Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 63 (Pulang Malam)


...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


***


Rania membuka matanya dengan perlahan dan ternyata hari sudah pagi kembali. Rania melihat ke sampingnya dan ternyata Ferdians sudah tidak ada di sampingnya, semalam Rania tidak bisa tidur hingga larut malam karena menatap punggung Ferdians yang membelakanginya serta memikirkan sikapnya yang akhir-akhir ini sangat aneh, jantungnya berdebar saat menatap wajah tampan Ferdians apalagi ketika Ferdians menatap dirinya dengan dalam wajahnya begitu panas dan memerah, seperti yang pernah ia rasakan dengan Rio dulu. Apakah Rania sudah mulai mencintai Ferdians? Bahkan ia merasa tak suka ketika Ferdians berbicara dengan perempuan lain. Dirinya cemburu kah?


Rania menghela napasnya, ternyata diamnya Ferdians membuat dirinya sangat tersiksa sekali. Dengan tidak bersemangat Rania masuk ke dalam kamar mandi karena perutnya sudah mual seperti biasanya, padahal setiap pagi rasa mualnya akan hilang ketika Ferdians memeluk dirinya. Namun, sekarang Ferdians entah berada di mana. Mungkin suaminya itu sudah berada di bawah bersama dengan ibunya.


"Kenapa pagi ini aku sama sekali tidak bersemangat? Apa karena mas Ferdians yang mendiamiku?" gumam Rania dengan lirih sambil mengusap perutnya dengan lembut.


Dengan rasa malas yang luar biasa Rania melucuti pakaiannya dan mandi untuk menghilangkan perasaan gelisahnya sejak kemarin.


*****


Rania turun dari tangga dengan perlahan karena ia sangat menjaga kandungannya bahkan baju-bajunya sudah mulai tidak muat. Ternyata hamil anak kembar membuat berat badannya naik begitu sangat cepat.


Alis Rania tampak menyatu, ia sedang mencari keberadaan Ferdians di ruang makan tetapi di sana hanya ada ibu mertuanya dan suster Ana. Kemana Ferdians? Batin Rania bertanya.


"Nak, sini duduk! Kenapa kamu diam saja di situ?" tanya Heera menatap menantunya dengan bingung.


Rania dengan bingung langsung menghampiri mertuanya dengan perlahan dan duduk di hadapan Heera.


"Bu, dimana mas Ferdians?" tanya Rania ketika tidak melihat Ferdians sama sekali.


Heera tampak bingung. "Loh Ferdians kan sudah berangkat ke kantor pagi-pagi sekali katanya ada meeting penting di perusahaan papa kamu karena sebentar lagi ulang tahun Danuarta Grup. Dia bilang kamu sudah tahu," jawab Heera yang membuat Rania menghela napasnya dengan pelan.


"Jadi gini kalau mas Ferdians marah?!" gumam Rania dengan lirih.


"Kenapa, Nak?" tanya Heera yang mendengar dengan samar saat Rania berbicara.


"Tidak apa-apa, Bu. Rania lupa soal itu," ujar Rania dengan tersenyum tipis padahal hatinya sedang tak karuan sekarang karena Ferdians benar-benar marah kepadanya, ia pikir Ferdians akan kembali seperti biasa pagi ini tapi dugaan Rania salah besar.


Heera dan suster Ana mengamati Rania yang sama sekali tidak makan, wanita hamil itu hanya memainkan nasi di piringnya dengan sendok karena ia sama sekali tak bern*fsu untuk makan.


"Kamu kenapa Rania? Kamu dan Ferdians ada masalah apa?" tanya Heera dengan pelan karena wanita paruh baya itu merasa ada yang tidak beres dengan anak dan menantunya.


"Tidak ada apa-apa, Bu. Hanya saja Rania terlihat malas makan karena tidak ada mas Ferdians," jawab Rania dengan jujur.


Heera dan suster Ana tersenyum geli dengan apa yang Rania katakan.


