
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
***
Rania dan Ferdians sudah sampai ke rumahnya kembali. Pelayan yang ada di rumahnya menyembut kedatangan dirinya, Ferdians, dan kedua anaknya dengan penuh suka cita.
"Selamat datang kembali Nona dan Tuan. Selamat atas kelahiran baby twins," ujar pelayan dengan sopan.
"Terima kasih, Bi!" ujar Rania dengan tersenyum.
"Maaf Nona. Kami adalah suster yang akan menjaga baby twins saat anda bekerja," ujar salah satu suster dengan ramah.
Rania menatap suaminya, anggukkan Ferdians membuat Rania tersenyum tipis.
"Baiklah. Saya harap kalian akan bekerja dengan baik. Jika saya mendengar atau melihat kelakuan kalian yang tidak menyenangkan maka saya tidak akan membiarkan kalian hidup tenang," ujar Rania dengan dingin.
"Baik, Nona! Kami pastikan itu tidak akan terjadi," jawab suster baru itu dengan tegas.
"Siapa nama kalian?" tanya Rania.
"Saya Putri, Nona!" ujar suster yang terlihat berusia seperti Ana.
"Dan Saya Riri, Nona!" ujar suster berusia sama.
"Baiklah. Sekarang kalian jaga anak saya, saat ini saya akan pergi ke rumah sakit menemui ibu mertua saya," ujar Rania dengan tegas.
"Baik, Nona!"
Suster Putri dan Riri menggendong Faiz dan Frisa dengan perlahan. "
"Asi untuk Faiz dan Frisa sudah ada di kulkas. Jika keduanya menangis langsung berikan asi mereka. Ini pakaian Faiz dan Frisa. Jaga kedua anak saya dengan baik," ujar Rania dengan tegas demi kesehatan anak-anaknya.
"Jaga anak-anak saya dengan baik. Kami akan pulang nanti," ujar Ferdians dengan tegas.
"Baik, Tuan!"
Ferdians dan Rania berpamitan pada sang anak. Untung saja Faiz dan Frisa terlihat tenang saat mereka pergi, mungkin keduanya tahu jika nenek mereka dalam keadaan yang tidak baik-baik saja di rumah sakit. Keduanya bergegas pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan ibu mereka yang dikatakan tidak baik-baik saja
****
Heera dinyatakan koma setelah mengalami kritis beberapa jam yang lalu membuat Rania menangis di pelukan suaminya.
"M-mas, I-ibu..." Rania terbata tidak bisa mengucapkan kata lain karena dadanya begitu sesak melihat tubuh Heera sudah di penuhi alat-alat medis.
Tangan Ferdians terkepal dengan sangat erat, ia semakin membenci Eric. Kemarahan terlihat jelas di matanya karena penyebab ibunya seperti ini adalah Eric tak lain adalah ayah kandungnya sendiri.
"Eric, ini semua gara-gara kamu! Jika terjadi sesuatu dengan ibu saya, saya tidak akan membiarkan kamu hidup tenang," gumam Ferdians di dalam hati dengan kemarahan yang sangat besar di tujukan untuk Eric.
Ferdians berusaha menenangkan istrinya, ia harus menguatkan hatinya sendiri untuk melihat keadaan ibunya yang terbaring lemah di dalam ICU.
Rania semakin histeris menangis memeluk suaminya saat keadaan ibunya begitu sangat memprihatinkan.
"I-ibu, d-dia akan baik-baik saja kan, Mas?" tanya Rania menatap suaminya.
Ferdians diam, ia juga tidak tahu ibunya masih bisa bertahan atau tidak karena dokter sudah mengatakan jika keadaan ibunya sudah sangat memburuk, dan hanya do'a saja yang akan membuat ibunya kembali sadar.
"Do'a kan ibu ya, Sayang. Do'a kan ibu agar cepat kembali kumpul bersama dengan kita. Karena ibu tahu Ferry sudah meninggal keadaannya langsung drop dan dokter saja tidak bisa memastikan kapan ibu akan sadar kembali," ujar Ferdians dengan begitu sesak.
Rania mendekat ke arah ibunya. Wajah Heera begitu sangat pucat seakan tidak ada darah yang mengalir di tubuh ibunya. "Bu, jangan tinggalkan kami! Rania mohon ibu sadar," ujar Rania dengan sendu.
Ferdians menatap ibunya, kemarahan yang tadinya begitu terlihat kini tergantikan dengan tatapan yang begitu sangat sendu.
****
Sedangkan Eric sekarang sudah berada di rumahnya, keadaannya demam seketika yang membuat Gista panik sekaligus hatinya merasa sakit karena dalam tidurnya Eric terus memanggil nama Heera dan meminta maaf pada wanita itu.
Walaupun hatinya sakit, Gista tetap merawat suaminya dengan baik.
