia.


Olivia tidak bisa melakukan apapun selain menatap suaminya yang sedang mengambil semua pakaiannya dari dalam lemari.


"Mas apa tidak ada kesempatan kedua untukku memperbaiki semuanya?" tanya Olivia dengan lirih tetapi tidak ada jawaban dari Faiz.


Faiz menarik kopernya keluar dari kamar dan membuka kamar sebelahnya. Setelah kepergian Faiz Olivia menangis dalam diam mengelus perutnya dengan lembut.


"Jangan dengarkan ucapan ayah kalian ya, Sayang! Ayah masih marah sama Bunda makanya ayah seperti itu, ayah baik banget kok sama Bunda hanya saja ayah sedang kecewa sekarang. Kita tidak akan pernah berpisah, kita akan terus bersama selamanya dengan bahagia. Bunda janji, Sayang!" gumam Olivia dengan lirih walaupun sebenarnya ia sangat ragu apakah pernikahannya bisa diselamatkan atau tidak? Olivia hanya bisa berserah pada takdir dan usahanya untuk meluluhkan Faiz kembali. Semoga semuanya baik-baik saja dan tidak ada perpisahan di pernikahannya ini.