
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
****
Hari sudah mulai terang tetapi Ferdians dan Rania sama sekali tidak tidur kembali, Rania memeluk Ferdians dengan erat bahkan wanita hamil itu masih menangis sesugukan. Hatinya masih begitu sakit, tetapi ia juga kesal dengan dirinya sendiri. Kenapa ia bisa sesedih ini? Mengapa juga ia tidak mau melepaskan pelukannya pada Ferdians?
"Sssttt... Sudah, Sayang. Maafkan Mas yang sudah menyakiti hati kamu," ujar Ferdians dengan lirih.
Ferdians menghapus air mata Rania dengan ibu jarinya. Ia menatap Rania dengan penuh rasa bersalah.
"Hiks..hiks..." Rania terus menangis memeluk Ferdians bahkan membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya.
"Kenapa air mata saya terus mengalir?" tanya Rania dengan sesegukan.
Ferdians menyentuh kepala istrinya dengan lembut, ia juga tidak tahu harus menenangkan Rania seperti apa lagi. Ferdians sudah memeluk istrinya bahkan ia sudah menenangkan Rania dengan ucapan dan elusan tangan yang amat lembut.
Cup....
Ferdians mencium bibir Rania dengan lembut dan seketika tangis Rania langsung berhenti yang membuat Ferdians tersenyum tipis. Jika ia tahu Rania akan berhenti karena ciumannya maka Ferdians akan melakukannya sejak tadi.
"Jadi ini jurus agar membuat kamu berhenti menangis? Jika Mas tahu itu sejak tadi maka Mas akan melakukannya saat itu juga, Sayang. Kamu sangat menggemaskan sekali ternyata," ujar Ferdians dengan terkekeh dan tentu saja itu membuat Rania sangat malu bahkan kedua pipinya memanas karena sadar apa yang ia lakukan sekarang bukanlah Rania biasanya. Dirinya benar-benar sangat berbeda sekali. Apakah benar jika ia sudah mencintai Ferdians? Sepertinya iya. Rania sudah mengakui jika ia sudah mencintai Ferdians tetapi untuk mengakui perasaannya Rania merasa enggan karena malu kepada Ferdians terlebih sikapnya dengan Ferdians selama beberapa bulan menikah selalu kasar kepada suaminya.
"Saya menggemaskan? Bukannya kamu bilang jika saya adalah wanita yang somb..."
Cup...
Ferdians kembali mencium bibir Rania agar Rania tidak melanjutkan ucapannya yang membuat Ferdians merasa bersalah.
"Maaf, Sayang. Mas tidak bermaksud begitu. Mas kesal karena kamu tidak pernah menghargai Mas sebagai suami kamu," ujar Ferdians dengan sendu.
"M-maaf!" ujar Rania dengan terbata.
Suara Rania sangat pelan dan hampir membuat Ferdians merasa salah mendengar. Selama ini Rania tidak pernah meminta maaf kepada dirinya dan ini Ferdians mendengar kata maaf itu langsung dari mulut Rania. Apakah ia tidak bermimpi?
Rania kembali memeluk Ferdians dengan erat bahkan menjadikan lengan Ferdians bantal untuk kepalanya. Membelit kaki Ferdians dengan kakinya hingga perut Rania yang sudah besar sedikit terhimpit.
Ferdians sedikit menggeser tubuhnya agar kedua anaknya tidak terhimpit. "Kamu bisa sesak kalau terlalu memeluk Mas, Sayang!" ujar Ferdians yang membuat Rania cemberut.
"Jangan ngambek, Sayang. Kenapa? Kangen ya sama Mas sampai tidak mau lepas seperti ini?" tanya Ferdians dengan tersenyum menatap wajah Rania yang masih terlihat sembab.
"Saya ngantuk!" ujar Rania mengalihkan pembicaraan agar Ferdians tidak terus membuat dirinya merasa malu.
Rania memang benar-benar tidak bisa jauh dari Ferdians. Ia akui ia sudah mulai menyukai Ferdians, maka dari itu Rania selalu ingin memeluk Ferdians. Mungkin saja ini karena kedua anaknya yang tidak ingin mereka berpisah, dan itu sungguh membuat Rania bingung sekaligus kesal dengan dirinya sendiri.
"Kehamilan ini sungguh membuat aku tidak bisa jauh dari mas Ferdians. Apa kedua anakku tidak ingin kami berpisah?" gumam Rania di dalam hati sambil memandang wajah Ferdians sekilas lalu ia memejamkan matanya dengan elusan dan kecupan hangat yang diberikan Ferdians kepada dirinya.
****
Eric bisa bernapas dengan lega karena akhirnya ia sudah terbebas dari hukuman penjara akibat perbuatan Ben dan juga Doni. Kini, ia sudah merencanakan sesuatu untuk membalaskan sakit hatinya kepada kedua orang tersebut.
"Tidak akan aku biarkan kalian hidup tenang! Kalian harus membayar semua rasa sakit yang aku rasakan selama ini Ben dan juga Doni. Kalian harus merasakan penderitaan yang lebih dari yang aku rasakan selama ini," ujar Eric dengan tangan yang terkepal dengan erat.
