
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
****
Rajendra berjalan memasuki rumah milik orang tuanya dengan langkah tegas. Menjadi pewaris Danuarta Grup membuat Rajendra sedikit merasa lelah karena kakaknya sudah mempunyai perusahaan sendiri, sebenarnya Rajendra tidak masalah jika perusahaan Danuarta di pegang oleh Faiz maupun Frisa tetapi keduanya sudah angkat tangan yang membuat Rajendra akhirnya memegang perusahaan papanya sepenuhnya karena Ben sudah tua dan tak mungkin bekerja lagi, papanya lebih banyak menghabiskan waktu bersama dengan mamanya.
Rajendra meringis saat melihat kedua orang tuanya sedang bermesraan di ruang keluarga. Kedua orang tuanya memang tidak tahu umur, sudah tua mesranya melebihi anak muda. Rajendra menjadi merasa iri dengan kemesraan kedua orang tuanya setiap kali Rajendra tak sengaja memergoki papa dan mamanya sedang berciuman, Rajendra menggaruk tengkuk lehernya dengan salah tingkah.
Ana yang menyadari kehadiran anaknya langsung menjauhkan diri dari Ben. "Sudah pulang, Nak?" tanya Ana yang membuat Ben menatap kesal ke arah Rajendra.
"Kalau masuk rumah itu bisa tidak mengetuk pintu terlebih dahulu?" tanya Ben dengan kesal karena sang anak mengganggu aktivitasnya bersama dengan sang istri.
"Jen sudah mengetuk pintu, Pa. Tapi sama sekali tidak ada sautan dari dalam. Jen pikir Papa dan Mama ada di dalam kamar tidak tahunya sedang..." ucap Jen menggantungkan ucapannya.
"Sudah, Pa! Papa sendiri yang tidak tahu tempat," ujar Ana merelai perdebatan antara suami dan anaknya karena Ana juga merasa malu dengan Rajendra.
Ben hanya menghela napasnya dengan berat saat istrinya sudah berbicara. "Duduk! Papa mau berbicara!" ujar Ben dengan tegas.
Rajendra mengangguk, ia duduk di hadapan kedua orang tuanya. "Ada apa, Pa?" tanya Rajendra dengan tegas.
"Kamu sudah menerima Cassandra, kan? Bagaimana dia?" tanya Ben menatap anaknya.
"Sudah, Pa. Saat ini masih aman tetapi Papa tenang saja Jen akan mengawasi gadis itu karena Jen merasa dia tidak sebaik yang kita kira selama ini," ujar Rajendra dengan tegas.
"Papa sudah menduganya dari awal, Jen! Dia anak dari Clara dan cucu dari seorang Agni. Kita harus tetap waspada jangan sampai kita lengah. Katakan ini juga pada Faiz dan kakak kamu biar mereka juga waspada," ujar Ben dengan tegas.
"Kamu yakin, Nak? Cassandra tidak sebaik yang kita lihat? Kalau begitu kamu hati-hati jangan sampai terjebak oleh tipu muslihatnya," ujar Ana dengan khawatir.
"Mama tenang saja. Rajendra tidak sebodoh itu, Ma. Pokoknya Rajendra tidak akan membiarkan ada orang yang akan menghancurkan keluarga kita, sebelum mereka menghancurkan kita maka orang tersebut yang akan hancur di tangan Rajendra Danuarta!" ucap Rajendra dengan dingin yang membuat Ben dan Ana tersenyum karena Rajendra benar-benar sangat bisa diandalkan.
"Ya sudah sana mandi setelah itu kita makan malam bersama," ujar Ana kepada anaknya.
"Ya, Ma!"
Rajendra langsung berdiri dan langsung berjalan ke kamarnya setelah berpamitan kepada kedua orang tuanya. Dirinya sudah sedikit lega karena sudah menceritakan dugaan buruknya tentang Cassandra yang tidak sebaik yang mereka kira.
"Rajendra sudah bisa menikah, Sayang! Lihatlah anak kita sudah dewasa," ujar Ben yang langsung mendapatkan cubitan maut dari istrinya.
"Rajendra masih terlalu muda, Mas. Lagi pula dia itu pria perlu persiapan matang untuk membahagiakan istri dan anak-anaknya nanti. Awas saja kalau kamu menjodohkan anak kita ya, Mas. Aku tidak akan tinggal diam, biarkan anak kita mencari pendampingnya sendiri," ujar Ana dengan tegas.
