Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 82 (Kesempatan Memilikimu)


...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


****


Sastra terus mengikuti Citra dan Alex. Tangannya terkepal saat melihat Alex mendekati Citra.


"P-pak, Panas!" ujar Citra dengan gelisah, ia ingin sekali membuka bajunya untuk meredakan rasa panas yang ada di dalam tubuhnya tetapi itu tak mungkin ia lakukan karena Alex terus mengikuti dirinya.


Alex menyeringai, ia terus mendekati Citra dan memegang tangan wanita itu dengan pelan membuat rasa panas pada tubuh Citra semakin menjadi.


"Mau saya bantu?" tanya Alex dengan suara pelannya.


Citra yang tak tahu niat licik Alex hanya mengangguk dengan sangat tersiksa, Citra merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhnya saat tangan Alex menyentuh pipinya dengan perlahan.


"T-tolong, Pak! Ini sangat panas sekali!" ujar Citra dengan sangat tersiksa, ia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya hingga menjadi seperti ini.


"Ayo ikut saya! Saya akan membuat kamu sembuh," ujar Alex dengan tersenyum.


Citra mengikuti langkah Alex dengan gelisah, ia ingin rasa panas itu segera hilang dari tubuhnya. Alex menatap Citra dengan menyeringai, matanya panuh gairah saat gerakan Citra begitu sangat sensual yang membangkitkan hasrat di dalam dirinya hingga Citra tak menyadari kini dirinya di bawah oleh Alex ke kamar.


Tanpa di ketahui oleh keduanya Sastra terus mengikuti Alex. Ia tidak ingin Alex melakukan sesuatu terhadap Citra, lelaki seperti Alex tak pantas untuk Citra. Hanya dirinya sajalah yang pantas untuk Citra walaupun ia pernah menyakiti hati Citra tetapi Sastra akan memperbaiki semuanya dan berjanji akan membahagiakan Citra.


Alex mengukung tubuh Citra di depan pintu. Citra merasa heran dengan apa yang Alex lakukan terhadap dirinya.


"P-pak menjauh sedikit," ujar Citra menahan rasa aneh di dalam dirinya.


"Saya akan membuat rasa panas di tubuh kamu menghilang Citra," gumam Alex mengelus pipi Citra dengan perlahan.


Alex mendekatkan wajahnya di leher Citra dan menghembuskan napasnya dengan perlahan di sana.


"Ahhh..." Citra langsung menggigit bibir bawahnya saat suara yang ia tahan sejak tadi akhirnya keluar juga karena hembusan napas Alex di lehernya.


Alex terlihat menyeringai senang saat reaksi Citra benar-benar membuat dirinya bahagia. Ia semakin ingin memiliki Citra secepatnya.


"P-pak apa yang akan Bapak lakukan?" tanya Citra saat Alex mencium lehernya.


Citra terus mengigit bibir bawahnya rasa panas yang menjalar pada tubuhnya membuat Citra tak berdaya bahkan untuk memberontak saja sangat kesulitan.


Pemandangan yang membuat Sastra panas di hadapannya membuat Sastra mengepalkan kedua tangannya. Sastra sudah melangkah mendekati Alex maupun Citra, ia ingin sekali menghajar Alex, wajah Sastra sudah benar-benar terlihat sangat marah menahan cemburu karena Citra di sentuh oleh lelaki lain. Citra hanya boleh di sentuh oleh dirinya, itulah keyakinan yang selalu Sastra terapkan di dalam hati dan pikirannya.


Saat dirinya ingin melangkah suara ponsel Alex menghentikan langkahnya.


"Shitt... Pengganggu!" umpat Alex dengan kesal saat mendengar ponselnya berbunyi terus menerus padahal sebentar lagi ia akan membuat Citra semakin lemas dan akhirnya Alex akan membawa Citra masuk ke dalam kamar hingga mereka akan bercinta sepuasnya.