"Nona sudah tidak bisa jauh dari tuan ya? Tenang Nona, Tuan hanya mencintai Nona. Buktinya tadi sebelum berangkat ke kantor dia menyuruh pelayan untuk membuat anda sarapan yang tidak membuat anda mual yaitu tidak memberikan bawang putih ke sayuran yang anda makan, Nona!" ujar Suster Ana yang langsung membuat kedua pipi Rania memanas.


"Apa benar begitu?" tanya Rania dengan sangat antusias.


"Benar, Nak. Bahkan seluruh pelayan di dapur sudah diperingati oleh Ferdians," ujar Heera yang membuat mood Rania kembali membaik dan mulai memakan sarapannya dengan lahap padahal tadi selera makannya sudah hilang.


semenjak hamil Rania tidak suka dengan bawang putih, melihat bawang putih itu saja Rania sudah jijik sekali apalagi sampai dimasukkan ke dalam sayuran sebagai bahan campuran sayuran yang dimasak, yakinlah perutnya akan mual dan membuat Rania tak berdaya setelah itu karena lemas.


Heera dan suster Ana kembali heran saat melihat Rania sangat lahap ketika makan. Apakah karena Ferdians membuat n*fsu makannya kembali bertambah? Benar-benar pengaruh Ferdians kepada ibu hamil yang berada di hadapan mereka ini sangat besar sekali.


***


"Mari saya antar, Nona!" ujar Liam saat melihat Rania keluar dari dalam rumah.


"Tuan sudah menyuruh saya untuk mengantar dan menjemput anda ke kantor," ujar Liam yang membuat Rania kembali kesal.


Rania melihat ke garasi mobil miliknya, dua mobilnya masih berada di garasi. Itu artinya Ferdians tidak pergi menggunakan mobilnya? Lalu dengan siapa Ferdians pergi?


"Mas Ferdians pergi dengan siapa?" tanya Rania kepada Liam.


"Naik Taxi, Nona!" jawab Liam yang membuat hati Rania kembali bersedih.


"Ayo berangkat!" ujar Rania dengan datar.


***


Roby mengeluarkan asap rokok dari dalam mulutnya, ia benar-benar menikmati menjadi menantu dari Danuarta. Sebentar lagi juga seluruh harta kekayaan Danuarta akan jatuh ke tangannya, ternyata memanfaatkan Citra begitu sangat gampang. Roby menatap hiruk-pikuk kota ini dari atas gedung di mana ia bekerja, memang kekayaannya tidak sebanding dengan kekayaan Danuarta maka dari itu Roby ingin menguasai harta Danuarta.


"Sayang!" panggil seseorang yang membuat Roby tersenyum.


"Kenapa kamu ke sini? Biar aku saja yang datang honey, aku takut Citra tiba-tiba datang ke kantor," ujar Roby dengan tersenyum saat menatap penampilan kekasihnya yang sangat menggoda dirinya.


Wanita dewasa yang sangat menggoda Roby menghampiri Roby dengan langkah yang membuat jakun Roby naik turun.


"Aku sudah lama merindukanmu, Sayang. Kamu terlalu sibuk dengan Citra dan tidak mempedulikan aku," ujar wanita itu dengan cemberut yang membuat Roby terkekeh.


"Setelah harta Danuarta jatuh ke tanganku. Aku akan segera menceraikan dia, Sayang. Ini hanya sementara," ujar Roby yang membuat wanita itu kembali sumringah.


Wanita seksi itu mencium bibir Roby dengan rakus. Roby membalas ciuman wanita itu tak kalah rakusnya, wanita itu berjongkok di hadapan Roby dan melepaskan gesper Roby dengan tak sabaran.


"Ahh..." Roby mend*sah begitu nikmat saat kekasihnya memainkan juniornya.


"Pintu sudah di kunci, Sayang?" tanya Roby dengan suara tertahan dan serak.


"Hmmm...."


Sungguh jika tidak karena harta Danuarta, Roby tidak akan mau menikah dengan j*lang seperti Citra.