"Iya, iya, Sayang. Kamu jangan khawatir Mas sudah belajar dari Rania dulu, Mas tidak mau Rajendra juga ikut membenci Mas seperti Rania dulu karena kebodohan Mas sendiri," sahut Ben memeluk istrinya yang membuat Ana lega.
"Syukurlah, Mas. Aku pikir kamu masih egois seperti dulu," ucap Ana dengan lega.
Ben menatap istrinya yang menurutnya semakin tua semakin cantik. "Mas kangen kamu, Sayang. Nanti kita..."
"Ya Tuhan, Mas. Kamu sudah tua tapi kelakuan kamu tidak berubah!" ujar Ana menggelengkan kepalanya.
"Boleh ya, Sayang. Aku kangen kamu," ujar Ben dengan memelas.
Ana menghela napasnya rasanya tidak tega menolak permintaan suaminya karena beberapa waktu ini mereka memang tidak pernah bercinta karena Ben mulai mengeluh sakit pada pinggangnya.
"Iya, iya, Mas!" ujar Ana yang membuat Ben terlihat senang.
"Tidak sabar menunggu untuk nanti," ucap Ben yang membuat Ana menggelengkan kepalanya.
****
Setelah makan malam selesai Rajendra langsung pamit kepada kedua orang tuanya untuk kembali ke kamar, banyak pekerjaan yang harus ia lakukan. Rajendra mengambil laptopnya dan mulai bekerja seperti biasanya.
Rajendra melihat ada notifikasi di ponselnya, ia menyeringai saat ia mendapatkan lesan dari Cassandra.
[Selamat malam tuan Rajendra. Saya sudah menyelesaikan tugas sesuai yang anda minta, dan saya sudah kirim melalui email anda. Silahkan di cek dan jika ada yang tidak sesuai anda langsung bisa kabari saya biar saya perbaiki saat itu juga]
Rajendra mengusap dagunya. "Hmmm... Awal yang sangat bagus. Tapi sayang sekali seorang Rajendra Danuarta tidak akan mudah tertipu dengan wajah manisnya," gumam Rajendra setelah membaca pesan dari Cassandra.
[Akan saya periksa terlebih dahulu]
Balasan singkat dari Rajendra ternyata membuat seorang Cassandra yang sedang menunggu balasan dari Rajendra terlihat sangat kesal karena sejujurnya Cassandra sedang ingin menarik perhatian dari Rajendra dan akan mendapatkan pujian dari Rajendra tetapi ekspetasinya yang terlalu tinggi hingga membuat Cassandra terlihat kesal sendiri.
Sedangkan Rajendra mulai memeriksa email yang di kirim oleh Cassandra untuk dirinya, ia sangat teliti sekali dalam memeriksa pekerjaannya Cassandra. Ia akui pekerjaan Cassandra di awal ia bekerja sangat memuaskan tetapi Rajendra yakin ini adalah sebuah rencana Cassandra untuk membuat dirinya lengah.
[Oke... Semuanya sudah benar, saya sangat puas]
Rajendra kembali mengirimkan pesan untuk Cassandra yang langsung di balas oleh gadis itu.
[Terima kasih, Tuan]
Rajendra hanya membaca pesan dari Cassandra karena setelah itu ia terlihat sibuk dengan laptop miliknya dan tak mempedulikan ponselnya kembali.
***
Cassandra tersenyum sinis saat mendapatkan balasan pesan dari Rajendra. "Setelah tuan Rajendra percaya dengan kemampuan yang aku punya maka aku akan langsung mendekati pria itu," gumam Cassandra dengan tersenyum.
"Mama dan papa pasti senang dengan berita ini. Aku hanya anak satu-satunya mereka yang bisa diandalkan karena ayah Rio saja terlihat sangat lemah dan tidak mau membalaskan dendam adik dan mamanya sendiri maka dari itu aku yang harus turun tangan," ujar Cassandra dengan terkekeh.
Cassandra begitu bahagia malam ini. Ia tidak menyadari jika Rajendra sudah mencurigai sikapnya. Cassandra bisa mengelabui orang di rumah ini tetapi tidak dengan Rajendra Danuarta.