Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 33 (Bakso Mercon)


...📌Jangan lupa ramaikan part ini dengan like, vote, dan komentar yang banyak ya jangan lupa juga hadiah bunganya 🌹...


...Happy reading...


****


Ferdians sudah datang ke rumah sakit dengan membawa bakso mercon dan es kelapa muda pesanan Rania. Untung saja ia dengan gampang mendapatkannya, mungkin jika tidak ia akan kena amukan Rania. Tau sendiri kan jika Rania sudah marah? Wanita itu akan sangat menyeramkan sekali.


Ceklek...


Ferdians membuka pintu ruangan ibunya dengan perlahan karena takut mengganggu istirahat ibunya. Dalam hati Ferdians merasa bersalah karena tidak bisa menemani kemorerapi ibunya, tetapi ia juga bersyukur karena Rania yang mau menemani ibunya.


Ferdians tersenyum saat melihat Rania bersama ibunya yang sedang mengobrol dan juga ada suster Ana yang selalu setia menemani ibunya.


"Ferdians!" panggil Heera dengan pelan saat melihat kedatangan Ferdians di ruangannya.


Rania langsung melihat ke arah suaminya, oa langsung berdiri. "Mana pesananku, Mas?" tanya Rania dengan lembut, ia tidak pernah gagal dalam bersandiwara di hadapan mertuanya.


"Ini, Sayang!" balas Ferdians dengan memperlihatkan apa yang berada di tangannya.


Mata Rania langsung berbinar, tetapi dengan cepat ia mengubah ekspresi wajahnya. Rania mengambil kantong kresek yang ada di tangan Ferdians, ia berjalan dan duduk di sofa yang membuat Ferdians melongo karena tak biasanya Rania seperti ini.


Cup...


Ferdians mengecup kening ibunya dengan lembut. "Bagaimana keadaan Ibu?" tanya Ferdians kepada ibunya.


"Sudah membaik, Nak. Besok Ibu mau pulang saja ya!" ujar Heera dengan pelan.


"Kita lihat nanti ya, Bu! Ferdians tidak mau melihat Ibu seperti kemarin lagi," ujar Ferdians dengan tersenyum.


Ferdians menatap istrinya. "Apa Rania belum makan, Bu?" tanya Ferdians dengan penasaran.


"Sudah, Nak. Dia sudah makan tadi bersama dengan Ibu tapi dia bilang pengin makan bakso mercon," sahut Heera.


"Aneh ya, Bu? Biasanya Rania tidak pernah meminta seperti itu," ujar Ferdians.


"Tidak ada yang aneh, Ferdians. Mungkin Rania memang sedang ingin memakan bakso. Temani dia, Nak. Dari tadi dia sudah menemani Ibu," ujar Heera yang di angguki oleh Ferdians.


"Sebentar ya Bu aku mau menghampiri Rania," ucap Ferdians.


"Iya, Nak!"


Ferdians berjalan mendekat ke arah Rania.


"Sus cepat taruh di mangkuk!" ucap Rania dengan tak sabaran.


"Siap, Nona!" ujar Suster Ana dengan tersenyum.


"Sebelum makan rambutnya di ikat dulu, Sayang!" ujar Ferdians dengan lembut.


"Mana ikatnya?" tanya Ferdians.


"Ada di tas, Mas!" sahut Rania dengan tersenyum memainkan sandiwara sebagai istri yang mencintai suaminya di hadapan Heera dan juga suster Ana.


Ferdians mengambil tas Rania dan mencari Ikat rambut milik Rania dan mengikat rambut Rania dengan leluasa bahkan sama sekali tidak kesusahan.


"Wah Tuan Ferdians sangat pintar mengikat rambut," ujar Suster Ana memuji yang membuat Rania menatap tajam suster Ana.


"Kamu memuji Mas Ferdians?" tanya Rania dengan kesal.


"T-tidak, Nona! S-saya hanya refleks," ucap Suster Ana dengan terbata.


Rania mendengkus kesal yang membuat Ferdians mengerutkan dahinya. Apakah Rania sedang cemburu?


"Sus, temani Ibu saja ya biar saya temani Rania makan," ujar Ferdians.


"B-baik, Tuan!" ujar Suster Ana tak enak hati karena ia tak sengaja memuji Ferdians dan membuat Rania cemburu.


Suster Ana berjalan ke arah brankar ibu Heera membiarkan Ferdians dan Rania berduaan.


"Cemburu ya?" bisik Ferdians di telinga Rania yang membuat Rania merinding.


"Apaan sih?" ujar Rania dengan cuek dan mulai memakan bakso yang di bawa Ferdians.


Ferdians terkekeh, ia memperhatikan Rania yang sedang makan bakso dengan lahap. "Sambalnya jangan di makan semua ya nanti perut kamu mules," ujar Ferdians perhatian.


Rania kelihatan kepedasan yang membuat Ferdians dengan sigap mengambil es kelapa muda yang sudah ada di dalam plastik lengkap dengan sedotannya.


"Pedas!!" ujar Rania mengibaskan tangannya dengan mata yang berair dan membuat Ferdians tidak tega.


Ferdians mengusap air mata Rania dengan perlahan. "Jangan makan sambalnya lagi!" peringat Ferdians yang mulai memisahkan sambal dari dalam bakso agar Rania tidak kepedasan kembali.