Melihat nama Eric yang di dalam ponselnya mau tak mau Alex menerima telepon dari om-nya tersebut.


[Ada apa Om?] tanya Alex dengan menahan kekesalannya.


[Ke rumah Om sekarang, Alex. Ada sesuatu yang ingin Im bicarakan! Ini sangat penting dan malam ini juga kamu harus ke sini] ujar Eric yang membuat Alex mengumpat di dalam hati.


[Oke... Tunggu sebentar, Om] sahut Alex dengan datar.


Alex menatap Citra dengan dalam. "Masuk ke dalam kamar dan berendam di air dingin, jangan keluar kamar sampai saya kembali. Paham?" ujar Alex dengan tegas.


Mata Citra yang sayu dan wajahnya yang tersiksa hanya bisa mengangguk dengan pasrah. Citra melihat kepergian Alex dan ia kembali menggeliat dengan gelisah. Citra terus bergumam kata panas yang membuat Sastra tampak iba, jika Alex tidak menerima telepon mungkin ia sudah menghabisi Alex tetapi itu menguntungkan untuk dirinya karena dengan begitu Sastra tidak perlu mengotori tangannya untuk menghajar Alex karena Alex dengan lancang menyentuh miliknya.


Sastra berjalan dengan cepat mendekati Citra setelah memastikan Alex sudah tidak ada di tempat ini.


"Ayo ikut saya!" ujar Sastra dengan tegas menarik tangan Citra.


Citra yang tak tahu dengan kehadiran Sastra di hadapannya sedikit terkejut.


"K-kamu mau membawa saya kemana? Saya ingin berendam ini sangat panas!" racau Citra yang membuat Sastra tidak tega.


"Ikut saya, Citra! Kamu dalam bahaya jika kamu dalam keadaan seperti ini bisa saja ada lelaki jahat yang mendekati kamu," ujar Sastra dengan tegas.


"A-apa maksudmu?" tanya Citra dengan terbata.


"Kamu sadar tidak sih jika Alex menjebak kamu dengan memberikan obat perangsang di minuman kamu?" tanya Sastra dengan geram.


Citra tampak syok, matanya berkaca-kaca karena ia tak menyangka jika Alex akan selicik itu pada dirinya. Tapi lagi dan lagi rasa panas di dalam tubuhnya membuat Citra tak tahan.


Sastra menarik Citra dengan cepat untuk masuk ke kamarnya. Ia menutup pintu kamarnya dengan cepat.


"Panas!" teriak Citra yang bisa mengekspresikan dirinya sekarang.


Sastra tampak iba dengan apa yang terjadi dengan Citra. Ia mendekat ke arah Citra.


"Panas, Mas!" ujar Citra dengan gelisah bahkan ia lupa jika sudah memanggil Sastra dengan sebutan 'mas' seperti mereka masih menjadi suami istri dulu.


Citra ingin melepaskan pakaian yang membuat Sastra menelan ludahnya dengan kasar. Miliknya sudah memberontak di bawah sana yang membuat Sastra mengumpat di dalam hati.


"T-tolong!" ujar Citra dengan lirih.


Sastra memejamkan matanya ia menatap Citra dengan dalam, tanpa kata Sastra mencium bibir Citra dengan pelan. Citra sama sekali tidak memberontak, ia sudah tak kuasa menahan rasa panas tubuhnya bahkan ciuman Sastra membuat gelenyar aneh pada dirinya semakin menjadi, hasratnya semakin naik kala bibir Sastra bergerak di bibirnya dengan lembut.


Sastra menatap Citra dengan mata penuh gairahnya. "Setelah ini kamu tidak akan pernah aku lepas lagi, Sayang. Tak peduli dengan kemarahanmu karena hanya aku lelaki yang pantas bersamamu bukan lelaki licik seperti Alex," ujar Sastra dengan lirih.


Sastra mulai menuntun Citra untuk berbaring di atas ranjang hingga keduanya terjatuh dengan Sastra yang menindih tubuh Citra.


