
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya! Sebentar lagi akan end!...
...Happy reading...
...****...
Ffisa memandangi wajah tampan suaminya yang sudah tertidur di samping dirinya. Frisa tahu Gavin sangat lelah. Karena selain mengurus kantor Gavin juga selalu mengurus dirinya baik hal sekecil apapun Gavin tak mengizinkan Frisa terlalu kelelahan.
Frisa mengusap wajah tampan suaminya dengan pelan. Ia tersenyum menatap Gavin yang masih tertidur, Gavin adalah pria yang sempurna untuk melengkapi hidupnya, mungkin jika Gavin tidak menjadi suaminya, ia tidak akan sebahagia ini. Dan juga jangan lupakan kedua mertuanya yang sangat menyayangi dirinya juga, rasanya begitu sangat membahagiakan sekali. Apalagi semua yang ia mau suaminya, kedua orang tuanya, serta kedua mertuanya berusaha untuk menuruti kemauannya.
Bagi Frisa, Gavin adalah lelaki yang sempurna yang diberikan Allah untuk dirinya. Untuk melengkapi hidupnya selama ini, Frisa terkekeh saat tangannya di pegang oleh suaminya dengan sangat lembut.
"Kok bangun, Sayang?" tanya Gavin dengan pelan dan dengan mata yang belum terbuka dengan sempurna.
"Tidak apa-apa, Mas!" jawab Frisa dengan tersenyum.
Gavin membuka matanya dengan perlahan, dan yang pertama kali ia lihat adalah wajah kurang tidur istrinya. Selama hamil besar Olivia memang terlihat sangat susah sekali tidur, ada saja hal yang tidak bisa membuat istrinya memejamkan mata dengan nyenyak.
Gavin berusaha bangun dari tidurnya, walaupun sebenarnya Gavin sangat mengantuk sekali. Akibat Gavin memang kurang tidur karena pekerjaan kantor dan apalagi ia sudah waspada karena bisa saja sewaktu-waktu Frisa akan melahirkan.
"Sini peluk!" ujar Gavin dengan tersenyum yang membuat Frisa langsung berhambur kepelukan suaminya. Frisa sedikit tenang setelah Gavin mengelus perutnya dengan lembut.
"Tidur ya, Nak. Kasihan mama jadi kurang tidur. Lihat itu mata panda mama sangat kelihatan," ujar Gavin dengan lembut.
Frisa tersenyum tipis melihat sikap Gavin yang semakin hari semakin hangat dan sangat lembut berbeda sekali dengan Gavin yang dulu. Gavin yang dulu sangat dingin dan irit bicara dengan dirinya sedangkan Gavin yang menjadi suaminya sekarang adalah Gavin yang penuh kehangatan dan juga kelembutan, jangan lupakan juga sikap cerewet Gavin yang tiba-tiba muncul.
"Ssttt..." Frisa meringis merasakan perutnya tiba-tiba kembali terasa sakit padahal sejak tadi ia bisa menahannya tetapi kontraksi itu kembali datang lebih kuat dari tadi yang membuat Gavin langsung menatap wajah Frisa dengan khawatir.
"Kenapa, Sayang? Perutnya sakit?" tanya Gavin dengan cemas.
Keringat dingin mulai muncul di dahi Frisa saat ia kembali merasakan kontraksi yang lebih sakit dari pada sebelumnya. Frisa menjawab dengan menganggukkan kepalanya yang membuat Gavin semakin panik, ia dengan cepat menggendong Frisa dan keluar dari kamar.
"Bi, bawakan tas Frisa ya!" ujar Gavin dengan berteriak saat melihat pelayan yang selalu membantu Frisa keluar dari kamar setelah mungkin mendengar suara keributan dari dirinya.
"Baik, Tuan!" jawab pelayan itu tak kalah paniknya.
Pelayan tersebut langsung mengambil tas milik Frisa yang memang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari untuk persalinan Frisa dan benar saja sekarang mungkin sudah waktunya Frisa melahirkan apalagi sekarang usia adik ipar kecilnya kurang lebih sudah 2 bulan.
Gavin dengan perlahan mendudukkan Frisa di kursi penumpang di belakang agar pelayan yang sudah mereka anggap sebagai ibu tersebut bisa menjaga Frisa dan menenangkan Frisa yang sejak tadi mulai kesakitan, bahkan Gavin dapat merasakan tangan Frisa begitu sangat dingin.
Setelah semuanya siap Gavin melajukan mobilnya dengan cepat menuju ke rumah sakit. Ketika sampai di rumah sakit nanti barulah Gavin akan menghubungi kedua orang dan kedua mertuanya.