Ferdians menyuapi Rania dengan penuh perasaan. Dan dengan santainya Rania menerima suapan Ferdians walaupun saat ini ia sedang kepedasan.


"Enak?" tanya Ferdians.


Rania menganggukkan kepalanya. Walaupun pedas Rania menyukai bakso mercon ini. Sedangkan Ferdians mengambil tisu untuk mengelap keringat Rania yang berada di dahi dan juga leher istrinya, Ferdians tahu Rania tidak pernah makan pedas sehingga dirinya heran ketika Rania meminta bakso mercon kepada dirinya.


"Kamu tidak pernah makan pedas selama ini, Sayang. Nanti kalau tiba-tiba kamu sakit perut gimana?" ujar Ferdians dengan khawatir.


"Aku mau coba sesekali, Mas! Jangan larang aku!" ujar Rania dengan cemberut.


Ferdians tersenyum. "Tidak melarang, Sayang! Mas hanya takut perut kamu tidak terima makanan pedas," ujar Ferdians menjelaskan.


"Sambalnya jangan di makan ya, Nak. Nanti kamu sakit perut," ujar Heera yang memperhatikan Rania sejak tadi.


"Iya, Bu! Tapi ini enak!" ujar Rania yang masih kepedasan.


"Mas boleh coba sedikit?" tanya Ferdians yang mulai penasaran kenapa istrinya bisa sesuka ini dengan bakso mercon walaupun Rania sudah mengeluarkan air mata akibat sambal baksonya.


"Boleh!" ujar Rania setengah hati.


Ferdians mencoba bakso tersebut, ia yang pecinta pedas hanya biasa saja dan menurutnya ini sudah pas di lidahnya. "Enak!" ujar Ferdians dengan tersenyum.


"Ihh jangan dihabiskan!" ujar Rania dengan kesal.


"Buat kamu semua, Sayang. Sini Mas suapi," ujar Ferdians dengan terkekeh.


Dengan sangat telaten Ferdians menyuapi Rania sampai keringat wanita itu membanjiri dahi dan leher Rania bahkan Rania menghabiskan satu mangkuk bakso mercon tersebut tanpa menyisakan untuk Ferdians sedikitpun.


Ferdians membersihkan bibir Rania dengan tisu, ia mengusap kepala Rania dengan sayang. "Sudah kenyang?" tanya Ferdians dengan lembut.


"Sudah!" jawab Rania dengan singkat.


"Bilang apa sama suami kamu hmm?" ucap Ferdians yang membuat Rania berpikir.


"Bilang apa?" tanya Rania dengan bingung.


Heera terkekeh, ia menganggap jika Rania terlalu menikmati bakso mercon sehingga lupa berterima kasih dengan Ferdians.


"Kamu terlalu menikmati bakso yang dibelikan suami ku hingga kamu lupa bilang terima kasih, Nak!" ujar Heera dengan tersenyum yang membuat Rania tersenyum canggung sekaligus malu. Bisa-bisanya Ferdians mempermalukan dirinya di depan ibu mertuanya.


Rania mendelik dan dengan terpaksa ia tersenyum. "Terima kasih, Mas!" ujar Rania dengan penuh paksaan.


"Sama-sama, Sayang!" ujar Ferdians dengan terkekeh.


****


Rania baru saja mengecek laporan yang dikirimkan Sastra lewat emailnya dan tak lama setelah itu Rania ketiduran dengan bersandar di bahu suaminya.


"Ferdians bawa Rania pulang saja dari kemarin dia belum pulang, kan?! Biarkan dia istirahat di rumah," ujar Heera dengan lembut karena ia tak mau menantunya juga ikut sakit karena menunggunya di sini.


"Dia pasti bakal marah kalau aku membawanya pulang, Bu!" ujar Ferdians menatap wajah istrinya yang sedang tertidur.


"Kamu tega membiarkan istri kamu sakit? Ibu tidak apa-apa, ada suster Ana yang menjaga Ibu, Nak. Bawa Rania pulang ya," ujar Heera membujuk anaknya.


"Baiklah, Bu. Tapi Ibu harus dirawat lebih lama lagi di rumah sakit ya. Jika Ibu sudah benar-benar pulih baru Ibu kembali ke rumah," ujar Ferdians dengan lembut.


Ekspresi wajah Heera tampak tak suka ketika Ferdians mengatakan seperti itu kepadanya tetapi ia sadar akan penyakitnya dan akhirnya Heera mengangguk setuju.


"Baiklah Ibu setuju. Bawa Rania pulang ya! Kasihan dia butuh Istirahat di tempat yang nyaman," ujar Heera dengan lirih.


"Iya, Bu. Kalau begitu aku bawa Rania pulang ke rumah ya, Bu! Mungkin nanti ada Sastra yang akan menemani Ibu juga selama aku di rumah," ujar Ferdians dengan lembut.


"Iya, Nak!"


"Sus, tolong jaga ibu saya ya! Saya akan pulang dulu mungkin nanti saya akan kembali lagi," ujar Ferdians.


"Baik, Tuan! Saya akan menjaga Ibu Heera dengan baik!" ujar Suster Ana dengan tegas.


Ferdians mengangguk, ia mulai menggendong Rania dengan perlahan. "Entah mengapa aku sangat berharap jika Rania hamil sekarang!" gumam Ferdians di dalam hati.