"Kalian harus membayar semuanya!" ujar Eric dengan penuh dendam.
Gista masuk ke kamarnya, ia tersenyum melihat suaminya sudah berada di sana. Gista dengan cepat berlari dan menubruk tubuh suaminya, ia memeluk Eric dengan sangat erat yang membuat Eric tersenyum dan membalas pelukan Gista.
"Akhirnya kamu bebas, Mas!" ujar Gista dengan penuh bahagia.
"Iya, Sayang! Maafkan Mas yang selama ini tidak mendampingi kamu," ujar Eric dengan mengelus rambut Gista.
Andai Gista tahu pernikahan mereka terjadi karena Eric terpaksa waktu itu agar kedua orang tuanya tidak menyakiti Heera bagaimana nasib mental istrinya saat ini? Dulu Eric hanya berpura-pura mencintai Gista. Namun, melihat ketulusan Gista kepadanya membuat rasa cinta itu mulai tumbuh walaupun rasa cinta untuk Heera masih lebih besar sampai sekarang.
Bagaimana perasaan Gista jika istrinya tahu jika Ferry bukanlah anak kandung Gista melainkan anak kandung ia dengan Heera? Eric terpaksa mengambil salah satu anaknya dari tangan Heera karena waktu itu keadaan Gista benar-benar memprihatinkan, anaknya bersama Gista meninggal saat Gista sedang melahirkan dan membuat mental Gista terganggu hingga pikiran jahat Eric membuat Heera harus kehilangan salah satu anak kembar mereka.
Lalu bagaimana dengan Heera jika wanita itu tahu jika anak mereka sudah tiada karena kelalaiannya?
"Heera maafkan aku yang tidak bisa menjaga anak kita. Aku lalai menjadi seorang ayah. Bagaimana kabar kamu dengan Ferdians? Apakah kalian baik-baik saja? Apakah kamu mau memaafkan kesalahanku?" gumam Eric di dalam hati dengan rasa bersalah yang luar biasa untuk Heera dan kedua anaknya.
"Mas!" panggil Gista menatap suaminya.
"Mas Eric!" panggil Gista sekali lagi.
"Ahh.. Iya, Sayang!" jawab Eric dengan sedikit terbata.
"Mas kenapa melamun? Ada yang Mas pikirkan? Apa tentang Ben dan juga kakek tua itu?" tanya Gista dengan penasaran.
"Tidak ada, Sayang. Mas hanya sedang menikmati kebebasan Mas. Mas sangat senang sekali," ujar Eric dengan berbohong.
"Aku juga sangat bahagia, Mas. Akhirnya kita bisa berkumpul kembali. Aku sayang kamu, Mas!" ujar Gista memeluk Eric yang membuat Eric tersenyum kecut.
Andai saja pernikahannya dengan Heera di restui kedua orang tuanya mungkin ia tidak akan pernah menikah dengan Gista. Dan mungkin ia sudah bahagia dengan Heera dan kedua anak kembar mereka.
Tetapi itu hanya sebuah kata andai dan kata penyesalan yang tidak pernah bisa terulang lagi di kehidupan Eric. Dan jika ia diberikan kesempatan kedua maka Eric ingin memperbaiki hubungannya yang telah hancur dengan Heera.
***
"Mas kamu harus periksa ke dokter kenapa milik kamu tidak bisa berdiri saat aku sentuh? Aku juga menginginkan sentuhan kamu, Mas!" ujar Agni kepada Ben saat Ben tengah duduk santai meminum secangkir kopi miliknya.
"Kenapa? Jika saya sakit kamu mau meninggalkan saya?" tanya Ben dengan datar tanpa melihat ke arah Agni yang sedang kesal kepada dirinya.
"B-bukan begitu, Mas. Mana mungkin aku meninggalkan dirimu. Jika benar kamu sakit maka aku akan menemani kamu untuk berobat hingga kamu sembuh," ujar Agni kepada Ben.
"Cih mana mungkin aku mau bertahan dengan lelaki yang tidak bisa memberikan kepuasan kepada diriku. Setelah harta Danuarta jatuh ke tanganku maka aku akan pergi meninggalkan dirimu jika memang kamu benar-benar sakit," gumam Agni di dalam hati karena lain di mulut lain di hati itulah seorang Agni sejak dulu.
Ben menatap Agni tanpa ekspresi, ia sudah tidak ada g*irah untuk menyentuh Agni bahkan miliknya pun tidak bereaksi membuat Ben merasa aneh dengan dirinya. Apakah benar ia sedang sakit? Tetapi rasanya tidak mungkin. Tetapi kenapa juga miliknya tak mau berdiri kala Agni selalu menggoda dirinya?
"Mas mau kemana?" tanya Agni saat Ben meninggalkan dirinya begitu saja.
"Keluar! Kamu jangan menganggu saya!" ujar Ben dengan datar.
Ben ingin bertemu dengan Rania, entah mengapa sejak semalam ia selalu teringat dengan Rania. Rasa bersalah kepada sang anak membuat Ben tidak bisa tidur karena memikirkan Rania dan juga mendiang istrinya.
"Maafkan papa, Rania!" gumam Ben di dalam hati.