"Sabar ya, Sayang. Sebentar lagi kita sampai," ujar Gavin dengan cemas.
Frisa mengangguk dengan pelan sambil meringis memegangi perutnya yang mulas. Dengan sangat telaten pelayan yang berada di samping Frisa mengelus perut Frisa dengan lembut.
"Bi, tolong kabari semua keluarga ya, Bi!" ujar Gavin memberikan ponselnya karena ia sudah tideng tega melihat keadaan istrinya saat ini, jadi Gavin akan menghubungi keluarganya lebih cepat dari apa yang ia rencanakam tadi.
"Baik, Tuan!" ujar pelayan dengan sopan.
Rasa tak tega Gavin rasakan saat melihat Frisa kesakitan dengan keringat dingin yang membasahi dahi istrinya, entah mengapa mobilnya seakan berjalan begitu sangat lambat padahal Gavin sudah ngebut sekarang.
*****
Sesampainya di rumah sakit Frisa langsung di bawa ke ruang bersalin dengan Gavin yang terus mengikuti istrinya. Gavin tersenyum saat melihat istrinya yang terlihat menatap dirinya.
"Operasi saja ya, Sayang!" ujar Gavin dengan lembut sambil mengelus dahi Frisa dengan pelan.
Frisa menggelengkan kepalanya dengan perlahan, ia ingin merasakan melahirkan secara normal. "Normal saja, Mas. Aku ingin merasakan melahirkan secara normal," ujar Frisa dengan lirih.
"Yakin?" tanya Gavin dengan cemas.
"Yakin, Mas. Aku kuat kok!" ujar Frisa dengan tersenyum.
Gavin akhirnya menganggukkan kepalanya, ia mendukung semua keputusan istrinya asal itu baik dan tidak membahayakan nyawa istrinya.
Frisa meringis saat tangannya mulai di pasang infus dengan dokter yang memang sejak ia hamil muda selalu periksa dengan dokter yang akan membantu persalinannya saat ini.
"Sebentar ya saya periksa dulu sudah pembukaan berapa," ujar dokter yang di angguki oleh Frisa dan juga Gavin.
Gavin menggenggam tangan Frisa dengan erat. Ia mencium tangan Frisa dengan lembut. "Kamu istri dan mama yang hebat, Sayang. Mas akan di sini terus menemani kamu hingga anak kita lahir ke dunia," ujar Gavin dengan mata berkaca-kaca.
"Aku pasti bisa melahirkan anak kita kan, Mas?" ujar Frisa meyakinkan dirinya sendiri.
"Pasti, Sayang!" ujar Gavin dengan tersenyum bangga.
Dokter yang mendengarnya juga ikut tersenyum. "Nona Frisa sehat, bisa kok melahirkan normal ini sudah pembukaan 8 dan sebentar lagi akan membukaan sempurna. Sebentar lagi kita akan bertemu dengan baby ya," ujar dokter yang membuat Frisa dan Gavin tersenyum.
"Terima kasih, Dok!" ujar Gavin dan Frisa berbarengan.
*****
Rania dan Ferdians sudah sampai di rumah sakit berbarengan dengan Sastra dan juga Citra. Anak bungsu mereka ia titipkan kepada nenek Ana dan kakek Ben, dan tak lupa ada suster yang menjaga anak mereka tentunya.
"Gimana keadaan Frisa, Bi?" tanya Rania kepada pelayan yang berada di rumah Gavin dan juga Frisa.
"Sudah ada di dalam ruangan, Nyonya. Dokter juga sudah masuk mungkin nona sudah mau melahirkan, Nyonya," ujar pelayan tersebut dengan sopan.
"Kita berdoa saja ya. Semoga persalinan Frisa di mudahkan," ujar Citra dengan tersenyum walaupun gurat kekhawatiran di wajahnya sangat terlihat.
"Aamiin!"
Semuanya duduk dengan perasaan yang sangat gelisah, waktu berjalan begitu lambat, Rania dan yang lainnya sudah tidak sabar menantikan kelahiran cucu mereka hingga suara bayi terdengar sangat keras dari ruangan Frisa. Rania dan yang lainnya tampak sangat lega akhirnya cucu pertama mereka sudah lahir ke dunia.
Kebahagiaan mereka satu persatu mulai lengkap, kehadiran seorang anak di kehidupan mereka menambahkan perasaan bahagia yang begitu membuncah. Permasalahan yang mereka hadapi juga sudah menemukan jalan keluarnya. Kini, mereka hanya menikmati kebahagiaan mereka dengan berkumpul bersama dengan keluarga baru yang satu persatu akan hadir ke dunia ini.