Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 38 (USG)


...📌 Jangan lupa ramaikan part ini dengan like, vote dan komentar yang banyak ya....


...Happy reading...


****


Ferdians dan juga Rania sudah berada di rumah sakit. Sastra harus bekerja keras untuk membuat dokter obgyn datang hari ini dan yang membuat Sastra lega adalah dokter tersebut berhasil ia bujuk datang ke rumah sakit untuk memeriksa nona mereka.


"Dimana dokternya?" tanya Rania kepada Sastra yang sudah berada di rumah sakit.


"Sudah ada di dalam, Nona! Anda langsung masuk saja ke dalam," jawab Sastra dengan sopan.


Ferdians menemani Riana masuk ke dalam ruangan dokter obgyn. Sedangkan Sastra menunggu di luar, matanya terpejam dengan bersandar di sandaran kursi tunggu. Wajah mantan istrinya langsung terlihat jelas di sana.


Mas Sastra, aku ingin mangga muda. Mas kapan pulang?


Mas, aku ada kejutan buat kamu. Cepat pulang ya Mas! Aku merindukanmu!


Mas kapan pulang?


Mas pulang ya!


Mas, aku kepengen rujak belikan ya, Mas!


Mas, aku sudah menunggu sejak tadi rujaknya kenapa Mas belum pulang?


Ingatan Sastra kembali melayang saat dulu mantan istrinya merengek untuk dirinya segera pulang. Tetapi Sastra tak mengindahkan permintaan istrinya, bahkan ia pulang sampai menjelang dini hari di saat sang istri sudah tertidur dan di saat pagi Sastra kembali pergi sebelum istrinya bangun.


Mas tolong aku! Perut aku sakit, Mas!


Aku mohon kali ini kamu pulang dulu ya, Mas!


Kamu pembunuh Mas! Kamu buat aku kehilangan anak kita!


Seharusnya ini akan menjadi kejutan buat kamu, Mas! Tapi kamu malah membuat hatiku sakit!


Kamu sudah tidak peduli dengan aku! Kamu selalu mementingkan keluarga Danuarta padahal di sini istri kamu juga butuh perhatian kamu! Aku tidak butuh uang kamu!


Mari kita berpisah, Mas! Aku sudah tidak sanggup hidup dengan suami yang keberadaannya saja tidak ada di rumah ini!


Setetes bulir air mata jatuh di pipi Sastra, sesak dadanya saat mengingat ucapan istrinya yang sudah ia telantarkan tetapi ia juga tidak bisa mengabaikan keluarga Danuarta begitu saja, ia sudah banyak berhutang budi pada keluarga Rania.


"Citra, maafkan aku! Seharusnya anak kita sudah besar sekarang! Aku memang suami yang lalai menjaga kamu hingga kamu keguguran," gumam Sastra dengan lirih.


****


Rania sudah tidur di brankar karena dokter akan memeriksa dirinya.


"Sebentar ya Bu," ujar Dokter dengan ramah.


Dokter perempuan yang diinginkan Ferdians karena ia tak ingin lekuk tubuh istrinya di lihat oleh dokter lelaki, Ferdians sama sekali tidak akan rela.


"Itu apa, Dok?" tanya Ferdians dengan penasaran.


"Ini gel, Pak. Gel berfungsi sebagai pelumas juga memperjelas suara obyek yang diperiksa, yang kemudian ditangkap oleh alat Doppler atau USG. Nah, dengan gel ini kita bisa melihat ada janin di dalam rahim ibu Rania atau tidak," ujar dokter wanita tersebut menjelaskan kepada Ferdians dengan sangat ramah.


Ferdians mengangguk mengerti, ia tak banyak bicara lagi karena mata Ferdians sibuk mengamati apa yang dilakukan dokter kandungan tersebut.



"Wah ternyata ada dua titik," ujar dokter tersebut dengan tersenyum.


"Dua titik? Maksudnya apa, Dok?" tanya Ferdians sama sekali tidak mengerti.


"Jelaskan, Dok! Saya bayar berapapun yang anda minta," ujar Rania dengan tegas.


Dokter tersebut tersenyum. Ia tidak menanggapi ucapan Rania yang menurutnya terdengar sangat sombong tapi dokter wanita itu melihat jika Rania memang sudah tidak sabar dengan kehamilannya.


"Titik dua ini artinya ibu sedang hamil anak kembar," ujar Dokter tersebut menjelaskan.


"K-kembar?" tanya Ferdians dan Rania bersamaan.


"Mungkin ini rezeki Bapak dan Ibu yang diberikan dua anak sekaligus," ujar dokter.


Ferdians yang masih terdiam langsung mencerna perkataan dokter. Anak kembar? Anak kembar?


"Saya mau menjadi papa dari dua anak kembar, Dok?" tanya Ferdians dengan tak percaya.