"Bu, ada yang bisa saja bantu?" tanya pelayan dengan pelan.
"Panggilkan dokter Dian untuk datang ke rumah!" ujar Gista dengan lirih.
"Baik, Bu!" ujar pelayan dengan pelan dan keluar dari kamar Gista maupun Eric dengan sopan.
"Heera maafkan, Mas!" gumam Eric dengan pelan.
Gista menyeka air matanya dengan kasar. Ia tidak menyangka pernikahan yang sudah berjalan 35 tahun lamanya akan menjadi seperti ini, ia sudah menjadi duri di dalam pernikahan suaminya dan Heera bahkan anak yang ia rawat dengan segenap jiwa dan raganya ternyata anak dari Eric dan juga Heera. Apakah Gista harus menuruti kemauan suaminya untuk membantu berbicara dengan Heera? Tapi rasanya Gista tidak sanggup bertatap muka dengan mantan istri sekaligus seseorang yang sampai saat ini masih sangat dicintai oleh Eric.
"Mas bangun! Ya Tuhan... Panas sekali," ujar Gista dengan panik.
Tak lama pelayan datang bersama dengan dokter Dian, dokter keluarga Eric yang selalu memeriksa salah satu keluarga jika ada yang sakit.
"Selamat siang, Bu!"
"Siang dokter Dian! Cepat periksa suami saya, tubuhnya sangat panas sekali!" ujar Gista dengan cemas.
"Baiklah. Saya akan memeriksa tuan Eric sekarang," ujar dokter Diam dengan tersenyum. Ia maklum dengan kecemasan Gista karena sedikit banyaknya dokter Dian tahu bagaimana Gista sangat menyayangi dan mencintai Eric bahkan saat Eric di penjara pun Gista dengan setia menunggu walaupun banyak lelaki matang di luar sana banyak yang mengincar Gista. Karena selain cantik, Gista adalah wanita terpandang.
Gista dengan sabar menunggu dokter Dian memeriksa suaminya walaupun dokter Dian terlihat bingung saat Eric menyebutkan nama seseorang.
"Bu apakah Heera itu adik atau kakak dari tuan Eric? Sepertinya tuan Eric ingin bertemu dengan seseorang yang bernama Heera tersebut," ujar dokter Dian.
Gista hanya diam tak menjawab pertanyaan dokter Dian.
Dokter Dian mengerti saat Gista tak mau menjawab pertanyaan mungkin ini sedikit pribadi hingga dokter Dian berkata lagi.
"Tekanan darah tinggi tuan Eric kambuh lagi, Bu. Sepertinya ada yang sedang tuan pikirkan. Ini saya berikan obat penurunan demam dan juga penurun darah, di minum setelah makan ya dan di sini sudah saya tulis aturan minumnya ya, Bu!" ujar dokter Dian yang di angguki oleh Gista.
"Terima kasih, Dok. Maaf saya tidak bisa mengantar anda ke bawah," ujar Gista dengan sendu.
"Tak masalah, Bu. Saya bisa sendiri. Kalau begitu saya permisi," ujar dokter Dian dengan sopan.
Berulang kali Gista menghela napasnya dengan berat menatap suaminya dengan perasaan yang berkecamuk. Entah kepada siapa ia harus marah, kepada Eric atau dirinya sendiri? Sebab ia ingin marah kepada orang tuanya dan juga orang tua Eric tetapi mereka sudah tiada membawa mati rahasia yang ternyata membuat dirinya begitu sesak.
"Mas sudah bangun?" tanya Gista dengan lembut.
"Saya mau menemui Heera dan Ferdians!" ujar Eric dengan datar.
"Mas masih sakit! Sebaiknya Mas istirahat dulu," cegah Gista yang membuat Eric menatap tajam ke arah Gista.
"Jangan halangi saya, Gista! Saya harus menemui mereka. Kesalahan saya begitu besar kepada mereka," ujar Eric dengan tajam.
"Iya aku tahu, Mas. Tapi untuk saat ini kondisi Mas begitu sangat lemah. Sebaiknya Mas menemui mereka setelah keadaan Mas membaik saja. Aku tidak akan menghalangi Mas bertemu dengan mereka," ujar Gista dengan tegas.
Eric terdiam. Benar kata Gista keadaannya saat ini sedang tidak baik, setelah keadaannya membaik maka Eric akan menemui Heera dan Ferdians kembali. Dengan perasaan yang tak enak, Eric kembali berbaring.
"Mas makan dulu ya! Supaya tenaga Mas pulih," ujar Gista dengan perhatian.
"Hmmm..."
Gista merasa sesak yang begitu sangat mendalam karena baru kali ini ia merasa diabaikan oleh suaminya sendiri.
"Ya Tuhan... Kenyataan ini sangat menyakitkan sekali," gumam Gista di dalam hati.