****


Ferdians benar-benar sibuk kali ini, ia sedang meeting dengan para petinggi perusahaan untuk membalas persiapan ulang tahun kantor sebentar lagi. Ulang tahun kali diadakan begitu sangat mewah karena selain untuk merayakan ulang tahun perusahaan Ben dan juga Doni ingin merayakan kehamilan Rania.


Setelah meeting selesai Ferdians kembali ke ruangannya yang di ikuti oleh Ben dan juga Doni ketiganya tampak serius sekali berbicara.


"Papa merasa Rio tidak lagi kompeten di perusahaan," ujar Ben yang membuat Ferdians menatap mertuanya.


"Saya merasa jika Rio sedang ada masalah besar, Pa!" jawab Ferdians menutupi semuanya jika ia sudah tahu hubungan Rio dan Rania di masalalu.


"Jika selama sebulan kinerjanya tidak ada peningkatan maka Papa akan menurunkan jabatannya," ujar Ben yang di angguki oleh Doni.


"Ya benar. Kakek setuju dengan ucapan Ben!" ujar Doni dengan tegas.


Ferdians hanya bisa diam saat papa dan kakek mertuanya berbicara seperti itu karena Ferdians tidak seratus persen berhak atas perusahaan ini. Di sini Ferdians hanya bekerja sebelum waktunya ia tidak lagi bekerja di perusahaan ini.


"Tidak usah membahas Rio dulu. Bagaimana soal perayaan ulang tahun perusahaan? Apakah kamu setuju dengan konsep tadi?" tanya Ben dengan serius.


"Setuju saja, Pa. Asal kejadian di pernikahan Roby dan Citra tidak terulang lagi dimana Rania hampir saja celaka akibat perbuatan orang yang tidak bertanggung dan sampai sekarang pelayan itu tidak ketemu," ujar Ferdians yang membuat Ben dan Doni mengangguk setuju karena bagaimanapun keselematan Rania adalah hal yang paling utama.


Ketiganya kembali sibuk sampai Ferdians tak mempedulikan ponselnya yang menyala karena ada panggilan masuk, Ferdians sengaja membuat ponselnya dalam mode diam karena ia sedang tidak ingin di ganggu dengan siapa pun termasuk Rania, ia masih marah dengan Rania.


***


Ini sudah jam 22:30 WIB dan Ferdians juga belum pulang yang membuat Rania benar-benar gelisah. Tak pernahnya Ferdians seperti ini, biasanya walaupun sibuk Ferdians tetap pulang sore bahkan semenjak menikah dengan Ferdians, Rania tidak pernah lagi lembur bekerja.


"Kemana sih dia? Kenapa teleponku sama sekali tidak di angkat sejak tadi? Menyebalkan sekali," ujar Rania menunggu kepulangan Ferdians dengan gelisah.


Bahkan Rania bolak-balik ke kamar dan ke ruang tamu untuk menunggu kepulangan Ferdians. Hingga Rania merasa lelah dan akhirnya tertidur di sofa. Tak lama setelah itu terdengar suara mobil datang, ternyata Ferdians menggunakan mobil baru miliknya.


Ferdians masuk ke dalam rumah dan matanya langsung tertuju pada Rania yang sudah tertidur di sofa. Bagaimanapun Ferdians tidak akan tega melihat Rania seperti ini. Apakah Rania menunggu kepulangannya?


Dengan langkah perlahan Ferdians mendekati Rania, ia mengelus perut Rania dengan pelan.


"Maafkan Papa yang telah mendiami kalian sejak kemarin, Sayang. Papa sedang memberikan pelajaran untuk mama kalian agar lebih menghargai, Papa. Dan juga karena Papa yang masih kecewa dengan mama kalian," gumam Ferdians dengan lirih takut membangunkan Rania.


Dengan perlahan Ferdians menggendong Rania dan membawanya ke dalam kamar. Ia tidak mungkin tega meninggalkan Rania tertidur di sofa ruang tamu.