"Iya, Pak!" jawab Dokter tersebut dengan sabar.


Ferdians menatap Rania dengan mata berkaca-kaca. "Tuh kan Sayang. Kita akan mendapatkan anak kembar," ujar Ferdians dengan memeluk Rania.


Sedangkan Rania hanya diam mematung karena sebenarnya ia juga terkejut dan bahagia mendengar penjelasan dokter yang mengatakan jika dirinya mengandung anak kembar.


"Janinnya terlihat sehat, mereka berkembang dengan baik. Pemeriksaan sudah selesai. Ibu dan Bapak bisa kembali duduk, nanti saya akan memberikan vitamin untuk Ibu," ujar Dokter yang di angguki oleh Ferdians dan juga Rania.


Saat ini Rania tidak bisa mengekspresikan perasaannya, Rania hanya diam saja saat Ferdians menggenggam tangannya, bahkan ia memegang perutnya dengan lembut.


****


"Ibu!" teriak Rania saat masuk ke ruangan mertuanya.


Heera yang sedang di suapi oleh suster Ana langsung menatap anak dan menantunya serta Sastra yang masuk ke ruangannya.


"Iya, Nak. Ada apa? Kenapa kamu tidak beristirahat di rumah saja?" tanya Heera dengan lembut.


"Ibu, aku punya kejutan untuk Ibu!" ujar Rania dengan tersenyum tipis.


"Kejutan?" tanya Heera dengan penasaran.


"Iya, Bu!" jawab Ferdians dan Rania secara bersamaan.


"Apa itu, Sayang?" tanya Heera dengan penasaran.


Rania mengambil sesuatu di dalam tasnya. Ia mengambil kertas yang ia terima dari dokter kandungan tadi.


"Ini apa?" tanya Heera dengan bingung tetapi ia tetap menerimanya dari tangan Rania.


"Buka saja, Bu! Biar Ibu tahu isinya apa," ujar Ferdians dengan tegas.


Heera mengangguk, ia mulai membuka kertas tersebut. Heera mengambil sesuatu dari dalam kertas tersebut dan matanya langsung berkaca-kaca ketika melihat isinya yang ternyata foto USG.


"K-kamu hamil?" tanya Heera dengan suara bergetar menahan tangis.


"Iya, Bu. Ibu akan mempunyai cucu 2 sekaligus!" ujar Rania dengan mata berkaca-kaca setelah melihat wajqh mertuanya.


Heera memeluk Rania dengan erat, ia sangat bahagia sekali sekarang. Bahkan Sastra yang hatinya masih sensitif langsung mengeluarkan air matanya tetapi Sastra langsung menghapus air matanya dengan kasar.


Suster Ana juga ikut menangis, ia juga ingin memiliki seorang anak tetapi nasib tragis dirinya yang beberapa kali keguguran membuat suster Ana kehilangan calon anaknya, tiga kali mengandung, tiga kali ia juga keguguran karena sikap kasar suaminya dan tekanan batin yang ia dapatkan karena suaminya selingkuh dengan temannya sendiri membuat kandungan suster Ana sangat melemah.


"Beruntung sekali nona Rania mendapatkan suami yang sayang kepadanya. Kapan ya aku mendapatkan pria yang juga menyayangiku? Rasa trauma ini belum hilang tapi aku juga ingin di sayangi dan di cintai dengan sepenuh hati," gumam Suster Ana di dalam hati.


"Hiks...hiks...Ibu bahagia sekali, Sayang!" ujar Heera dengan mengecup kening Rania dengan lembut.


"Mulai sekarang kamu tidak boleh capek-capek ya, Nak. Jaga kandungan kamu agar tetap sehat sampai melahirkan," ujar Heera dengan menangis.


"Ibu tidak boleh menangis! Rania akan menjaga anak Rania dengan benar," ujar Rania dengan lirih.


"Anak kita Sayang karena aku turut andil dalam pembuatan si kembar," protes Ferdians yang membuat Rania menatap tajam suaminya dengan pipi yang merona.


"Mas Ferdians!!!"


"Aww...aww...ampun, Sayang!"


"Aku malu!" ujar Rania dengan pelan yang masih bisa di dengar oleh Heera dan yang lainnya.


"Kenapa musti malu? Kan emang kita buatnya berdua dengan sepenuh hati hingga jadilah bayi kembar yang sangat lucu," ujar Ferdians mengedipkan matanya yang membuat Rania memutar bola matanya dengan mallas andai tidak di hadapan ibu mertuanya Rania sudah menendang perut Ferdians.


"Andai saja dulu aku sedikit saja mengindahkan perkataan Citra mungkin aku juga akan sebahagia ini ketika mendengar Citra hamil," gumam Sastra menatap nona-nya dengan tersenyum tipis tapi di balik itu semua ada rasa iri dan sesak yang menghimpit dadanya.