"Katakan apa yang harus aku lakukan, Sayang?!" ujar Sastra.


"T-tolong sentuh aku, Mas! A-aku sudah tidak tahan," ujar Citra dengan gelisah yang membuat Sastra tersenyum.


"Kamu yakin?" tanya Sastra dengan pelan.


"Yakin! Aku mohon Mas ini sangat panas sekali," ujar Citra sangat tertekan.


"Baik tapi setelah ini kamu tidak akan bisa menjauh dariku lagi, Sayang. Kamu milikku sampai kapan pun," ujar Sastra dengan lembut.


Citra menatap Sastra, ia dengan cepat mencium bibir Sastra dengan tergesa-gesa yang membuat Sastra tersenyum karena efek obat itu sangat besar untuk Citra. Bahkan Citra tak malu-malu untuk mencium bibirnya duluan


Sastra melepaskan ciuman Citra. "Bekas ciuman Alex aku harus hilangkan dulu," ujar Sastra.


Sastra mencium leher Citra hingga wanita itu mengerang dengan menjambak rambut Sastra. Citra benar-benar melayang sekarang bahkan suara desah*nnya sama sekali tidak bisa ia tahan.


"Ahhhh..." Citra tak kuasa menahan suara desah*nya yang membuat gairah Sastra semakin meledak.


Dengan penuh semangat Sastra melepaskan pakaiannya Citra hingga ia dengan leluasa memainkan gunung kembar milik Citra yang dari dulu candu baginya.


"Ini masih sama, Sayang. Masih menjadi benda favorit, Mas!" gumam Sastra seperti bayi yang sangat kehausan.


Citra membusungkan dadanya, ia benar-benar tidak bisa mengontrol suaranya. Bahkan tangan Sastra sudah bermain di area sensitifnya di hawah sana yang semakin membuat Citra bergerak dengan gelisah.


Dengan tak sabaran Citra membuka kancing kemeja Sastra. Tubuh ini masih sama, masih menjadi tempat ternyamannya.


"Please masukin!" ujar Citra yang sudah tidak sabar bahkan ia sudah tidak sadar jika apa yang ia lakukan akan tidak bisa lepas dari Sastra kembali setelah selama ini Citra ingin melupakan dan melepaskan Sastra di dalam hidupnya. Tetapi takdir mempunyai caranya sendiri untuk terus menyatukan dirinya dengan Sastra.


Sastra mengerang saat miliknya di urut dengan perlahan oleh Citra. Kepalanya seakan ingin pecah, hingga Sastra melebarkan paha Citra dan menarik tangan Citra ke atas.


"Kamu milikku, Sayang!"


"Akhhh..." Citra memejamkan matanya saat milik Sastra mencoba untuk masuk. Hingga beberapa kali barulah Sastra berhasil membenamkan miliknya pada milik Citra.


Sastra mengelus pipi Citra hingga kedua mata mereka bertemu pandang. Kilasan kegiatan seperti ini di masa lalu terbayang di benak mereka yang membuat keduanya tak sadar tersenyum.


"Kamu sekarang tahu kan bagaimana takdir menyatukan kita kembali? Citra kamu adalah milik Mas selamanya!" ujar Sastra dengan lirih.


Cup...


Sastra mencium kening Citra dengan lembut seperti apa yang sering ia lakukan saat mereka bercinta dulu hingga sebulir air mata jatuh di pipi Citra mengingat masa lalu mereka tapi anehnya rasa cemas itu tak lagi datang kepadanya. Mungkinkah Citra sudah sembuh dengan traumanya?


Sastra sudah bergerak dengan perlahan, keduanya benar-benar menikmati apa yang mereka lakukan ini sebelum esoknya sikap Citra mungkin akan kembali ke semula tetapi itu tak membuat Sastra patah semangat karena mulai malam ini Citra kembali menjadi miliknya.